MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MUTI MENGAMUK


__ADS_3

Tangan Mutiara mengusap dadanya, Han tidak keluar dari kamar tapi melihat isi kamar Mutiara dan Kristal.


Rasanya jantung Muti ingin meledak, dirinya sangat takut jika Han melihat dirinya sedang berguling di balik ranjang.


Tubuh Han membelakangi Muti, melihat ponsel yang mereknya sama, model sama ada di atas meja.


"Kenapa kamu belum keluar?" Mutiara berteriak, langsung merapikan bajunya.


"Kenapa harus teriak?" Han memegang dua ponsel dan meminta Muti menjelaskannya.


Senyuman Mutiara terlihat, dia langsung mengambil ponsel. Dirinya menyukai merek handphone juga ingin mengoleksinya.


"Handphone ini lucu?"


"Kamu lebih suka koleksi jam, dan menyukai satu ponsel agar tidak repot membawanya, tapi kenapa sekarang berubah?" kening Han berkerut masih tidak puas dengan jawaban Kristal.


"Aku bukan wanita tujuh belas tahun, usiaku sekarang 22 tahun, memangnya tidak boleh jika hobi juga berubah." Muti melangkah ingin keluar, mempersilahkan Han juga keluar.


Di dalam kamar mandi, Kristal ketakutan jangan sampai dirinya dan Mutiara ketahui. Alhan pasti akan marah besar, dan mereka berdua tidak mungkin selamat.


Muti berhasil membawa Han pergi, langsung melangkah ke ruang makan dan mempersiapkan makan malam.


"Siapa yang masak?" Muti menatap para maid.


"Tuan memiliki koki pribadi Nona, dan dia baru saja kembali."


Seorang wanita cantik muncul, mempersilahkan Han duduk. Senyuman juga terlihat aneh.


"Kapan kamu kembali?"


"Baru saja Han, mulai sekarang aku akan menetap di sini."


Alhan tersenyum dan meminta Jenny kembali mengurus hotel dan pemasaran bahan mentah dipabrik, dia sudah memiliki koki baru dan tidak harus digaji.


Mutiara langsung terkejut, siapa lagi orang yang Alhan bawa ke dalam rumah. Bukan hanya Muti yang kaget, tapi Jenny juga sama kagetnya.


Begitu mudahnya Alhan memindahkan dirinya untuk keluar rumah, padahal dia sudah bekerja selama sepuluh tahun mendampingi Bundanya Alhan.


"Kenapa tiba-tiba kamu mengganti orang?"


"Kamu tahu sendiri jika aku sudah menikah, segala kebutuhan diriku akan diurus oleh istriku Kristal." Han meminta Jenny mengurus bisnis yang jauh lebih penting.


Mutiara bernafas lega, ternyata Kristal bukan dirinya. Han memeluk pinggang Muti, membuat keningnya berkerut.

__ADS_1


"Kristal, aku menyukai masakan kamu. Tidak ada yang boleh menyentuh makanan aku selain kamu." Han tersenyum langsung duduk bersama Muti.


Jenny tidak setuju dengan keputusan Alhan, dia sudah bekerja bersama Bundanya Han sejak muda, sudah menganggap Han seperti adiknya.


"Kamu mengusir kak Jen?"


"Tidak kak, aku membutuhkan kak Jen untuk mengontrol pabrik. Cherly mulai mendekati area pabrik, karena gagal menguasai perusahaan." Tatapan Alhan tajam, selain kantor pabrik bahan mentah juga memiliki pengaruh besar untuk kualitas penjualan.


Kepala Jenny mengangguk, menyetujui keputusan Han untuk mengontrol pabrik. Dia akan sesekali menemui Han untuk melihat perkembangan kondisi Alhan.


Senyuman Han terlihat, pintu rumah terbuka lebar untuk Jenny. Bagi Han Jenny satu-satunya orang yang paling dia percaya setelah kehilangan Bundanya.


Makan malam terasa hening, Muti juga banyak diam mendengar pembicaraan Han dan Jenny. Muti tidak mengerti apapun yang dibicarakan.


"Kristal, kamu sangat pintar dalam melakukan kerjasama. Lebih baik kamu yang bertemu rekan bisnis dari luar negeri." Jenny menatap Kristal sambil tersenyum, karena dia tahu Kris pintar bahasa Inggris.


Mutiara mengerutkan keningnya, menatap tajam Jenny dan Alhan yang menunggu jawabannya.


