MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KRISTIN


__ADS_3

Suasana makan malam aneh bagi Han, karena Mutiara selalu tertunduk, sedangkan Kristal cengengesan mengejek Muti.


"Silahkan suami." Kris menahan tawanya.


Han mengerutkan keningnya, Muti melotot tajam ke arah Kristal yang sudah mengunyah makanannya.


"Kenapa kak Muti? layanan suami agar menjadi istri yang baik." Kris langsung tertawa.


"Diamlah Kristal!" Muti memonyongkan bibirnya.


Kepala Alhan geleng-geleng, dua bersaudara mengabaikannya karena sibuk saling ejek sambil makan.


Kristal tidak berhenti memanggil suami, sedangkan Muti terus cemberut menahan malu.


"Apa yang kalian berdua ributkan?" Han meminta berhenti bercanda.


"Baik suami." Kris tersenyum manis.


Mutiara dan Han saling pandang, Muti mencubit lengan Kristal yang membuatnya malu.


"Geli aku mendengarnya Kris, berhenti bercanda." Han langsung minum air putih.


"Iya, membuat malu saja. Lebih baik kamu makan banyak." Muti menyuapi Kristal agar berhenti banyak bicara.


Kristal tertawa, merasa lucu melihat Muti yang malu-malu menatap suaminya.


"Baiklah, aku beristirahat lebih dulu. Kalian berdua selamat bersenang-senang." Kris berjalan meninggalkan ruang makan.


Alhan hanya geleng-geleng kepalanya, melanjutkan makannya bersama Muti yang melayaninya.


"Bagaimana soal Jenny Kak?"


Han menghela nafas kasar, Jenny hanya mendapatkan pemeriksaan sebagai saksi, dia menyudutkan Indri, sedangkan Indri memojokkan Mega.


"Kemungkinan Mega yang akan ditahan." Han tersenyum meminta Muti tidak khawatir, karena Han akan melakukan segala cara untuk menangkap Jenny.


"Kak Han baik-baik saja?" Muti melihat wajah Han terlihat lelah.


Senyuman Han terlihat, mengatakan jika dirinya sangat baik. Han ingin menemui Kristal membicarakan soal keinginan Muti diakui sebagai istrinya.


Han sudah mempersiapkan berkas untuk mengungkap soal Muti dan Kristal yang sebenarnya.


"Jangan sekarang kak, nanti saja." Muti tersenyum meminta Han menundanya sampai mereka menguasai perusahaan keluarga Iskandar.


Han binggung melihat sikap Muti yang berubah-ubah, tadi siang marah-marah karena tidak diakui dan sekarang melarang.

__ADS_1


"Mommy Nathalie datang ke sini, dia merendahkan Kristal. Aku ingin Kris dan Tirta memiliki kejelasan baru kita ungkap, karena kita harus menjaga nama baik anaknya Kris." Muti tersenyum, dia sangat menyayangi Kristal juga calon keponakannya.


Senyuman Han terlihat, menggenggam erat jari jemari Muti. Anaknya Kris juga anaknya Han dan Muti sudah seharusnya mereka saling melindungi.


"Bahagia kamu juga bahagianya aku." Han mencium tangan Muti, mengikuti apapun yang istrinya inginkan asalkan Muti tidak meninggalkannya.


"Kak Han, kenapa memilih Muti bukan Kristal? dulu kak Han mencintai dia?" Kepala Muti tertunduk, merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.


"Entahlah, sejak awal aku merasakan beda jika bertemu kamu. Kris cukup sebagai adikku." Han meminta Muti menghabiskan makanannya.


Mutiara tersenyum menganggukkan kepalanya, melihat ke arah ponsel Han yang mendapatkan panggilan dari Apri.


Pembicaraan keduanya terdengar oleh Muti, Han hanya santai saja menatap wajah istrinya yang melotot.


"Kenapa kamu semakin hari semakin galak? apa kamu sedang datang bulan?" Han menatap Muti sambil mematikan ponselnya.


"Aku hamil!" Muti berteriak di telinga Han yang menyemburkan air minumnya.


"Gila! hamil anak siapa? aku belum melakukan apapun?" Han melotot membentak Mutiara.


Muti memukul punggung Han, tidak harus meneriakinya. Dia tidak tuli, dan pendengarannya masih sangat baik.


"Memangnya kalau hamil harus melakukan sesuatu? Muti mengambil piringnya membawa ke tempat cucian.


"Sayang, kamu tahu kenapa orang bisa hamil?"


