MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MAHAR


__ADS_3

Beberapa mobil sudah tiba di panti, anak-anak menyambut bahagia melihat Dwi yang akan menikah.


Ibu panti juga senang, akhirnya Dwi bisa move on dari rasa kehilangannya.


Senyuman Muti terlihat, menatap mobil suaminya. Kening Muti berkerut, karena Han membeli mobil baru lagi.


Padahal Muti sudah memperingati untuk tidak membeli mobil, karena bayar pajak mahal.


"Kenapa melotot? bukan mobil aku, tapi milik Panda." Han sudah paham dengan pandangan istrinya.


"Maharnya mobil?" Kris langsung melotot.


Han mengangkat kedua bahunya, tidak tahu soal besarnya mahar. Han hanya mengendarainya.


"Belum juga menikah, sudah meminta mahar mobil." Kris menghentakkan kakinya.


"Muti juga mau mahar, rumah mewah, mobil, saham." Muti memelas kepada Han yang sudah memijit pelipisnya.


"Nanti aku belikan sahang agar semakin rajin masaknya." Senyuman Han terlihat menatap istrinya yang menganggukkan kepalanya.


Muti meminta Kris jangan iri jika Dwi mendapatkan mahar yang besar, karena Kris juga bisa meminta kepada Tirta.


Kris langsung berjalan mendahului kakaknya yang selalu membela calon ibu tirinya, dan terlihat sekali jika Papanya benar-benar menjadikan Dwi ratu.


"Nek, mahar pernikahan apa?"


"Belum dibicarakan sayang."


"Panda membeli mobil baru." Kris memonyongkan bibirnya.


Senyuman Ilham terlihat, mengusap kepala putrinya yang sudah manyun. Mobil yang Ilham beli bukan untuk mahar pernikahan, tetapi hadiah untuk Mutiara.


"Kak Muti mendapatkan mobil?"


"Kristal juga, mobil Kris ada di rumah Han."


Senyuman Kristal terlihat, langsung memeluk Papanya yang ternyata masih mengutamakan mereka.


"Calon Manda tidak dibelikan mobil baru, dia pembalap mobil yang hebat, Kris pernah mengerjai dia." Kris tersenyum jika ingat saat mengerjai Dwi.


"Dasar Putri jahilku, nanti Kris dan Muti saja yang memilih mobil untuknya."


Kristal tersenyum licik, jika meminta dirinya yang memilih pasti akan dibelikan mobil bak yang bisa membawa pasir khusus untuk calon Manda.


Semuanya berkumpul di depan panti, ibu panti mempersilahkan masuk untuk seluruh keluarga yang sudah membawa hantaran.


Jantung Dwi berdegup kencang saat rombongan sudah sampai, bahkan ibu panti meminta Dwi keluar untuk melihat keluarga calon suaminya.


Muti tersenyum melihat Dwi sangat cantik, kepalanya tertunduk malu tidak berani melihat ke depan.


Alhan tersenyum menggendong anak kecil, memintanya untuk diam agar tidak membuat keributan seperti istrinya.

__ADS_1


"Sudah cocok punya anak kak." Tirta berbisik pelan.


Suasana hening mendengar pembicaraan kedua belah pihak, nenek meminta Dwi memberikan syarat dan permintaan yang harus dipenuhi dari pihak pria.


"Dwi tidak menginginkan mahar yang berat semampunya saja ... tapi."


"Tunggu, apa kamu pikir kita dari keluarga kurang mampu?" Kris menutup mulutnya yang keceplosan.


Dwi menutup mulutnya yang sudah tertawa pelan, sudah dia duga jika Kris pasti akan mengkritik ucapannya.


"Dwi hanya menginginkan seperangkat alat sholat, bukan hanya sekedar alat sholat saja, tetapi dibimbing untuk menjalankannya lebih baik lagi. Cukup itu saja."


"Boleh aku menambahkan maharnya, selama tidak memberatkan?" Ilham bicara sangat lembut sambil tersenyum.


"Jika Dwi boleh tahu, apa mahar tambahannya?"


Ilham hanya menginginkan memasangkan cincin nikah, dan Dwi mengizinkannya selama cincin tidak memberatkan jarinya.


Muti langsung melihat jarinya, tertawa kecil. Ucapan Dwi ada benarnya, jika cincinnya besar pasti berat jarinya.