"Kenapa harus aku? bukannya tugas aku menemani Alhan. Aku istri, sektretaris atau pembantu?" Muti tersenyum manis dan hanya melihat sekilas map yang dipegang oleh Jenny.


Alhan menutup semua berkas, meminta Jenny meninggalkan mereka. Han tidak menyukai jawaban Muti.


Han memintanya untuk menghormati Jenny, meskipun Han tahu jika Kristal tidak menyukainya.


"Meja makan tempat makan, bukan membicarakan perkejaan. Kamu pergi pagi pulang hampir malam, tapi masih membicarakan pekerjaan. Kamu bunuh diri secara perlahan Alhan." Muti langsung bangkit dari duduknya, dia tidak bisa terlihat lembut di depan Han agar tidak ada yang curiga jika Mutiara tidak mengerti soal bisnis.


Suara barang berjatuhan terdengar, seluruh makanan di atas meja jatuh. Jenny dan para maid lainnya langsung berlarian melihat kemarahan Han.


Kristal di dalam kamar juga langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang. Kris takut jika Muti terluka.


Mutiara langsung menendang kursi dan langsung melangkah pergi, tangannya ditahan oleh Jenny.


"Minta maaf kepada Alhan sekarang?"


"Kenapa aku harus minta maaf?" Muti menepis tangan Jenny.


"Kamu tidak tahu sopan santun ya Kris? dari dulu kamu memang egois, bukan hanya meninggalkan Alhan saat dirinya cacat, tapi juga tidak menghargainya sebagai suami."


Muti menatap tajam, Jenny tidak harus mengungkit masa lalu yang akan membuat Alhan semakin terluka.


"Kamu meremehkan Han karena dia cacat, dan tidak mungkin bisa menyakiti kamu."


"Anda salah, aku tidak pernah mengatakan apapun tentang Han, kamu yang bekali-kali mengatakan soal kondisi Han. Aku di sini yang akan memastikan Han kembali seperti dulu." Muti menatap Alhan, apapun kondisi Han dia tidak boleh putus asa dan merendahkan diri sendiri.

__ADS_1


Jenny melayangkan tamparan kepada Mutiara, Han langsung berteriak meminta Jenny berhenti.


"Di mana kak Han yang dulu selalu melindungi aku, di sini bukan hanya Kris yang berubah, tapi kita semua sudah berubah. Tamparan ini akan selalu aku ingat jika Alhan lebih memihak bawahan daripada istrinya." Muti langsung melangkah pergi ke kamarnya meksipun Alhan meminta berhenti.


Mutiara mengunci pintu, Kristal langsung mendekati Muti dengan wajah cemas.


"Ada apa di luar?"


"Ada kuntilanak bermuka dua, namanya Jenny." Muti menceritakan sosok Jenny yang kemungkinan Kristal mengenalnya.


"Kak Jenny, dia orang kepercayaan Bundanya Han."


Mutiara sengaja membuat keributan, dirinya terlihat sangat bodoh di dekat dua orang yang membicarakan soal bisnis sehingga membuat Muti kesal.


Kekesalan Muti membuat kacau ruang makan sampai akhirnya Han juga marah, ditambah lagi kompor yang membuat api semakin besar.


Kristal langsung tertawa, dia berpikir Mutiara Malaikat yang baik, tapi ternyata sama saja dengan dirinya tidak menyukai jika ada yang bersikap unggul di depannya.


"Kenapa tertawa? aku ditampar."


"Kenapa tidak membalas? aku yakin kamu memiliki niat membalasnya."


"Aku ingin menampar wajah Han, dia terlalu mempercayai wanita itu." Muti duduk melipat tangannya di dada.


Kristal tersenyum, Mutiara harus mempertahankan sikapnya yang tangguh agar tidak ada yang mencurigai mereka.


"Kristal buka pintunya?" Han menggedor pintu kamar.


"Tidak mau! kamu ingin memukul aku, laki-laki pengecut hanya berani menyakiti wanita." Mutiara berteriak kuat.


"Aku ingin melihat wajah kamu, jika lukanya serius kita ke rumah sakit." Han semakin kuat menggedor pintu.


Kristal langsung berteriak sambil berpura-pura menangis, mengungkit masa lalu saat Kris dan Han saling menjaga, tapi sekarang saling menyakiti.


Mutiara tersenyum, langsung menarik selimut ingin tidur.


***


follow Ig Vhiaazara


like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya ditunggu

__ADS_1


__ADS_2