
Mata Ilham berkaca-kaca, melihat hasil tes darah Muti. Han yang melihat mertuanya menatap lama hasil pemeriksaan langsung mendekat.
Kertas berpindah ke tangan Han, meskipun membaca bekali-kali Alhan tidak mengerti apapun hasil tes.
"Apa hasil tes Muti Pa? Han tidak memahaminya." Tatapan Han menatap mertuanya yang menunjukkan senyuman.
Wajah Han terlihat kebingungan, Papa mertuanya memeluk erat Han sambil mengusap pelan punggungnya.
"Insya Allah ini kabar bahagia Han, Allah memberikan kepercayaan kepada kalian menitipkan buah hati." Tangan Papa menutup matanya, menahan air mata.
Mendengarkan membuat Han masih terdiam, menatap kertas yang ada ditangannya. Dokter meminta Muti memeriksakan diri ke dokter kandungan, memastikan tes yang baru diterima hasilnya.
"Pa, Han akan menjadi orang tua?" senyuman Han terlihat, langsung melompat, memeluk kertasnya.
Melihat kebahagiaan Han, Ilham hanya bisa menganggukkan kepalanya. Merangkul Han untuk ke ruangan Muti dan memberikan kabar baik.
Di kamar Muti masih tidur, Han dan Panda memilih diam dan merahasiakan kabar bahagia sampai keesokan harinya.
Manda bisa melihat kebahagiaan dari wajah Han, dan menyentuh pundak suaminya mempertanyakan kondisi Han.
Senyuman Ilham terlihat, meminta Dwi jangan bertanya, membiarkan Han dengan kebahagiaannya.
"Kenapa kak Han senyum terus?" Tirta tersenyum, mengecek isi ponsel istrinya.
"Tidak, hanya lagi ingin saja." Han langsung mengubah ekspresinya menjadi serius.
Tangan Tirta terulur, menjabat tangan kakaknya dan berbisik memberikan selamat karena Han akan menjadi Ayah.
Mendengar ucapan adiknya, Han langsung terkejut. Panda dan Han belum mengatakan apapun, tapi Tirta sudah mengetahuinya.
"Kamu tahu dari mana?" Han langsung menutup mulutnya yang mengeluarkan suara terlalu besar.
Ponsel Kris diserahkan kepada Han, Kristal sudah mengetahui soal kehamilan kakaknya sebelum kejadian. Kris sedang memesan kue untuk kejutan Muti, tapi belum sempat Kris memberikannya dirinya sudah terbaring di rumah sakit.
Panda mendekati kedua menantunya, melihat besarnya kasih sayang Kris kepada Mutiara. Melihat Kakaknya yang sangat ingin hamil, karena mereka sudah lama menikah belum ada tanda-tanda kehamilan.
Muti melakukan tes pack kembali, dan membuangnya di tempat sampah. Kris yang menemukan langsung mengetahui garis dua.
__ADS_1
"Ini tes pack di villa, Kris memang sempat bertanya apa Manda membuang tes pack ke tempat sampah.Ternyata pelakunya Muti." Manda tersenyum mencium kening Muti yang masih tidur.
"Tirta, besok minta Apri yang mengambil kue pesanan Kris, bawa ke rumah sakit." Han mengembalikan ponsel Kris kepada suaminya.
Mendapat perintah, Tirta langsung mengirimkan pesan dan berharap Kris juga segera bangun agar bisa memberikan kejutan kepada mereka semua, sesuai rencananya.
"Terima kasih Kris, kamu sejak awal sangat menjaga Muti." Han menggenggam tangan Kris, berharap cepat bangun.
Keluarga sepakat untuk menunggu Kris bangun agar bisa memberikan kejutan untuk Muti, dan merahasiakan dari Mutiara.
***
Pagi-pagi Muti sudah bangun dan muntah-muntah, Han membantunya mengusap punggung sampai selesai muntah.
Manda juga sudah menyiapkan susu agar Muti mengisi perutnya dengan susu hangat, baru memberikan bubur.
"Kris belum bangun." Muti mengusap air matanya, mengunyah bubur yang Han suap.
"Sabar sayang, nanti juga bangun. Kristal hanya beristirahat." Han menenangkan istrinya yang sangat cengeng.
"Perut Muti mual, kepala pusing, badan sakit semua." Keluhan Muti sangat banyak, sampai kewalahan ingin meminum obat apa terlebih dahulu.
Pesan Panda Muti terima, tapi untuk tidak memiliki beban pikiran tidak bisa Muti kendalikan. Selama adiknya belum bangun, maka kesedihan selalu menerpa perasaannya.
"Panda, kebahagiaan Muti ada pada Kris. Bagaimana Kris bisa hidup tanpa Kristal, jika Kris juga tidak bisa hidup tanpa Muti. Sejak bertemu, kami memiliki banyak perbedaan." Muti meneteskan air matanya, selama bersama belum ada persamaan kecuali wajah.
Meksipun memiliki perbedaan dari cara bicara, sikap dan sifat, juga cara berpikir tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta juga kasih sayang keduanya.
Ucapan Muti menyayat hati Ilham, langsung memeluk putrinya. Meminta maaf karena tidak bisa menjaga Kris sehingga membuat Muti bersedih, belum ada yang bisa Ilham berikan untuk kebahagian kedua anaknya.
"Maafkan Panda Muti."
"Jangan meminta maaf Panda, Mutiara dan Kristal sangat bahagia bisa dipertemukan dengan Panda, dan memiliki sosok Papa yang luar biasa." Muti mengusap air matanya, hanya saja dirinya tidak kuat tanpa mendengar suara adiknya.
Mutiara memeluk Kris, mengusap kepala adiknya. Seandainya Muti bisa menukar dirinya yang ada di posisi Kris, mungkin akan dirinya lakukan.
"Maafkan kakak Kris, seharusnya bekali-kali Arnas menyerang aku, karena belum bisa membedakan kita, tapi kamu sengaja memancingnya agar mendekati kamu." Muti tahu Kris melindunginya, tidak memberikan ruang untuk Muti bicara apalagi menyerang.
__ADS_1
Han menatap Tirta, ucapan Muti benar. Han juga bisa membaca gerakan Kris yang melindungi Muti, karena memancing Arnas untuk menebak jika Kris dan Muti berbeda.
Kristal bukan hanya melindungi Muti, tapi calon keponakannya. Kristal sudah gagal menjaga kandungannya, dan tidak bisa membiarkan jika Muti juga gagal.
Apri menghubungi Tirta, kue yang di pesan sudah ada ditangannya dan akan diantarkan ke kamar rawat Kris, belum sempat Tirta menahan, Apri sudah masuk.
"Ini kue untuk Mutiara yang sudah di pesan." Apri menunjukkan kue.
Tatapan mata Alhan langsung tajam, Apri kebingungan melihat tatapan bosnya, tidak tahu di mana letak kesalahannya.
"Kue untuk Muti, kebetulan Muti lagi pengen makan kue." Muti meminta Apri menyerahkan kue kepadanya.
Apri langsung mendekati, menyerahkan kue langsung pamit kembali ke kantor untuk berkerja, sebelum Han memarahinya.
Kepala Han dan Tirta tertunduk, Panda hanya tersenyum membiarkan Muti membukanya.
"Welcome baby, kesayangan Aunty Kris, Aunty Lily dan calon baby." Muti mengerutkan keningnya.
Otak Muti belum menangkap, memperhatikan gambar tes pack garis dua. Air mata Muti menetes di atas kue, baru menyadari jika Kris membelikannya kue untuk menyambut calon anaknya.
"Apa artinya Muti akan menjadi ibu?" tangisan Muti langsung pecah, Han langsung memeluk istrinya yang menangis histeria.
"Kenapa tidak Kris langsung yang memberikannya? kenapa Kris tidak membuka matanya memberitahu Muti langsung? kenapa kak?" Muti memeluk Han, semakin sedih melihat kue yang tidak secara langsung Kris yang menyerahkan.
"Kita juga baru tahu sayang, Kris hanya memesan kue dan belum sempat mengatakan apapun." Han mengusap air mata istrinya.
Tangan Muti memukul Kris, meminta bangun. Han menahan tangan istrinya memberikan sedikit waktu untuk Kris beristirahat.
Mata Kris terbuka, langsung meringis merasakan perutnya sakit karena dipukul. Ilham langsung mendekati Kris, membuka penutup bantuan bernafas.
"Kristal, kamu sudah bangun nak?" Ilham mencium kening Putrinya.
"Kris, kamu sudah bangun, adikku." Muti memeluk Kris.
"Siapa kalian? siapa kamu?" kening Kris berkerut, menatap sinis Papanya, dan mendorong Muti menjauhinya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira