MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KETAHUAN


__ADS_3

Di dalam kamar Alhan masih bekerja, mengabaikan Kristal yang sudah menarik selimut untuk tidur.


Melihat dari cara berbicara Kris terdengar sangat aneh, dan juga lebih cuek.


"Kris, kamu sudah tidur? kita bahas pekerjaan untuk besok." Alhan menatap punggung Kris yang langsung melihat ke arahnya.


Bermalam-malam sampai larut, Kristal dan Alhan membicarakan pekerjaan. Kedua sangat sepemikiran sehingga nyambung jika membahas kemajuan perusahaan.


Alhan juga menceritakan rencana Mami tirinya yang melakukan segala cara agar Papinya menyerahkan bagian saham untuk dirinya.


Kris menatap serius Han yang meremas tumpukan laporan, dirinya setiap hari bekerja berjuang untuk mempertahankan perusahaan, tapi Papinya masih bodoh dikendalikan oleh wanita.


"Kak Han, Papi kak Han tidak bodoh. Dia tidak akan menyerahkan saham kepada kamu dan juga istrinya, tapi sisa saham pastinya akan diserahkan kepada Tirta." Kristal yakin, Papinya Han sedang menunggu putra bungsunya siap.


Alhan sudah memiliki warisan yang lebih dari cukup dari Bundanya, tugas Han hanya berjuang untuk bertahan dan menaklukan dunia bisnis.


Begitupun dengan istri mudanya yang masih cantik juga sehat, kapan saja bisa menyingkirkannya. Seandainya tidak ada sisa saham sudah pasti akan dicampakkan, lalu Alhan harus bertarung secara terang-terangan.


"Sejujurnya, Tirta memegang kuat untuk persaingan ini. Jika sampai waktunya Papi menyerahkan saham untuk Tirta, lalu manusia ular meminta Tirta menggabungkan milik keduanya, sudah pasti kamu kalah Han." Kristal sudah memprediksi apa yang direncanakan oleh Cherly.


Kepala Alhan mengangguk, saat ini bukan siapa yang cerdas, pekerja keras yang dicari, tetapi seseorang yang memiliki kekuasaan.


"Kamu ada di pihak aku atau Tirta?"


Kris menatap Alhan tajam, satu sisi dia tidak bisa melepaskan Alhan saat ini, tapi sejujurnya Kris tidak membenci Tirta yang memiliki sikap lembut juga penyayang.


Alhan tertawa, dia sudah mendapatkan jawaban dari mata Kris. Meksipun tidak dikatakan secara langsung.


"Semua ini tidak adil untuk aku Kris, lihatlah." Alhan menatap kakinya yang sudah lima tahun melakukan pengobatan, tapi belum ada perubahan.


Dirinya anak pertama, tidak sedikitpun mendapatkan perhatian dari Ayahnya. Secara terang-terangan Alhan mendengar pengakuan Papinya yang mengatakan kepada Bundanya jika sudah menikah.


Papinya tidak sedikitpun memikirkan perasaannya, sampai Bundanya meninggal. Sosok Papi bagi Alhan sudah mati sejak pertama dia mengkhianati cinta Bundanya.


"Papi mengkhawatirkan Tirta, padahal Mami Tirta juga sudah memiliki banyak saham. Kenapa harus dia yang mendapatkan bagian? sedangkan aku hanya mengambil milik Bunda." Mata Han tertutup lelah melihat kebodohan Papinya.


Kristal hanya bisa diam, merapikan seluruh berkas untuk kerja dan meminta Alhan beristirahat.

__ADS_1


"Kak, berjuanglah untuk sembuh. Satu-satunya kelemahan kak Han karena kaki yang tidak sempurna." Kris tahu Cherly akan menggunakan kelemahan Han soal kecacatan untuk terus menjatuhkan.


Senyuman Alhan terlihat, dirinya akan berusaha untuk pulih agar bisa berdiri kokoh untuk bertahan dan mendapatkan hak-nya.


Han memeluk Kristal yang juga membalas pelukannya, Han mencium bibir Kris yang langsung membalasnya.


"Tidurlah Kris, kamu pasti lelah. Pekerjaan kita besok banyak." Han tersenyum melepaskan ciuman mereka.


Kristal mengangguk langsung melangkah ke ranjang langsung tidur di lebih dulu, sedangkan Han masih menyentuh bibirnya.


