MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
HANYA SATU


__ADS_3

Sesampainya di rumah Muti langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, tubuhnya terasa lelah.


"Kamu lapar tidak sayang?"


"Kak Han lapar, mau Muti buatkan makan?" Muti langsung berdiri.


Han tersenyum, menarik tangan istrinya untuk duduk dipangkuan. Senyuman Muti terlihat mengalungkan tangannya dileher.


Tatapan Muti manja, mencium hidung. Senyuman Han juga terlihat menakup wajah istrinya yang semakin hari kejahilannya terus bertambah.


"Kamu mau tidur? capek ya."


"Muti hanya rindu rumah, rasanya nyaman saat tahu kita punya tujuan tempat pulang."


Alhan tertawa kecil, Istrinya selalu bertingkah aneh. Terkadang serius, jahil, cengeng, pemarah. Muti paket lengkap bagi Han.


Tangan Alhan masih sibuk memainkan ponselnya saat ada pesan dari Apri, senyuman Alhan terlihat saat menatap istrinya sudah tidur terlelap.


"Cepat sekali tidurnya." Han meletakan Muti di atas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


Alhan juga sangat lelah karena kekurangan tidur dan istirahat selama di rumah sakit, memutuskan untuk tidur setelahnya baru berpikir lagi.


Di ruang tamu, Tirta juga sibuk menyelesaikan pekerjaan setelah mengantar barang-barang Kristal ke dalam kamar.


Dari lantai atas, Kris memperhatikan wajah Tirta yang sangat serius. Meskipun memiliki sikap jahil, Tirta terkadang tegas dan keras kepala.


"Apa yang kamu lakukan?" Kris duduk di depan Tirta, menggunakan bantal sofa untuk tidur.


Senyuman terlihat dari wajah tampan Tirta, meksipun usia keduanya sama, tapi wajah Tirta sangat baby face, saat tersenyum seperti anak belasan tahun.


"Kenapa tidak tidur di kamar? Muti dan kak Han tidak keluar lagi dari kamar."


"Biarkan saja, mereka sedang proses membuat baby Han." Kris langsung diam, Tirta juga menghentikan pekerjaannya langsung melihat ke arah Kris.


Keduanya diam sesaat, Tirta hanya menunjukkan senyuman melanjutkan pekerjaannya.


"Maafkan Kristal, mungkin di depan orang lain Kris terlihat baik, kak Tirta juga pasti memikirkan dan melakukan hal yang sama. Kita berdua menyimpan kehilangan di lubuk hati paling dalam." Kris menghela nafasnya.

__ADS_1


Kepala Tirta mengangguk, apa yang terjadi bukan kesalahan Kristal. Bisa melihat Kris bangkit saja sudah cukup bagi Tirta karena keselamatan Kris jauh lebih utama.


Kehilangan bayi yang baru berusia empat bulan normal, karena menjadi orang tua bukan hal yang mudah.


"Kita ambil sisi baiknya saja Kris, kamu cepat pulih dan ikhlaskan kepergian dia." Tirta melangkah ke dapur mengambil air minum untuknya dan Kristal.


Kris hanya menganggukkan kepalanya, dia tau Tirta orang yang suka mengalah dan tidak ingin meributkan sesuatu yang membuatnya pusing.


Beberapa kali Kris melihat Tirta melamun, tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tidak mudah baginya untuk berbagi dengan orang lain.


"Kak, bagaimana soal pernikahan yang Cherly rencanakan?" Kris mengambil air minum di atas meja.


Kepala Tirta menggeleng, dia tidak ingin tahu apa yang Maminya rencanakan. Hidup dia yang menjalani, sekuat apapun Maminya berjuang bukan masalah bagi Tirta.


"Kamu santai saja, ternyata undangan tersebar."


"Kristal, aku tidak akan menikahi wanita yang tidak aku cintai. Selama aku sadar dan juga waras hal itu tidak akan terjadi, kecuali aku gila." Kening Tirta berkerut melihat ratusan pesan dari Maminya yang meminta panggilan di jawab.


Suara Kristal tertawa terdengar, Kris mungkin baru mengenal Tirta, tapi dia sangat mengenal Cherly yang licik dan egois.


