
Melihat banyangan hitam, Han dan Muti saling pandang, Alhan menarik selimut langsung menutupi kepalanya. Muti berteriak kuat, memukuli Han yang bersembunyi.
"Kak Han coba buka, dan lihat." Muti menarik selimut.
"Tidak mau, aku takut." Han merinding ketakutan.
Kening Muti berkerut, langsung berdiri membuka pintu balkon, langsung melihat ke arah bayangan.
Suara tawa Kris dan Tirta terdengar, Muti melempar keduanya menggunakan sendal. Terlalu jahil, menakuti saja.
"Kak Han, lihat ini." Mutiara berteriak.
Alhan tidak keluar sama sekali, tidak perduli teriakan Muti yang menggema memanggilnya. Suara tawa Kris dan Tirta terdengar, Han sangat takut dengan hantu.
"Kak Muti cek saja kak Han, mungkin sudah kencing di celana." Kristal melambaikan tangannya, langsung masuk ke kamar.
Muti berjalan masuk, memukul Han menggunakan guling, laki-laki takut dengan hantu bahkan tidak peduli jika Muti dimakan hantu.
Han menutup telinganya, tidak ingin membicarakan soal hantu. Han trauma pernah melihat hantu secara langsung, dan tidak ingin mengulanginya lagi.
Kepala Muti gelang-gelang, langsung tidur di samping suaminya. Masuk ke dalam selimut, tidur berpelukan.
***
Persiapan keberangkatan sudah dilakukan, beberapa koper sudah disiapkan. Bibir Kris manyun melihat Lily ikut atas izin Tirta.
Dikarenakan Manda tidak mendapat izin untuk pergi, Tirta yang akan bertanggung jawab atas Lily.
Senyuman Lily lebar, menjulurkan lidahnya menatap Kakaknya Kristal yang masih melotot.
"Lily sayang jangan nakal, nurut kepada kak Tirta dan Han. Tas digendong sendiri." Dwi memberikan uang jajan kepada Lily, Kristal dan Muti dengan nominal yang sama.
Meksipun suami Kris dan Muti memiliki segalanya, sebagai seorang ibu Dwi tetap memberikan uang saku.
"Han, jaga adik-adik kamu." Panda menepuk pundak Han.
"Nenek Lily pergi liburan." Suara kaki Lily lompat-lompat terdengar.
Keluarga hanya mengantar sampai bandara, melepaskan Muti, Kris, Tirta, Han dan Lily yang akan pergi liburan selama beberapa bulan.
Air mata Dwi menetes, rumahnya akan terasa sepi tanpa suara si kecil Lily, keributan Kris dan Muti yang selalu membuat heboh.
Jantung Muti berdegup kencang, pertama kalinya naik pesawat membuat Muti takut jatuh. Kris yang menyadari ketakutan Muti hanya tersenyum.
"Jangan panik, santai saja." Kris tersenyum lucu.
__ADS_1
Han juga menahan senyum, menggenggam tangan istrinya. Menenangkan Muti, cukup berdoa di dalam hati selamat sampai tujuan.
Suara tangisan Lily terdengar, saat pesawat naik dirinya terkejut. Tirta memeluk lembut menenangkan si kecil agar tidak takut.
"Jangan menangis, kak Kris buang keluar." Kris menakuti Lily.
"Jangan bicara sembarang Kristal, Lily takut. Jagan takut, ada kak Tirta di sini." Pelukan Tirta sangat lembut.
Kris menarik tangan suaminya, meminta dipeluk juga. Kris tidak menyukai Tirta yang memeluk Lily, tetapi dirinya tidak.
Senyuman Tirta terlihat, langsung merangkul Muti dan Lily secara bersamaan. Meminta keduanya tidur, karena perjalanan masih jauh.
Tawa Han terdengar, langsung menutup mulutnya. Tirta, Kris dan Lily langsung melihat ke arah Han yang tertawa melihat istrinya menangis.
Suara Kristal tertawa terdengar, merasa konyol melihat kakaknya menangis. Lily juga tertawa mengejek kakaknya yang masih menangis.
Muti mengusap air matanya, memukul Han yang masih tertawa. Dirinya hanya terkejut, secara tiba-tiba pesawat naik.
"Sudah diam, jangan menganggu kenyamanan penumpang lain." Tirta menutup mulut Kris yang tidak ingin diam.
Mata Kris perlahan terpejam, langsung tidur. Lily juga memejamkan matanya langsung tertidur di atas tubuh Tirta.
