
Sudah larut malam Kristal masih belum masuk kamar karena binggung ingin bicara apa kepada kakaknya, melihat Muti yang selalu ketakutan jika ketahuan membuat Kris juga cemas.
"Kristal, kenapa kamu di sini?" Han menatap Kris yang hanya tersenyum sambil memegang obat.
Alhan berjalan mendekati Kris, duduk melihat langit malam. Kristal masih berdiri menatap bulan dan bintang.
"Kak Han, sekarang kita sudah dewasa dan Kris semakin takut kak." Kris menarik nafas panjang.
Alhan masih terdiam, dia tidak tahu apa masalah Kristal sehingga memiliki banyak beban pikiran.
Keduanya hanya diam, tidak ada lagi yang bicara. Kris masih melihat langit malam, sedangkan Han terus menatap wajah Kris.
"Apa yang kamu butuhkan agar berhenti mengeluh?" Han memulai percakapan dengan nada yang sangat lembut.
Usia Kristal memang sudah dewasa, tapi pikiran masih jauh tertinggal di belakang. Menyalahkan keadaan yang tidak adil kepada, padahal Kris yang tidak ingin melangkah maju.
Kristal langsung duduk di samping Han, menatap lelaki yang sedari dulu dia anggap kakak, tapi rasa marah dan benci pernah menutupi mata Kristal.
"Kenapa kak Han menikahi Kris? apa rasa yang dulu masih ada? apa hanya untuk balas dendam?" Kris tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam Han, dia sudah terbiasa melihat mata penuh kebencian.
Senyuman Han terlihat sinis, rasa yang dulu masih ada sungguh hal yang mustahil. Han tidak menyimpan rasa cinta lagi kepada Kris.
"Hal yang paling aku benci bertemu kamu, dan hal yang sangat aku sesali pernah menyukai kamu." Han menatap mata Kris, tidak ada kebohongan dari mata Han.
Rasa cinta yang dia miliki sudah tiada, penolakan Kristal bukan sesuatu yang menyakitkan bagi Han, tapi berubahnya sikap Kris yang membuatnya kecewa.
Pengkhianatan Kris terhadap hubungan baik mereka menutup mata Han dari sisi baik, Kristal sama seperti banyaknya orang yang egois.
"Maafkan Kristal kak, aku tidak pernah dewasa." Kristal mengakui betapa jahatnya dirinya yang meninggalkan Han, bahkan menjadi salah satu orang yang menjauh dan meremehkan Alhan.
"Kamu ingin meminta maaf di bagian mana?" Han tidak pernah memaafkan siapapun, tapi dirinya mengerti.
Tidak ada di dunia ini yang akan bertahan dalam kesulitan, saat jatuh dan berjuang hanya bisa mempercayai diri sendiri, karena semua orang akan menjauh.
Han tidak menyalahkan siapapun yang pergi, karena manusia di dunia ini selalu mencari kebahagiaan, dan di mana bisa diuntungkan.
Tapi prinsip yang Han pegang, siapapun yang hanya datang di saat kesuksesan akan menjadi orang-orang yang dia manfaat untuk keuntungannya.
__ADS_1
Kapan dan siapapun orang itu harus berkorban untuk Han, tanpa belas kasihan Han bisa merangkulnya untuk sukses, tapi bisa juga mendorong jatuh untuk keuntungannya.
"Apa aku juga akan menjadi orang yang ingin kamu manfaatkan?"
Alhan menganggukkan kepalanya, Kris jangan bangga karena mereka pernah dekat sehingga Han akan berbuat baik kepadanya. Kris sebaiknya membuang harapan itu.
"Suatu hari kamu juga akan aku singkirkan, jadi lakukan segala cara Kris agar kamu bisa menjatuhkan aku sebelum aku membuang kamu." Alhan tertawa melihat tatapan mata Kristal yang juga menunjukkan senyumannya.
Kris akan menunggu sampai waktunya Han akan membuangnya, tapi saat ini hanya Han yang bisa Kris andalkan.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Tirta? dan menghabiskan malam bersamanya." Mata tajam Han melihat ke langit.
Kristal menghela nafasnya, menceritakan kepada Han jika semua itu kejadian satu malam yang tidak Kris harapkan.
"Tirta pria yang sangat jujur, tidak ada orang paling jujur di dunia ini selain dia." Han menatap Kris yang mengerutkan keningnya.
"Bukannya kamu membencinya?"
Alhan tidak perduli soal hubungan Kris dan Tirta, tapi jika sampai merusak nama baik Alhan dan juga perusahan maka Kris akan melihat kejamnya Han.
"Aku bisa membuat dia hilang dari dunia ini, jadi jauhi Tirta." Han melangkah ingin kembali ke kamarnya.
Han mengerutkan keningnya, Kris sangat mempercayai wanita yang bernama Mutiara. Han sangat penasaran dengan sosok Mutiara yang Kris tutupi identitasnya.
"Aku dan Muti harus memiliki saham terbesar di sana sampai nenek lampir berhenti menghabiskan uang perusahaan."
"Siapa Mutiara? kamu tidak memiliki sahabat juga orang kepercayaan." Han menghela nafasnya, dia langsung mengiyakan apa yang Kris butuhkan setelah memberikan keuntungan untuk dirinya.
Kristal tersenyum, dia pastikan apa yang Han inginkan akan Kris dapatkan. Mengalahkan Cherly menjadi pekerja wajib bagi Kristal.
Han menganggukkan kepalanya, meminta Kris meminum obat dan tidak telat makan lagi agar tidak menyusahkan dirinya.
"Kak Han." Kris memanggil Han yang membuka handel pintu kamarnya.
"Apa? kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?" Han menatap kesal.
"Kak, jika suatu hari kak Han melihat sesuatu yang aneh dan tidak sesuai logika tolong jangan bertanya dan biarkan saja. Kris akan mengatakan di waktu yang tepat." Kris langsung melangkah ke arah kamarnya.
__ADS_1
Han menggelengkan kepalanya, melangkah masuk untuk tidur.
Di dalam kamarnya Kris melihat Muti yang sudah terlelap tidur, memeluknya dari belakang dan berjanji akan melindungi Muti.
"Kamu dari mana?" Muti membuka matanya, mengusap tangan Kris yang memeluknya.
"Menenangkan diri." Kris langsung duduk meminta Mutiara meminum obat yang diberikan oleh Han.
Mutiara tersenyum, menekan hidung Kristal yang beruntung karena dicintai oleh orang seperti Han.
Bibir Kris monyong, Han tidak mencintainya dan rasa cinta Han sudah berubah menjadi benci.
"Kamu bisa mengambil hati Han kembali, sampai akhirnya love love lagi." Muti membentuk love menggunakan tangannya.
Senyuman Kristal terlihat, dia tidak bisa membiarkan Han mencintainya setelah Kris menyadari jika dirinya bukan wanita yang suci lagi.
"Han berhak mendapatkan pasangan terbaik kak, orang itu bukan Kristal."
"Apa kamu ingin berpisah dengan Han?" Muti menatap kaget, tapi cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Kris langsung bergegas untuk mandi, berendam air panas sambil ditemani oleh Muti yang menceritakan kondisi pabrik juga soal Jenny.
Muti juga mendengarkan cerita soal pertemuan Kristal dan Papinya, juga keputusan Kris untuk menguasai perusahaan.
Han bersedia membantunya, dan saat waktunya tiba Kris akan meninggalkan Han dan hidup bersama kakaknya.
"Kris, kakak ingin bertanya satu hal, boleh?" Muti terlihat ragu dengan pertanyaan, takut jika Kris tersinggung.
"Katakan saja kak, Kris akan menjawab jika tahu jawabannya." Kris menatap Muti yang menarik nafasnya.
"Di mana ibu kandung kita? wajah kita mirip siapa?" Muti menundukkan kepalanya, tidak ingin melihat ekspresi adiknya yang sudah menggenggam bathub mandi.
Kristal memalingkan wajahnya, menahan amarahnya.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu