
Suara tangisan Cherly terdengar, meminta maaf kepada Ibunya Tirta, karena dirinya tidak mengatakan kebenaran kepada Ayahnya Tirta, demi melindungi Tirta.
"Di mana anakku Cherly? sudah lama dia tidak kembali." Air mata menetes melihat ke arah pintu.
"Maafkan aku kak Elin, Tirta sudah besar sekarang. Aku membesarkannya sesuai perintah." Tangisan Cherly tidak tertahankan.
Cherly menceritakan keadaan saat terjadinya kekacauan, Tirta diculik dan menghilang. Segala cara sudah dilakukan, dan segala pihak menyalahkan Cherly agar bertanggung jawab atas hilangnya Tirta.
Setelah menemukan keberadaan Tirta, Cherly membawa Tirta kepada Ibunya yang sudah dirawat, seseorang sengaja membuat Ibunya Tirta gila, demi melindungi Tirta Cherly menyembunyikannya.
Bertahun-tahun bekerja tidak bisa menanggung biaya hidup dan pengobatan Elin, dan terpaksa Cherly mengambil jalan singkat.
"Jujur aku menyesalinya, tapi aku tidak bisa mundur lagi. Menyakiti orang lain, demi kita yang tidak tersakiti. Han boleh membenci aku, dan tidak diizinkan memaafkan. Cherly berhak mendapatkannya." Tarikan nafas Cherly panjang, langsung menghapus air matanya.
Han dan Tirta mendengar semuanya, Cherly tidak akan meminta maaf kepada Han, karena memang tidak ingin dimaafkan. Sama halnya dengan Tirta yang boleh membencinya.
"Aku bahagia menjadi orang jahat, dan tidak ada yang perlu aku jelaskan. Jika ingin bertahan hidup, maka jangan pernah kasihan." Cherly langsung melewati Tirta dan Han yang masih terdiam di depan pintu.
"Hukuman untuk kamu, jaga Papi dan jangan pernah tinggalkan dia. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian." Han menghentikan langkah Cherly.
Kepala Cherly mengangguk, langsung meninggalkan panti dengan banjir air mata. Membiarkan Tirta bersama orang tua kandungannya.
Senyuman Elin terlihat, mengulurkan tangannya kepada Han dan Tirta. Alhan langsung mendorong pelan punggung Tirta untuk menyambut tangan Ibunya.
Tangan Tirta terangkat, ragu-ragu ingin menyentuh tangan ibunya yang sudah dia anggap meninggal.
"Arta ... putraku. Kenapa kamu sudah besar?" Elin mengukur tubuh Tirta yang tinggi.
Kepala Tirta tertunduk, langsung berlutut sambil menangis. Menggenggam tangan, langsung menarik ke arah pipinya, mencium tangan Elin berkali-kali.
"Mereka kembar, kak lihat. Dua wanita ini kembar." Elin menarik tangan suaminya menatap Kris dan Muti yang duduk berdekatan.
"Iya, dia Kristal dan Kris Kris ... Kris."
"Mutiara, nama saya Muti, bukan Kris Kris ... Kris." Tatapan Muti tajam membuat Elin tertawa.
__ADS_1
Mata Han tajam melihat istrinya yang masih punya waktu untuk membatah, tidak bisa mengikuti suasana.
Bibir Muti monyong, mengabaikan mata suaminya yang hampir keluar. Muti tidak merasa dirinya salah, karena tidak semua anak kembar namanya hampir sama.
"Dia lucu, cocok menjadi menantu kita." Tawa kecil Elin terdengar menatap Muti.
"Kenapa harus kak Muti? Kristal sudah menjadi istrinya Tirta." Kris langsung berdiri dari duduknya, tatapannya penuh kemarahan.
Muti langsung tertawa, dia juga tidak tertarik dengan Tirta. Jika Muti menginginkannya sudah sejak pertama bertemu hubungan keduanya baik.
Kening Kris berkerut, Tirta juga tidak tertarik dengan Mutiara yang bicara saja tidak nyambung. Meksipun pertemuan pertama dengan Muti, tetap saja Tirta jatuh cinta dengan Kris.
Pertengkaran adu mulut terjadi, Han mengusap dadanya. Hanya karena ocehan Elin yang tidak tahu apapun, Muti dan Kris bertengkar.
Han langsung menutup mulut keduanya yang masih cekcok, bahkan sudah melotot, saling tunjuk.
"Maafkan mereka berdua Bu Elin, istri dan adik ipar saya memang tidak pernah akur." Han tersenyum meminta maaf, masih menutup mulut twins yang hobinya bertengkar.
