MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KERJA SAMA


__ADS_3

Di dalam kamar Mutiara dan Kristal saling berdebat, keinginan Muti menolong Alhan agar bisa sembuh juga tugas Kris menjaga Han selama di perusahaan.


Kristal berteriak kuat, mencengkram lengan Muti yang ingin bermain-main bersamanya. Kris tahu siapa Alhan, dia sampai melarikan diri dari rumah demi bisa menghindari Han, tapi apa kenyataannya.


Alhan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia ingin, bahkan bisa menghancurkan perusahan keluarga Iskandar, tapi dia juga yang berpura-pura menjadi malaikat.


"Kamu tidak tahu kejamnya Alhan, lebih baik kita menjauh daripada terluka." Kris mengambil belanjaan dan memberikan beberapa baju untuk Mutiara.


Langkah Muti memasuki kamar mandi, menghidupkan shower dan duduk di bawahnya.


Semua orang hanya melihat sisi jahatnya Alhan, dan melupakan dirinya yang dulu yang baik hatinya. Orang-orang menutup mata tidak ingin melihatnya hanya karena kekurangan.


Tidak ada yang bisa merasakan diposisi dirinya yang sendiri, tidak ada yang menolong dan merangkulnya untuk melewati segala masalah.


Alhan tidak punya pilihan selain menjadi orang jahat agar dirinya selalu terlihat kuat dan tangguh, juga bisa bersaing.


Mutiara mengusap air matanya, meremas rambutnya yang sudah basah kuyup.


Pintu kamar mandi terbuka, Kristal masuk dan melihat kembarannya bersedih. Sejak kecil Kris selalu bertahan untuk menjadi anak yang kuat agar tidak dipojokan, tapi melihat kesedihan Muti dadanya terasa sesak.


"Apa yang kamu inginkan? dan apa yang bisa kita lakukan?" Kris menatap kembarannya yang masih tetap diam.


Bekali-kali Kris memanggil Muti yang masih diam, emosinya mulai terpancing melihat sikap Muti yang keras kepala.


"Siapa aku? bahkan aku tidak tahu jawabannya." Muti menatap Kristal yang terkejut.


Keberadaan Mutiara hanyalah bayangan, dia tidak tahu wajah orang tuanya, tidak tahu apapun tentang dirinya.


Sejak kecil Muti selalu mencari sosok ibu dan ayah, tapi jawaban yang dia dapat jika kedua orangtuanya telah tiada, satu harapan Muti bisa melihat seseorang yang datang mengunjungi, tapi harapan hanya tinggal harapan yang tidak memiliki ujung.


"Aku tidak diakui hidup di dunia ini, tidak ada yang mengenal aku, tidak ada yang tahu jika aku ada di dunia ini. Kamu tidak tahu rasanya hidup seorang diri." Muti menutup wajahnya, menangis sesenggukan meluapkan kesedihannya.


Kristal mematikan air shower, langsung memeluk Muti yang hidup menderita tanpa ada yang tahu penderitaannya.


"Baiklah, aku akan mengikuti apa mau kamu. Jika memang menolong Alhan bisa membuat kamu bahagia." Kris tersenyum mengusap air mata Mutiara yang tersenyum langsung memeluk saudara kembarnya.

__ADS_1


Rencana pertama mereka mencari tahu dan mengatur jam keduanya, Kristal akan menemani Alhan saat di luar rumah, sedangkan Muti akan menemui Alhan di dalam rumah.


Kris memberikan ponsel kepada Muti dan mengajari cara menggunakannya, mereka berdua harus berkomunikasi untuk bisa bertukar posisi.


"Ada yang aneh dengan obat-obatan Alhan? dia kecelakaan sekitar lima tahun yang lalu, tapi kenapa kondisinya semakin memburuk?" Muti mengambil satu-persatu obat Alhan yang harus Kristal selidiki.


"Dari mana kamu tahu ada yang aneh? Alhan pasti sudah berhati-hati soal obat-obatan, kesembuhan lambat mungkin karena terlalu sibuk bekerja." Kris menarik selimut bersiap untuk tidur.


Muti menepuk pundak Kris, dia pernah bekerja di desa membantu seorang dokter yang melakukan pekerjaan relawan. Sedikit banyaknya Muti belajar soal obat-obatan.