"Karena tidur bersama laki-laki, kita juga pernah tidur berdua." Muti mencuci piring, meminta Han melepaskannya.


Kening Han berkerut, mengeratkan pelukannya sambil mencium pipi istrinya.


"Kamu juga pernah tidur dengan Kristal." Han meringis mengusap kepalanya yang dipukul menggunakan sendok.


"Kita sama-sama perempuan, jadinya wajar saja. Perempuan dan laki-laki jika tidur berdua baru bisa hamil, bukan tidur dengan perempuan. Kak Han bodoh." Muti memukuli suaminya agar menjauh.


Alhan menatap sinis, Muti yang tidak tahu apapun, tapi dirinya yang disalahkan.


"Mutiara, hamil tidak semudah tidur. Ada ritualnya." Han menahan tawa.


"Kak Han sakit ya? kenapa aneh sekali?" Muti memegang kening suaminya yang tidak panas.


Alhan duduk diam memperhatikan Muti yang sibuk mondar-mandir membersihkan sisa makan mereka.


"Sayang, ayo kita membuat anak?"


"Jika sudah waktunya juga pasti akan diberikan, tidak harus membuat." Muti mencuci tangannya setelah membersihkan bekas makan.

__ADS_1


"Menyebalkan, kamu ingin makan juga harus masak dulu, apalagi mempunyai anak harus di proses dulu." Han berteriak menatap kesal Mutiara.


"Biasanya juga kak Han suka makan di luar, kenapa marah-marah?" Muti melipat tangannya di dada.


"Oh sekarang sudah berani melawan?" Han mengerutkan keningnya.


"Tidak juga, Muti hanya bercanda." Senyuman Muti terlihat, menurunkan tangannya.


Alhan langsung tertawa, meminta Mutiara mendekatinya. Muti melangkah satu langkah, tapi langsung berlari meninggalkan Han di dapur.


"Mutiara!" Han langsung berjalan keluar dapur.


Muti sudah menghentikan langkahnya saat melihat Bundanya ada di dalam rumah, Muti langsung menutup kedua pipinya sebelum ditampar.


"Enak sekali kamu bisa tertawa Kristal?" Senyuman sinis terlihat menatap tajam Kristal.


"Kenapa sembarangan orang bebas masuk rumah ini?" Han menatap penjaga yang dipukuli oleh bawahan Mertuanya.


"Kamu tidak punya hak atas perusahan Iskandar, karena aku yang membangunkannya."


Alhan mengerutkan keningnya, meminta Muti berdiri di belakangnya. Han mulai kesal melihat Bundanya Kris yang sangat egois.


"Kenapa Tante sangat membenci Kristal? padahal dia anak kandung Tante. Soal perusahan Iskandar bicarakan dengan Han, bukan Kristal." Alhan menatap tajam, melihat tamu tengah malam yang memaksa masuk rumahnya.


"Kamu tidak tahu jika dia penjahat, suatu hari kamu akan menyesal menikahinya."


"Tidak, aku tidak akan menyesal. Tante marah kepada Kris karena apa? masalah Tante ada pada Iskandar dan Nathalie, bukan Kristal. Dia masih kecil saat kalian berpisah." Han menaikan nadanya, meminta istrinya masuk kamar.


Mutiara melangkah menjauh, dan melihat perdebatan Han dan Bundanya semakin panas.


"Apa karena saudara kembar Kris? Bunda membenci Kristal karena Mutiara. Apa yang Kris lakukan kepada Muti sehingga Bunda marah?" Air mata Muti menetes, menatap dari tangga.


"Mutiara, siapa dia? kamu membunuh Kristin. Hanya karena Kakak kamu selalu sakit dan tidak bisa keluar rumah, kamu menyakitinya." Tatapan mata Bunda tajam.


"Kris menyayangi dia, sangat menyayangi dia. Maafkan Kristal Bunda, jangan benci Kristal karena kami saling menyayangi." Tangisan Muti semakin kuat, dia ingin merasakan dipeluk oleh Bundanya.


Alhan tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi Kristal tidak boleh disalahkan karena dia masih kecil dan tidak mengerti apapun.


"Kamu meminta maaf, apa kamu mengingat soal dia? kamu hidup menggunakan mata dan ginjal Kristin, seluruh organ tubuh Kristin ada di kamu. Seharusnya kamu yang mati, tapi Iskandar membunuh Kristin demi menghidupkan kamu."


Kristal melangkah keluar, menatap Bundanya dan Mutiara. Bunda Kris terkejut melihat dua wanita kembar.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2