MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENATAP MUSUH


__ADS_3

Pintu kamar Kristal terbuka, Mutiara berteriak langsung menarik lengan Kris. Memarahi yang hampir membunuh Shena.


Muti tahu Kris marah, tetapi tidak menjadi seorang pembunuh. Muti kecewa dengan tindakan Kris.


"Bagaimana jika seandainya yang jatuh bukan Shena, tetapi Nenda, Manda atau aku?" Muti menatap tajam adiknya.


Tatapan Kris melihat ke arah pintu, melihat Dwi juga masuk dengan tetesan air matanya. Dwi kecewa sekali dengan tindakan Kristal.


"Kamu ingin menjadi pembunuh?" Dwi bicara sangat pelan.


Kristal memalingkan wajahnya, mengusap perutnya yang sudah besar. Kris tidak menjawab pertanyaan Muti dan Mamanya.


Bekali-kali Muti meminta Kris menjawab, tetapi Kristal memilih untuk tidur. Sepenuhnya Kristal tidak menganggap ada orang lain.


"Kristal, jangan gila kamu jika bertindak." Muti langsung melangkah pergi, membanting pintu kuat.


"Aku hanya melindungi kamu bodoh." Kris memejamkan matanya.


Air mata Mutiara menetes, menghubungi Han meminta untuk pulang. Suasana hati Muti tidak baik sama sekali, dirinya takut dengan sikap diam adiknya.


Melihat kecelakaan di rumah Dwi langsung menghubungi suaminya menceritakan apa yang terjadi, Shena sekarang dirawat di rumah sakit, patah kakinya, juga tulang rusuknya.


Mendengar kabar keributan di rumah, Ilham langsung pulang melihat istrinya yang masih menyusui stress sampai air susu tidak keluar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Dwi menceritakan dugaan Muti dan Kris, sama dengan yang dikatakan oleh Lily. Dwi mempercayainya, tetapi Kris bertindak keterlaluan. Dia mencelakai Shena sampai patah tulang, dan tulang rusuk retak.


"Aku akan bicara dengan Kris."


Alhan juga pulang, menemui istrinya yang terlihat pusing. Muti juga sama tidak menyukai Shena, tapi bukan berarti harus menyakitinya sampai hampir merenggut nyawa.


"Dengarkan dulu penjelasan Kris, jangan mengambil kesimpulan sendiri."


"Muti sudah bertanya, tapi tidak ditanggapi dengan baik."


"Sudahlah, nanti biarkan Tirta yang menasihatinya." Han tahu Kristal, jika dia diam artinya tidak salah, tapi tidak mungkin Han berdebat dengan istrinya.


Ilham ke kamar Kris bersama Dwi, meminta penjelasan Kris soal apa yang baru dan terjadi.


Nada bicara Ilham sangat lembut, tidak ada tuduhan apalagi kata-kata kasar, dia bicara sangat baik kepada Kris agar jujur.

__ADS_1


"Kris tidak salah, hanya itu jawaban dari semua pertanyaan." Kris duduk santai di ranjangnya.


"Panda tidak akan mudah digoda oleh wanita manapun sayang, percaya saja."


"Iya, Kristal percaya. Sangat percaya, tapi Kristal tidak salah Panda." Senyuman Kris sinis menatap Mamanya.


Air mata Dwi menetes, Kris menatapnya seperti musuh. Tanpa bicara apapun, Dwi langsung keluar dari kamar Kristal sambil menangis.


Han dan Muti yang ada di depan pintu hanya terdiam, langsung melangkah masuk melihat Kristal yang keras kepala muncul.


"Sayang, Panda sayang kamu, juga sayang Mama. Kalian jangan seperti ini, nak." Ilham mengusap kepala Kris, langsung melangkah keluar kamar.


Han dan Muti duduk, menggenggam tangan Kristal. Memintanya menjelaskan semuanya. Han akan tidak ingin ada selisih paham.


"Kris tidak salah, jika dia terluka. Sudah menjadi nasibnya, senjata makan tuan." Kris menatap Muti yang menghela nafasnya.


"Baiklah, jika kamu mengatakan tidak salah, kak Muti percaya. Kris kamu jangan berpikir sendirian, kita berdua Kris. Sakitnya kamu, menjadi sakitnya kakak." Pelukan Muti sangat lembut, menenangkan adiknya.


"Kris juga berpikir hal yang sama," balas Kris sambil tersenyum.


