
Pagi-pagi Mutiara dan Kristal sudah di make up, keduanya tersenyum menatap kaca yang memperlihat wajah cantik keduanya.
Dwi mengusap punggung kedua putrinya, mendoakan agar bahagia dunia akhirat. Menjadi istri yang baik untuk suaminya, ibu yang luar biasa.
"Manda bahagia melihat kalian berdua tersenyum, dan memancarkan kebahagiaan."
"Lebih baik Manda fokus memberikan adik laki-laki untuk kita, setidaknya manusia centil itu berhenti nakal." Kris melihat Lily yang sudah make up sendiri.
"Tidak jadi membuat Anggrek?" Muti melihat Kris yang menggelengkan kepalanya.
Melihat tingkah laku Lily saja membuatnya kesal, rencana membuat Mawar Melati dan Anggrek dibatalkan. Kehadiran Lily membuat trauma Kristal.
Manda tertawa kecil, menggendong putri kecilnya, merapikan make up-nya. Melihat Lily bernyanyi kecil. Terlihat sekali jika Lily juga bahagia.
"Kris, kamu nanti akan tahu rasanya memiliki teman putri sendiri." Manda mencium kening Lily.
"Siapa yang mengajari kamu bernyanyi Lily?" Muti mencium tangan adik kecilnya.
"Kak Tirta, selain tampan bisa bernyanyi juga. Lily suka mendengarkannya." Suara Lily bernyanyi kembali terdengar, meskipun pengucapannya belum begitu baik.
Kris mengusap dadanya, bersyukurnya yang memuji suaminya adiknya sendiri, jika tidak sudah lama dia cakar.
Lily juga bercerita jika dia menyukai Han, karena saat Lily melakukan salah, Han tidak menegurnya dengan tatapan tajam tetapi tersenyum menasehati lembut dan menunjukkan tindakan yang benar.
Pintu kamar diketuk, Dwi langsung membuka pintu, Mutiara diminta keluar, karena acara ijab kabul akan segera dimulai.
"Kris, kak Muti duluan." Tangan Mutiara menggenggam erat.
Kristal tersenyum, menonton kakaknya dari balik layar yang disiarkan langsung di tempat acara.
Tatapan Kristal melihat bingkai foto, tersenyum menatap foto masa kecilnya dengan Muti. Tanpa Kris sadari jika Nathalie sudah ada di sisinya.
Pelukan Nathalie erat, mencium kepala Kris yang sedang menahan air matanya.
"Mommy, terima kasih sudah datang." Kris mencium tangan Mommynya.
"Tentu Mommy harus datang, putri Mommy akan menikah." Tangan Nathalie mengusap wajah Kris agar tidak menangis.
Kristal memeluk Mommynya, menatap Muti yang akan menikah kembali, dengan lelaki yang sama. Lelaki yang dulunya ingin dijodohkan dengan Kristal.
Mungkin waktu terlalu singkat bagi Kristal yang baru bertemu saudara kembarnya, bertemu Papanya dan keluarganya.
__ADS_1
Sudah waktunya juga Kris dan Muti berpisah, tinggal di rumah masing-masing, menjalani rumah tangga sendiri.
Di depan penghulu, Han sudah berjabatan tangan dengan Papa Ilham. Siap memulai ijab kabul yang sebenarnya.
"Saya nikahan putri saya Mutiara Kembara ... dengan mas kawin ... dibayar tunai."
Alhan langsung menyambut dengan suara tegas dan satu kali tarikan nafas, sampai semua orang mengatakan sah.
Mutiara tersenyum, duduk di samping suaminya. Han mencium kening Muti sangat lembut, ada kesedihan dan kebahagiaan di dalam hati Han.
"Bunda, Han sudah menemukan wanita yang akan menemani hingga Han tua nanti, sampai mata tertutup kembali kepada yang maha kuasa." Pelukan Han erat, mengusap punggung istrinya.
"Jangan sedih, nanti Muti temani ke rumah Bunda. Sekarang kak Han tidak sendiri lagi, ada Muti yang akan selalu di sisi sampai akhir hidup Muti." Pelukan Muti juga sangat erat, mengusap wajah suaminya yang meneteskan air matanya.
Alhan langsung mendekati Panda dan Manda, mencium tangan keduanya meminta doa, Han juga mendekati Cherly dan Papinya mencium tangan meskipun tidak mengatakan apapun.
