MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
CINTA LAMA


__ADS_3

Seorang dokter masuk mengecek keadaan Kristal yang asik berbicara dengan Muti, Han dan Tirta juga masuk diikuti oleh Mom dan Daddy.


"Apa yang kamu rasakan Kris?"


Kristal tersenyum, dia jauh lebih baik dan hanya membutuhkan istirahat. Dokter langsung menjelaskan kondisi Kris yang di luar dugaan mereka.


"Syukurlah, kamu benar-benar mengingat kita Kris?" Nathalie memeluk Kristal yang menunjukkan senyuman.


"Iya Mom, Kris bahkan ingat memori soal Muti saat kecil. Dia selalu datang ke kamar Kristal sambil membawa boneka yang dia beli. Kita bermain dengan dibatasi pintu." Kris mengigit bibir bawahnya, Mutiara selalu menghibur Kris agar cepat sembuh.


Semangat yang Muti berikan alasan terkuat Kristal ingin menjadi anak yang sehat dan kuat, Kris berharap mereka bisa bermain tanpa harus dibatasi.


"Dulu, Bunda pasti marah jika Muti ketahuan main, dia selalu diwajibkan belajar. Muti tidak suka belajar, dia bahkan meminta Kris yang belajar, sedangkan dia main." Kristal tertawa, kakaknya sangat nakal sejak kecil.


"Muti tidak seperti itu, aku anaknya rajin." Muti cemberut melihat Kristal yang banyak bicara.


"Kita juga pernah tukar posisi, kak Muti tidak ingin makan sayur dan meminta Kris yang menggantikan." Tatapan Kris lembut ke arah Muti yang menolak ucapan Kris.


Nathalie membenarkan, Muti sejak kecil sangat nakal. Dia tidak bisa diam, selalu lari-larian ke segala tempat, berbeda dengan Kristal yang memiliki sikap anggun.


Memiliki wajah yang sama, tapi tidak dengan karakter. Muti dan Kristal memiliki sikap yang jauh kebalik.


Dokter meminta Kristal beristirahat, dia membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan kondisinya. Muti langsung duduk menggenggam tangan adiknya akan menemaninya tidur.


Mommy dan Daddy memutuskan untuk pulang, mereka lega melihat Kris sudah sadar dan terlihat baik.


"Sayang, kamu juga istirahat. Semalaman tidak tidur?" Han menarik tangan Muti untuk tidur di sofa.


Tirta menggantikan Muti duduk di samping Kris, menyentuh tangan Kristal sangat lembut. Tangan Tirta mengusap perut rata Kris yang dulunya ada anaknya.


Tirta bukan tidak ikhlas, hanya saja dia masih merasakan kehilangan. Bayi yang Kris kandung, menjadi pengikat mereka berdua, tapi saat ini akan sulit bagi Tirta untuk mendapatkan kesempatan bersama Kris.


"Kak Han tahu kamu takut kehilangan Kris, tapi perjuangan belum berakhir. Kamu masih bisa berjuang mengejar cintanya." Han mengusap punggung Tirta.


Sudah waktunya Tirta berjuang bukan dengan alasan anak, dia harus mendapatkan cinta Kris secara langsung tanpa ada pengikat.


"Apa itu mungkin? apa ada kesempatan Kristal menerima?" Tatapan Tirta masih penuh keraguan.


"Tergantung, kamu tahu tidak apa penghalang terbesar hubungan kalian?" Han tersenyum melihat Tirta yang mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Cherly alasan Kris dan Tirta sulit bersama, jika Tirta tidak mendapatkan restu maka dia tidak bisa memiliki Kris.


"Bisa dibayangkan pertengkaran Kris dan mami kamu yang sangat panjang, bisa gila kamu Tir." Han tertawa kecil, kasihan melihat adiknya.


Suara ketukan pintu terdengar, Han menatap Apri tiba sambil membawa laporan kasus Della, dan alasan kematian Rayan.


Apri dan kepolisian menemukan banyak barang haram, Della bukan hanya seorang pebisnis, tapi dia juga melakukan penjualan obat terlarang.


Seluruh obat disita polisi, bahkan setelah dilakukan pengecekan banyak racun mematikan yang disembunyikan oleh Della.


"Jadi benar jika Rayan meninggal keracunan?"


