
Panda mengumpulkan anak-anak, tanpa Lily karena sudah tidur lebih dulu. Pembicaraan yang terus tertunda, ulah Muti dan Kris yang tidak bisa diam.
April muncul dengan ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat, karena Han meminta bekerja di luar perusahaan.
Melihat ekspresi Apri, Tirta langsung tertawa. Menepuk pundaknya, Tirta yang akan mengurus, dan meminta Apri mengoreksi ulang.
"Saya belum menikah, tapi diminta mengurus pernikahan." Apri mengadu kepada Tirta yang selalu membantunya.
Tirta meminta Kris dan Muti tidak memotong pembicaraannya, sebelum Tirta mengizinkan untuk bertanya.
Kepala Muti dan Kris langsung mengangguk, mempersilahkan Tirta berbicara lebih dulu.
"Kak Han, ini hanya pendapat Tirta. Kak Han boleh setuju dan tidak."
Penjelasan Tirta soal ijab kabul yang akan didahului oleh Alhan dan Muti, karena keduanya hanya mengulang agar tidak ada rasa binggung lagi. Lalu dilanjutkan oleh Tirta dan Kris.
Pesta akan diadakan malam, Han juga harus memberikan penjelasan dan membuka identitas Muti secara langsung.
"Kita harus belanja Kris." Muti memotong ucapan Tirta.
"Kak Muti benar, kita harus perawatan dulu sebelum belanja." Kris langsung berdiri, berlari ke kamarnya.
"Kristal, aku belum selesai bicara." Helaan nafas Tirta terdengar.
"Sudahlah Tirta, tidak perlu dijelaskan. Kita cukup tahu kapan kita menikah, sisanya terserah." Muti juga langsung melangkah, mengejar Kris yang sudah sibuk di kamarnya.
Senyuman Ilham terlihat, menepuk pundak Tirta yang terduduk lemas. Sekarang sulit sekali berbicara serius dengan keduanya.
"Kris yang dulunya cerdas, licik dan banyak bicara hal masuk akal sudah berubah kekanakan, apalagi Mutiara. Kapan keduanya bisa dewasa lagi?" Han mengusap wajahnya.
Mendengar ucapan Han yang binggung dengan perubahan si kembar, Dwi hanya tertawa kecil. Tidak ada sejarahnya wanita dewasa, berubah kekanakan.
Kedewasaan belum hilang, hanya saja terlalu bahagia menjadi kekanakan sebelum akhirnya benar-benar harus dewasa.
"Kita tidak tahu beratnya hidup yang sudah mereka jalani, mendapatkan kesempatan menjadi kekanakan enak. Tidak ada yang tahu, jika pernah ada luka." Dwi menatap Han dan Tirta.
Tidak ada yang menyadari perubahan keduanya kecuali orang terdekat, di mata orang luar. Kristal masih sama, pintar, cantik, keras kepala, suka menghamburkan uang.
Tanpa ada yang sadar jika Kristal memiliki masalah, menjadi dewasa tidak enak. Banyak beban dan masalah yang muncul.
__ADS_1
"Masih ingat Kristal yang fashionable, tapi rela menjual barang-barang branded, mobil mewah demi Bundanya. Bukannya dia dewasa sehingga mementingkan yang utama." Dwi tersenyum melihat Tirta yang menganggukkan kepalanya.
Saat hanya berdua dengan Tirta, Kris juga menunjukkan kedewasaan. Dia kekanakan hanya di depan keluarganya. Apalagi ada adik kecilnya yang bisa dijahili.
"Han, kamu pasti tidak tahu soal ini. Muti memiliki sebuah rekening dari Nenda, isi uangnya terbilang banyak. Saat lamaran, Muti menyerahkan kartu untuk panti asuhan." Dwi menetes air matanya, karena tidak sengaja melihat Muti bersedekah dengan jumlah yang besar.
Ilham menatap istrinya, dia juga tidak tahu jika putrinya membayar hutang sampai jual mobil dan satunya menyumbang uang.
"Kenapa kamu tidak cerita?" Panda memgeggam tangan istrinya.
"Buat apa Kak? alasan utama Dwi menerima pernikahan, karena mereka. Banyak sisi positif yang aku ambil dari mereka, dan saat tangan kanan memberi, tangan kiri bersembunyi. Dan biarpun isi dunia menilai buruk, cukup Allah yang tahu kebaikan apa yang dilakukan." Dwi langsung cepat menghapus air matanya, melihat Muti dan Kris keluar kamar.
