
Suara perdebatan Han dan Tirta soal pekerjaan terdengar, lebih banyak bicara daripada memasukkan makanan ke dalam mulut.
Apri yang mendengarkan keduanya hanya bisa diam, selama dua bulan dirinya sangat tenang, bekerja sesuai aturan.
Berbeda jika Han sudah pulang, dirinya seperti setrika yang bolak-balik. Melakukan banyak hal di luar pekerjaan.
Salah satu yang menyebalkan bagi Apri, mendengar perdebatan keduanya yang sangat panjang mengalahkan rel kereta api.
"Pak, kenapa saya diminta ke sini?" Apri menatap Han yang masih makan.
"Bagaimana kondisi perusahaan?"
"Aman, dan semuanya sudah dilaporkan sesuai dengan bagian masing-masing."
Tirta tertawa lucu, Apri selalu saja kesal jika bertemu Han di luar kantor. Tidak ada akurnya antara bos dan bawahannya.
Han meminta pendapat Tirta dan Apri soal beberapa masalah, sebelum Mutiara melahirkan dia tidak bisa fokus bekerja.
"Tunggu Pak, Muti yang hamil, kenapa Pak Han yang tidak bekerja?" helaan nafas Apri terdengar, Han hanya banyak alasan.
"Saya harus menemani dia, nanti tiba-tiba sakit perut." Han meminta Tirta dan Apri yang fokus menyelesaikan masalah perusahaan.
"Kak Han pikir Kris tidak butuh suami, bagaimana jika kejadian Bunda terulang?"
Mendengar ocehan Kris membuat Han terdiam, senyuman Tirta terlihat mengejek kakaknya jika dirinya juga belum bisa turun langsung mengurus pekerjaan.
Tirta hanya bisa memantau dari kejauhan, memberikan perintah, tetapi belum bisa berada di kantor sesuai jam kerja.
Kepala Apri sudah tertunduk, langsung pamit pergi ke kantor. Pekerjaan masih banyak, dan Han bisa mengirimkan pesan untuk memberikan perintah.
"Kak Apri, sudah terima laporan dari Kris?"
"Sudah, solusi kamu memang sangat bagus, kita akan mencobanya."
Kris tersenyum sinis, dirinya ingin sekali turun langsung menghentikan Jenny, tetapi masih memikirkan anaknya.
"Ada apa sayang?" Tirta mengusap perut besar istrinya.
"Jenny menjatuhkan nama baik perusahaan Iskandar, Daddy sudah memberitahu Kris. Mereka menjelaskan status Kris bukan anak Daddy. Saham jatuh begitu saja, tapi Panda sudah membantu menanam saham di sana." Kris kasihan melihat perusahaan Iskandar, Citra perusahaan akan rusak karena dirinya.
Setelah Kris mencari tahu, ternyata ulah Jenny. Dirinya ingin melawan, tapi memikirkan kandungan yang sudah besar. Kris tidak ingin mengambil resiko, hanya karena keegoisan.
"Ada hubungan apa dengan Apri?" Tirta menarik kursi meminta istrinya duduk.
__ADS_1
"Perusahaan JK memiliki saham di sana, jika Daddy jatuh, maka JK akan merugi."
Kepala Tirta mengangguk, meminta istrinya tidak memikirkan, dirinya akan membereskan soal perusahan. Iskandar group tidak akan bangkrut.
"Membicarakan pekerjaan terus, Muti capek mendengarnya." Muti menarik kursi, duduk di samping adiknya.
Apri langsung pamit pergi, meninggalkan keluarga kembar yang pastinya akan lanjut membicarakan perusahaan.
Sementara waktu, Muti meminta Kristal tidak memikirkan perusahaan, nanti berakibat fatal kepada kandungannya yang sudah tujuh bulan lebih.
Kepala Han mengangguk setuju dengan ucapan istrinya, Kris sudah cukup lelah mengurus kandungan jangan sampai stres memikirkan perusahaan.
"Nanti malam kita tidur di rumah Panda, soalnya Manda baru lahiran."
"Sudah keluar dari rumah sakit?" Han tersentak kaget, mendengar ucapan istrinya jika Manda sudah ada di rumah.
Cubitan tangan Muti mendarat di lengan Han, karena Mamanya melahirkan, terapi Han memilih tidur.
"Kenapa cepat sekali?" Tirta juga binggung.
"Kenapa harus lama? Manda lahiran normal, baby Ikhsan juga dalam keadaan baik." Kris memukul suaminya yang tidak tahu apapun.
"Sudah punya nama juga, cukuran rambut sudah belum?" Tirta langsung berlari dari kursinya.
Semakin besar perut Kris, tangannya juga semakin ringan memukul. Tirta hanya bercanda, tetapi istrinya langsung emosi.
"Benar, membuat malu saja. Syukurnya Panda dan Manda orang tua yang pengertian." Muti melotot melihat suaminya yang tertunduk diam.
Perjalanan dua bulan tanpa tidur dengan tenang, membuat Han sangat kelelahan, bisa pulang ke rumah pastinya menjadi tempat ternyaman.
Rasa bersalah juga ada, tapi mata dan tubuh tidak bisa kompromi, rasanya lebih kuat sehingga mengambil alih tubuh untuk beristirahat.
"Alasan kak Han saja, lalu bagaimana dengan Muti dan Kris yang belum tidur?" suara Muti meninggi.
Mendengar istrinya mulai kesal, Han langsung memeluk. Meminta maaf dan berusaha tidak mengulangi lagi perbuatannya yang bodoh.
Han mengakui dirinya salah, dan akan bersiap-siap untuk tinggal sementara di rumah orang tua Kris.
Kening Han berkerut, bibirnya sudah monyong melihat Tirta yang sudah lari lebih dulu menyelamatkan dirinya sendiri. Han sudah siap untuk pergi, tetapi Tirta masih tidur, sulit dibangunkan.
***
Di kediaman Dwi baru selesai memandikan anaknya, asisten rumahnya yang masih muda membantu meringankan pekerjaan Dwi dalam mengurus Ikshan.
__ADS_1
Dwi merasa bersyukur atas kehadiran Shena, dia banyak membantu sejak Dwi hamil dan ditinggalkan suami lembur.
Dari balik pintu Lily berdiri, menatap tidak suka Shena yang tersenyum lebar saat Ilham datang menyapa Putranya.
"Dasar wanita bermuka dua." Lily menatap kesal.
Shena mengikuti ke manapun Dwi berada, apalagi ada Ilham. Alasannya ingin membantu menjaga keluarga.
"Shen, kamu bisa membantu memandikan Tika."
"Tidak perlu, Tika bisa mandi sendiri." Tatapan Tika sinis, Ilham dan Dwi kebingungan melihat putrinya terlihat kesal.
Jika Lily sudah ngambek membuat Dwi takut, meninggalkan Shena bersama Ilham langsung menemui Putrinya yang masih marah.
"Wanginya anak Mama." Senyuman Shena terlihat, membantu Ilham menggendong anaknya.
Suara teriakan Muti dan Kris terdengar mengalahkan ledakan bom, keduanya melangkah bersamaan menatap tajam asisten rumah tangga.
Muti langsung ingin maju, tangan Kristal langsung menahannya. Shena langsung melangkah pergi tanpa menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
"Kenapa kamu menahan aku?"
"Jangan emosi, wanita licik harus dibalas licik. Jangan pertaruhkan hubungan baik bersama Manda dan Panda." Kris berbisik, meminta Muti tidak gegabah.
Selama hidup Kris sangat tidak menyukai wanita yang menganggu kebahagiaan orang lain, apapun alasannya.
Saat ini Kris tidak ingin gegabah, apalagi dalam keadaan hamil tua. Bisa melahirkan sebelum waktunya jika bermain cakar-cakaran, dan yang pastinya kalah dengan tenaga yang tidak sedang hamil.
Senyuman Muti terlihat, membenarkan ucapan adiknya yang bermain dengan acara paling baik.
"Sore, maaf."
"Jangan meminta maaf, ingin mencoba menggendong bayi tidak?" Panda menyerahkan putranya kepada istrinya.
Senyuman Han terlihat, menatap bayi dalam gendongan. Rasanya Han semakin tidak sabar melihat anaknya yang masih beberapa bulan lagi lahir.
"Lucunya." Tirta menyentuh hidung adik iparnya.
Kris mengangkat baju seksi, sedangkan Mamanya tidak pernah menggunakannya. Senyuman Kris terlihat, ada permainan yang sebenarnya sudah lama di persiapkan untuk menjebak Papanya.
"Beraninya ini perempuan, dia tidak tahu siapa Putri-putrinya yang selalu lepas kendali." Kris tertawa kecil membawa baju ke kamarnya.
Kristal memiliki rencana untuk memberikan pelajaran. Apalagi Lily juga mengetahui sejak pertemuan pertama, berarti sudah direncanakan untuk menjebak.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira