MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
CURAHAN HATI


__ADS_3

Suara tangisan Kristal terdengar, Mutiara memukul wajahnya. Kris menahan sakit kepalanya melihat Muti tidak akan percaya dengan drama Kris yang sudah basi.


"Sayang, kenapa tangan kamu ringan sekali?" Han menjauhkan Muti dan Kris.


"Kenapa kak Muti di sini? berisik tahu. Menangis terus, Kris capek mendengarnya." Kris memeluk Papanya yang juga tidak bisa menahan kesedihannya.


Senyuman Kris terlihat, mengusap air mata Papanya. Meminta maaf karena menjadi anak yang pembangkang, emosinya dan sulit mengendalikan diri.


"Papa tidak masalah Kris melakukan kesalahan apapun, asalkan Kris tidak terluka. Hancur hati Papa melihat kamu penuh darah, lebih baik Papa yang terluka." Pelukan lembut erat.


Kris meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan lagi, apalagi melibatkan banyak orang. Kris akan belajar mengendalikan emosinya.


Anggukkan kepala Ilham terlihat, mempercayai ucapan Putrinya. Bisa mendengar suara Kris sudah lebih dari cukup, Ilham tidak membutuhkan apapun selain kembalinya kedua Putrinya.


Manda juga memeluk Kristal, mencium keningnya bersyukur karena Kris tidak terluka parah.


"Tunggu, di mana suaminya Kristal? jangan bilang dia menjenguk Arnas." Kris berteriak, langsung memegang kepalanya.


"Beberapa detik mengatakan ingin memperbaiki diri, tapi sekarang sudah mengamuk." Muti geleng-geleng kepala.


Pintu ruangan terbuka, Tirta langsung melangkah mendekat tersenyum melihat Kris. Tirta hanya keluar sebentar untuk menjawab panggilan.


"Dari mana? istri lagi sakit bukannya dijaga." Kris mencubit lengan suaminya.


"Maafkan aku sayang, soalnya di depan ada Ibu bersama Krisna." Tirta mengusap tangannya yang sakit.


Semua orang melihat ke arah pintu, Kristal tersenyum melihat Elin yang masih duduk di kursi roda, tetapi sudah bisa tersenyum. Satu tangannya menggenggam tangan Krisna.


"Bunda," panggil Krisna.


"Hai sayang, sini kesayangan Bunda." Kris memeluk Putranya yang sudah mulai berbicara.


Melihat semuanya tersenyum Han juga bahagia, Kristal masih terlihat lemas dan belum bisa duduk, tapi sangat membuat ramai.


"Kue apa itu?" Elin menunjuk ke arah kue Muti.


"Punya Muti, tidak boleh dimakan." Bibir Muti monyong, menyimpan kuenya.


"Ibu juga membawa kue, di mana mas kuenya?" Elin membawa kue untuk Kris dan Muti.

__ADS_1


Senyuman Kristal terlihat, menerima kuenya dan berbagi dengan Tirta sedangkan Muti hanya menyimpan kuenya tidak boleh di makan.


"Bagaimana kondisi Kris Ham? apa bawa pengobatan ke luar negeri?"


"Tidak perlu Gi, kamu lupa jika Papanya seorang dokter." Ilham meminta Muti duduk diam, melarangnya banyak gerak.


Mata Kris terpejam kembali, tangannya menggenggam erat tangan suaminya. Pengaruh obat membuat Kris memejamkan kembali, dan Ilham membiarkan istirahat.


Dwi mengobrol bersama Elin yang bisa nyambung, meskipun terkadang sedikit bicara lain dari yang dibahas. Tatapan Elin tidak bisa lepas dari Tirta, mata Tirta terpejam, dan mengeluarkan air mata.


Alhan sudah keluar bersama Muti, Ilham, untuk mengecek kandungan Muti. Sedangkan Gio masih mengurus kasus Arnas.


"Luka seberat apa yang kamu hadapi putraku?" Elin turun dari kursi rodanya.


Dwi langsung mengandeng tangan Krisna membawanya keluar untuk bertemu dengan Lily yang baru datang bersama Neneknya.


Pelukan Elin erat dari belakang Tirta yang masih duduk di sambil menggenggam tangan istrinya.


"Apa yang membuat kamu menangis, Nak?"


