MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MEMBELA


__ADS_3

Saat tiba di rumah Mutiara binggung melihat Kristal yang masih tidur, wajah Kristal juga terlihat pucat.


"Kris bangun, kamu sakit?" Muti menyingkirkan selimut, melihat jejak merah di leher adiknya.


Muti yakin jika sesuatu sudah terjadi, ada air mata di pelipis mata Kris yang belum kering. Mutiara tahu Kristal berpura-pura tidur.


Pintu kamar diketuk, Muti langsung mengganti bajunya menutupi Kristal menggunakan selimut, langsung berlari membuka pintu.


Tatapan Muti tajam melihat Tirta yang membawakan makanan, senyuman terlihat dari bibir pria tampan berkulit putih yang berdiri di depannya.


"Kamu sudah baikan, makan dulu." Tirta memeluk Muti sangat lembut.


"Apa yang kamu lakukan?" Muti menatap tajam, tidak menyukai Tirta yang terus tersenyum.


"Kris, aku mencintai kamu dan akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan." Tirta meminta maaf karena dirinya tidak bisa mengendalikan diri.


Mutiara menarik Tirta keluar, membuang makanan yang dia bawa. Muti juga mendaratkan tamparan kuat, bukan hanya satu kali tetapi bekali-kali.


Tirta menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah, menundukkan kepalanya melihat kemarahan Muti.


"Lelaki yang baik, dia yang menghormati wanitanya." Muti menarik kerah baju Tirta untuk menatapnya.


Pertanggungjawaban Tirta, tidak akan mengubah kenyataan apa yang terjadi kepada mereka, tapi akan membuat Kristal berada dalam masalah yang lebih besar lagi.


"Semuanya tidak akan berakhir hanya atas nama cinta, kamu tahu tidak artinya cinta?" Suara Mutiara teriak membuat Kris mengintip dari balik pintu.


Air mata Kristal menetes melihat Mutiara membelanya bahkan bisa memukul Tirta yang melakukan sesuatu tidak atas izin Kris.


"Maafkan aku Kris." Tamparan kembali mendarat di wajah Tirta.


"Apa yang bisa kamu janjikan Tirta? bahkan kamu belum bisa menjadi seseorang yang bermanfaat. Hidup kamu masih dikendalikan oleh Mami kamu, lalu apa yang bisa kamu jaminkan untuk cinta?" Muti mendorong Tirta untuk keluar, dan jangan pernah muncul dihadapannya.


"Keluar!" tatapan Muti tajam.


Alhan yang baru pulang ingin masuk, tapi mundur lagi. Mengintip sebentar melihat pertengkaran Kristal dan Tirta.


"Aku akan membuktikan kepada kamu Ketulusan aku." Tirta meneteskan air matanya.


Kristal benar, dirinya masih dikendalikan oleh Maminya dan tidak punya tujuan apa rencana untuk hari esok, bahkan masa depan. Semuanya sudah dirancang oleh Maminya, tapi semuanya berubah setelah bertemu Kristal.


Tirta tidak menginginkan harta, jabatan, juga kekuasaan yang terus diperebutkan. Dia hanya ingin hidup normal penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Sekalipun Maminya memandang Alhan sebagai lawan, dirinya tetap menganggap Alhan kakaknya meksipun Han tidak mengakuinya.


"Satu kesalahan aku Kris, karena mencintai istri kakakku. Kamu juga tahu jika pertemuan kita tidak disengaja." Tirta menepis air matanya.


Harapannya terlalu besar sampai ingin memiliki Kristal, meminta Kris meninggalkan Han. Tirta menyadari dirinya egois, menginginkan sesuatu yang sangat sulit dia miliki.


"Kamu punya hak atas perasaan kamu, tapi kamu tidak punya hak memaksa keinginan kamu tanpa izin, apalagi ... anu." Muti binggung cara mengatakannya, karena dia tidak terbiasa bicara kotor soal lelaki dan perempuan.


"Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi, aku tidak akan memaafkan diri sendiri jika sampai mengulanginya." Tirta setulus hati meminta maaf, dan akan membuktikan kepada Kristal jika dia bisa menjadi orang tanpa Maminya.


"Apa yang kalian berdua ributkan?" Han menatap tajam dua orang yang masih berdebat, melangkah mendekat Muti yang masih emosi.


