MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
BEBAS


__ADS_3

Kabar soal meninggalnya Kristin hanya rekayasa Nathalie akhirnya terdengar oleh Della, tatapan Della tajam merasa dipermainkan.


"Kamu ingin bermain-main Nathalie, lihat saja apa yang akan terjadi." Senyuman licik Della terlihat.


Beberapa orang berbadan besar datang, mendengarkan perintah Della untuk mencelakai Nathalie.


Suara langkah kaki terdengar, Rayan tersenyum melihat Della. Berterima kasih, karena Della sudah membebaskannya meksipun dirahasiakan.


"Apa rencana Mimi?"


"Menyingkirkan Nathalie, kamu juga harus menemukan kelemahan Alhan."


Rayan mengerutkan keningnya, Han sangat teliti jika bersangkutan dengan perusahaan. Bahkan Apri yang sangat dia percaya tidak banyak mengetahui rahasia Han.


Alhan jauh lebih pintar dari Papinya, tidak mudah percaya sekalipun orang terdekatnya.


"Bagaimana soal Tirta? kita bisa memanfaatkan dia untuk menjatuhkan perusahaan." Della menatap Rayan yang menggelengkan kepalanya.


"Tirta hanya luarnya saja terlihat bodoh, tapi dia sangat cerdik dan hebat soal perusahan. Cherly saja tidak bisa mengendalikan dia, apalagi orang luar."


Della mengumpat kasar, mereka tidak menemukan kelemahan Han. Pria dingin seperti Han tidak mungkin peduli dengan Papinya.


Della hanya bisa memaafkan Kristin untuk menghancurkan Han, tapi percuma saja karena Kristin memiliki sikap keras dan tidak takut apapun.


"Mi, aku ingin bertemu Kristal"


"Lupakan Kristal, dia tidak ada gunanya untuk kita."


Rayan menatap tajam Della yang melangkah pergi, bagi Rayan Kristal segalanya dalam hidupnya.


Mendengar kabar jika Kris dan Han tidak menikah membuat Rayan bersemangat kembali untuk mendapatkannya.


"Kristal lagi apa sekarang?" Rayan melakukan panggilan mencoba menghubungi Kris, tapi tidak ada jawaban.


Melihat Della pergi dari rumah, Rayan langsung bergegas mencari kunci mobil untuk menemui Kristal dan memintanya menikah.


Sebelum menemui Kris, Rayan membeli bunga terlebih dahulu langsung bergegas ke rumah Alhan.


Suasana rumah Han dijaga sangat ketat, tidak ada jalan untuk Rayan masuk. Mobil Han melaju keluar bersama Muti untuk pergi ke kantor.


Rayan langsung mengikuti Han, melihat Alhan menghentikan mobil melangkah masuk ke toko kue meninggalkan Muti di mobil.


Mengetahui Han pergi, Rayan langsung keluar mengetuk kaca mobil. Muti yang melihat Rayan kaget karena seharusnya Rayan ada di kantor polisi.


"Kristal buka sebentar, aku merindukan kamu."

__ADS_1


"Kak Han lama banget, ini orang mulai gila." Muti menolak membuka kaca mobil, mengabaikan Rayan teriak-teriak.


Muti merekam Rayan dari dalam mobil untuk melaporkan kembali ke kantor polisi, jika Han tahu pasti marah besar.


"Masalah tidak selesai, kapan bahagia ini?" Muti menatap sinis.


Melihat Han keluar dari toko, Rayan langsung berlari meninggalkan mobil. Muti memperhatikan Rayan yang masuk ke dalam mobil.


"Kak Han lama sekali?"


"Maaf sayang, ini roti coklat yang kamu inginkan." Han menyerahkan pesanan istrinya.


Mobil Han melaju, langsung menuju perusahaan karena ada meeting penting. Muti juga tidak melihat Rayan mengikuti mereka.


"Kak, bagaimana soal kasus Rayan?"


"Dia pasti di penjara sayang, minggu depan sidang." Han tersenyum mengusap pipi Muti yang mengemaskan.


Muti mengerutkan keningnya, Han tidak tahu jika Rayan sudah bebas dan berkeliaran.


Sesampainya di kantor Han langsung meeting, Muti langsung menuju ruangannya, tapi berhenti saat melihat ruangan Apri.


Muti mengetuk pintu, langsung melangkah masuk melihat Apri yang masih sibuk bekerja sampai memijit pelipisnya.


"Masih pagi sudah pusing saja?"