Kristal langsung duduk, tersenyum melihat Mutiara yang ternyata sebenarnya pintar meksipun tidak memiliki pendidikan yang tinggi.


Kris mengajari Muti untuk mencari tahu apa yang ingin dia ketahui, internet zaman sekarang sangat canggih, lebih canggih dari otak Kristal yang membutuhkan istirahat.


"Good night, belajar yang banyak ya Mutiara." Kristal menatap tajam langsung menutupi kepalanya dengan selimut.


Mutiara hanya tersenyum melihat saudara kembarnya yang ternyata memiliki sisi baik, meksipun dirinya hanyalah bayangan Kristal.


Muti mulai belajar untuk mengetahui kondisi Alhan, suara benda jatuh terdengar. Muti langsung berlari mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke arah suara.


"Tuan membutuhkan apa?" Muti langsung membantu Alhan berdiri.


"Buatkan aku makanan, meksipun aku tahu kamu tidak bisa masak." Han langsung berjalan ke meja makan, langsung duduk dan mengambil beberapa berkas yang harus dia kerjakan.


Sambil makan dan bekerja Han duduk diam, Mutiara sampai tidur di meja menunggu Han bekerja.


"Bangun, pindah ke kamar kamu jangan tidur di sini. Meja makan untuk makan bukan tidur?"


"Tuan juga salah, meja untuk makan bukan kerja. Tugasnya malam untuk menunjukkan jam istirahat, lalu kenapa tuan tidak tidur." Muti tersenyum, tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam Han.


"Kamu terlihat aneh Kristal, sejak kapan kamu bisa masak? aku kenal kamu cukup lama dan setiap hari pekerjaan kamu hanya bersenang-senang, bagaimana kamu bisa berubah lembut dan suka bercanda?"


Mutiara tersenyum, setiap orang bisa berubah. Apa yang selama ini Kristal hanya menunjuk sisi dirinya yang kuat.


"Kita sama tuan, bertahan dengan memperlihatkan keburukan agar tidak ada yang meremehkan kita." Muti menundukkan kepalanya mengingat sosok Kristal yang sebenarnya orang baik.

__ADS_1


Alhan langsung tertawa lucu, dan langsung mencengkram lengan Muti membuatnya teriak kesakitan.


"Jika kamu sebaik itu lalu kenapa kamu meninggalkan aku?" Han langsung berjalan ke arah kamarnya tanpa menoleh ke arah Mutiara.


Muti mengambil berkas yang ada di atas meja, Han berteriak meminta Kristal membaca ulang berkas yang belum selesai, besok Kris harus ikut dirinya untuk meeting dan tidak boleh melakukan kesalahan.


Jantung Mutiara berdegup kencang, langsung mengiyakan. Mengambil berkas dan membawanya ke dalam kamar langsung membangunkan Kristal yang masih tidur.


"Ada apa? kamu ini kelelawar ya sudah malam belum tidur."


"Cepat baca ini, Alhan meminta kamu ikut dia meeting besok pagi. Tidak boleh ada kesalahan." Muti memberikan berkas kepada Kristal.


"Sialan." Kristal mengumpat kasar, memarahi Mutiara yang membuat gara-gara pada akhirnya dirinya yang terkena masalah.


Bibir Muti monyong, memarahi Kristal balik jika ada bagusnya dirinya bekerja sehingga bisa menjaga Alhan dari wanita jahat yang ingin menyingkirkannya.


"Kris ucapan kamu kasar sekali, bagaimana jika aku lebih tua dari kamu? tidak sopan."


"Kamu pikir aku perduli, sekalipun kamu kakak hanya beda detik." Kristal meremas berkas kesal melihat Mutiara yang menemui Alhan malam-malam.


Secara terpaksa Kristal langsung membaca berkas yang harus dia presentasi saat meeting, mengutuk Alhan dan Mutiara yang menganggu jam tidurnya.


Tatapan Kristal tajam, melempar Muti dengan pulpen melarangnya untuk tidur. Mereka berdua harus menanggung derita bersama-sama.


"Muti, kamu istrinya Alhan cepat baca ini."


"Istrinya Alhan Kristal, bukan Mutiara." Muti tersenyum melihat Kristal yang marah-marah.


***


follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya ditunggu

__ADS_1


__ADS_2