Muti melepaskan tangan suaminya, langsung meneriaki Han yang mengatakan jika mereka tidak akur, padahal Muti merasa sangat akur.
"Jaga ucapan kak Han, Muti akur bersama Kris."
"Lalu ini apa? akur hanya sesaat, sisanya bertengkar." Han menutup kembali mulut keduanya.
Tangan Tirta masih menggenggam tangan Ibunya, meminta maaf karena dirinya terlambat menemui.
"Maafkan pertengkaran kecil istrinya Tirta."
"Mana? Kris atau Muti. Mereka kembar, Elin binggung." Kepala Elin geleng-geleng, tidak tahu Muti dan Kris.
"Jika pintar masak Muti, jika tidak Kris." Muti tersenyum memperkenalkan dirinya.
Kristal langsung ingin menjawab, Han menarik telinga Kris untuk berhenti meladeni Muti yang tidak pernah ingin kalah, meskipun dia berstatus kakak.
Panggilan di ponsel Kris masuk, langsung menyingkir sedikit menjauh. Kristal menghela nafasnya langsung melihat ke arah Tirta yang masih mencoba bicara dengan Ibunya.
__ADS_1
Terkadang Elin mengingat anaknya, terkadang juga lupa. Ucapan Tirta juga tidak mendapatkan respon, Elin sudah bertanya hal lain.
Alhan juga sudah mendekati Elin, memperkenalkan dirinya. Senyuman Elin terlihat, memeluk Han yang dia pikir anaknya Arta yang sudah dewasa.
Meksiko Ibunya tidak mengenali dirinya Tirta sangat mengerti, proses penyembuhan membutuhkan waktu juga dukungan keluarga terdekat.
Bagi Tirta, hal terpenting dirinya sudah dipertemukan dengan Ibu yang melahirkannya.
"Kak Muti, ikut Kris." Tangan Kristal menarik kakaknya untuk keluar.
Kristal menceritakan apa yang diselidiki oleh Kris selama beberapa hari, orang yang menculik Tirta kecil masih ada disekitar Ayahnya Tirta, bahkan sengaja menggunakan Arnas untuk mendapatkan Tirta sampai menjadi pewaris harta Ayahnya.
"Sialan, jahat sekali mereka. Tertawa di atas penderitaan Tante Elin, juga Tirta. Keluarga kak Han tidak mungkin berantakan, jika keluarga Tirta tidak hancur." Muti menendang dinding, memukul dengan tangannya tidak akan memaafkan orang yang menyakiti keluarganya.
Senyuman Muti terlihat, menatap ke arah Elin yang mengusap wajah Han dan Tirta. Membiarkan Elin melepaskan rindu, dan Muti bisa merasakan jika Han merasa nyaman berdekatan dengan Elin.
"Kak Muti, Kris pergi menyusul Cherly. Aku yakin dia pasti akan membunuh wanita yang menyebabkan dirinya menjadi penghancur keluarga orang lain." Kris sangat yakin, Cherly langsung menemui wanita yang mengaku sebagai istri muda Ayahnya Tirta.
"Muti ikut, kamu harus tahu. Ayah Arnas mendorong Manda sampai hampir jatuh, Muti ingin membalasnya." Tatapan Muti sinis langsung pergi bersama Kris untuk menyusul Cherly.
Mutiara menghubungi Cherly, tapi tidak mendapatkan jawaban. Cherly sengaja mematikan panggilan.
Kris meminta Muti mengirimkan pesan, Cherly tidak bisa melawan sendiri, karena lawannya lebih licik.
"Kak Muti, hubungi Mommy. Katakan Kristal ingin memukul pelakor, Mommy pasti akan membantu kita." Kris tersenyum, sebelum polisi yang bertindak, Kris ingin melepaskan amarahnya terlebih dahulu.
"Mommy Nathalie, nanti dia melapor kepada Daddy?"
"Aman, Nathalie sama seperti Cherly. Selain mulutnya panas, hobi juga cakar-cakaran." Tawa Kristal terdengar.
Mendengar penjelasan Kris, Muti langsung memanggil Mommy Nathalie, memintanya menunggu Kris dan Muti sebelum Cherly menyerang lebih dulu.
Mendengar rumah tangga Kris kehadiran pelakor, Nathalie tidak terima. Langsung marah dan mencaci maki pelakor, langsung membatalkan rencana arisan.
Mobil Kris melaju dengan kecepatan tinggi, selain sudah malam jalanan juga sepi, sehingga aman untuk Kris kebut-kebutan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira