MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
DEPRESI


__ADS_3

Suara gemericik air terdengar, Della mencuci tangannya yang penuh darah Kristal. Tatapan mata Della kosong membayangkan kembali saat dirinya melahirkan.


Della tidak pernah melihat wajah Kris sejak kecil, dia sakit-sakitan sekalipun Della tidak pernah menjenguknya bahkan tumbuh kembang Kris tidak tahu.


"Kenapa kamu bodoh sekali? betapa banyaknya kesempatan kamu untuk hidup." Della meneteskan air matanya melihat Kristal berlumuran darah.


Pintu kamar mandi terbuka, Rayan langsung masuk meminta Della segera mempertemukannya dengan Kristal.


Tatapan Della tajam, langsung melangkah keluar meninggalkan Rayan yang tidak berhenti menyebut nama Kris.


"Rayan, bisa kamu berhenti menyebut nama itu? Mimi lelah mendengarnya."


"Jangan macam-macam kamu Della, jika aku tidak bisa bersama Kris maka kamu tidak punya hak atas warisan Pipi." Suara Rayan mengancam terdengar mengejek Della.


Rayan langsung keluar, melangkah pergi ke kamarnya. Della memperhatikan Rayan yang sudah berani mengancamnya bahkan membawa nama Pipinya.


"Kamu jangan main-main, anak kadung saja bisa aku singkirkan apa lagi kamu." Della membanting pintu kamar.


Bermalam-malam Della tidak bisa tidur, memutuskan untuk keluar rumah. Mobil Della melaju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kristal.


Dari kejauhan Della sudah melihat Mutiara yang duduk seperti patung, sesekali mengusap air matanya.


Alhan masih setia memegang makanan untuk menyuapi Muti yang kondisinya semakin lemah, menolak makan dan minum sebelum bertemu Kristal.


Tirta juga masih duduk di lantai, menunggu kepastian dokter soal kondisi Kris yang masih diawasi.


Seorang dokter melewati Della, tangan Della menahannya sambil tersenyum manis.


"Apa dokter ingin ke ruangan Kris?"


Dokter tersenyum, menganggukkan kepalanya. Menatap Della yang terlihat beda.


"Bagaimana keadaan Kris?"


Dokter mengusap punggung Della, Kristal baru saja keguguran. Janin yang berusia empat bulan mengalami pendarahan. Dokter menjelaskan kondisi Kris yang masih mengkhawatirkan.


Kesepakatan Kristal bangun sangat kecil, dan juga seandainya Kris bangun ada kemungkinan tidak mengingat apapun.


"Berdoa saja Bu, kita berharap Kris secepatnya memberikan perkembangan."


"Apa kemungkinan besar dia akan meninggal? Kris pernah kecelakaan dan koma saat kecil, pertahanan tubuhnya tidak baik." Della melangkah pergi, tidak menunggu lagi jawaban dokter.


Della tahu saat kecil, Kristal harus melakukan cuci darah beberapa kali, bahkan satu ginjalnya diangkat.


Siapapun yang mendonorkan saat itu Della tidak tahu, Kris juga pernah mengalami kebocoran jantung dan pendarahan ringan di kepalanya.

__ADS_1


"Hidup kamu berat sekali Kristal, seharusnya kamu menyerah sejak awal. Berkali-kali kamu merasakan sakit, dunia tidak menyambut orang seperti kamu." Kepala Della tertunduk, mengusap air matanya.


***


Sudah hampir subuh Muti melangkah melihat Kristal, seorang dokter tersenyum mengizinkan Muti masuk dan menggunakan baju khusus.


Senyuman Muti terlihat, mengucapkan terima kasih dan rasa syukur akhirnya bisa bertemu adiknya.


Alhan merasakan sesak dadanya, karena dia harus meminta dokter untuk mengizinkan Muti, meksipun beresiko.


Dokter bahkan menatap Han yang tidak mendekat, membiarkan istrinya meluapkan kebahagiaan dan kesedihan melihat keadaan Kristal.


Muti langsung masuk, menyentuh tangan Kris pelan, sekuat tenaga Muti mencoba menahan air matanya.


"Kris, ayo bangun. Besok seharusnya jadwal kita menonton, tapi kita bisa mengunduhnya sedikit lebih menunggu kamu sembuh." Muti tersenyum mengusap pelan wajah adiknya.


Kristal terlihat sangat kesakitan, di mulutnya banyak alat yang terpasang, tangan Kris juga banyak selang.


"Sakit ya Kris, bisa kamu kuat dan berjuang seperti dulu saat-saat sulitnya kamu." mutiara mengusap air matanya.


