MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MELAHIRKAN BOY


__ADS_3

Operasi Ilham selesai lebih cepat, langsung cepat keluar karena kasihan istrinya tidur sendirian.


Panggilan sudah banyak masuk, saat membaca pesan dari Kris jika Mamanya sudah ada di ruangan persalinan. Ketuban sudah pecah, dan sudah ditangani dokter.


Sepanjang koridor rumah sakit, Ilham berlari. Merasa panik, cemas juga takut saat tahu istrinya melahirkan lebih cepat. Dari kejauhan Ilham melihat dua menantunya lari-larian juga.


"Panda, maaf kita baru tiba." Tirta langsung melangkah bersama Han mengikuti mertuanya menuju ruangan persalinan.


"Bagaimana keadaan Manda?"


"Kesakitan, berdarah." Muti menunjuk ke arah kaki yang mengalir darah dan ketuban.


Dokter Ilham mengetuk pintu meminta izin untuk masuk melihat istrinya melahirkan, Dokter Rani mengizinkan barulah Ilham masuk.


Cengkraman tangan Dwi sangat erat, merasakan sakit perutnya. Melihat suaminya datang, Dwi langsung menggenggam tangan suaminya.


"Harus kuat sayang, maafkan aku telat datang." Ilham mengusap kepala istrinya yang sudah berkeringat.


Cengkraman tangan Dwi sangat erat, air matanya menetes di pelipis matanya. Dwi kewalahan tarik nafas buang nafas.


Melihat istrinya kesakitan Ilham tidak tega, air matanya menetes melihat perjuangan Dwi berusaha mendorong bayinya keluar.


"Satu kali lagi, tarik nafas lalu hembuskan sambil dorong." Dokter Rani menarik bayi yang sudah keluar kepalanya.


Suara tangisan bayi terdengar, Ilham yang mendengar suara bayi langsung tersenyum sambil menangis.


Tangisan bayi sangat besar, terdengar sampai keluar ruangan. Dokter Rani menyerahkan kepada perawat.


Senyuman Dwi terlihat, memeluk suaminya yang juga menangis bahagia. Mengucapkan terima kasih, atas perjuangan istrinya mengandung dan melahirkan.


"Kamu hebat sayang." Usapan lembut di kepala menenangkan.


Perlahan mata Dwi terpejam, tenaganya habis setelah melahirkan dan menahan rasa sakit yang hampir mencabut nyawanya.


"Silahkan di adzan." Perawat menyerahkan kepada Papanya.


Suara merdu Ilham terdengar, membacakan azan ditelinga anaknya. Air mata Ilham menetes, akhirnya setelah puluhan tahun dirinya bisa merasa menggendong bayinya sendiri.


Melihat wajah Putranya mengingatkan Ilham kepada kedua Putrinya yang terlambat diketahui, rasa sedih Ilham rasakan saat anaknya lahir.


Selesai melihat istri dan anaknya, Ilham langsung melangkah keluar. Senyuman anak-anak terlihat bahagia, karena sudah mendengarkan suara bayi.


"Sini sayang." Ilham merindukan kedua Putrinya yang sudah beberapa bulan liburan, dan tidak bisa melihat canda tawa keduanya.


"Panda, kenapa menangis?" Kris mengusap wajah Papanya.

__ADS_1


"Sedih sayang, melihat adik kalian lahir mengingatkan Panda kepada kalian berdua yang lahir tanpa kehadiran Panda, maaf ya Nak." Ilham mencium kening kedua Putrinya.


Senyuman Kris Muti terlihat, langsung memeluk erat. Papanya tidak perlu meminta maaf, karena sekarang Mutiara sudah menemukan kebahagiaannya, begitupun dengan Kristal.


Tidak ada gunanya menyalahkan waktu yang sudah berlalu, sudah cukup mengoreksi diri sendiri untuk memperbaiki diri.


Kebahagiaan mereka sudah ditemukan, hidup bersama hingga akhir hayat nanti. Bisa dipertemukan dengan Papanya, hadiah terindah dalam hidup Kris dan Muti.


"Bagaimana keadaan Manda?" Muti mengusap air mata Papanya.


"Alhamdulillah sehat, adik kalian juga sehat. Alhamdulillah, kalian cepat membawa ke rumah sakit."


Tangan Muti dan Kris menunjuk ke arah Han dan Tirta yang duduk sambil menundukkan kepalanya.


Tatapan keduanya sinis, saat tahu Manda ingin lahiran Muti dan Kris sibuk berdua, sedangkan Han dan Tirta tidur.