Alhan masih melakukan pekerjaan, sibuk sendiri sesekali juga menatap istrinya Muti yang tidur nyenyak.
Suara Han bicara pelan, berbicara dengan anaknya yang ikut liburan, saat pulang langsung lahiran.
Senyuman seorang pramugari terlebih, menawarkan minuman agar Han bisa fokus bekerja.
Ekspresi Han sangat cuek, diam saja tidak memberikan tanggapan sama sekali. Kacamata hitam menjadi pilihan Han, agar tidak ada yang memperhatikannya.
Bibir Muti mengukir senyum, kagum dengan sikap dingin suaminya. Awalnya sangat ramah, menggoda dan berbicara dengan anaknya, tetapi begitu cepatnya langsung berubah dingin saat ada yang menegurnya.
"Kak Han, Lily mau pipis." Suara pelan Lily terdengar.
Han langsung berdiri, menggendong Lily untuk membawanya ke belakang. Han meminta bantuan pramugari untuk membantu Lily.
"Anaknya?"
Kepala Han mengangguk, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Berdiri diam menunggu Lily yang masuk kamar mandi.
"Papa muda, masih tampan dan terlihat mapan." Senyuman manis terlihat membuat Han risih.
"Maafkan Daddy Lily, dia bisu tidak bisa bicara." Senyuman Lily terlihat, langsung menggandeng tangan Han untuk kembali ke tempat duduk.
"Tidak sekalian kamu mengatakan kak Han buta." Tatapan Han sinis, tapi merasa lucu dengan kejahilan Lily.
__ADS_1
Suara tawa Lily terdengar, meminta maaf. Dirinya kesal jika ada yang menggoda, karena Han milik kakaknya.
Lily pindah tidur bersama Han, sesekali mengobrol berdua. Han mengajari perbedaan waktu, juga cuaca.
"Nanti, Lily tidak boleh mengikuti sembarang orang, kecuali kak Han, Tirta, Muti dan Kris." Han menakuti Lily untuk berhati-hati dengan orang asing.
"Di sana ada hantu tidak kak?"
"Jangan bahas hantu, kak Han tidak menyukainya." Senyuman Han terlihat, dirinya sangat sensitif jika membahas hantu.
Perjalanan panjang akhirnya tiba, Han dan Tirta mendorong dua bumil sekaligus Lily yang duduk di atas koper sambil tersenyum lebar.
Lily dan Mutiara terpesona melihat keindahan negara luar, hanya Kris yang terlihat biasa saja, karena dirinya sudah beberapa kali datang berkunjung.
"Itu apa? bagus sekali." Lily menunjuk ke arah depannya.
"Jangan kampungan, membuat malu saja." Kris menurunkan tangan Lily.
Han juga sama sudah lama tidak berlibur ke luar negeri, rasanya sangat nyaman bernafas, tanpa tujuan bekerja.
Tirta melakukan panggilan, mencari mobil orang tuanya. Dari kejauhan sudah terlihat lambaian tangan Elin.
Senyuman Tirta terlihat, langsung memeluk Ibunya, mencium tangan Papanya. Tirta melihat Krisna yang sudah memeluk erat Kris, terlihat sekali besarnya rasa rindu.
"Bagaimana keadaan kandungan kamu Muti?" Ibu mengusap perut Kristal.
"Ini Kris Bu." Bibir Kris langsung manyun, mengusap perutnya.
"Astaghfirullah Al azim, ini Kris sedang hamil atau memang gendut." Ibu Elin terlihat sangat bahagia.
Kristal langsung merengek, mencari Tirta, meminta untuk dipeluk. Dirinya dikatai gendut.
Ayah Gio juga bahagia melihat Tirta juga akan menjadi seorang Ayah, memberikan selamat, begitupun kepada Han yang tersenyum.
Ibu Elin memeluk Han, mengusap punggungnya. Mencium Muti yang perutnya lebih besar dari Kristal.
"Sekarang Putranya Ayah akan mempunyai adik." Tirta memeluk anaknya, merasakan rindu berat.
Beberapa pramugari lewat, Lily menatap wanita yang menggoda Han. Langsung mengatakan kepada Muti, jika satu pramugari menggoda suaminya.
"Woy pelakor, berhenti." Muti berteriak kuat, menunjukkan tangannya kepada pramugari yang sudah menggoda suaminya saat di toilet.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1