MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
ILU IMU


__ADS_3

Selama dua puluh tahun akhirnya Nathalie bisa merasa bahagia, melihat Kristal dan Muti sudah bertemu, bahkan memiliki hubungan baik.


Muti dan Kris rebutan bercerita awal pertemuan mereka, dan membohongi Han yang memiliki emosi sangat tinggi.


Kris juga menceritakan pertengkaran mereka, dan kemarahan Han saat tahu mereka bermain sampai lupa waktu.


Suara Muti berbicara terdengar sangat besar, menceritakan kehidupannya di desa dan sulitnya hanya sekedar untuk makan.


"Sekarang Muti banyak uang, dari kak Han dan Tirta." Muti memamerkan kartunya kepada Nathalie.


"Aku juga punya banyak, meksipun isinya lebih banyak kak Muti." Kris memonyongkan bibirnya.


"Kalian berdua terlihat bahagia, Mommy senang melihatnya." Air mata Nathalie menetes kembali, merasakan terharu.


Kris dan Muti menatap binggung, mereka yang seharusnya menangis, tapi kebalikan.


Senyuman Kristal terlihat, mengusap air mata ibu tirinya yang selama ini sangat dia benci, tapi wanita yang paling menyayanginya.


Kris tidak ingin melihat air mata lagi, dia sudah lelah dengan kesedihan dan mencoba untuk selalu bahagia, meksipun tahu akan ada masalah dalam hidupnya.


"Terima kasih Kristal, Mommy sangat menyayangi kamu?"


"Muti tidak?" Tatapan mata Muti sangat tajam.


"Kamu juga, Mommy sayang kalian berdua. Jangan berpisah lagi, jika kalian memiliki masalah bicarakan dengan Mommy."


Mutiara dan Kristal menganggukkan kepalanya, memejamkan mata untuk tidur. Nathalie menatap dua anak kembar yang sudah tidur..


Iskandar tersenyum melihat istrinya tersenyum bahagia, Kristal dan Muti menjadikan paha Nathalie sebagai bantal.


Suara Alhan terdengar, Iskandar langsung melangkah ke ruang tamu melihat menantunya datang.


"Di mana Muti dan Kris?"


"Kita duduk dulu Han, dan mengobrol santai." Senyuman Iskandar terlihat, meminta Han duduk terlebih dahulu.


Iskandar bahagia melihat hubungan Kris dan Nathalie akhirnya baik, ditambah lagi kehadiran Muti yang menambah kebahagiaan.


Melihat nada bicara Iskandar, Han akhirnya sedikit santai karena tidak terjadi keributan.


"Han, Daddy sudah mendengar kabar kamu menikahi Muti, bukan Kristal."


Kepala Han mengangguk, dia akan segera mengubah buku nikah atas nama Mutiara, karena Han dan Kristal hanya sebatas adik kakak.


Iskandar sangat mengerti, Han sangat tegas dengan keputusannya. Saat dia memilih Muti maka tidak bisa diganggu gugat lagi.

__ADS_1


"Aku akan membawa Muti pulang."


"Mereka baru saja tidur Han, berikan sedikit waktu untuk melepaskan rindu. Kamu juga bisa menginap di sini."


"Tidak bisa, aku tidak memercayai kalian." Han menatap dingin, menunggu sedikit lebih lama.


Senyuman Iskandar terlihat, meminta maid membawakan minuman dan makanan. Memahami Han yang tidak begitu menyukainya.


Wajah Iskandar terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu, Han bisa melihat kekhawatiran seorang ayah.


"Kamu mengkhawatirkan Kristal dan kandungannya?" Han bicara baik, dan mencoba mengerti Iskandar.


Alhan meminta maaf atas apa yang terjadi kepada Kristal, apa yang terjadi di luar jangkauan Han. Hubungan Kris dan Tirta sudah terjalin sejak awal mereka menikah.


Tirta bertanggung jawab penuh atas Kris, tapi dia tidak bisa memaksa jika Kristal menolak untuk terikat pernikahan.


"Daddy harus bicara langsung dengan Kris, aku berada di posisi yang serba salah." Han ingin mengakui anak Kristal sebagai anaknya, tapi di satu sisi Han tidak ingin menyakiti wanita yang dicintainya.


Tidak ada yang bisa menghentikan perasaan seseorang, sebelum Han, Muti dan Kris terlibat perasaan lebih baik Han terus terang jika dia tidak bisa menjadi sosok suami.


"Aku bisa menjadi Ayah, tapi aku tidak bisa menjadi lelaki untuk Kristal. Aku harap kalian mengerti."


Iskandar menganggukkan kepalanya, melihat Han yang jujur saja sudah lebih dari cukup untuk Iskandar, dia cukup tahu jika Han tidak pernah meninggalkan Kristal, meksipun ada Mutiara.


"Terima kasih Han, kamu memiliki beban yang besar untuk menjaga keduanya. Aku tidak bisa menjadi orangtua yang baik untuk anak-anakku." Air mata Iskandar menetes, merasa kasian dengan anaknya Kristal.


Nathalie mengusap perut Kris, dulu Kristal hanya gadis kecil, sekarang dia menjadi calon ibu.


"Sehat terus sayang, kami menanti kelahiran kamu."


Muti terbangun, menatap Nathalie yang tidak tidur, tetapi memperhatikan wajah mereka.


"Muti, suami kamu sudah menunggu untuk menjemput pulang." Senyuman Iskandar terlihat, menatap Muti yang langsung bangun.


Suara langkah Muti berlari terdengar, langsung memeluk Han yang sudah lama menunggunya.


"Ayo kita pulang sayang."


"Kita harus pulang bersama Kristal." Muti kembali lagi ke kamar untuk membangunkan adiknya.


Kristal menatap wajah Muti sayup, menolak pulang dan memutuskan untuk menginap.


"Muti pulang ya kak?"


"Iya, aku masih ingat menginap. Kalian hati-hati." Kris memejamkan kembali matanya.

__ADS_1


Muti langsung pamit kepada Nathalie dan Iskandar, langsung pulang ke rumah tanpa Kristal bersama mereka.


Sepanjang perjalanan Han memgeggam tangan Muti yang menceritakan semuanya, kisah hidupnya bersama Kristal akhirnya terungkap.


"Kak Muti bahagia, sekarang banyak yang mengetahui soal Muti."


"Iya sayang, aku juga senang melihat kamu tersenyum."


Tatapan mata Muti melihat ke luar jendela, melihat banyaknya lampu yang menerangi bangunan, jalan dan banyaknya gedung bertingkat-tingkat.


"Kak Muti ingin suatu hari tidur di gedung tinggi, pasti indah sekali melihat dari atas." Senyuman Muti terlihat, mengeluarkan tangannya.


"Kita malam ini tidur di hotel saja." Han langsung memutar arah mereka, menuju hotel mewah yang biasanya Han kunjungi.


Sesampainya di hotel Muti menatap Han yang sedang berbicara, tersenyum saat masuk ke dalam lift.


"Ini kamar kita malam ini." Han membukakan pintu.


Muti tersenyum, langsung lompat-lompat di atas ranjang dan langsung melihat ke arah jendela.


Wajah Muti sangat terkejut, karena impiannya untuk melihat dari ketinggian tercapai. Keindahan yang sangat luar biasa, dan membuat Muti merasa terharu.


"Indah sekali, Muti suka ada di sini."


Han memeluk dari belakang, membiarkan istrinya puas melihat indahnya bangunan yang dilihat dari ketinggian.


Mata Muti terpejam, tangan suaminya mulai nakal dan membuat keindahan yang Muti nikmati langsung buyar.


Ranjang menjadi pelabuhan terakhir keduanya sampai mandi keringat, di dalam hati Muti menyesal naik ke gedung jika akhirnya harus bercinta.


"Kak Han, selalu merusak." Muti menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Masih sakit, atau enak." Han mencium leher sambil menggoda istrinya.


Mutiara tertawa, meminta Han menjauhinya karena bau keringat.


"Muti ILU IMU." Han berbisik di telinga.


Muti mengerutkan keningnya, memikirkan ucapan Han yang tidak jelas maknanya.


"Kak Han biasanya orang selesai melakukannya mengatakan I love you bukan ilu imu, mengerti bahasa yang baik tidak?" Tatapan mata Muti tajam.


Alhan menepuk keningnya, istrinya terlalu polos atau bodoh yang beda tipis, tapi apapun kekurangan Muti Han sangat bahagia memilikinya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2