
Mata Muti terbuka, teringat kondisi adiknya yang mengalami pendarahan karena menolong dirinya agar tidak terhentak.
Saat Muti menoleh ke arah kirinya ada Lily yang terbaring, kepala Lily dibalut, tangannya juga terluka.
Air mata Muti menetes, mengingat adiknya menggelinding jatuh ke lantai bawah. Lily masih bisa berlari meskipun kepalanya berdarah.
"Lily, kamu baik-baik saja Dek?" Muti mengusap air matanya.
Pandangan Muti melihat ke kanan, perlahan Muti turun dari ranjang membawa infusnya. Langsung mendekati Kris yang belum bangun.
Sentuhan Muti di perut Kris yang sudah tidak sebesar sebelumnya, tangisan Muti sesenggukan. Bekali-kali Muti mencium tangan Kris, meminta maaf karena Kris terluka ulah dirinya.
"Alhamdulillah kamu masih ada nafasnya, kak Mutiara takut kehilangan kamu Kris. Jangan pernah tinggalkan kak Muti." Tangan Muti menyentuh denyut nadi.
Muti berjalan ke arah boks bayi, menatap kedua anaknya yang masih tidur. Muti mengusap wajah Putra dan Putrinya.
Pintu ruangan terbuka, Tirta masuk sambil tersenyum. Mendekati Muti yang mengusap wajah bayi.
"Kamu ingin menggendong, kak Tirta bantu." Senyum Tirta terlihat, menyerahkan bayi perempuan kepada Muti.
"Kak Tirta baik-baik saja?" Muti mengkhawatirkan Tirta yang tersenyum lebar.
Kepala Tirta mengangguk, dirinya sangat bahagia. Meskipun sangat mengkhawatirkan Kristal, tapi sekarang sudah bisa tenang.
"Kalian boleh mengaggap anak Muti, seperti anak kalian juga." Muti mencium bayi mungil.
"Iya, terima kasih. Kita sama-sama mempererat tali persaudaraan." Senyuman Tirta mengusap wajah si kecil.
Mutiara tersenyum melihat Han datang, menunjukkan Putrinya yang sangat cantik, mirip dirinya.
Senyuman Tirta terlihat, langsung mengambil si kecil. Memasukkan ke dalam tabung kembali agar tubuhnya hangat.
"Kenapa dimasukkan?"
"Katanya kamu ingin melihat Putri kalian?" Tirta keanehan melihat Muti.
Mutiara meminta Tirta diperiksa, Muti baru saja menggendong Putrinya. Dua anaknya berada disisinya. Muti mengetahui wajah anaknya.
Tirta menutup wajahnya, bayi yang Muti gedong anaknya. Perdebatan Muti dan Tirta terdengar, membicarakan soal bayi.
Han meminta keduanya diam, kondisi Kris membutuhkan istirahat, Lily juga baru diam. Dia menangis meraba kepalanya.
"Ini anaknya Tirta?"
"Anak Muti tahu."
__ADS_1
Tirta menunjukkan nama ibu bayi, Mutiara langsung menangis histeris. Baru menyadari jika anaknya tidak ada, padahal Muti tahu wajah anaknya.
"Sayang, kecilkan suara. Sebelah ini anak kita." Han menutup mulut istrinya, menunjuk ke arah bayi.
Muti langsung berjalan mendekat, melihat anaknya dan anak Kristal mirip. Muti bahkan tidak bisa membedakan keduanya.
Bukan hanya Muti yang mengira mereka kembar, Han dan Tirta juga kebingungan. Putra dan putri mereka memiliki wajah yang sama.
Kedua anak Tirta masih di dalam tabung, karena lahirnya prematur. Berat badannya sudah normal, tetapi suhu tubuhnya yang masih belum stabil.
Senyuman Muti terlihat, langsung mendekati Kris, memeluk adiknya sangat erat. Muti membangunkan Kris jika anak mereka kembar.
"Sakit kak Muti, menganggu saja." Kris membuka matanya.
"Anak kita kembar, keduanya sangat mirip." Muti mencium pipi adiknya.
Senyuman Kris terlihat, dia sudah tahu. Tirta sudah menceritakan semuanya, dilihat sekilas keempat bayi kembar.
Tubuh Kris masih lemas, kepala Kris menoleh ke Lily. Tangisan Lily terdengar, memegang kepalanya yang merasakan sakit.
Mendengar suara Lily menangis, Han langsung mengusap kepala Lily. Menenangkan agar bisa tidur kembali.
"Kepala Lily sakit."
