MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENGUNGKAP


__ADS_3

Sudah larut malam, Kris terbangun dari tidurnya. Menatap suaminya yang masih terlelap tidur. Kris turun perlahan dari atas ranjang.


Mengambil baju yang dia temukan di kamar Papanya, Kris mengenakan baju seksi yang membuatnya tertawa cekikikan di kamar mandi.


Mendengar suara tawa, Tirta langsung lompat dari atas tempat tidur. Membuka kamar mandi melihat istrinya yang tidak berhenti tertawa.


"Sayang, kamu kenapa?" Tirta melihat Kris yang menggunakan baju dinasnya saat melayani suami.


"Seksi tidak?" Kris menutup wajahnya.


"Jangan menggoda sayang, nanti aku lepas kendali."


Kepala Kris geleng-geleng, langsung memeluk suaminya. Merasa malu melihat baju yang dia kenakan, karena pemilik sebenarnya tidak tahu model berpakaian sehingga membeli baju ukuran all size.


Kris yang sedang hamil lembar jalan delapan saja bisa muat, tidak bisa Kris bayangkan jika Shena yang mengenakan.


Pilihan warna juga menakutkan bagi Kris, motifnya mirip macan yang siap menerkam.


"Kenapa tertawa terus?"


Kris menggelengkan kepalanya, meminta suaminya tidur kembali, Kris melepaskan baju menatap suaminya yang mengigit bibir.


"Kenapa? pengen." Kris tersenyum memakai bajunya kembali, menjulurkan lidah kepada suaminya.


Senyuman Tirta terlihat, gemes melihat tingkah istrinya. Tirta masih bisa menahan diri, meskipun istrinya menggoda, demi anaknya Tirta kuat.


Kris berpura-pura memejamkan matanya, menunggu suaminya tertidur kembali. Setelah Tirta tidur, barulah Kris bangun mengambil baju.


Perlahan Kris keluar kamar, mengambil gunting. Baju digunting sampai bolong-bolong, Kristal berjalan ke arah asisten, mengetuk pintu. Ketukan pintu sangat kuat, Kris meletakkan baju di depan pintu.


Senyuman Kris sinis, bersembunyi memantau ekspresi wajah Shena saat melihat baju dinasnya di gunting.


Pintu kamar terbuka, Shena mengambil baju yang tergeletak. Melihat baju yang sudah rusak.


"Bagaimana bagus tidak? lain kali belajar dulu menjadi pelakor berkelas. Model baju juga tidak sesuai, menjijikan." Kris tertawa menatap Shena yang meremas bajunya.


Secara terpaksa Shena menunjukkan senyuman, tidak mengerti maksudnya Kris. Dia juga tidak tahu baju yang Kris gunting milik siapa.


"Selamat malam Nona Kris."


"Tunggu, kamu tahu toko baju harapan. Bisa bantu aku menemukan alamatnya."


Shena langsung menyebutkan lokasi, letak bahkan bentuk toko. Kristal langsung tertawa puas.

__ADS_1


"Kamu tidak mengenali baju ini? tapi tahu tokonya. Jangan membodohi aku yang mengetahui segala tempat." Kris melemparkan baju yang tergeletak di lantai.


Kepala Shena tertunduk, tidak berani menatap Kris sama sekali. Kristal hanya memberikan peringatan, dirinya bukan Mutiara yang memiliki hati baik, bukan juga Mamanya yang selalu berpikir semua orang baik.


Memiliki luka besar masa lalu, membuat Kris tidak akan mudah mempercayai wanita. Mamanya yang baik, penyayang, tapi masih Kris pandang sebelah mata, apalagi Shena yang secara terang-terangan menebar pesona.


"Ini hanya peringatan Shena, aku bisa melakukan lebih buruk dari ini." Kris langsung melangkah pergi.


Shena menatap sinis Kris, mengumpatnya di dalam hati. Kristal memang tidak bisa diremehkan, Kris wanita yang cerdas dan licik.


***


Pagi-pagi Kris sudah bangun, mengawasi Shena dan temannya memaksa untuk sarapan. Muti yang melihat Kris kebingungan.


"Ada apa? tumben bangun pagi." Muti mengambil susunya.


"Ingin memantau, mungkin saja makanan kita diberikan obat perangsang." Kris tersenyum manis.


"Kristal." Dwi berteriak mendengar ucapan Kris.


Muti dan Kris sampai terkejut, pertama kalinya Manda berteriak marah. Kris mengerutkan keningnya, tidak suka dengan bentakan Dwi.


"Jaga ucapan kamu Kris, ini meja makan. Hargai orang yang membuatkan makanan, suka makan jika tidak suka jangan disentuh. Manda tidak suka saling menyinggung." Dwi menenangkan putranya yang terbangun.


Sarapan sudah disiapkan, keluarga sudah makan bersama. Kris diam seribu bahasa, tidak menanggapi candaan Muti dan Lily.


Tatapan Dwi sedih, ada rasa bersalah sudah membentak Kris. Tetapi ucapannya keterlaluan juga tidak sopan.


Panda menatap Kris, mengusap kepala. Ada yang aneh dari Putrinya yang tidak bicara sama sekali.


"Kenapa sayang? perut kamu sakit." Panda menatap khawatir.


"Tidak Panda, Kris baik-baik saja." Senyuman Kristal terlihat.


Ilham menganggukkan kepalanya, meminta Kris menghabiskan makanannya. Sampai semua orang selesai makan, Nenek juga bersiap untuk mengantar Lily ke sekolah meksipun sekolahnya hanya main.


Han dan Tirta juga pergi bekerja, begitupun dengan Ilham yang berangkat ke rumah sakit.


"Kenapa kalian diam? tidak biasanya hening." Manda menyapa Kris dan Muti yang membongkar oleh-oleh yang tertunda.


"Kak Muti, Kris masuk duluan."


Kristal melewati Dwi yang masih menggendong Putranya, Dwi mencoba memanggil tetapi tidak Kris pedulikan.

__ADS_1


"Maafkan Manda Muti, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Kristal." Manda meneteskan air matanya.


Muti memeluk Mamanya, memaklumi jika ada kesalahpahaman. Kris akan bicara setelah beberapa saat, tapi Kris tidak mungkin bicara kasar jika tidak ada sebab.


"Manda, berhati-hatilah. Shena tidak sebaik yang Manda kita, dia ingin mengantikan posisi Manda. Kris hanya menjaga Manda agar tidak tersakiti." Mutiara menjelaskan soal cerita Kris saat tengah malam soal baju.


Kerutan terlihat di kening Dwi, tidak mengerti ucapan Muti. Tidak mungkin suaminya, bisa tergoda dengan wanita lain.


"Panda tidak tergoda, tapi wanita bisa melakukan segala cara. Jika sudah hamil, semuanya terlambat, penyesalan tidak ada gunanya." Muti meyakinkan Mamanya.


Ucapan Muti tidak bisa dibenarkan tanpa bukti, tidak mungkin Dwi memecat secara tiba-tiba. Jika melakukannya hanya membuat sakit hati.


Mutiara sepemikiran dengan Mamanya, memutuskan untuk membuktikan jika Shena mempunyai niat buruk.


Manda menyerahkan bayinya kepada Muti, memanggil Shena untuk membantunya mencari baju suaminya.


Cepat Shena bergerak, tidak membutuhkan waktu lama langsung mengetahui letaknya. Selama ini Dwi tidak pernah lepas tanggung jawab mengurus suaminya.


Segala kebutuhan Ilham dilakukan sendiri, tidak meminta maid membersikan kamar, mencuci bajunya dan suami, bahkan makan Ilham juga masih Dwi yang mengaturnya.


"Ini Nyonya."


"Terimakasih Shena, kamu boleh keluar." Dwi tersenyum manis.


Perasaan Dwi langsung tidak enak, dirinya tidak mempercayai Lily yang langsung tahu. Padahal Lily masih kecil, sedangkan dirinya yang selalu bersikap baik tetapi dimanfaatkan.


Suara benda jatuh terdengar, Dwi langsung berjalan keluar melihat ke arah benda jatuh. Kris sudah berdiri santai menatap Shena jatuh.


Mutiara langsung mendekati Shena, meminta bantuan penjaga agar segera membantu Shena yang hampir celaka.


"Kristal, apa yang kamu lakukan?"


"Apa? jangan kamu pikir aku akan membunuhnya, buang jauh-jauh pikiran sampah." Kris menatap tajam, langsung melangkah pergi ke kamarnya.


Dwi langsung mendekati Shena, melihatnya terluka. Ada kaleng minyak tergeletak, Muti dan Dwi saling pandang membantu Shena berdiri.


"Bawa ke rumah sakit."


Mutiara menatap ke arah kamar Kristal, tidak mengerti apa yang sedang adiknya pikirkan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2