Papi Han hanya bisa menangis, anak yang dia sia-siakan sudah besar dan dia tidak pernah bertanggung jawab atas tumbuh kembang Han.
Dirinya gagal menjadi seorang Ayah, juga suami yang baik. Hanya doa terbaik yang bisa diberikan untuk Han.
Dari lantai dua Tirta hanya berdiri melihat acara ijab kabul, dia juga sudah menggunakan baju lengkap menunggu waktu dirinya turun.
Han tersenyum melihat adik laki-lakinya yang tersenyum sambil meneteskan air matanya, Han meminta Tirta menghapus air matanya.
Hari yang sangat lama Tirta tunggu bisa melihat kakaknya menangis bahagia, dan bisa menemukan keluarga baru juga kebahagiaan baru.
"Tirta bahagia, sangat bahagia untuk kak Han."
"Kamu harus bahagia untuk diri kamu sendiri, jangan terlalu sering mengusik hidupku." Han menepuk pundak adiknya.
Mutiara tersenyum, langsung memeluk Tirta. Meminta menjaga Kristal, sama seperti Muti yang akan menjaga Han.
"Bersiaplah, kamu juga harus segera menikah." Muti mengusap tangan Tirta yang dingin.
Senyuman Tirta terlihat, jantungnya langsung berdegup kencang. Mutiara memegang dada Tirta yang memang deg-degan.
"Jangan membuat malu Tirta, kamu boleh melakukan kesalahan apapun hal lain, tapi tidak di acara pernikahan." Han memukul dada adiknya.
Tirta menganggukkan kepalanya, meminta doa kepada kakaknya langsung duduk di tempat Han sebelumnya, Kristal juga sudah keluar kamar bersama mommnya.
Melihat Kris yang cantik, Tirta lupa dengan jantungnya yang hampir keluar dari tempatnya hanya bisa fokus menatap kecantikan Kris.
__ADS_1
Ucapan orang benar, meksipun Mutiara dan Kristal pinang dibelah dua. Kecantikan berbeda di mata setiap orang.
Kris duduk di belakang Tirta, tatapan Tirta melihat ke arah Kris. Senyumannya lebar tidak ingin berpaling.
"Kepala lihat ke sini Tirta?" Ilham memegang kepala Tirta menghadapinya.
Suara tawa terdengar, Tirta tersenyum meminta maaf karena sudah rusuh. Istrinya terlalu cantik sehingga Tirta lupa diri.
"Kak Tirta tahu sekali dengan perempuan cantik?" Lily gelang-gelang.
"Ish ... selingkuhan pertama tolong diam." Tirta meletakkan telunjuknya di bibir.
"Selingkuhan, lalu siapa selingkuhan kedua?" Kris menendang pelan Tirta dari belakang.
"Anak kita, bisa jadi anaknya Muti, bisa juga anaknya Manda." Tirta tertawa kecil.
"Bisa kita mulai Tirta?" penghulu tersenyum melihat sosok Tirta yang ceria.
Kepala Tirta mengangguk, tersenyum melihat Maminya yang diam saja tidak membuat kerusuhan sama sekali, Tirta tidak mengerti penyebabnya setidaknya disyukuri.
Tangan Tirta sudah berjabatan dengan Ilham, setelah penghulu mempersilahkan barulah Ilham menganggukkan kepalanya.
Jantung Han berdegup, menggenggam tangan Muti, khawatir Tirta melakukan kesalahan. Sikapnya yang pecicilan dan sempat panas dingin.
"Saya nikahan putri saya Kristal Kembara ... dengan mas kawin ... dibayar tunai." Ilham menatap Tirta yang sangat tenang.
"Saya terima nikah ... dengan mas kawin ... tunai." Tirta mengucapkan hanya satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah." Jawab semua orang.
Suara teriakan Tirta terdengar, Kris langsung mencubit pinggang agar diam. Tirta tertawa, langsung mencium pipi Kris tidak peduli dengan semua orang.
"Kamu tahu mimpi terindah aku apa?"
"Apa?" Kris memanyunkan bibirnya.
"Bisa memiliki kamu, karena saat pertama tahu kebenaran soal kita, aku merasa melihat bulan yang tidak mungkin bisa digapai. Tetapi saat ini, bulan sudah turun ke bumi." Tirta mencium kening Kristal yang tertunduk malu.
"Muti juga mau romantis seperti itu." Tangan Muti menarik Han.
__ADS_1
"Romantis dari mananya? itu lebai." Han sampai merinding.
***