
Senyuman Tirta terlihat menatap putra dan putrinya yang menatapnya sambil tertawa, sedangkan Kristal sibuk menyusun baju barunya, juga tas bermerek.
"Lihat apa sayang? mau gedong Ayah." Tirta berbicara dengan kedua anaknya yang tersenyum melihat Tirta terus bicara.
Barang berjatuhan terdengar membuat Hana langsung teriak menangis, karena terkejut mendengarnya. Teriakan Kris jauh lebih besar, karena kaget melihat tas harga ratusan juta jatuh.
Kepala Tirta geleng-geleng, hanya bisa mengucapkan istighfar menatap istrinya yang sibuk sendiri.
"Sayang, semua lemari isinya tas. Koleksi jam aku juga kamu singkirkan." Tirta menggendong anaknya yang menahan air mata.
"Kak Tirta tidak suka, pindah kamar saja." Kris menatap sinis, koleksi dirinya jauh lebih penting.
"Bunda aneh sekali, barang branded jauh lebih penting." Tirta berbicara dengan Hana yang tersenyum.
Kristal menatap kesal, memarahi Tirta yang mengajari Putrinya. Meksipun Kris menyukai barang-barang mahal, anaknya tetap paling berharga.
Apapun yang Kris miliki untuk dikoleksi, Hana akan mewarisi apa yang dimiliki oleh Bundanya. Kristal akan mengajari anaknya cara hidup mewah, berkelas, juga terhormat.
"Astaghfirullah Al azim sayang, anak diajarin taat beribadah, memperbaiki akhlak, bersekolah yang tinggi agar menjadi orang yang bermanfaat." Kepala Tirta pusing mendengar ocehan istrinya.
"Ayang, dengarkan Kristal baik-baik. Semua yang Ayang ajarkan sesuatu yang tidak boleh dipamerkan, agar kita dihormati maka kita harus berkelas." Ucapan Kristal tidak bisa Tirta ganggu, karena Kris akan menjawab dengan banyak alasan.
Demi menghentikan ocehan Kris dari A sampai Z Tirta hanya bisa diam, tangisan Hana terdengar, suara Bundanya terlalu besar dan tidak mempunyai rem.
Kedua tangan Tirta menutupi telinga Putrinya, meminta Hana tidak mengikuti jejak sesat Kristal yang susah diatur, dan terlalu pamer harta.
Tri sudah terlelap tidur, suara Kristal seperti nyanyian Nina Bobo penghantar tidur. Tri tidak terusik sama sekali dengan suara Bundanya yang mengalahkan suara teriakkan ratusan orang.
"Sayang, jangan suka pamer. Nanti Allah ambil nikmatnya baru menyesal."
"Innalilahi Ayang Tirta, kenapa sudah membawa nama Allah? jahat banget." Kris membatalkan niatnya memposting barang-barangnya.
Tawa Tirta terdengar, mendekati istrinya yang memonyongkan bibirnya. Tangan Tirta mengusap kepala istrinya yang paling aneh.
Tirta memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan istrinya selama mereka mampu, tetapi Tirta juga mempunyai kewajiban untuk menasihati istrinya juga sudah berlebihan.
__ADS_1
Nikmat yang dimiliki hanyalah titipan, kapanpun diambil tidak bisa menghentikannya. Setiap orang mempunyai hobi masing-masing.
"Sayang, jika kamu memamerkannya dilihat oleh orang yang tidak punya akan membuat sedih, kecewa dan merasa dirinya tidak seberuntung kamu. Jika dilihat oleh orang yang memiliki hobi sama, dia memaksa diri untuk memilikinya tanpa memikirkan darimana dapatnya. Nikmati sendiri saja sayang, jangan diumbar." Kecupan Tirta lembut di kening Kris.
Kepala Kristal mengangguk, meminta izin hanya untuk pamer kepada kakaknya Mutiara yang pasti akan mengamuk Han.
Keinginan Kris mendapatkan izin, langsung mengirimkan foto untuk menyombongkan diri atas apa yang dimiliki.
Perlahan Tirta meletakkan Putrinya di dalam boks, meminta Kris duduk di sampingnya.
"Sayang, duduk sini." Tangan Tirta menepuk sofa.
Kris langsung berjalan ke arah suaminya, duduk sambil menyandarkan kepalanya memainkan ponselnya.
"Kris, kamu bahagia?"
Senyuman Kristal terlihat, mencubit pipi suaminya yang sangat mengemaskan. Pertanyaan suaminya sesuatu yang sudah terlihat jelas di wajah Kristal.