"Iya, dia sudah mengkonsumsi racun beberapa hari, tapi belum memberikan efek apapun. Della memukul menggunakan vas bunga menyebabkan pendarahan, dan karena ini racun langsung menjalar mengikuti darah." Apri menjelaskan detail Rayan yang gagal ginjal dan jantungan.


Tirta menggeleng kepalanya, tidak mengerti dengan pikiran Della yang sangat jahat. Dia juga yang sudah membunuh suaminya.


"Bagaimana soal jenazah Rayan?"


Apri menunjukkan laporan, Rayan akan dikembalikan kepada keluarga dari pihak ibu yang berada di kota lain.


"Kondisi Della, dan hukumannya?" Tirta mengecek beberapa berkas.


"Kamu boleh kembali Apri, beristirahatlah. Sisanya aku yang mengurus." Han menepuk pundak Apri.


Tirta masih belum mengerti, kepolisian belum bisa menghukum Della karena dia mengalami kecelakaan, dan kondisinya tidak baik untuk berada di penjara.


Han tidak mengerti pikiran Della, dia tidak mencintai Iskandar dan bisa hamil padahal Della seseorang yang tidak suka bergaul dengan banyak laki-laki.


"Apa pria ini kekasihnya Della?" Han menunjukkan foto yang Apri temukan.


Tirta langsung mengambil foto mengerutkan keningnya. Rasanya Tirta tidak asing dengan wajahnya, dan sering melihatnya.


"Dia familiar sekali?"


"Ini foto dua puluh lima tahun yang lalu, dan ini foto terbarunya. Della belum bisa melupakan masa lalunya." Han langsung berjalan ke arah buku besar yang Muti letakkan di atas meja.


Han yakin ada sesuatu di buku besar, dan Muti masih menyembunyikannya. Perlahan Han membuka buku.


"Buku apa itu kak?"

__ADS_1


"Entahlah, Muti membawa ini dari rumah Della." Han dan Tirta saling pandang.


Della meninggalkan kenangan masa mudanya di buku besar, Muti mungkin sudah mengetahui jika dia dan Kristal masih memiliki seorang ayah kandung.


"Astaga aku ingat siapa pria ini?"


"Tirta, cari tahu kenapa pria ini pergi dua puluh lima tahun yang lalu?" Han menatap Tirta yang menganggukkan kepalanya.


Langka Tirta terhenti, Han langsung menutup buku saat melihat dokter Ilham melangkah masuk dan menatap Muti dan Kris yang sedang tidur.


"Dia pergi dari negara ini untuk pendidikan, dia juga tidak tahu jika Della mengandung. Dan tidak tahu jika mereka melakukan hubungan terlarang." Senyuman dokter Ilham terlihat, menatap Kristal yang sudah stabil.


"Apa ini cinta sepihak?" Tirta menatap binggung.


Kepala dokter Ilham menggeleng, keduanya memiliki hubungan spesial dan lebih tepatnya pacaran. Keduanya saling mencintai, dan tulus menyayangi.


Han memijit pelipisnya, masih binggung dengan Della yang menjalin hubungan dengan pria muda, dan usia keduanya terpaut cukup jauh.


"Della berusia dua puluh lima tahun, dan menjalin kasih dengan pria tujuh belas tahun. Hubungan kandas karena Della memutuskan menikahi pria kaya."


"Bagaimana bisa berhubungan badan bisa tidak ingat? aku saja mengingat dengan jelas." Tirta mengusap punggungnya, Han memukul sangat kuat.


Ilham tersenyum, duduk di samping Kris yang memiliki banyak ujian hidup sejak kecil, tidak pernah Ilham sangka jika Della menyembunyikan rahasia besar, lebih kejam lagi menyakiti keduanya sejak dalam kandungan.


"Jujur memang sulit, seadanya dulu kamu memilih Cinta daripada harta, mungkin dua anak ini akan bahagia." Air mata dokter Ilham menetes, ragu ingin menyentuh tangan Kristal.


"Kenapa kamu tahu soal Kris dan Muti?"


"Meksipun aku tidak mengingat sepenuhnya, sebagai seorang lelaki pasti tahu rasanya. Saat itu masih terlalu muda dan masa depan terlalu panjang."


"Anda sudah menikah?" Han menatap tajam.


Kepala dokter Ilham menggeleng, dirinya mati rasa dan tidak tahu rasanya Cinta setelah tahu rasanya patah hati.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2