"Bu, Tirta hanya lelah dan tidak tahu harus sabar seperti apa lagi. Aku ingin bahagia, Bu. Mengapa sulit sekali?" Tangan Tirta mengusap dadanya.


Pelukan Elin sangat lembut, mengusap kepala Tirta, menepuk dadanya agar bersabar lebih banyak lagi.


Air mata Elin menetes, meminta maaf karena sudah gagal melindungi sehingga Tirta harus mengobati luka sendiri, bangkit sendiri, jatuh bangun seorang diri.


"Tirta berpikir setelah menikah, hidup sederhana dan membentuk keluarga bahagia. Tetapi ujian hidup Tirta belum selesai, Bu. Satu hari kembali, kami sudah kehadiran orang ketiga, dipisahkan dan sekarang Kris ada di sini. Salah kami apa? padahal tujuan hanya ingin bahagia." Air mata Tirta menetes mencium tangan dua wanitanya.


Tangan Elin mengusap air mata putranya, meksipun badai besar yang akan datang seorang lelaki harus kuat, agar bisa mengajari keturunannya untuk menjadi orang yang tangguh.


"Kamu harus percaya satu hal, dibalik penderita kita masih ada orang yang jauh lebih menderita."


"Iya Bu, terima kasih sudah kembali. Maafkan Tirta belum bisa menjadi anak yang berbakti." Tirta mengusap air matanya, langsung tersenyum.


Pintu kamar terbuka secara dadakan, Tirta dan Ibu Elin terkejut melihat Han yang membuka pintu terlalu kuat.


"Alhan, ada apa?" Ibu melangkah pelan ke arah Han.


"Duduk di kursi roda Bu." Han langsung mengambil kursi.

__ADS_1


Senyuman Ibu Elin mengusap kepala Han, mengucapkan terima kasih sudah menjaga Tirta dan menjadikan anak yang kuat meksipun menghadapi banyak masalah.


"Kamu anak baik, wanita yang melahirkan kamu pasti bangga memiliki Putra sehebat Han." Ibu tersenyum mengusap kepala Han.


Han menyerahkan obat yang tidak sengaja dia bawa, dan sudah waktunya Ibu Elin minum obat. Han buru-buru berlari sampai meninggalkan istrinya hanya karena melihat obat di tangannya.


"Kamu mengantar obat, bagaimana cara meminumnya?"


Han langsung melihat obat, mengeluarkan obatnya dan menyerahkan ke tangan langsung mengambil minum.


"Ibu lelah minum obat, tapi tetap harus minum."


Mendengar ucapan Ibu Tirta yang menyemangati dirinya sendiri meksipun tidak paham sakit apa yang sedang dideritanya.


"Ini tidak akan lama, sebentar lagi obat-obatan ini kita buang jauh-jauh." Han langsung menangis memeluk, mengingatkan dirinya kepada Bundanya.


Tirta langsung memeluk Ibu dan kakaknya, menangis bersama saling menguatkan, dan berjuang bersama untuk keluar dari zona menyakitkan.


Elin juga menangis sesenggukan, memeluk dua Putranya yang sudah melewati banyak ujian hidup, dan menderita.


"Bu, Han keluar lagi, soalnya Muti sedang periksa kandungan."


"Ibu akan mempunyai cucu?" Elin memeluk Han mengucapkan selamat.


Alhan tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya. Tirta menepuk pundak kakaknya untuk segera pergi.


Elin menatap punggung Han, ingin rasanya ikut Han untuk melihat cucunya, tapi Elin sadar dirinya hanya akan menyusahkan.


"Ibu ingin ikut Han melihat langsung?" Han membuka pintu sambil tersenyum.


Kepala Tirta mengangguk, mengizinkan Ibunya pergi bersama Han asalkan duduk di kursi roda, karena baru selesai minum obat.


"Kris, Ibu pergi dulu ya. Tirta jaga Kris." Elin meminta Han mendorong kursi rodanya.


Air mata Tirtan masih menetes, tapi bukan air mata kesedihan selain kebahagiaan. Melihat Ibunya banyak bicara membuat hati Tirta lega.


Sikap Han juga sudah sangat berbeda, tidak sungkan lagi menunjukkan perasaan yang sedih dan bahagia.


"Sayang, semua akan baik-baik saja." Tirta mencium tangan Kristal yang masih tidur dengan tenang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2