
Pagi-pagi Muti sudah sibuk membersihkan rumah yang berantakan, karena asisten rumah tangga belum diizinkan masuk, bahkan rumah juga belum ada penjagaan.
Alhan menuruni tangga mengambil sapu dari tangan Muti, mengerutkan keningnya karena pekerjaan Muti bukan membersihkan rumah.
"Apa yang kamu lakukan?" Han membuang sapu ke lantai.
"Membersihkan rumah, sarapan juga sudah siap di meja makan." Muti mengambil sapu melanjutkan pekerjaannya.
Suara Alhan berbicara terdengar berteriak, Muti menghela nafasnya langsung menatap Alhan yang terlihat kesal.
"Salah aku apa? rumah ini tidak memiliki asisten, dan ruangan berantakan. Aku hanya ingin membersihkan." Muti menatap tajam mata pria dihadapannya.
"Ini bukan pekerjaan kamu?"
"Lalu pekerjaan aku apa? bersembunyi di kamar, tanpa melakukan apapun." Kening Muti berkerut.
Han memegang kedua pundak Muti, dia bukan bermaksud untuk marah. Bagi Han tugas membersihkan rumah bukan tugas istrinya.
"Aku akan segera mencari asisten rumah tangga."
"Untuk apa? keberadaan aku tidak boleh ada yang tahu karena akan menjadi tanda tanya siapa aku? biarkan aku membersikan rumah, dan mengurus keperluan di rumah ini." Muti tersenyum, dia seneng bekerja, daripada harus berdiam diri di kamar.
Kepala Han mengangguk, mengikuti apa yang Muti inginkan. Dan tidak memaksanya untuk melakukan pekerjaan rumah.
"Ayo kita sarapan, singkirkan sapunya." Han merangkul Muti, tapi langsung ditepis.
Muti melangkah pergi, membawa sapu untuk diletakkan di dapur. Mutiara juga sudah menyiapkan obat Han, dan makanan sehat untuk Kristal.
Suara Kris menyapa terdengar langsung duduk, senyuman Kris terlihat menatap makanan lezat yang ada di atas meja.
"Silahkan makan Kristal, ini bagus untuk ibu hamil." Muti menuangkan susu untuk Kris dan Han.
Keduanya langsung makan dan menikmati sarapan pagi, Kris juga memakan apapun yang Muti masak, karena rasanya sangat nikmat.
"Pelan-pelan makannya Kris, tidak akan ada yang mencurinya." Han menatap sambil tersenyum.
Muti juga tersenyum melihat Kristal makan dengan lahap, bahkan terlihat bahagia.
Alhan juga meminta Kris memeriksa lebih detail soal kandungannya kepada dokter, agar aman dan bayi juga sehat.
Mutiara hanya diam, mendengar Han dan Kristal membahas masalah pemeriksaan ke dokter.
__ADS_1
"Bagaimana masalah di kantor kak Han?"
"Tidak perlu dipikirkan, kamu fokus ke kandungan kamu, aku akan mengurus semuanya." Senyuman Han terlihat menyerahkan satu piring camilan yang Kris sukai.
Muti makan dalam diam, hanya sesekali tersenyum melihat Kristal yang bercerita.
"Kak Muti ke kantor bersama kak Han, soalnya Kris ingin pergi ke rumah sakit menemui teman Kris, dia dokter kandungan." Kris menunjukkan sesuatu kepada Han untuk menganti penjaga, supir dan asisten rumah tangga.
"Aku rasa lebih baik mempekerjakan orang yang sudah mengenal baik rumah ini, dan aku ingin memperkenalkan kalian berdua, juga meminta mereka merahasiakannya." Han meminta pendapat Muti dan Kristal.
Kristal menganggukkan kepalanya, keputusan mungkin yang terbaik agar mereka bisa hidup bebas di dalam rumah tanpa harus bertukar posisi.
"Aku terserah saja, ikut apapun yang diinginkan." Muti mengambil piring bekas makannya, langsung membersihkan sisa makan.
Suara Tirta terdengar berkunjung, membawa makanan untuk ibu hamil. Kris langsung membuang buah-buahan, bahkan susu hamil yang dibawakan oleh Tirta.
"Hai kak Tirta." Muti langsung memunguti buah yang jatuh.
"Pagi Muti." Tirta menyerahkan beberapa makanan yang dia beli.
"Terima kasih makanannya Kak, silahkan duduk." Muti menawarkan sarapan kepada Tirta yang hanya tersenyum kecil.
"Keluar! selera makan aku hilang melihat wajah kamu."
"Jangan dilihat, kamu bisa masuk kamar sekarang Kristal. Jika kamu tidak menginginkan, tidak ada yang memaksa." Muti menatap tajam Kristal yang langsung duduk diam sambil tertunduk.
Tirta meminta Mutiara mengecilkan suaranya, dia juga hanya mampir sebentar untuk mengantarkan makanan.
"Aku permisi kak Han."
"Terima kasih untuk buah, susu dan makanannya kak. Maafkan kami yang menyambut tidak sopan." Muti tersenyum melambaikan tangannya.
Alhan langsung melangkah pergi, meminta Tirta mengikutinya karena ada beberapa hal yang harus di bicarakan.
"Kak Muti kenapa membela Tirta? Kris seperti ini karena dia."
"Aku tidak membela siapapun? tapi ini cara aku menghormati orang lain." Muti mencuci buah yang berjatuhan, mendengar ocehan Kris yang menjelekkan Tirta.
Tatapan Muti tajam, menahan emosinya soal ucapan Kris yang sangat menyakitkan.
"Kenapa menyalahkan bayi yang tidak berdosa? karena yang salah keduanya. Kamu dulu mengatakan tidak peduli. Tirta juga merasakan sakitnya, apalagi melihat sikap kamu." Muti menatap tajam Kristal yang berdiri menahan amarahnya.
__ADS_1
Muti menatap Kris yang terlihat marah, senyuman Muti terlihat meminta Kristal memperbaiki cara bicara untuk menghargai orang lain.
"Jika kamu ingin dihargai, maka belajarlah untuk menghargai. Apa yang dia anggap salah hanya bisa diperbaiki, bukan saling menyalahkan." Muti melangkah pergi, meminta Kristal berhati-hati ke rumah sakit.
Langkah Kristal mengejar Muti yang masuk ke kamar Han, menyiapkan pakaian kerja dan keperluan lainnya.
"Kak Muti menyalahkan Kristal atas apa yang terjadi? aku juga tidak ingin mengandung anak ini? Kris belum siap!" Kristal berteriak sangat besar membentak Mutiara yang menghentikan aktivitasnya.
"Kamu belum siap, lahirkan anak ini untuk menebus dosa kalian, dan serahkan dia pada Muti. Jika kamu juga masih menyalahkan dia, aku akan membawa dia pergi jauh dari kamu." Kepala Muti menggeleng merasakan sesak dadanya.
Alhan menghentikan pertengkaran Muti dan Kristal, apa yang mereka perdebatan bukan solusi.
"Kak Muti yang mulai dulu, dia membela Tirta yang sama brengseknya!" Kris langsung melangkah pergi ke kamarnya.
Han menghela nafasnya, melihat Muti yang masih diam merapikan tempat tidur.
"Kamu jangan terlalu keras dengan Kristal, dia masih stres hamil dan emosinya belum stabil." Han meminta Muti lebih sabar, karena Han akan mencari cara untuk menyatukan Kris dan Tirta.
"Iya, maafkan aku." Muti langsung pamit keluar, tapi tangannya ditahan oleh Alhan.
"Kamu kenapa Muti? aku tidak mengerti dengan amarah kamu jika tidak mengatakan apapun. Masalah aku sudah banyak, tolong berikan aku waktu untuk menyelesaikannya." Han menyadari tatapan mata istrinya yang sudah berubah.
Han menutup pintu, memeluk erat Mutiara yang meneteskan air matanya langsung cepat menghapusnya agar tidak disadari oleh Han.
"Aku ingin bersiap-siap." Muti melepaskan pelukan.
Mutiara langsung keluar, masuk kamar melihat Kristal menatapnya sinis.
"Itu baju kerja kamu, aku ingin terlihat sempurna bukan baju kampungan." Kris menyerahkan baju kerjanya yang sangat seksi.
"Kalau begitu kamu saja yang ke kantor." Muti melemparkan baju ke atas sofa.
"Apa maunya kak Muti?" Kris menghentakkan kakinya.
Kepala Muti menggeleng, dia hanya meminta keringanan. Meskipun dirinya hidup atas nama Kristal, tapi Muti tetap dirinya. Kris dan Muti berbeda.
"Aku ingin berpenampilan seperti aku, bukan kamu. Bisa kamu membiarkannya." Muti langsung mengambil baju kampungan yang Kris katakan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1