Tirta tidak mungkin bisa menolak jika Cherly mengancam ingin mati, selama ini Tirta hidup di luar negeri sehingga tidak paham taktik busuk Maminya.


"Suka, apa yang kamu sukai dari Cherly? aku hanya melihat keburukan, dan dia menjadi alasan aku tidak bisa menerima kamu." Tatapan Kristal tajam, menghabiskan air minumnya.


Tirta mematikan laptopnya, menutup dan menyingkirkannya. Menatap mata Kristal yang sangat tajam.


"Aku mencintai kamu Kris, itu urusan aku. Jika kamu tidak mencintai aku, itu urusan kamu. Masalahnya bukan ada di Mami, tapi kita." Tangan Tirta menggenggam tangan Kristal.


Tidak ada penghalang bagi Tirta, kecuali dia yang gagal menaklukkan hati Kristal, sedangkan Kris masih menutup hatinya dan tidak memberikan kesempatan.


Kristal terdiam, Tirta ada benarnya. Masalahnya ada pada Kris yang tidak memahami perasaan Tirta yang sejak awal tulus kepadanya.


"Sejak awal sudah aku jelaskan, memilih menerima seseorang yang tidak mencintai kita akan berakhir buruk. Kenapa aku tidak memaksa kamu menikah? karena aku tidak ingin menjadikan anak alasan." Senyuman Tirta terlihat, selama hatinya mampu bertahan maka akan terus menunggu.


Tatapan Kristal melihat ke arah kamar Han, Tirta juga melihat ke kamar kakaknya. Hubungan Muti dan Han juga bukan atas dasar cinta, tapi mereka bisa saling menerima dan mencintai.


"Mereka bisa Tirta."

__ADS_1


"Iya, karena kak Han dan Muti tidak mencintai orang lain. Sedangkan kita, aku mencintai kamu dan kamu mencintai kak Han." Tirta menundukkan kepalanya, Kristal langsung kaget melayangkan pukulan di punggung Tirta sangat kuat.


"Gila kamu! hati-hati jika bicara. Kita bisa membuat keributan, aku tidak pernah mencintai kak Han." Kris menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kamu di sini?"


"Lalu aku harus ke mana? tinggal bersama Mommy, hubungan baru terjalin sekarang, ke rumah panda, bahkan belum satu bulan aku mengenalnya. Tinggal bersama kamu, kita tidak boleh melakukan hal yang sama." Kris menghela nafasnya, dia juga tidak ingin tinggal sendirian dalam kesepian.


Kediaman Han tempat ternyaman Kristal pulang, selain Han yang memberikan kebebasan Kris juga bahagia bisa melihat Muti setiap harinya, bercanda, tertawa, menangis dan bertengkar.


"Aku ingin menghabiskan sedikit waktu masa kecil bersama, meskipun aku tahu kami sudah dewasa." Kris tersenyum melihat foto pernikahan Mutiara.


"Maaf, aku tidak bermaksud menjatuhkan kamu Kris."


"Aku tahu Tirta, kak Muti pernah mengatakan jika bukan Han yang kami percaya mungkin kamu." Kris langsung berdiri ingin kembali ke kamarnya.


Kepala Tirta tertunduk, secara dadakan pelukan dari belakang terasa nyaman dan menenangkan.


"Apa kamu menyesal mengenal aku?" Kris memeluk Tirta dari belakang.


Senyuman Tirta terlihat, menggelengkan kepalanya. Tidak ada hal dia sesali selama mengenal Kristal.


"Apa wanita yang dijodohkan oleh Cherly cantik?"


"Entahlah, aku lupa wajahnya. Tidak penting juga aku mengingatnya."


"Jangan kamu pikir aku bodoh, selama tinggal di luar negeri kamu memiliki banyak pacar dan selalu bergonta-ganti pasangan." Kris menjambak rambut Tirta.


Wajah Tirta meringis, dia memang memiliki banyak teman wanita dan tidak berpacaran. Wanitanya saja yang salah paham menanggapi serius.


"Aku nakal sebelum mencintai kamu, sekarang sudah berbeda."


"Mulut buaya, aku juga mengenal banyak lelaki yang memiliki daya pengikat yang kuat." Kris memanyunkan bibirnya, langsung melangkah pergi.


"Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai." Tirta langsung tertawa melihat Kris kesal.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2