"Tunggu, kak Han panggil dokter terlebih dahulu." Han langsung menekan tombol, meminta dokter mengecek kondisi Lily.
"Di mana Manda?"
"Lagi pulang sayang, mengambil baju kalian bertiga." Tirta membantu istrinya untuk duduk.
Kris meringis, merasakan perutnya sakit. Tirta meminta bergerak pelan. Jahitan bekas operasi belum kering.
"Sudah hilang." Lily langsung tidur kembali.
Mutiara juga kembali ke atas ranjangnya, Kristal juga tidur lagi karena tubuhnya masih lemas dan sulit digerakkan.
Tangisan Lily selalu membangunkan, beberapa menit sekali pasti menangis. Tirta dan Han bergantian untuk menggendong.
"Sakit sekali kepalanya sampai tidak bisa tidur." Tirta mengusap kepala Lily yang sudah tidur kembali.
Muti meminta Tirta mendekati, melihat luka di kepala adiknya. Muti memberikan ruangan untuk Lily tidur bersamanya.
Setiap Lily bangun, Muti langsung memeluknya. Menenangkan adiknya agar bisa menahan sedikit rasa sakit, karena kepala Lily akan segera sembuh.
"Kak Lily sakit, Lily ingin sekolah bermain bersama teman Lily." Tangisan terdengar, membuat Kris sedih.
__ADS_1
"Sabar, nanti pasti sembuh. Saat kita diberikan rasa sakit, artinya dosa sendang dibersihkan. Lily harus kuat, adiknya kak Kris anak hebat." Senyuman Kris terlihat.
Suara Lily mengomel terdengar, dirinya masih kecil belum memiliki dosa seperti Mutiara dan Kristal yang mempunyai banyak dosa.
Mendengar ocehan adiknya, Kristal tersenyum sinis. Seandainya Lily tidak sakit, sudah mendapatkan pukulan.
Suara Manda datang terdengar, langsung meletakkan bayinya di dalam boks. Muti langsung memeluk Mamanya yang sibuk mengurus Ikhsan juga repot mengurus mereka bertiga.
Dwi mendekati Kris, mencium wajahnya. Tangisan Manda terdengar meminta maaf. Kristal terluka karena kebodohan dirinya.
"Maafkan Manda,"
"Jangan meminta maaf terus, Kristal sudah mirip anak durhaka."
Kris merasa dirinya terlalu keras kepala, kebiasaan tidak suka dibentak membuat Kris menyimpan amarah.
Rasanya dada Kris hancur berkeping-keping, kemarahan dari orang yang disayang sangat membekas. Kris sangat mempercayai Mamanya, tapi mendapatkan bentakan yang membuat kecewa.
Mengapa Kris sangat membenci Nathalie, karena Bundanya mengatakan Nathalie jahat, perusak kebahagiaan sehingga keluarganya hancur.
Sampai dewasa Kris terus mengingatnya, sebaik apapun Nathalie tetap jahat bagi Kristal.
"Kristal sangat mempercayai Bunda, apapun yang Bunda katakan semuanya benar." Kris meminta maaf, sulit baginya menghilang sikap lama.
"Tidak sayang, seharusnya Manda bicara pelan. Memberikan teguran dengan nada lembut, bukan membentak." Dwi tidak bermaksud menyakiti perasaan Kris, dirinya hanya tidak ingin ada orang yang membenci putrinya.
Kondisi Kris hamil besar terlalu mencemaskan, Dwi tidak ingin jika Kristal terluka, karena ucapannya yang menyinggung.
Panda tersenyum melihat anak dan istrinya akur kembali, Muti langsung memeluk Mama dan adiknya.
"Tirta tidak tahu apapun soal ini." Wajah Tirta binggung, dia menjadi orang terakhir yang tahu.
"Bagaimana soal buktinya Han?"
"Sudah diamankan Pa, kita hanya menunggu Kristal pulih." Han tersenyum melihat adiknya Kristal yang sangat cerdas mengumpulkan bukti.
Sikap Kris yang tidak pernah menjelaskan menjadi masalahnya, seandainya sejak awal Kris mengatakan jika dirinya yang hampir disakiti.
Menjelaskan niat jahat Shena kepada keluarga, tidak mungkin masalahnya menjadi lebar.
"Lain kali katakan detail, tidak semua orang sepintar kamu. Kris hanya mengatakan, aku tidak salah. Sudah itu saja." Han meminta Kris mengurangi sikap egonya, agar masalah terselesaikan dengan cepat.
Tirta juga memperingati semua orang jika dirinya juga berhak tahu atas apapun yang terjadi, bukan menjadi orang terakhir.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira