MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
IMAM YANG BAIK


__ADS_3

Pintu kamar Tirta juga tertutup, langsung memeluk Kris dari belakang. Bicara sangat pelan meminta jatah malam pertama.


Mendengar permintaan suaminya, Kris hanya menunjukkan senyuman, tapi tangannya menunjukkan genggaman.


Suara tawa Tirta terdengar, langsung menarik tangan, tidak menerima penolakan. Tubuh Kristal langsung digendong ke atas ranjang.


Tangan Tirta menahan kuat, tidak memberikan kesempatan untuk bergerak. Kris ingin berteriak, tapi mulutnya sudah ditutup.


Sentuhan yang tidak bisa Kris tolak, akhirnya terdiam sambil memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan.


"Sayang, nanti pulang dari villa, kita tinggal di apartemen saja. Kamu tidak masalah, harus berpisah dengan Muti?" Tirta bicara sangat lembut, mengeratkan pelukannya.


Senyuman Kristal terlihat, dia sebenarnya belum siap berpisah, tetapi mereka berdua sudah menikah, dan harus hidup mandiri.


Tidak mungkin selamanya, Kris dan Tirta menumpang hidup kepada Alhan dan Mutiara.


"Kris ikut kak Tirta saja, apartemen kak Tirta juga nyaman." Senyuman Kris terlihat, mencium kening suaminya.


"Maaf, ya sayang. Aku hanya bisa membawa ke apartemen, nanti kita menabung uang untuk membeli rumah, agar saat memiliki anak dia bisa bermain dengan bebas." Tatapan Tirta terlihat tenang, Kris sangat menyukai kejujuran Tirta.


Kepala Kristal hanya mengangguk, dia bersedia hidup di manapun asalkan bisa bersama suaminya.


Kristal juga berharap, mereka secepatnya diberikan kepercayaan memiliki anak, seperti sebelumnya.


Sentuhan tangan Tirta, menghentikan lamunan Kristal. Mulut ditutup menggunakan tangannya, satu tangan memeluk erat leher suaminya.


"Kak Tirta, Kristal sudah lelah." Kris menahan dada suaminya, merasakan panas karena keringat mengalir.


Pelukan Tirta sangat erat, mencium kening istrinya yang sangat dicintainya. Meksipun panas, tapi tidak ingin sedikitpun melepaskan.


Kris diam saja, membiarkan suaminya memeluk erat. Memilih tidur, karena paginya ingin melihat matahari terbit.


Sudah larut malam, tangan Kris menepuk pelan tempat tidur di sebelahnya mencari keberadaan suaminya.


Mata Kris langsung terpejam, suara pintu kamar mandi terbuka, Kris berpikir jika Tirta mungkin dari kamar mandi, dan langsung memeluknya untuk tidur kembali.


Dugaan Kristal salah, tatapan Kris terheran-heran. Lelaki yang awalnya Kris pikir hanyalah pria brengsek yang menghamilinya.


Suaminya sedang sholat malam, Kris tidak tahu apa yang sedang suaminya minta sehingga bangun dan bersujud.

__ADS_1


"Ucapan kak Muti ada benarnya, Tirta pria baik dan perbuatannya tidak sesuai ucapannya." Kristal tersenyum, hanya diam memperhatikan.


"Aku menganggu tidur kamu Kris?" Tirta tersenyum melihat Kristal yang kaget.


"Tidak, aku hanya binggung saja. Siapa kamu?" Kris tersenyum manis, menatap suaminya yang duduk di pinggir ranjang.


"Apa aku terlihat asing di mata kamu?" tangan Tirta mengusap wajah Kris, mencium keningnya lembut.


Kepala Kristal mengangguk, Tirta orang yang berbeda jauh. Kris berpikir, suaminya pria playboy yang suka gonta-ganti wanita, suka mabuk dan bermain di dunia malam.


Kristal mengakui jika dirinya sangat menyukai dunia malam, dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang hingga matahari terbit.


Malam menjadi siang, begitupun kebalikannya. Kris tidak memahami dirinya sendiri yang selalu keluar batasan.


"Aku bukan pria baik, tapi bukan juga pria nakal. Apa yang terjadi diantara kita, tidak pernah aku bayangkan. Sejak awal bertemu aku menghormati kamu." Tirta mengingat kembali pertemuan awal mereka.


"Kenapa hari itu datang ke bar dan mabuk?"


Tirta tersenyum, dia baru saja mengalami hari yang hancur, Maminya yang memaksa untuk menguasai perusahaan, belum lagi ada tuntutan dari pria yang tidak dia kenali.


Hari terberat bagi Tirta, dia berharap bisa meminta bantuan Han, tapi seperti biasanya Han dengan sikap dingin tidak pernah menganggap dirinya ada, dan sekalipun bersujud tidak ada yang peduli.


"Kamu mabuk kedua kalinya?"


"Iya, aku mencintai istri dari kakakku, aku ingin meminta keadilan kepada Tuhan, juga jawaban dari Kak Han, tapi untuk kedua kalinya melakukan kesalahan." Helaan nafas Tirta terdengar berat.


Hari paling hancur sejujurnya saat kehilangan anaknya, Tirta bahkan belum bisa memaafkan dirinya sendiri.


Kris mengusap punggung, Kristal juga meminta maaf karena menjadi salah satu orang yang terus menyakiti perasaan Tirta.


"Aku bahagia saat tahu kamu kembar, apalagi ternyata wanita yang aku cintai, bukan wanita yang dicintai kak Han." Senyuman Tirta terlihat, mencium tangan Kristal lembut.


"Kenapa masih memikirkan kak Han? padahal dia selalu bersikap dingin dan menyakitkan."


Tirta menggelengkan kepalanya, apa yang Han lakukan tidak pernah melukai dirinya. Apa yang Han hadapi jauh lebih berat, dan tidak ada yang bisa memahami dirinya, apalagi membantunya.


Satu sisi Tirta ingin menolong Han, tapi dia juga tidak bisa memaksa kakaknya untuk menerima dirinya, karena pada kenyataannya Tirta dan Maminya sudah menghacurkan kebahagiaan Han.


"Kamu sangat menyayangi kak Han?"

__ADS_1


"Perasaan ini sama Kris, seperti kamu yang menyayangi Mutiara. Kalian memiliki kesedihan yang ditutupi, selalu berusaha tersenyum." Usapan lembut tangan Tirta menenangkan hati Kris.


"Jadi imam yang baik untuk Kris dan anak-anak kita nanti, mulai sekarang jangan merasa sendiri, ada Kris yang akan mendampingi." Air mata Kristal menetes, memeluk erat suaminya yang juga langsung memeluk erat.


Tangan Tirta masih mengusap punggung, mencium kening Kris berkali-kali. Merasa bahagia karena ada ada Kris di sisinya.


Harapan Tirta dan Kris sama, ingin saling memperbaiki diri untuk anak-anak mereka nantinya.


"I love you Kristal." Hidung Tirta menyentuh hidung mancung istrinya.


Kris memejamkan matanya di dalam pelukan, rasa cintanya bekali-kali lebih besar lagi dan terus bertambah besar. Kris bersyukur, karena mengikuti perasaannya untuk memberikan kesempatan.


***


Pagi-pagi Kristal sudah berlarian bersama Lily, keduanya baru saja kembali dari pantai bersama Tirta.


Mutiara dan Manda belum bangun, bahkan sarapan belum tersedia. Panda dibantu oleh Tirta menyiapkan sarapan pagi, karena Kristal dan Lily sudah teriak-teriak lapar.


"Masih lama tidak Panda? cacing di perut Kristal sudah mengamuk." Kris mengusap perutnya, melihat ke dapur, nasi goreng kesukaannya.


"Sabar sayang, kamu tunggu di meja makan." Panda langsung membawa nasi goreng pedas dan tidak pedas.


"Selamat pagi semuanya, maafkan Manda telat bangun." Dwi langsung mengambil alih, menuangkan nasi goreng ke piring.


"Dwi, kamu lanjutkan saja beristirahat, aku bisa menyiapkan sarapan anak-anak." Ilham meminta istrinya tetap duduk.


Suara teriakan Muti terdengar, langsung duduk mengambil piring ingin sarapan, Lily dan Kris menatap sinis, karena Muti mendapatkan jatah makan lebih dulu.


Kris langsung protes, tapi melihat tatapan Mutiara, membuat Kris akhirnya diam.


"Selamat makan semuanya." Lily siap menyendok nasi gorengnya.


Suara Manda mual terdengar, Kris langsung meletakkan sendok tidak jadi makan. Muti yang sudah mengunyah, mengeluarkan kembali nasinya.


Dwi langsung berlari ke kamar mandi, mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Tatapan Lily, Kris dan Muti sedih, selera makan langsung hilang.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2