Muti tersenyum langsung duduk, Apri langsung tahu jika yang datang Muti karena Kris jarang memberikan senyuman.


"Ada apa? Pak Han sedang meeting, ada yang bisa aku bantu?" Apri mengerutkan keningnya melihat tatapan Kris yang terlihat aneh.


"Kamu mengetahui soal kasus Rayan?"


Apri cukup kaget dengan pernyataan Muti, kasus Rayan sedang dalam proses sidang karena kasusnya bukan hanya penculikan, juga sudah melakukan malapraktik ilegal.


"Rayan pastinya akan membusuk di penjara, dan tidak akan lolos dengan mudah." Nada bicara Apri tegas, dia sangat yakin dengan prediksinya.


Muti mengeluarkan sesuatu, menunjukkan kepada Apri rekaman video saat Rayan berkeliaran, bahkan bisa mengikutinya.


"Menurut kamu ini siapa? berikan aku jawaban?" Muti menatap tajam.


Apri mengambil ponsel, menggelengkan kepalanya tidak percaya jika Rayan bebas bahkan tanpa pemberitahuan.


"Video ini asli rekaman hari ini?"


"Aku tidak pintar Apri, apa menurut kamu ini bisa dijadikan lelucon?" Tatapan Muti tajam, bisa melihat keterkejutan Apri.

__ADS_1


Tatapan Apri binggung langsung mengambil ponselnya, Muti langsung menahan Apri yang ingin menghubungi pengacara untuk meminta kebenaran soal kasus Rayan.


"Ini mustahil, Rayan bisa bebas bahkan sebelum sidang?" Tirta yang baru datang langsung kaget.


Mengambil ponsel Mutiara, melihat hasil rekaman. Rayan sangat terobsesi dengan Kristal sehingga sangat nekat.


"Aku hubungi pengacara terlebih dahulu." Apri menatap Muti dan Tirta.


"Jangan, aku yakin kebebasan Rayan bersyarat. Kepolisian pasti akan memberikan alasan, jika Rayan harus melakukan perawatan." Tirta sangat tahu kelicikan dari orang-orang seperti Rayan dan Della.


Tirta yakin, Della pasti sudah menjamin kebebasan Rayan, meksipun nanti harus di sidang dia tetap bebas.


"Ini tidak adil kak Tirta, Muti ingin dia di penjara."


"Kamu tenang saja Muti, bukan hanya Rayan tetapi Della sekaligus." Tirta tersenyum manis, meminta Muti tenang.


Apri masih tidak habis pikir, pria gila seperti Rayan dibebaskan tanpa memikirkan perasaan para korban.


"Kak Apri, siapa Della sebenernya? dia memiliki pengaruh di kepolisian, bahkan bisa menjamin kebebasan Rayan."


Tatapan Apri melihat ke arah Tirta yang sangat penasaran, Rehan memintanya untuk merahasiakan identitas Della, tapi Tirta berhak tahu.


Mutiara menatap binggung map yang Apri berikan, Tirta langsung terduduk mengetahui jika Della memiliki kekayaan yang sangat besar.


"Dia terlahir dari keluarga biasa, tapi tujuan hidupnya hanyalah ingin memiliki kekuasaan. Tir, segalanya bisa dikendalikan oleh uang, termasuk harga diri." Tangan Apri memijit pelipisnya, merasa pusing jika sudah berurusan dengan orang beruang.


Hanya Alhan yang berani menentang kekuasaan Della, bahkan Han tidak melangkah mundur meksipun bekali-kali Della ingin menjatuhkan sahamnya.


"Alhan harus tahu soal ini, agar dia bisa mempersiapkan alat perang selanjutnya."


Muti menatap Tirta yang melihat ponselnya, Han masih meeting tidak mungkin menjawab panggilan, Tirta hanya mengirimkan pesan.


"Aku sudah mengirim pesan, tapi ... tumben langsung dibaca." Kening Tirta berkerut melihat Han melakukan panggilan.


Tirta langsung menjawab, menjelaskan apa yang Muti lihat.


Pintu ruangan Apri terbuka, Han langsung melihat Muti mengecek tubuhnya yang baru saja didekati oleh Rayan.


"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun?" Alhan terlihat marah.


"Muti berniat memberitahu." Kepala Muti tertunduk takut.


Alhan menatap Tirta dan Apri, mengingat satu orang yang tidak ada bersama mereka.


"Astaga, Kristal." Han menatap Tirta untuk memperketat penjagaan di kediaman Iskandar.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2