MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
ADIK LILY


__ADS_3

Sudah dua hari Mutiara dan Kristal tinggal di rumah orangtuanya, bahkan ditambah satu personil lagi.


Dwi harus menghadapi kejahilan Muti dan Kris yang terus membuat Lily menangis, tetapi bisa membuat Lily juga tersenyum.


"Panda, sudah dua hari tidak pulang ke rumah." Muti duduk sambil makan.


Lily juga duduk di depan Muti, memegang sendok sambil makan. Dwi juga menyediakan makanan ringan.


"Panda ... Lily suka ini." Makanan terus disendokkan ke mulutnya.


"Kamu suka ini? sama aku juga." Kris langsung mengambil punya Lily, menghabiskan tanpa menyisakan sedikitpun untuk adiknya.


Mata Lily berkaca-kaca, langsung memunggungi Kris tidak ingin melihatnya, karena makan tidak berbagi.


Setetes, dua tetes sampai banjir air mata mengalir di pipi Lily, Muti sudah memarahi Kristal.


"Lily suka, tapi sudah habis." Tangisan Lily terdengar, memeluk bungkus cemilan.


Mendengar suara Manda dan Panda datang, Kris dan Muti langsung bersembunyi di bawah meja. Tidak ingin Manda marah lagi, terpaksa bersembunyi.


"Astaghfirullah Al azim, kenapa sayang?" Dwi langsung menggendong Lily yang masih menangis sesenggukan.


"Kakak, habiskan cnaks Li."


"Kakak yang mana cantik?" Ilham mengusap kepala Lily yang menatapnya tidak kenal.


Lily terdiam, dia juga binggung perbedaan yang kedua miliki. Kedua kakaknya memiliki wajah yang sama, dan belum bisa membedakannya.


"Muti, ada Han." Panda melipat tangannya di dada.


Suara kepala menabrak meja terdengar, Muti terburu-buru untuk keluar demi bisa menemui Han.


Suara tawa terdengar, Panda menunjuk Muti yang kemungkinan menganggu Lily. Kepala Lily gelang-gelang, dan tertawa melihat Muti cemberut, karena tidak ada Alhan.


Semuanya sudah tahu siapa pelakunya, Dwi meminta Kris keluar. Dan mengambil jatah Snack Kris jika tidak mengakui.


Kris langsung keluar, mencubit adiknya yang suka mengadu. Tangisan Lily terdengar, menatap tangannya yang sakit dicubit.


"Kristal, tidak boleh seperti itu sayang." Panda mengusap tangan, meniupnya agar rasa sakitnya hilang.


Ilham meminta Dwi, Muti, Kris dan Lily duduk. Ilham baru saja kembali dari desa tempat tinggal orang tua kandung Lily.


Di karenakan nenek kakeknya tidak mampu membiayai, secara hukum Ilham sudah mengadopsi Lily dan memberikan kompensasi kepada Nenek kakeknya.


Surat resmi sudah diajukan ke pengadilan, Lily secara resmi akan menjadi adik Kris dan Muti.

__ADS_1


"Ya Allah, nambah lagi satu perempuan di rumah ini?" Kris memonyongkan bibirnya.


"Bagus sayang, rumah ini akan semakin ramai. Panda tidak kesepian lagi, ada Mutiara, Kristal, dan Lily yang meramaikannya." Ilham mengusap kepala Kristal yang tersenyum melihat Lily menjadi bagian dari keluarga Kembara.


Ilham menatap Mutiara, Han sudah menjelaskan semuanya soal permasalah keduanya. Terutama soal nama dan kejelasan status.


Han mengambil keputusan yang disetujui oleh Ilham, agar tidak ada kesalahpahaman dan juga keraguan. Penikahan Muti dan Han akan dilakukan ulang.


Baik ijab kabul dan juga pestanya, Han akan mengumumkan kesalahan yang terjadi dan memeriahkan pernikahan.


Satu rencana yang masih harus dibicarakan detail, Han juga menawarkan untuk menikahkan Tirta dan Kris secara bersamaan.


"Kita akan menikah bersamaan Panda?" Kris terlihat kaget.


"Kemungkinan, jika kalian menyetujui. Kita bahas nanti saat ada Han dan Tirta."


"Muti nikah lagi, dan ada pestanya. Muti akhirnya menikah." Mutiara kesenangan, karena pernikahan pertama diadakan hanya untuk keluarga inti.


Suara salam dari luar terdengar, Han datang bersama Tirta. Ilham meminta keduanya duduk, dan membicarakan apa yang sebelumnya dibahas singkat.


Tirta langsung memeluk Lily, mendudukinya di pangkuan mencium si cantik yang sangat menggemaskan.