"Tatap wajah Kris, lihat betapa bahagianya Kristal." Senyuman manis Kristal terlihat, memastikan kepada suaminya jika dirinya wanita paling beruntung memiliki Tirta sebagai suaminya.
Tangan Tirta mengusap wajah istrinya, bersyukur karena Kristal bahagia bersamanya. Dan Tirta akan terus membuat istrinya bahagia dengan cara apapun.
Kepala Tirta mengangguk, air matanya menetes langsung memeluk Kris. Kebahagiaan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kehadiran Kris dan anak-anak menjadi kebahagiaan terbesar bagi dirinya.
"Bahagianya aku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku bahagia memiliki kamu Kris."
Kris tertawa lucu, mengingat Tirta saat pertama mereka bertemu. Tirta lelaki yang sangat ceria, seperti tidak memiliki beban.
Saat Kris memberikan minuman memabukkan, Tirta ragu untuk meminumnya, tetapi setelah satu gelas kecil, berkali-kali langsung menambah sampai lepas kendali.
"Kamu selalu membuat pria mabuk, aku baru sadar. Kristal yang terkenal nakal, ternyata wanita yang memiliki seribu cara untuk menyingkirkan orang-orang mendekatinya." Tirta tertawa, mengacak-acak rambut istrinya.
"Aku sudah menemukan banyak jenis lelaki, tapi mendengar curahan hati kamu. Jujur Kristal kasihan." Kris tersenyum mengusap kepala suaminya.
"Lalu kenapa kamu menjauh?"
__ADS_1
"Aku harus menyelamatkan kakakku, dulu kak Han lelaki yang menakutkan, dia tidak segan-segan menyakiti Kak Muti yang polos, Kristal harus menjadi perisai untuknya." Air mata Kris juga menetes, menatap kedua anaknya yang masih tidur.
Air mata Kris dihapus oleh Tirta, masa lalu biarlah menjadi pelajaran hidup yang sudah dilewati. Sakitnya biarkan menjadi ingatan untuk tidak terulang kembali, sedangkan kenangan baiknya menjadi ingatan jika kita pernah sakit dan bahagia.
"Kamu sangat menyayangi Mutiara, rela berbagi nama juga kehidupan. Istriku wanita paling baik, kamu malaikat tanpa bersayap." Pelukan Tirta sangat erat.
Kepala Kris menggeleng, bukan dirinya yang menjadi malaikat, tetapi Mutiara penyelamatan hidup Kris.
Tanpa Mutiara mungkin Kris tidak tahu jalan apa yang terjadi kepadanya, tidak ada teman, saudara, keluarga. Dirinya tidak memiliki apapun.
"Kak Muti nyawa Kristal, dia hidup jauh dari kota, tapi saat kita bersama dia berubah untuk menjadi orang yang kuat, meskipun dirinya tidak tahu bahaya apa di depannya." Kris mengusap air matanya.
Melihat kebaikan hati Muti yang sudah dipukul oleh Han, tapi masih saja mencari cara untuk mengobati. Tidak ada rasa dendam sedikitpun dihatinya.
Dirinya tidak tahu pendidikan, tapi demi menyelamatkan Han dan berubah menjadi orang baik, Muti berjuang.
"Ayang bayangkan saja jika tidak ada Muti, apa jadinya Kristal. Mungkin juga tidak ada pernikahan ini, tidak ada Hana dan Trisna. Tidak ada kebahagiaan ini kak. Kita bahagia, karena Muti pernah berkorban." Kris melihat fotonya bersama Muti.
"Kamu benar sayang, takdir kita sudah diatur sejak awal, kita diwajibkan melewati masalah ini agar bisa menemukan kebahagiaan sebenarnya. Kak Han menemukan jodohnya, dan aku juga menemukan jodohku." Tirta menganggukkan kepalanya.
Dibalik masalah yang sudah berlalu, hidup mereka memiliki jalan lika-liku dan berakhir bahagia.
"Perjalanan kita masih panjang Kris, tolong dampingi aku melewatinya." Tirta menggenggam jari jemari istrinya.
Kepala Kris mengangguk sambil tersenyum, dirinya tahu jika jalan masih panjang, tapi Kris tidak takut dengan apapun di depannya selama ada suaminya yang melengkapi hidupnya.
Jika masalah terberat juga berhasil dilewati, apalagi hanya masalah kecil.
"Ayo kita bahagia sampai tua." Kris mencium tangan suaminya.
"Kita bahagia sekarang, nanti dan selamanya." Tirta juga mencium tangan Kris.
***
episode terakhir Kristal dan Tirta.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira