
Pembicaraan Han, Apri dan Tirta terdengar serius, sebelum perselingkuhan Daddy-nya Kris sebenarnya rumah tangga Iskandar sudah berantakan, dan banyak pertengkaran.
Hubungan keduanya sudah tidak akur sejak kelahiran Kris, keduanya masih bertahan karena satu hal yang belum diketahui.
Perselingkuhan Iskandar menjadikan alasan, Della meminta cerai dan memutuskan meninggalkan kediamannya.
Della menikah dengan Ayahnya Rayan yang berstatus duda tua, beranak dua.
"Ayahnya Rayan sangat kaya dan sukses dengan bisnisnya, sampai akhirnya mereka pindah tinggal di negara luar." Apri menjelaskan apa yang dia dapatkan dengan tatapan serius.
Della dan suaminya hanya beberapa kali datang berkunjung untuk menjenguk Rayan dan Rehan, dan kunjungan terakhir mereka lima tahun yang lalu saat Rehan meninggal depresi.
"Pasti Della menikah karena mencintai harta, dasar nenek peot gila." Muti menatap sinis jika mengingat wajah Bundanya.
"Kak Muti tidak boleh bicara seperti itu, Bunda pasti terpaksa untuk bertahan hidup. Semua ini salahnya Nathalie, dia yang menyebabkan Bunda dan Daddy berpisah." Kris mengerutkan keningnya masih membela Bundanya.
"Kenapa kamu membela dia Kris? Della jahat sama kamu. Ibu apa yang tega menyakiti anaknya? dia melebihi binatang!" Tatapan mata Mutiara tajam.
Kristal langsung terpancing emosi, membentak Muti yang menjelekkan Bundanya. Kris sangat yakin jika Bundanya terpaksa, karena merasa sakit hati.
"Aku mungkin sudah melakukan kesalahan besar, sampai membuat Bunda marah." Kris membuang arah pandangnya, tidak ingin melihat wajah Muti.
"Kesalahan apa yang dilakukan anak umur lima tahun?"
Alhan memukul meja, meminta Kristal dan Mutiara berhenti berdebat. Keduanya sudah mirip tom and Jerry yang selalu berdebat, ngambek.
"Kristal yang mulai duluan!"
"Kak Muti yang duluan menjelekkan Bunda." Kris menatap sinis.
Tirta langsung berdiri, duduk di tengah-tengah keduanya agar berhenti berdebat. Fokus mendengarkan penjelasan Apri.
Han melihat ke arah Apri yang memijit pelipisnya, memulai kembali penjelasan yang sempat terpotong.
Hubungan Della dan Rayan semakin dekat sejak kepergian Rehan, tapi suami Della meninggal tidak lama setelah Rehan meninggal.
"Jangan-jangan Della yang membunuh suami tuanya." Muti terlihat kaget.
__ADS_1
Kristal langsung berdiri memukul meja, menatap tajam Muti yang berbicara sembarang.
Kris mengerti jika Muti tidak menyukai Bundanya, karena tidak mengingat pernah bahagia bersama Bundanya, tapi bagi Kris Bunda dunianya.
Sejahat apapun perlakuan Della, Kris tetap menghormati dan menyayanginya karena Kris tahu bagaimana perjuangan Della mempertahankan rumah tangganya.
Air mata Kristal menetes, tidak peduli siapapun orang yang menjatuhkan Della dia akan menjadi musuh Kristal berlaku juga untuk Mutiara.
"Sekali lagi kamu menghina Bunda, aku tidak akan memaafkan kamu. Bunda bukan orang jahat, tapi yang jahat Nathalie." Kris melotot,. menunjuk Muti untuk diam dan jangan banyak bicara.
"Kenapa kamu begitu yakin? bagaimana jika aku benar?" Muti juga berdiri langsung melangkah pergi.
Kris mengepal tangannya, langsung mengejar Muti yang melangkah ke ruang tamu. Tubuh Muti ditarik menghadap Kris, menamparnya kuat.
Alhan langsung berdiri kaget, diikuti oleh Tirta dan Apri yang terkejut melihat pertengkaran keduanya.
Kris mencengkram rahang Muti, Han ingin mendekat tapi Muti berteriak meminta Han menjauh.
Kristal meluapkan semua amarah, mencaci maki Mutiara yang hidup di desa dengan hidup sengsara, mengungkit pendidik Muti yang hanya bisa membaca dan menulis.
"Kamu bisa makan saja sudah bersyukur Muti, hidup di sini jangan sok pintar!" Kris menatap tajam.
Mutiara hanya tersenyum sinis, mendengar amarah adiknya yang akhirnya menghina dan merendahkan.
"Wanita bodoh seperti kamu lebih baik diam!" Kris mendorong Muti sampai jatuh terbentur di meja.
"Tunggu! aku juga ingin meluapkan amarah, giliran kamu mendengar aku." Muti langsung berdiri menatap punggung adiknya.
Muti berjalan, memegang pundak Kris untuk menghadapnya. Tatapan mata keduanya sama tajam.
"Aku memang dari kampung, tidak berpendidikan, tidak tahu hidup mewah dan tidak tahu apapun. Aku hanya ingin bertanya satu hal sama kamu?" Muti tersenyum, menarik nafas panjang lalu menghembuskan.
Muti memang tidak tahu apapun kehidupan saat lahir hingga berusia lima tahun, Muti hanya memiliki memori kecil soal masa kecilnya, tapi kehidupan di desa.
"Apa kamu ingat hubungan kita selama lima tahun? seharusnya kita sudah bermain bersama, sekolah dan pastinya memiliki ingatan. Lalu kenapa kamu melupakan kehadiran aku? dan kenapa aku juga tidak mengingat kamu?" Muti mengerutkan keningnya.
Bermalam-malam Muti berpikir soal masa kecilnya, dia tidak memiliki ingatan bersama Kristal. Melihat wajah Della Muti takut dan dadanya sesak merasa benci.
__ADS_1
Ibu yang melahirkan, tapi memaksa membawa anak yang dulunya dinyatakan meninggal, langsung ingin membawa kembali tanpa meminta penjelasan apapun.
"Jika Della menyayangi aku, seharusnya memeluk erat Muti. Kamu masih hidup sayang? apa kamu baik-baik saja? aku tidak mendengar kata itu Kris!" Muti mengusap air matanya.
Mutiara mengingat jelas saat Della menarik bajunya, hanya untuk melihat tanda lahir yang ada di pundak belakang Muti.
"Dia langsung mengatakan, kamu harus ikut Bunda! kenapa selama ini dia tidak mengambil kamu? padahal Iskandar juga tidak terlalu mempedulikan kamu." Tatapan Muti tajam, tapi air matanya terus menetes.
Tangan Kristal gemetaran, ingin menyentuh wajah kakaknya, tapi Muti langsung menepis meminta Kris jangan menyentuhnya.
Kristal hanya mengingat moments bahagia bersama Della, tapi tidak mengingat apapun penyebab Della membencinya.
"Kamu punya hak menyayangi dia, aku juga punya hak membenci dia."
Saat ini Muti tahu satu hal keburukan Kristal, dia terlalu berpegang teguh dengan keyakinannya. Kris terlalu percaya dengan ingatan kecilnya, dan menutup mata telinga dari kebenaran.
"Kristal, wanita pintar dan berpendidikan, tapi sayang tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bisa menerima jika sebenernya kamu tahu Della bukan orang baik." Muti yakin, suatu hari nanti Kris akan hancur karena kepercayaan yang salah.
"Kak, kita hentikan pertengkaran ini. Kris capek."
"Ya, silahkan istirahat Kristal yang bergelar sarjana, tapi bodoh." Muti langsung melangkah pergi keluar rumah.
Han langsung memeluk Mutiara, melarang untuk pergi keluar rumah apalagi dalam keadaan hati yang tidak baik.
"Kalian berdua sama bodohnya, satunya egois mempertahankan keyakinan yang belum tentu benar, satunya juga sama emosional." Han menatap tajam Muti dan Kristal.
Han tidak mengerti, di luar orang berjuang untuk memisahkan, tapi di dalam rumah Kris dan Muti ribut sampai main pukul.
"Apa ini Kris? kamu membuat Mutiara berdarah. Begini cara kalian menyelesaikan masalah? jika ada masalah duduk berdua, bicarakan dengan baik, jika tidak bisa menemukan solusi berdua, kalian bisa bicarakan bersama kak Han. Apa kalian berdua menganggap aku binatang?!" Han meminta Kristal dan Muti menjawab.
Muti menunjuk ke arah Kristal, langsung menangis karena kepalanya bocor.
"Kak Han ayo ke rumah sakit, kepala Muti sakit." Tangisan Muti pecah, langsung berjalan keluar rumah menuju mobil.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1