Saat dibangunkan bukannya berdiri, tetapi marah lanjut tidur lagi. Bahkan baju Tirta sudah salah kebalik, Han juga menggunakan sendal perempuan tidak sadar apa yang mereka lakukan.


Nenda memeluk Ilham, memberikan selamat kepada anaknya yang memiliki Putra setelah mendapatkan tiga Putri.


"Mereka berdua tidur?" Nenda geleng-geleng kepala melihat Han dan Tirta.


"Biarkan saja Bu." Ilham mengerti menantunya kelelahan sehingga berat menahan kantuk.


Ruangan Manda langsung dipindahkan, Kris dan Muti melihat adiknya yang mirip Papanya yang awet muda, selalu terlihat tampan.


"Gantengnya adik lelakiku." Kris gemes melihatnya.


Senyuman Muti dan Kris terlihat, menatap dua lelaki yang masih tidur. Tidak terbangun meksipun banyak suara yang terdengar.


Keduanya sengaja tidak membangunkan, agar saat bangun baru menyadari jika proses lahiran sudah selesai.


***


Matahari sudah bersinar cerah, tangan Han memegang lehernya yang terasa sakit. Mengangkat perlahan kepalanya, melihat jendela yang silau matahari.


"Sudah jam berapa?" Han melihat ponselnya.


Tatapan Han melihat ke arah Tirta yang masih tidur, memukul wajah adiknya agar bangun. Tirta juga membuka matanya.


"Sudah lahir belum?" Tirta menatap kamar yang terasa sepi.


Kepala Han geleng-geleng, dirinya tidak tahu apapun yang terjadi. Tubuh Han sakit semua karena tidur sambil duduk.


Pinggang rasanya hampir patah, Han mengetuk pintu ruangan persalinan. Mencoba mengintip, tetapi tidak bisa melihat apapun di dalam ruangan.

__ADS_1


Tirta juga berdiri, mendorong pintu yang terkunci. Tidak ada yang membukanya, bahkan suara saja tidak terdengar.


"Di mana mereka?" Han menghubungi Muti, tetapi panggilannya tidak aktif, langsung menghubungi Kristal yang sama saja.


Tatapan keduanya binggung, menatap sekeliling yang sepi bahkan tidak terlihat satu orangpun.


"Rumah sakit mengerikan." Ham memeluk lengan Tirta langsung menarik adiknya untuk segera pergi.


"Di mana dulu Manda? anaknya sudah lahir belum?" Tirta menghubungi istrinya, tetapi tidak aktif.


Perasaan Han tidak nyaman menghubungi mertuanya, Han tidak bisa menahan kantuknya, sehingga tertidur, tidak memikirkan perasaan istrinya yang mungkin cemas melihat Mamanya ingin melahirkan.


"Kita keterlaluan sekali, bisa-bisanya tidur saat ada yang melahirkan." Han memukul pundak Tirta.


"Tubuh Tirta rasanya tidak sehat kak, saat sampai pusing dan lelah sekali." Tirta duduk di kursi.


Panda tersenyum melihat kedua menantunya, menepuk pundak. Meminta keduanya ikut untuk menjenguk adik iparnya.


"Pa maafkan Tirta, kita tertidur di saat menegangkan." Kepala Tirta tertunduk.


"Han juga salah Pa, rasa lelah perjalanan membuat tidak bisa menahan tidur."


Panda hanya tertawa, memaklumi kedua menantunya yang memang harus bekerja sambil liburan. Tiba di rumah pastinya tujuan awal istirahat.


"Sudahlah, Kris dan Muti sengaja mengerjai. Jangan sampai nanti Istri melahirkan, kalian tidur." Panda mengusap dadanya.


Sudah Han duga, kejahilan istrinya belum menghilang, membuat malu saja tidur di kursi.


"Bagaimana kondisi Manda?"


"Alhamdulillah lancar, Tirta cek baju kamu. Han cek sendal kamu." Panda tertawa melihat kedua menantunya.


Langkah Tirta berhenti, menatap bajunya yang kebalik, kekecilan. Tirta mengusap wajahnya, baju yang dirinya pakai kaos Kristal.


Kepala Han menunduk, mengerutkan keningnya saat melihat sendalnya yang salah kebalik.


Satunya sudah benar, tapi kaki sebelahnya memakai sendal perempuan yang tidak dikenali.


Han langsung menendang sendalnya, pamitan dengan mertuanya untuk pulang sebentar, dan akan berkunjung lagi.


Alhan berlari tanpa sendal, kakinya nyeker sejalan sampai parkiran. Tirta berlari lebih kencang, karena malu menggunakan baju perempuan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2