Dokter meminta Muti keluar, Kristal tidak bisa ditemui lama. Kondisi Kris belum stabil, dan tidak bisa menerima banyak orang.


"Kakak keluar dulu ya Kris, kamu harus kuat. Cepat bangun." Muti melangkah mundur, meninggalkan adiknya yang masih terbaring tidak berdaya.


Di depan pintu Mutiara menangis histeris, tidak ada tempat dirinya mengadu. Ingin rasanya memanggil Mama agar dikuatkan, tapi Muti tidak memiliki ibu.


Tirta melangkah mendekat, memberikan minuman untuk Muti yang langsung mengambilnya.


"Dia pasti bangun Muti, aku yakin Kristal kuat."


Muti hanya diam saja, memejamkan matanya merasakan sakitnya mengingat wajah Della yang bisa bernafas lega melihat Kristal sakit.


"Kak Muti titip Kristal." Muti langsung melangkah ke ruangan rawat Mommynya.


Alhan hanya mengikuti saja, emosi Muti masih sulit dikendalikan dan yang pastinya dia sedang marah terhadap dunia.


"Daddy, Muti ingin bertanya?" Muti menyentuh tubuh Iskandar.


Iskandar yang tidur langsung bangun, menatap Muti yang banjir air mata. Iskandar langsung mengkhawatirkan kondisi Kristal.


"Ada apa Muti? Kristal baik-baik saja."


"Apa benar kami bukan anaknya Daddy?" Muti mengusap air matanya, Nathalie juga cemas melihat Mutiara.


"Maafkan Daddy Muti, kalian bukan anak Daddy. Meksipun kalian bukan darah daging Daddy, kamu dan Kris aku anggap putriku." Iskandar mengusap kepala Muti.

__ADS_1


Senyuman Muti terlihat, dia ingin mengembalikan apa yang sudah dirinya dan Kristal ambil.


Perusahaan Iskandar bukan milik mereka, bukan juga hak mereka. Muti akan membicarakan dengan Han untuk tidak ikut campur soal perusahan Iskandar.


"Mutiara, kenapa kamu tiba-tiba bicara aneh sekali."


Muti menggelengkan kepalanya, langsung melangkah keluar menemui Han yang duduk di depan rumah sakit menatap langit.


"Kak Han, aku ingin menuntut Della."


"Kamu kenapa? tiba-tiba mengembalikan perusahaan, jika Kris tahu dia bisa marah dan bertengkar lagi." Han masih menatap langit.


Mutiara sengaja melakukannya agar Kris bangun, jika Kris tidak ingin kehilangan sahamnya maka dia harus bangun, dan mempertahankan.


Han menggenggam tangan istrinya, Muti harus istirahat. Pikiran sedang terguncang karena memikirkan kondisi Kristal.


"Kak, aku ingin menuntut Della."


"Aku yang akan melakukannya? tunggu sebentar lagi, Della dan Rayan tidak bisa lari." Han mengusap wajah Muti.


Ucapan Muti diulang-ulang, jawaban Han tidak masuk ke dalam pikirannya. Muti masih belum bisa menerima melihat kondisi Kristal.


"Kamu harus dirawat sayang."


"Tidak kak, Muti akan menuntut Della. Dia yang menyebabkan Kristal celaka. Aku harus menemui Della sekarang." Muti langsung berjalan ke arah jalanan besar.


Han langsung menahan tangan Muti, Alhan saja tidak tahu di mana Della tinggal. Mutiara sedang tidak sadar atas apa yang dia lakukan.


Tirta, Nathalie dan Iskandar melihat Han menangis memeluk Muti yang masih mengamuk.


Beberapa orang melihat Han kewalahan, dan mencoba menahan Muti yang menangis histeris.


"Ada apa?"


"Istri saya mengoceh tidak karuan karena saudaranya koma, dia tidak bisa dikendalikan."


"Muti harus bertemu Della, dia harus dihukum." Air mata Muti menetes membasahi pipinya.


Tirta langsung mendekat, melihat wajah Muti pucat dan tatapan sangat marah.


"Della, di mana ayah kami? apa kamu wanita malam yang tidur dengan banyak lelaki sehingga ingin mengugurkan kami? apa ayah kami juga tidak menginginkan Muti dan Kristal?" Muti berteriak mencaci maki Della, Han tidak bisa menahan tenaga Muti sampai Tirta juga membantu menahannya.


"Muti sadar." Tirta menahan kedua tangan Muti.


"Sayang, tidak begini cara menghadapi masalah." Han memeluk Muti yang jatuh pingsan.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2