"Ayang, tidak boleh." Kris mendorong kepala Lily untuk menjauhi calon suaminya.


Kristal langsung berdiri dari kursinya, Tirta juga langsung berlari membawa Lily yang sudah tertawa melihat Kris mengamuk.


Tangan Kris sakit kembali, langsung duduk di lantai melihat luka tangannya. Muti menarik tangan Kris, teriakan kuat Kristal menggema.


"Kak Han, lihat Muti." Kris mengadu, tapi Han cuek saja hanya menganggukkan kepalanya.


Suara tawa Lily terdengar, Kris mengejar Tirta yang masih mengendong Lily. Tawa Tirta dan Lily terdengar mengejek Kris.


"Kak Lis tidak boleh seperti itu, kasih tahu Manda, lo." Tangan Lily meminta Kristal berhenti.


"Tirta, lepaskan dia." Kris langsung memeluk erat.


Tatapan Lily langsung cemberut, berjalan ke bawah meja bersembunyi. Tidak ingin bermain dengan Kristal lagi.


Dwi yang melihat hanya tersenyum, dirinya bahagia melihat Lily bisa dekat dengan banyak orang.


"Kamu yakin bisa menjaga Lily? atau gunakan saja baby sister." Panda menatap istrinya yang masih tersenyum lebar.


Dwi menggelengkan kepalanya, dan sangat yakin bisa menjaga Lily dengan baik. Dwi juga ingin secara langsung memastikan, Lily tumbuh dengan baik dalam pengawasannya.


"Muti juga tidak setuju, lihat banyak pelakor yang merawat anak, tapi double langsung suaminya." Muti menunjukkan ponselnya, mengingatkan mamanya untuk berhati-hati.

__ADS_1


"Panda tidak mungkin melakukannya." Ilham membela diri, karena tidak semua lelaki sama.


"Ingat Panda, meskipun tidak ada niat mendua, namanya juga perempuan licik. Tidak bisa dengan cara langsung, gunakan cara halus. Tidak mungkin bisa menolak." Muti memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Alhan menatap sinis, memberikan air minum untuk istrinya yang mengkritik hidup orang lain. Mengomentari sesuatu yang tidak penting.


Penjelasan Muti soal pelakor panjang lebar, Han hanya diam mendengarkan tanpa menyimak.


"Sayang, urus saja rumah tangga kita, jangan membicarakan rumah tangga orang lain." Kening Han berkerut meminta Muti berhenti membahas pelakor.


"Rumah tangga apa? kita belum menikah. Membicarakan pelakor wajib, apa lagi lelaki memiliki uang. Jika ada lelaki lebih kaya, Muti juga mau." Lirikan mata Muti sinis.


"Astaghfirullah Al azim, tarik ucapan kamu tadi. Jadilah istri yang bersyukur atas apa yang didapat. Berhentilah membandingkan dengan hidup orang lain." Emosi Han terpancing, kesal melihat Muti yang bicara sembarangan.


"Kenapa kak Han ingin selingkuh?! lakukan saja, Muti juga bisa." Pukulan di meja terdengar, Muti langsung melangkah pergi, matanya masih menatap sinis Alhan yang kebingungan.


Panda hanya tertawa, mengusap punggung Alhan yang harus ekstra sabar menghadapi Muti yang suka mempercayai sesuatu yang belum benar.


Han menggelengkan kepalanya, binggung dengan istrinya yang bicara tidak jelas. Awalnya pelakor, berujung menjadi selingkuh.


"Lelaki selalu salah, dan wanita selalu benar." Dwi meminta Han sabar lebih lagi.


Senyuman Tirta juga terlihat, menunjukkan soal laporan yang Han inginkan soal persiapan pernikahan. Sebelum bicara dengan WO, membicarakan dengan keluarga lebih dulu.


"Kalian yakin ingin menikah bersamaan?"


"Iya Pa, Han yakin. Tetapi jika Tirta menolak juga tidak masalah." Han menatap adiknya yang mengangguk.


"Pernikahan dipercepat saja kak, tidak ingin Mami berubah haluan." Tirta menatap kakaknya yang setuju.


Pikiran Cherly memang sulit ditebak, sehingga apapun lebih baik cepat.


Suara benda jatuh, dan pecah terdengar. Suara teriakan tiga wanita terdengar, langsung berlari kencang menyelamatkan diri masing-masing.


"Lily yang memecahkan vas bunga, Manda." Kris menunjuk adik kecilnya yang kebingungan.


"Bukan Lily kakak."


"Iya Lily, Manda. Muti saksinya."


"Bukan, Lily tidak salah. Kakak yang salah." Tangisan Lily langsung terdengar, menutup wajahnya sambil jongkok.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2