
Kepala Ilham tertunduk melihat kedua putrinya yang terluka, satunya luka jahitan lepas, dan yang satunya jatuh dari pohon sampai siku terluka.
Nenek meminta Ilham keluar, membiarkan Muti dan Kris membicarakan soal cara menggunakan panah.
"Nak, apa yang sebenarnya terjadi kepada Della? kenapa kedua anak ini lahir tanpa kamu ketahui?"
Ilham menceritakan awal perjalanan cinta dirinya dan Della, hubungan yang awalnya baik berakhir menyakitkan.
Tanpa Ilham ketahui Della mengandung anaknya, pertemuan awal dengan Muti yang mengalami depresi ringan, karena adiknya mengalami koma.
Awalnya Ilham juga tidak percaya, tapi setelah melakukan tes DNA Muti dan Kris anak kandungnya.
Air mata nenek menetes, mendengar kisah Muti dan Kris dipisahkan, karena keegoisan Della.
Selama dua puluhan tahun berpisah, dan bertemu setelah dewasa tanpa tahu jika mereka kembar.
Muti hidup bersama Kris dan bersembunyi di rumah suaminya Muti, tapi mengatasnamakan Kristal.
"Buruk sekali nasib mereka."
"Ilham takut Bun, jika mereka menolak Ilham."
"Syukurlah jika mereka menerima, berikan cinta sepenuhnya. Keduanya terlihat saling menyayangi." Nenek mengusap air matanya.
Kepala Ilham mengangguk, dia juga sangat menyayangi anak-anaknya. Alasan dirinya mati rasa, karena memiliki hutang kepada kedua putrinya yang sudah kehilangan cinta dan kasih sayang.
"Bunda menerima kedua anak Ilham?"
"Gila kamu, tidak mungkin Bunda menolaknya. Mereka tidak salah, mungkin ini jawaban doa Bunda menginginkan cucu."
Suara teriakan terdengar dari dalam ruangan rawat, Ilham langsung berlari kencang sudah tahu jika kedua putrinya yang bertengkar.
Muti menendang kursi, Kristal menarik kursi agar berdiri lagi. Muti marah hanya karena dia tidak bisa memanah.
"Kenapa marah? kak Muti saja yang tidak paham."
"Jika aku paham tidak mungkin aku belajar." Muti menaikan sebelah alisnya.
"Ada apa sayang? bicara sama panda."
Kristal menjelaskan jika Muti tiba-tiba marah, mulut Kris sudah berbusa menjelaskan masih saja tidak paham.
"Sudah jangan bertengkar, nanti belajar bersama panda."
"Panda bisa main panah?" Muti tersenyum lebar.
"Bukan main panah, tapi memanah." Kris menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Suara ponsel Ilham terdengar, panggilan dari Han masuk dan membicarakan sesuatu yang sangat mendesak. Han juga meminta Ilham membiarkan Muti dan Kris menginap di rumah neneknya.
Muti menatap, penasaran apa yang dibicarakan di panggilan. Melihat ekspresi panda yang berubah pastinya sesuatu yang sangat penting.
"Siapa panda?" Kris menatap serius.
"Sayang, Han menghubungi panda. Kalian bisa menginap bersama nenek sampai panda menjemput, soalnya Han ada perjalanan bisnis."
"Kita bisa tinggal bersama Tirta." Muti menatap Kristal yang menganggukkan kepalanya.
Panda tersenyum, langsung pamitan untuk pergi ke rumah sakit sebentar. Muti dan Kris bisa berjalan-jalan melihat pemandangan.
Kris menganggukkan kepalanya, memeluk pandanya agar berhati-hati. Muti juga melakukan hal yang sama.
Nenek tersenyum meminta Muti dan Kris mengikutinya untuk melihat panen buah di kebun belakang.
"Kebun buah apa nek?"
"Hampir semua buah ada, bahkan ada kebun strawberry."
Kris langsung kaget, dia sangat menyukai strawberry. Langsung bersemangat mengikuti neneknya dari belakang.
Muti langsung teriak lompat kesenangan melihat banyak kebun buah, nenek meminta keduanya memakai topi agar tidak panas.
Suara Muti berlarian terdengar, memanen buah-buahan. Langsung membawanya ke bawah pohon rindang yang sedang berbuah juga.
"Nenek suka berkebun?" Muti langsung memakan buah yang dia panen.
"Nek, ceritakan masa kecil Panda."
"Panda, kenapa memanggil Panda?"
Muti Kris langsung tertawa, mereka sengaja mencari nama kesayangan Panda dan Manda meskipun mereka tidak memiliki Manda.
Nenek menceritakan jika Ilham putra semata wayangnya, untuk memiliki Ilham juga membutuhkan perjuangan bayi tabung.
Kris dan Muti cukup kaget, tidak heran jika kakek mereka melarang Panda mencintai wanita biasa.
"Bagaimana perasaan Nenda saat tahu Panda menjalin hubungan dengan Della?"
"Nenda, lucu sekali." Nenek tersenyum mengusap kepala Muti.
Nenda sejak awal menyukai Della, dia gadis yang baik, sopan, cantik dan jujur. Dia juga gadis pintar yang berprestasi.
"Nenda sudah menganggap dia putrinya Nenda, dan sangat menyayanginya."
Satu hal yang tidak bisa dilawan, saat Ayahnya Ilham mengetahui langsung marah besar dan mengingatkan keluarga Della untuk mengetahui batasan.
__ADS_1
"Kakek ingin Ilham berhasil terlebih dahulu agar dia bisa melihat dunia yang sebenarnya, bukan jatuh cinta saat muda untuk menghancurkan masa depan." Nenek menatap sedih, karena suaminya memutuskan untuk mengirim Ilham ke luar negeri.
Pertengkaran anak dan Ayah terdengar, Ilham tetap pada pendiriannya ingin menikahi Della, tapi hari yang sama Ilham mendapatkan kabar jika Della sudah menikah.
Ilham pergi meninggalkan negara kelahirannya, membawa luka yang sangat dalam dan akhirnya melupakan Della.
"Kasian Panda, tapi lebih kasihan jika Panda putus sekolah." Muti menundukkan kepalanya sedih.
"Lebih kasihan lagi, saat Ilham menolak untuk mengenal wanita bahkan menutup perasaan kepada semua wanita." Nenda menghela nafasnya bekali-kali.
Kris menggenggam tangan neneknya, memeluk lembut bisa merasakan kesedihan neneknya. Melihat Panda sudah tua tetapi belum menikah.
Nenek langsung melihat keranjang buah Muti sudah tergeletak, tetapi pemiliknya sudah hilang dari pandangan.
"Mutiara, turun sayang. Nanti kamu jatuh, bisa jantungan Papa kamu, nenek juga bisa semakin tua." Kening nenek berlipat-lipat, melambaikan tangannya meminta Muti turun.
"Tenang saja nenek, Muti sudah biasa naik pohon." Muti tersenyum menjatuhkan buah rambutan.
Di bawah pohon sudah ramai asisten rumah yang bersemangat mengumpul buah. Suara tawa juga terdengar menyemangati Muti yang ada di atas pohon.
Senyuman Kristal terlihat, kakaknya memang unik. Muti membantu para maid yang kesulitan untuk memanen.
"Hati-hati Muti, Nenek takut." Wajah panik terlihat menatap ke atas pohon.
"Nenda jangan disitu, duduk saja di samping Kristal." Muti menjatuhkan banyak tangkai rambutan.
Jantung nenek berdegup kencang, panas dingin melihat Muti yang semakin tinggi. Kris hanya menonton dan sesekali merekam apa yang kakaknya lakukan.
Muti berhasil turun dengan selamat, para maid mengucapkan terima kasih kepada Muti yang sudah membantu.
"Perkenalkan aku Mutiara."
"Kamu pembantu baru di sini, cantik sekali. Selamat datang, dan semoga kita bisa menjadi rekan kerja yang baik." Seorang wanita berjabatan dengan Muti.
Nenda menepuk pelan, mengumpulkan semua asisten rumah tangga, baik penjaga maupun supir. Nenek memperkenalkan cucu pertamanya dan cucu keduanya yang akhirnya kembali.
Maid yang berjabatan dengan Muti langsung meminta maaf karena tidak sopan sudah menyentuh, dan lancang menuduhnya sebagai pembantu.
"Bersikaplah biasa saja, Muti nyaman jika dianggap teman." Muti menatap Kris yang juga tersenyum.
Mutiara mengambil ponselnya, membaca pesan dari Han langsung membuat lututnya lemah.
Kabar buruk yang Han katakan menghacurkan kembali kebahagiaan yang baru muncul.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
vote hadiahnya