Satu jam Alhan berdiam diri, langsung mengambil kunci serap kamar Kristal dan berjalan keluar perlahan.


Han sempat binggung, dia tidak yakin dengan perasaannya. Mencium Kristal, tapi rasanya bibir dua orang yang berbeda.


Perlahan pintu kamar terbuka, Han mengatur nafasnya berharap dugaannya tidak benar dan bisa mengendalikan dirinya dari amarah.


Langkah Han memasuki kamar, tatapan Alhan fokus di atas ranjang.


Tidak ada satupun orang di atas ranjang yang terlihat sangat berantakan, Han salah menyangka jika ada dua Kristal.


Langkah Alhan meninggalkan kamar terdengar, Muti langsung keluar dari persembunyiannya.


"Alhan sudah mulai curiga." Muti duduk di lantai, bersandar di pinggir ranjang sambil menghela nafas bekali-kali.


Tangan Muti mengambil buku yang sedang dirinya pelajari, tidak bisa konsentrasi lagi karena Alhan yang sangat mencurigai keberadaan dirinya.


Suara pintu tertutup terdengar, jantung Muti berdegup kencang. Kakinya langsung lemas kemungkinan Alhan belum keluar kamar, tetapi dirinya sudah keluar dari tempat persembunyiannya.


Muti melangkah perlahan, melihat pintu yang sudah tertutup rapat. Langsung bersandar di pintu sambil mengusap dada.


"Apa Alhan melihat aku?" Muti mengacak rambutnya.


Pintu kamar Alhan terbuka, langkah Han terhenti saat melihat Kristal ada dihadapannya.


"Kamu menemukannya?" Kris tersenyum licik, dia tahu Alhan mencurigainya.


Han langsung melewati Kristal, duduk di pinggir ranjang langsung bersiap untuk tidur. Tatapan tajam Kristal tidak Han pedulikan.

__ADS_1


"Kak Han, Kris sudah katakan. Aku akan jujur jika waktunya sudah tepat." Kris tidur di samping Alhan yang sudah memejamkan matanya.


Alhan meminta Kristal kembali ke kamarnya, tatapan Kris langsung tajam dan tidak membantah sama sekali ucapan Han.


Kristal langsung keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya, melihat Mutiara yang belum tidur juga duduk diam di lantai.


"Alhan tahu soal kita?" Muti menatap Kris yang tidak menjawab sama sekali.


Alhan tidak mengatakan apapun, tahu tidaknya dia. Kris juga masih binggung. Jika Han tahu mungkin akan marah, tapi sikapnya yang diam lebih menakutkan daripada kemarahannya.


"Aku yakin Han sudah lama tahu." Kris menatap Muti yang wajahnya nampak kaget.


Kris akhirnya menyadari ciuman Han sedang menguji mereka berdua untuk membandingkan perbedaan.


Tidak ada orang yang seratus persen kembar di dunia ini, sehingga orang sepintar Alhan tidak mungkin tidak curiga.


"Apa yang harus kita lakukan Kris?" Muti rasanya ingin menangis, antara takut juga merasa bersalah.


Kristal memutuskan untuk jujur kepada Han saat matahari terbit, mereka berdua bisa muncul secara bersamaan dan membiarkan Han memutuskan tindakannya.


Mutiara setuju, apapun yang terjadi mereka harus membiarkan Alhan tahu. Sebelum orang luar yang tahu, lebih baik mereka mengaku lebih dulu.


"Kris, jujur aku takut." Muti menggigit bibir bawahnya, lompat ke atas tempat tidur.


"Sama." Kristal tersenyum langsung memeluk Mutiara untuk tidur.


Besok biarlah menjadi urusan besok, Kris dan Muti tidak ingin gila semalaman memikirkan soal mereka yang hidup dalam nama Kristal.


Di kamarnya Han tidak bisa tidur, memaksa matanya untuk terpejam saja sulit. Antara marah, kesal, binggung sudah bercampur aduk.


"Kalian berdua aman karena tidak membuat akun susah, awas saja jika sampai membuat masalah." Han menutup kepalanya dengan selimut, berharap matahari secepatnya muncul.


Perang dengan Tirta mungkin akan segera dimulai, karena Han tahu dari tatapan mata Tirta juga ucapannya yang yakin akan membuktikan siapa dirinya.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


__ADS_2