Kristal duduk di samping Tirta, menunjukkan sesuatu. Kris memiliki seorang teman, meksipun bisnis Wedding organizer masih kecil, Kris mempercayainya bisa menghandle segala persiapan.
"Di sana juga murah, dan kita mendapatkan diskon. Benar tidak Kris?" Muti tersenyum menatap adiknya.
"Iya dong. Kristal tidak mungkin mau menggunakannya jika tidak demi diskon, uangnya lumayan untuk beli anak baru." Kris tertawa lucu.
"Anak, kamu adopsi anak lagi? kemarin di panti belum cukup." Ekspresi Tirta kaget.
Kristal langsung tertawa, menggelengkan kepalanya. Anak yang Kris inginkan bukan manusia, tapi tas branded.
Alhan menyetujui keinginan Kris dan Muti, membatalkan rencana Tirta yang harus mengundang WO luar.
"Kamu ingin mahar apa sayang?" Han menatap Muti.
"Kristal juga mau."
"Muti yang ditanya bodoh, kamu minta mahar sama Tirta." Muti melempar Kris menggunakan bantal sofa.
Han langsung menahan keduanya agar tidak bertengkar, Muti membisikkan sesuatu untuk Han. Mahar yang dia inginkan, dan Han menyanggupinya.
"Kamu ingin mahar apa Kris?" Tirta menatap Kristal yang berpikir keras.
"Sama seperti kak Muti saja." Kris tersenyum malu-malu.
"Mana aku tahu, mereka juga berbisik. Bahaya juga jika Muti meminta pulang kampung, kamu mau ikut." Tawa Tirta terdengar.
"Muti hanya meminta sesuatu yang istimewa, dan tidak memberatkan."
__ADS_1
"Apa? Kris pikir kak Muti meminta Mutiara Kristal." Kris tersenyum memeluk lengan Tirta, dan tetap mengikuti kakaknya Muti, jika mahar sesuatu yang tidak memberatkan.
Senyuman Panda terlihat, gemes melihat kedua putrinya yang sangat aneh. Sulit dipahami, nakal, jahil dan selalu bertengkar, tapi memiliki kebaikan hati yang sangat besar.
Apri bertepuk tangan, pendapat dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi, dan meminta pamit pulang kepada keluarga.
"Pak Dokter, ada satu lagi tidak putri yang seperti mereka? jika ada jodohkan saya." Apri tertawa diikuti oleh Ilham yang menggelengkan kepalanya.
Suara teriak Muti dan Kris terdengar, keduanya menunjuk ke arah pintu kamar. Lily bangun tidur, berjalan sempoyongan mencari Manda, meminta susu karena haus.
"Dia, kak Apri mau tidak menunggu Lily lima belas tahu lagi?" Kris menjodohkan adik kecilnya.
Apri menggeleng, dia sudah berusia 26tahun, dan harus menunggu 15tahun sudah tua dan menjadi Kakek.
"Belum tua, kak Apri baru 41tahun, Lily 17tahun. Masih bisa dibicarakan." Muti menatap Kris yang setuju.
"Manda dan Panda juga beda belasan tahun, masih punya waktu dan kesempatan. Sikat kak Apri, Kris dan Muti dukung." Kristal dan Mutiara tertawa melihat Lily minum susu.
"Lily takut tumbuh besar, saat dia tahu kalian jodohkan dengan kakek Apri." Han tersenyum kecil, melihat Apri yang merinding.
Tirta tertawa besar, kasihan melihat Apri harus menjomblo puluhan tahun karena menunggu jodoh tumbuh dewasa.
Setelah mendengar kekonyolan, Apri pamit pulang. Kris mengambil susu Lily memintanya mengejar Apri.
"Lily, katakan. Sayang, tunggu aku dewasa." Kris mendorong adiknya untuk ke pintu.
"Kakak." Lily memanggil Apri, tersenyum menadahkan tangannya.
"Ada apa adik kecil?" Apri melihat Kris dan Muti yang menahan tawa.
"Minta duit, kak Ti dan kak Lis suka duit." Lily tersenyum melihat kedua kakaknya yang menatap marah.
Tirta tertawa sambil berguling di lantai, Han dan kedua orang tua juga tertawa. Lily kesenangan melihat orang tertawa, langsung mengambil susunya kembali.
***
Follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya ya
***