Tirta langsung pamit pulang, meminta maaf kepada Han karena datang ke rumahnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Alhan membiarkan Tirta pergi begitu saja, fokus melihat ke arah Muti yang menarik nafas mencoba mengendalikan diri.


"Kamu pulang ke rumah hanya untuk bertemu Tirta?" Han berdehem saat matanya bertemu dengan Muti yang masih emosi.


"Berikan pertanyaan yang menggunakan logika Han, aku pulang ingin istirahat, bukan bertengkar." Muti langsung melangkah pergi ke kamarnya, membanting pintu kuat membuat Han memegang dadanya.


Alhan sungguh tidak percaya, Muti marah kepadanya yang tidak tahu apapun. Perempuan memang aneh, bertengkar dengan siapa, semua orang juga menjadi korbannya.


Di kamar Muti menatap Kristal yang masih duduk di pinggir ranjang, ingin memarahi Kris tapi kasihan melihat kondisinya.


"Makan di ruang makan, bukan di dalam kamar." Han berteriak menghentikan Muti.


Tatapan Muti tajam, melihat Alhan masuk ke kamarnya. Tidak mempedulikan ucapan Han yang menyindir.


"Makan dulu, jika ada masalah cerita jangan diam saja." Muti meletakan makanan untuk Kris.


"Maaf, semuanya terjadi begitu cepat. Kak Muti tidak perlu khawatir." Kris tersenyum mengambil makanan langsung menyantapnya.


"Bagaimana aku tidak khawatir Kris? kamu satu-satunya keluarga aku, tidak ada yang bisa aku lakukan, kenyataannya aku tidak berguna." Air mata Muti menetes, Kris hanya bisa tertawa melihat kakaknya marah-marah bahkan memukul Tirta.


Saat ini Kris merasakan yang namanya memiliki saudara yang akan menjaganya, perasaan Kris sedikit lega.


Awalnya dia takut, tapi melihat Mutiara keberanian Kristal kembali, karena Muti tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi.


"Kak, jangan terlalu dipikirkan. Kita hidup di zaman modern." Kris bisa menebak kekhawatiran Muti.


"Kata nenek, laki-laki dan perempuan melakukan anu bisa punya anak, kamu tidak takut?" Muti langsung merinding.

__ADS_1


"Anu? apa yang anu?" Kristal langsung tertawa lepas melihat Muti yang masih polos.


"Kamu mengerti maksudnya kak Muti, jika sampai hamil lalu Han tahu bukannya kita akan bermasalah." Muti semakin cemas memikirkan nasib mereka.


Kristal hanya tersenyum, jika sampai hamil Kris akan mengambil jalur nekat untuk mengugurkan. Dia tidak akan membiarkan jika kehamilan bisa menghalangi rencana mereka.


"Gila kamu, anak tidak salah."


"Kak, apapun yang menghalangi Kristal akan aku singkirkan." Kris menatap tajam, dirinya tidak akan jatuh hanya karena hubungannya dengan Tirta.


Mutiara hanya diam, mereka tidak harus membahas sesuatu yang sangat mengerikan sampai harus mengorbankan anak.


Sikap Kristal yang keras sangat Muti sadari, dia ingin menjaga adiknya dan melakukan apapun untuk menjaga Kristal.


"Kris, buka pintu."


Tatapan Kristal dan Mutiara langsung tertuju ke pintu, keduanya langsung berdiri. Kris langsung pergi bersembunyi.


Muti membuka pintu, Han melangkah masuk hanya menggunakan tongkat melihat sekitar kamar.


"Kamu bicara dengan siapa?" Han mengecek seisi kamar.


"Kamu mencari apa?" Muti menahan tangan Han untuk berhenti mengeledah kamarnya.


Alhan meminta Muti mengemasi bajunya untuk pindah tidur bersamanya, dan tidak ada pisah kamar lagi.


"Kenapa harus pindah? aku nyaman di sini." Muti menolak keinginan Han.


"Kenapa kamu menolak? apa yang kamu sembunyikan?" Han memperingati Muti itu tidak menyembunyikan apapun.


Han tidak ingin melakukan hal yang berlebihan sampai harus mengecek CCTV atas apa yang Muti lakukan.


"CCTV itu apa?" Muti menatap binggung.


"Kamu tidak tahu CCTV, sepertinya aku harus mengecek apa yang kamu lakukan." Han mengerutkan keningnya.


***


follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


VOTE hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2