MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
RASA TAKUT


__ADS_3

Beberapa mobil kepolisian tiba di lokasi, Alhan langsung melangkah masuk. Perjuangan Kris selama dua minggu membuahkan hasil karena berhasil menemukan keberadaan markas Cherly.


Apri menepuk pundak Han, melangkah bersama masuk ke dalam restoran dan turun ke bangunan bawah tanah.


Kedatangan kepolisian di saat yang tidak tepat, seluruh pengunjung sudah melarikan diri bahkan meninggalkan banyak barang haram.


Kepolisian mengeledah tempat dan menemukan banyak bukti, Han juga mencari keberadaan Kris yang kemungkinan dalam bahaya.


Pintu kamar terbuka, Han menatap tajam sekitarnya yang sangat tenang. Langkah kaki terdengar membuat Han tersenyum.


"Kris, kamu baik-baik saja." Han mengusap kepala Kristal.


"Iya, mereka sudah melarikan diri?" Kristal langsung mengunci pintu kamar agar polisi tidak masuk.


Han menatap kaget karena ada Tirta bersama Kris dan wajah Tirta terlihat sangat terpukul, juga kecewa.


"Kenapa kamu juga di sini Tirta?"


Kristal menatap Tirta dan Han yang saling pandang, Tirta tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dirinya masih tidak percaya tentang apa yang didengar dan ditemukan.


Kristal menunjukkan berkas yang dia temukan, orang yang membunuh Bunda memang bukan Cherly, tapi mereka tahu soal kecelakaan dan tidak berniat menghentikan.


Alhan duduk diam melihat semua catatan, tidak mengizinkan kepolisian mengambilnya. Han meminta Kris dan Tirta keluar bersamanya.


Kepolisian langsung menyita lokasi, juga menyelidik orang-orang yang terlibat. Han akan membantu penyelidikan demi keadilan Bundanya.


Di dalam mobil Tirta hanya diam, mendengar suara Kris meringis menahan perutnya barulah Tirta berbicara langsung mengusap perut.


"Kenapa? perutnya sakit?" Tirta langsung panik.


"Iya, rasanya keram. Kemungkinan karena aku berolahraga, dan banyak pikiran." Kristal merasakan tubuhnya sakit semua.


"Gila kamu Kris, tubuh kamu kurus seperti ini seharusnya menambah berat badan agar kondisi kalian baik-baik saja."


Kristal menyentuh perutnya yang semakin buncit, pipinya yang berisi, bahkan bagian dari dadanya juga berisi.


Alhan masuk mobil meminta diam, dan beristirahat di rumah. Han akan mengambil alih untuk menyelidiki ulang.


Kristal menepuk pundak Han yang melupakan jika di rumah ada Mutiara, sudah pasti Tirta tidak boleh tahu keberadaannya.

__ADS_1


"Kak Han bisa jalan?" Tirta baru menyadari jika Alhan berjalan tanpa bantuan.


Kristal juga terkejut, dia juga baru sadar jika Han berjalan di depannya tanpa kursi roda.


"Syukurlah perjuangan Muti tidak sia-sia." Kris langsung menutup mulutnya, memalingkan pandangannya dari Tirta.


Alhan meminta Apri mengantar Tirta pulang, tapi langsung ditolak karena Tirta ingin menginap di rumah Han untuk membicarakan soal barang bukti yang mereka temukan.


Apri menatap Tirta meyakinkannya siap untuk melihat Papi Maminya masuk penjara, meksipun keduanya bukan pelaku utama.


"Aku ingin melihat kasus ini sampai akhir, dan ingin kebenaran terungkap."


"Kita pulang." Alhan meminta Apri segera pulang, membiarkan Tirta ikut bersama mereka.


Sepanjang perjalanan Tirta tidur, tangan Tirta tidak jauh dari perut Kristal yang juga tidak marah disentuh.


Alhan yang melihatnya merasa aneh, Tirta sangat suka menyentuh perut, bahkan istrinya juga dielus sesuka hatinya.


Han mengabaikan keduanya, Han mengirim pesan kepada Muti untuk bersembunyi karena ada Tirta yang akan datang ke rumah.


Han tidak mengetahui jika Mutiara sedang berhadapan dengan orang lain secara langsung.


***


"Kapan kamu kembali Kris? setelah membuat kacau dalam bisnis kami." Jenny duduk dengan tatapan sinis tidak menyukai Kristal.


"Ada apa? aku tidak mempunyai makanan dan minuman untuk menyambut ular melata seperti kamu." Muti tersenyum sinis.


Jenny melangkah maju, mendekati Muti yang tidak mundur selangkah pun. Wajah keduanya sangat dekat dengan tatapan mematikan masing-masing.


Jenny tidak akan membiarkan Alhan menang, apa yang terjadi kepada Bunda Han karena kelalaiannya, tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis yang Jenny jalani.


"Bunda membesarkan kamu dengan Cinta, tapi kamu balas dengan pengkhianatan bahkan menyakitinya. Kamu tidak akan hidup dengan tenang." Muti tersenyum sinis, mendorong pundak Jenny menggunakan telunjuknya yang merasakan jijik bersentuhan.


Jenny yang melihat keberanian Muti kehabisan cara untuk menakuti, karena keberanian Muti berbeda tingkatannya.


Dulu Kristal sangat takut ikut campur soal Kematian, tapi sekarang dia jauh lebih berani bahkan nada bicara juga tidak ada rasa takutnya.


"Kenapa? kamu pikir aku akan ketakutan?" Mutiara tertawa lucu.

__ADS_1


"Kamu banyak berubah?"


"Aku tidak berubah sama sekali, tapi kamu yang sedang ketakutan." Muti menyentuh pundak Jenny meminta melangkah mundur, jika tidak ingin keadaan lebih buruk lagi.


Jenny langsung mundur, mengambil pas bunga ingin memukul Muti, tapi Mutiara menangkis pas bunga.


"Kamu lebih dulu menyerang, ini namanya pembelaan diri." Mutiara langsung menampar kuat wajah Jenny, mengambil pas bunga memukul balik.


Melihat Jenny di serang, Indri langsung mencekik Muti sangat kuat. Mutiara menginjak kaki Indri.


"Kenapa dia ada di sini? seharusnya masih ada di home heart." Tatapan Mega seakan tidak percaya.


Muti tersenyum sinis, menatap Mega yang masih kebingungan.


"Apa kalian pikir aku hantu? atau obat yang kalian konsumsi membuat halusinasi." Muti tersenyum melihat tiga orang yang saling tatap.


"Aku tidak mabuk Kak Jen, tidak juga menggunakan obat tidak mungkin salah melihat. Bahkan Tirta memanggil dia Kristal. Dia orang yang berbeda, postur badan juga berbeda." Mega berteriak meyakinkan Jenny jika Kris masih ada di home heart.


"Jen, jika memang Kris ada di sana, tidak mungkin bisa keluar dengan cepat." Indri menatap Jenny yang juga binggung.


Mutiara duduk dengan santai, menatap perdebatan tiga orang yang tidak berkesudahan.


"Apa kami orang yang berbeda? lalu siapa aku? siapa dia? kalian membutuhkan waktu untuk mendapatkan jawabannya." Muti tersenyum sinis.


Mutiara menatap Jenny yang tidak ingin berdebat, tatapan Mutiara semakin tajam melihat Jenny yang seharusnya melarikan diri dan bersembunyi, bukan datang ke rumah korban yang disakiti kecuali ada sesuatu yang penting.


"Ah ... sekarang aku paham. Bukti soal Bunda juga kejahatan kalian ada di rumah ini." Mutiara bertepuk tangan, kagum dengan kecerdasan Jenny yang mengkhianati Bundanya Han dan mempermainkan Alhan.


Jenny tidak punya pilihan kecuali menyingkirkan Mutiara, karena Muti sudah mengetahui tujuan kedatangan dirinya.


"Bunuh saja dia." Jenny menatap Indri dan Mega untuk menyingkirkan Mutiara dan segera meninggalkan kediaman Han.


"Maju satu langkah, aku pastikan kalian yang mati!" Muti menatap tajam.


Di dalam hati Mutiara ketakutan, sekian banyak pengawal di depan rumah tidak ada satupun yang masuk bahkan setelah mendengar keributan.


Menunggu Han kembali juga tidak mungkin, bahkan Muti tidak tahu cara menghubungi Han. Bertahan ataupun lari Muti tidak bisa menghindar dari kegilaan Jenny dan komplotannya.


Beberapa pria berbadan besar sudah masuk, menatap Muti yang masih terlihat santai.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2