
Hari bahagia yang ditunggu akhirnya tiba, seluruh keluarga bersemangat menyambut hari H pernikahan.
Dwi duduk menatap wajahnya di depan kaca, setetes air mata menetes. Melihat dirinya yang tinggal menghitung jam menjadi seorang istri.
"Kak, Dwi izin menikah lagi. Terima kasih sudah pernah mencintai Dwi, jaga anak kita di surga. Jangan khawatirkan Dwi lagi, sekarang sudah bahagia." Dwi tidak bisa menahan air matanya.
Suara ketukan pintu terdengar, Mutiara masuk bersama tim yang akan membantu Dwi menggunakan baju pengantin dan mempercantik wajahnya.
"Manda menangis?" Muti duduk di depan Dwi yang tersenyum manis.
Tangan Dwi langsung mengusap wajahnya, menunjukkan senyumannya yang tidak pernah pudar.
Teriakan Dwi dan Muti terdengar kaget, melihat Kristal yang masuk tanpa mengetuk pintu. Langsung meminta MUA segera bekerja, jangan mendengar drama Muti dan Dwi.
"Kamu tidak bisa masuk mengetuk pintu terlebih dahulu? membuat kaget saja." Tatapan Muti sinis, meminta Kris untuk duduk.
"Bisa di mulai sekarang." Dwi meminta MUA menghias wajahnya dan kedua putrinya.
Selama make up terdengar canda dan tawa, obrolan Muti dan Kris meksipun ada bertengkar terasa lucu.
Ketegangan Dwi secara tiba-tiba hilang, karena kedua anaknya memang sangatlah lucu.
"Kris, kapan kamu dan Tirta akan menikah?"
Kristal langsung menoleh ke arah Muti yang secara dadakan membahas dirinya, padahal Muti juga sangat mengenal siapa calon mertuanya Kristal.
"Entahlah, mungkin menunggu Cherly mati."
"Astaghfirullah Kris, kamu secara sengaja menyumpahi Tirta menjadi yatim. Bagaimanapun buruknya sikap ibunya, jangan sakiti perasaan Tirta. Dia bisa kecewa jika mendengarnya, kesabaran orang ada batasnya Kris." Dada Dwi berdegup, langsung mengusap dengan tangannya, mendengar ucapan spontan Kristal.
Mutiara langsung memukul punggung Kristal, ucapannya keterlaluan. Jangan sampai terucap di depan Tirta yang bisa saja meninggalkan Kris.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kris, seorang putra bisa meninggalkan wanitanya demi ibunya. Kamu juga tidak bisa merebut putra dari ibunya. Tirta punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga nama baik orang tuanya." Dwi tidak tahu pasti seburuk apa Cheryl, tapi pasti tetap ada sisi baiknya.
Pukulan di meja rias terdengar, Kris menatap dekat wajah Dwi. Mengingatkan jika ucapan Cherly lebih pedas dari ucapnya.
Dwi mencoba berpikir, karena Kris tidak boleh menjelekkan calon mertuanya. Melihat sikap Kris yang keras dan mulutnya yang kelewatan jujur pastinya cocok dengan ibunya Tirta.
__ADS_1
"Manda punya solusinya, Kris tidak boleh memusuhi Cherly, tapi menjadikan kawan."
"Caranya?"
"Ikuti saja permainan Cherly pastikan jika kamu wanita yang pantas untuk Tirta. Kamu bisa bersikap, selayaknya Cheryl bersikap."
"Manda benar, sekarang yang harus kamu pikirkan bukan menyingkirkan Cherly, tetapi memiliki Tirta seutuhnya." Muti menepuk pelan pundak Kris, memasang badan untuk membela Kristal.
MUA yang ada di dekat mereka hanya tersenyum, calon ibu dan anak sama-sama konyol. Bukan membahas pernikahan yang sudah di depan mata, tapi sibuk membicarakan hal lain.
"Astaghfirullah Al azim, kapan selesai make up-nya? acara ijab kabul sebentar lagi di mulai." Nenda mengerutkan keningnya melihat tiga wanita yang kompaknya jika bergosip.
Dwi langsung memakai baju kebaya putih yang menambah kecantikannya, tersenyum melihat wajahnya di kaca.
Mahkota kecil dipasang di kepala yang sudah menggunakan hijab, kecantikan Dwi semakin terlihat.
Muti dan Kris tersenyum, memakai baju kebaya berwarna biru langit. Rambut Muti dan Kris di urai, rambut Muti lurus panjang, sedangkan Kristal panjang keriting ikal.
Keduanya menggunakan bunga kecil di kepala, langsung berdiri di samping Dwi yang sudah deg-degan.
Tangan Dwi dingin, menggenggam tangan Muti dan Kristal yang juga sama deg-degan.
"Kris lebih takut jika Panda melakukan kesalahan, pasti memalukan." Kris menepuk pelan wajahnya agar tidak berpikir buruk.
Mendengar ucapan Kristal, Dwi semakin panik. Penikahan pertamanya tidak menakutkan, karena tidak bertemu langsung.
Di ruangan ijab kabul sangat tenang, Ilham juga terlihat santai dan masih tersenyum berbicara dengan warga tempat tinggalnya.
Han juga bergabung bersama, pertama kalinya bagi Han bisa berbaur dengan banyak orang. Berbicara tentang hidup, bukan hanya membicarakan pekerjaan.
"Ham, kamu masih tampan seperti dulu, saya sudah anak lima dan memiliki cucu, rambut uban semua. Sedangkan kamu masih terlihat umur tiga puluhan, tampan sama seperti menantu kamu." Candaan teman-teman sekolah Ilham terdengar membuat tawa.
"Kebahagiaan orang ada di kondisi yang berbeda, kamu bahagia memiliki anak dan istri, sedangkan aku meskipun terlihat muda tanpa pendamping di sisiku."
"Lebih enak kamu, waktu pacaran saja yang pendiam, setelah menikah sejak bangun tidur sampai tidur lagi hanya mengomel terus. Pusing Ham." Suara tawa kembali terdengar.
Alhan mengerutkan keningnya, ucapan bapak-bapak ada benarnya. Sebelum jatuh cinta, Muti wanita yang sangat pendiam, lembut. Sekarang sangat cerewet dan selalu membantahnya.
"Ucapan bapak benar, tapi jika dia diam lebih menakutkan." Han tanpa sengaja berceloteh .
__ADS_1
Ilham tersenyum menepuk pundak Han, mengusap punggung menantunya untuk lebih sabar lagi menghadapi putri kesayangannya.
Penghulu meminta bersiap, jam sudah menunjukkan waktu ijab kabul di mulai. Ilham tersenyum langsung duduk di depan penghulu.
Pengantin wanita sudah keluar, langsung duduk berjauhan dari mempelai laki-laki. Tangan Ilham dan penghulu berjabatan, tatapan Dwi terlihat menatap punggung calon suaminya.
"Panda, tampan sekali." Kris tersenyum manis.
Penghulu memulai ijab kabul, menatap Ilham yang langsung menyelesaikan ijab kabul dalam satu tarikan nafas.
Seluruh saksi mengatakan sah, Nenda meneteskan air matanya menatap foto suaminya yang tidak bisa melihat putra semata wayangnya menikah.
Air mata Ilham juga menetes diantara kedua telapak tangannya yang sedang membaca doa, teringat kembali kepada Ayahnya yang selalu memintanya menikah.
Mutiara dan Kristal sudah berpelukan, ikut bahagia melihat neneknya tersenyum sambil menangis, mencium kening Dwi yang juga merasa terharu.
Pengantin wanita maju, duduk di samping suaminya. Tangan Dwi masih dingin, ragu ingin bersalaman.
"Tangan kamu, apa aku harus memasang cincin di kaki?" Ilham tersenyum melihat wajah Dwi yang tegang.
Senyuman Dwi terlihat, melihat cincin di jari manisnya. Memasang balik cincin ke jari manis manis suaminya.
"Akhirnya kita menyelesaikan tugas, Manda ayo cepat proses membuat Anggrek." Muti bertepuk tangan, diikuti oleh Kristal yang juga meminta mawar segera dibuat.
"Melati kapan?"
"Sebenarnya sudah diproses waktu di luar negeri, tapi Daddy-nya melarikan diri." Kris tertawa setelah dipukul oleh Muti.
Ilham menatap Dwi, mempertanyakan siapa Anggrek yang Muti maksud. Dwi hanya menggelengkan kepalanya, berpura-pura tidak tahu menahu.
Kepala Han geleng-geleng meminta Muti dan Kristal diam, memberikan waktu untuk dua mempelai menyelesaikan pernikahan, bukan mendengar kehebohan.
"Kenapa Papinya Mawar marah-marah?" Kris menyipitkan matanya.
"Biasalah, belum menyusu." Muti memonyongkan bibirnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1