
Suara tawa terdengar, candaan Lily membuat gelak tawa. Muti memeluk adiknya dari belakang, menutup mulut Lily agar diam.
"Sudah Krisna jangan dengarkan Lily, dia setan kecil yang menggoda iman." Kris mencium pipi Putranya.
"Makan dulu sayang, spesial untuk kepulangan Kristal." Manda menyiapkan makanan yang dia masak sendiri khusus untuk Kris.
Tatapan Mutiara langsung sinis, dirinya saat pulang tidak disiapkan makanan khusus. Bahkan Manda belum mandi dan membuat makanan.
Muti merasa kasih sayang tidak adil, Kris disambut meriah, sedangkan dirinya tidak.
"Jangan syirik, nanti semakin tua. Ingat sudah punya anak." Kris mengejek Kakaknya.
"Kak Kris juga jangan iri, kemarin Manda membelikan kak Muti tas bermerek, harganya ratusan juta. Warna putih, ada merek terkenalnya." Lily menutup mulutnya.
Dwi menepuk keningnya, Lily tidak bisa menjaga mulut padahal sudah diperingati untuk tidak mengatakan kepada Kristal
Bukan karena Dwi tidak ingin membelikan keduanya, tapi memang hanya satu-satunya. Dwi juga tidak membeli untuk dirinya sendiri.
Wajah Kris langsung manyun, meletakkan sendok makan langsung berdiri dari kursinya berlari kencang.
Teriakan Muti menggema, makanan dari mulut Han keluar lagi melihat istrinya sudah berlari kencang mengejar Kristal ke arah kamar.
Suara keduanya bertengkar terdengar, Ilham langsung berdiri melihat kedua putrinya yang rebutan tas.
"Kristal, Mutiara berhenti." Ilham langsung mengambil tas, meletakkan di atas meja.
Tas yang berbentuk sama dengan tas lainnya, Ilham tidak percaya akan menjadi rebutan anak-anaknya.
"Kris, ini punya kakak kamu."
"Ini limited edition, Kris sudah bersiap ingin membelinya, tapi keduluan." Kris memonyongkan bibirnya.
"Kamu di rumah sakit masih memantau tas bermerek Kris? luar biasa, jangan Tirta jatuh miskin ulah kamu." Nathalie gelang-gelang kepala.
"Rezeki suami rezeki istri Mommy, beda istri beda rezeki." Kris memeluk Tirta, dirinya ingin tas seperti milik Muti.
"Di copy saja sayang." Senyuman Tirta terlihat, mengusap kepala istrinya.
"Ayang, Kris juga mau."
"Kenapa repot sekali Kristal? kalian dua bersaudara, bisa saling pinjam." Han menatap istrinya yang sudah memeluk erat tas.
Suara tangisan bayi terdengar, Mutiara langsung meninggalkan tasnya untuk melihat anaknya yang menangis. Kristal sudah berlari lebih dulu untuk melihat bayi yang menangis.
"Alhamdulillah, ternyata anaknya lebih penting dari tas." Nenda tersenyum mengusap dada.
__ADS_1
Makan dilanjutkan, penyebab pertengkaran sudah melarikan diri. Lily tidak ingin menjadi korban amukan kedua Kakaknya.
Suara kedatangan tamu terdengar, senyuman Apri terlihat lebar setelah mendapatkan libur selama dua minggu dari Han.
Kedua tangan Apri memegang bungkusan besar yang berisikan hadiah untuk Hen, Tina, Tri dan Hana.
"Siang semuanya." Kening Apri langsung berkerut, menatap sinis dua wanita kembar yang mengambil bungkusan dengan cepat.
Meksipun memiliki suami kaya, Papanya kaya, Mutiara dan Kristal sangat menyukai barang gratisan.
"Pri, aku dengar kamu lagi dekat dengan Rani?" Kris menatap sambil tersenyum.
Kepala Apri gelang-gelang, mengetuk meja mengatakan amit-amit dekat dengan dokter gila seperti Rani.
Di mata Apri dia hanya wanita liar yang hobinya meraung-raung, tingkahnya mirip monyet yang tidak bisa diam.
"Jangan bicara sembarangan, nanti jodoh." Sindiran Tirta terlihat mengejek, karena ucapan bisa terbalik.
"Tuhan, jika dia jodohku tolong periksa lagi, mungkin ada kesalahan." Apri tidak ingin bertemu lagi, dan petaka baginya melihat wajah Rani.
Kristal memukul punggung Apri, sebelum mengenal baik jangan dihina, karena jika tahu bertapa istimewanya pasti akan menyesal.
Meskipun Kris mengakui Rani wanita yang aneh, tapi dia wanita baik jika sudah dekat dengannya.
"Dia baik kak Apri, buktinya perjuangan Rani untuk kita sangat luar biasa." Mutiara membela Rani, dan bisa menebak jika dia baik.
"Muti, dia hanya menjalankan tugasnya, dan demi gajinya."
"Diamlah Apri, jika kamu tidak suka maka jangan menghina. Berkaca terlebih dahulu, kamu pikir sudah menjadi pria baik. Sadar betapa brengseknya." Han menatap sinis.
Mendengar suara Han membuat Apri tersenyum menahan kesal, Han memang tidak bisa bercanda.
***
Sudah larut malam, Mutiara dan Kris hanya duduk diam berduaan setelah menidurkan anaknya.
"Kak, bintangnya indah sekali." Kris menunjuk ke arah bintang.
Senyuman Mutiara terlihat, dirinya juga mengagumi betapa indahnya langit di malam hari dengan bertaburannya bintang di langit.
Pelukan dari belakang Muti rasakan, menatap suaminya yang ternyata terbangun langsung menemuinya.
"Kak Han meninggalkan Hen dan Tina?" Muti menatap suaminya yang sudah duduk di sampingnya.
"Tenang sayang, aku pantau lewat ponsel." Han menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
Senyuman Muti terlihat, suaminya selalu memiliki alasan untuk membantah, dan bisa membuat Muti terdiam.
Kepala Han menoleh ke arah Kristal yang masih mengangumi bintang, mengingatkan Han masa kecil mereka.
"Kris, kamu bisa melihat bintang bersama Tirta, jangan menikmati sendirian." Han juga melihat ke arah langit.
Suara tawa kecil Kristal terdengar, dirinya tidak bisa melihat bintang bersama Tirta, karena setiap malam Kris melihat bintang paling terang dan indah tidur disampingnya.
Kris tidak ingin bintang indahnya bersaing dengan bintang di langit, jika bintang langit hanya bisa dikagumi, tapi tidak bisa dimiliki.
Berbeda dengan Tirta yang menjadi bintang terindah dalam hidup Kris, selain bisa dikagumi, juga bisa dimiliki. menjadi teman sehidup semati.
"Bintang Kristal sangat sempurna, nikmati malam kalian berdua." Kris langsung berdiri, melangkah pergi meninggalkan Muti dan Han.
Mendengar pengakuan Kristal membuat Muti dan Han terdiam, Kris tidak pernah memuji secara langsung, tapi dia mengangumi seseorang dari hatinya.
"Kak Han juga bintang di hati Muti."
"Benarkan, apa yang membuat kamu mengagumi aku?" Han menyentuh hidung istrinya.
"Karena, kak Han banyak duit." Tawa Muti terdengar puas, Han sudah cemberut kesal mendengar ucapan istrinya.
"Cintai aku bukan karena harta Muti, seperti aku yang mencintai kamu." Han menundukkan kepalanya.
Tangan Muti mengusap kepala suaminya, jika Tirta menjadi bintang di hati Kristal, suaminya rumah ternyaman bagi Mutiara.
Saat bersama Han, Muti merasa aman, bahagia, nyaman, juga mendapatkan perlindungan dari hujan, panas yang menjadi masalah mereka.
Kehadiran Han menyingkirkan ketidaknyamanan Muti, saat bersama rasanya tidak ingin meninggalkan.
"Teruslah menjadi rumah untuk Muti dan anak-anak, kak Han tidak perlu sempurna cukup mencintai kami semakin hari terus bertambah." Muti mencium kening suaminya.
"Jika aku rumah, kamu pondasi yang menguatkan. Jika pondasi hancur, rumah tidak mungkin bisa bertahan." Han menyentuh hidung istrinya, mencium mata Mutiara yang berkaca-kaca.
Suara tangisan dari ponsel Han terdengar, Han langsung mengulurkan tangannya menggandeng Muti untuk masuk kamar, karena anaknya Tina menangis.
"Tina, kenapa kamu Tidak bisa membiarkan Mama dan Papa bermesraan sebentar saja? dasar pengganggu." Muti memonyongkan bibirnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
mendekati TAMAT
__ADS_1