Nenda ingin merayakan pernikahan besar-besaran, dan mengudang banyak orang untuk menyambut hari bahagia putranya.


Ilham menatap Bundanya, tidak ingin membesarkan pesta, karena baginya yang paling penting sah. Keputusan terakhir, Ilham meminta Dwi yang mengambil keputusan.


"Dwi tidak ingin pesta, cukup dilakukan syukuran kecil-kecilan."


Nenda hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui untuk merayakan secara sederhana di tempat tinggal Nenda.


Pembicaraan cukup panjang, karena langsung menetap waktu yang paling baik untuk kedua calon pengganti.


"Kalian juga pasti tidak punya ibu? sedih dan kesepian." Kris tersenyum, duduk di kursi.


Langkah seseorang mendekat, langsung duduk di samping Kristal yang masih tersenyum melihat anak-anak berlarian.


"Apa kamu sedang kasihan melihat mereka?" Dwi duduk di samping Kris yang masih fokus melihat anak kecil.


"Kenapa aku harus kasihan? nasib kami sama."


Senyuman Dwi terlihat, mengusap kepala Kristal yang terlihat sedih. Kris teringat kandungannya, karena anaknya juga tidak memiliki ibu.


"Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga." Tatapan mata Dwi melihat ke langit.


Pelukan tangan Muti terasa, meminta adik dan calon Manda tidak bersedih. Sekarang sudah saatnya meniti bahagia, bersama-sama.


"Kris, kamu bahagia?"


"Biasa saja, tidak ada alasan aku bahagia."


Mutiara mencubit pipi adiknya, langsung duduk di tengah sambil tersenyum. Muti akan menjadi penengah untuk ibu dan adiknya.


"Siapa anak itu Manda? kenapa dia sendirian?"

__ADS_1


Dwi menatap ke kursi yang cukup jauh dari mereka, melihat seorang pria kecil yang berdiam diri. Sudah dua tahun tinggal di panti, tapi tidak pernah mendengar suaranya bicara.


"Tidak ada yang tahu namanya, asalnya. Dia datang ke panti menunggu seseorang yang tidak pernah datang."


"Dia dibuang, kejam sekali yang membuang anak."


Mutiara berjalan ke arah anak laki-laki yang berusia enam tahunan, mengulurkan tangan tetapi tidak ada respon.


Muti mencoba mengobrol, membicarakan apapun tetapi tidak mengubah arah pandangnya.


"Kamu ingin pergi ke mana?" Muti hanya melihat punggung belakang anak kecil yang duduk di kursi lain.


Tatapan Muti sedih, langsung kembali ke tempat Kristal dan Dwi berada. Ucapan Dwi benar jika anak lelaki yang menyendiri tidak ingin bicara.


"Dia sekolah?" Kris menatap Dwi yang hanya menganggukkan kepalanya.


Kris ingin membiayai hidupnya sampai lulus kuliah, dan Kris memberikan nama Krisna.


Senyuman Dwi terlihat, dia akan menyampaikan kepada ibu panti. Dwi akan mengurus surat-menyurat untuk Kristal.


"Kenapa kamu membiayai dia?"


"Emh, hanya mau saja. Tidak ada alasan lain." Kris mengerutkan keningnya.


"Terima kasih Kristal, Krisna pasti bahagia ada yang meliriknya meksipun tanpa alasan."


Suara Nenda memanggil terdengar, meminta Kris Muti bersiap-siap untuk pulang. Mereka harus menyiapkan acara pernikahan.


"Manda juga ikut kita pulang?"


Dwi menganggukkan kepalanya, langsung mendekati Nenda untuk pamitan dengan seluruh anak-anak panti.


Ibu panti tersenyum melihat keluarga Kembara yang selama ini sudah banyak berbagi, dan berharap anak-anak akan membalas kebaikan mereka.


"Kak Han, dia anak angkatnya Kristal. Namanya Krisna."


"Krisna, nama yang bagus. Apa kamu juga ingin mengangkat anak?"


Muti menggelengkan kepalanya, dia tidak terpikirkan untuk mengangkat anak. Karena harus dari hati.


"Ayang, dia tampan."


"Krisna Kembara, bayar biaya hidup dia sampai lulus kuliah." Kris tersenyum memeluk lengan Tirta yang langsung terdiam.


Antara senang dan terkejut, jika Kris memang tidak pernah ingin rugi.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya ya


***


__ADS_2