"Sudah, jangan banyak pikiran. Jaga kandungan kamu, ingat Kris. Keselamatan dia ada di tangan kamu, jaga diri sendiri baru bisa menjaga anak." Han mengusap kepala Kristal agar fokus untuk menjaga kehamilannya.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Lily membuka pintu langsung memeluk Kris dan Muti. Menunjukkan lukisannya saat di sekolah.


"Kak Kris kenapa? wajahnya sedih." Lily mengusap wajah Kakaknya agar tersenyum.


Kristal tersenyum, meminta Lily ke kamar Manda, menunjukkan lukisan indahnya.


***


Saat Tirta kembali, tidak ada lagi yang membahas soal kejadian siang. Makan malam juga tenang seperti biasanya.


"Kamu kenapa sayang? banyak diam dari pagi." Tirta merangkul istrinya yang terlihat murung.


"Kak Tirta, kita malam ini pulang ke apartemen. Kris ingin suasana tenang." Kris meminta izin kepada Papanya untuk kembali lebih dulu.


Kepala Tirta menoleh ke arah Han, istrinya secara tiba-tiba ingin pulang, pasti ada sesuatu yang mengusik pikirannya.


Tanpa protes Tirta setuju, daripada istrinya banyak pikiran, menganggu kehamilan. Tirta memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Ilham tidak bisa menahan, membiarkan Putrinya menenangkan diri. Setelah suasana tenang, barulah berbicara lagi.

__ADS_1


"Kris, kamu yakin ingin pulang?" Muti menahan tangan adiknya.


"Iya kak, Kris tidak ingin banyak pikiran. Kak Muti tetap disini, awasi wanita itu, usahakan dia tidak kembali ke sini." Kris memeluk kakaknya langsung masuk ke dalam mobil.


Air mata Dwi menetes, memeluk Putranya erat. Hatinya sakit melihat Kris pergi tanpa menyapa dirinya.


Ilham memeluk dari belakang, meminta istrinya tenang, sementara membiarkan Kris sendirian tanpa memikirkan apapun.


Kondisi Dwi juga tidak baik, baru saja lahiran, tapi sudah diuji dengan kesalahpahaman anak-anak. Apalagi soal Kris yang memang mudah tersinggung.


Ikhsan masih membutuhkan ASI, jika Mamanya sedih, hatinya juga sedih. Kebahagiaan Dwi berpengaruh terhadap Putranya.


"Bagaimana ini? Kris sendirian."


"Ada Tirta bersamanya, jangan khawatirkan dia."


Ketukan pintu kamar terdengar, Muti tersenyum langsung masuk. Mengatakan sesuatu kepada Papanya.


Mutiara akan tetap menetap, pelan-pelan Muti akan bicara dengan Kris. Saat hamil terkadang emosi sulit dikontrol, Muti memahami perasaan Kristal.


"Manda banyak istirahat, jaga kesehatan. Sikap Kris jangan terlalu dipikirkan." Muti keluar kamar, menemui suaminya yang masih menatap lantai bekas Shena jatuh.


"Kristal tidak pernah bermain dengan nyawa." Han menatap istrinya yang sepakat. Mereka harus pergi mencari baju bayi."


Selama Shena dirawat di rumah sakit, Mutiara sedikit tenang. Dia bisa berbelanja untuk keperluan anaknya, karena dokter sudah memperkirakan kapan waktunya persalinan.


Suara Lily berlarian terdengar, menunjukkan sebuah botol kepada Han. Alhan mengambil, mencium baunya yang tidak nyaman.


Alis Han terangkat, Kristal tidak mungkin membeli benda murahan. Wanita elegan seperti hanya tahu barang-barang mewah, tidak mengenal barang rongsokan.


"Ada apa kak? ini botol bekas minyak, saat Shena jatuh."


"Ruangan ini mempunyai CCTV?" Han melihat beberapa CCTV yang mati pada saat kejadian.


Muti melihat ke arah CCTV, langsung mengigat Kris yang selalu memantaunya melalui CCTV. Kris sangat ahli soal rekaman.


"Ini kecelakaan untuk menjebak Shena, atau sebenernya Shena yang ingin menjebak Kris. Kristal tidak mudah ditipu, pasti tahu jika ada jebakan." Muti menatap Han, mereka hanya bisa memprediksi, tapi tidak bisa menuduh pastinya apa yang terjadi sebenarnya.


Hanya Kristal dan Shena yang tahu kebenarannya, bisa saja pelaku sebenarnya yang berpura-pura menjadi korban.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2