
Setelah pemulihan hampir satu bulan, Kris mendapatkan izin pulang. Kedua anaknya juga bisa pulang, karena tidak ada masalah apapun. Tubuh sehat dan semakin gemuk.
"Terima kasih Rani, aku sudah mendengar semuanya tentang perjuangan kamu." Kris tersenyum menggendong Putrinya.
"Baiklah, terima kasih juga sudah bertahan." Rani tersenyum melihat Tirta sudah menyambut Putranya dari tangan Rani.
Kris melambaikan tangannya, langsung masuk mobil untuk pulang ke rumah orangtuanya. Mutiara juga tinggal di rumah Papanya, karena Dwi mengkhawatirkan Muti yang tidak bisa diam.
"Anak Ayah pulang, nanti kita beli rumah di dekat rumah kakek,"
"Kenapa?" Kris kaget, karena berencana tetap tinggal di apartemen.
Kedua bahu Tirta terangkat, keputusan Papa mertuanya yang ingin dekat dengan cucunya. Ilham bahkan sudah bicara dengan Han.
"Kak Han setuju, pasti berat sekali jika kak Han meninggalkan rumah Mamanya." Kris tidak yakin.
"Mungkin, belum di bicarakan serius. Panda hanya bercanda, tapi rasanya sindiran." Tirta tertawa, mengerti maksud mertuanya yang ingin dekat dengan kedua Putrinya.
Kening Kristal berkerut, rumah Han dan Papanya tidak terlalu jauh, hanya apartemen Tirta saja yang jauh.
Apapun keputusan Tirta, Kris ikut. Dirinya tinggal di manapun asalkan ada anak dan suami pasti bahagia.
Saat sampai di rumah orangtuanya, Kris berjalan masuk bersama Putrinya. Rumah terasa sepi, tidak ada satupun orang yang menyambut kedatangan mereka.
"Kenapa sepi?" Tirta menatap istrinya.
"Apa tidak ada yang tahu jika Kris dan anak-anak pulang hari ini?" Hati Kristal merasa kecewa.
Kris bersemangat untuk pulang, rindu suasana rumah juga berkumpul bersama keluarga. Tetapi dirinya kecewa saat tahu satupun keluarganya tidak ada yang menyambut.
Kepala Tirta geleng-geleng, dia sudah berkeliling mencari semua orang, tetapi tidak ada satupun.
"Keterlaluan, membuat sedih saja." Kris mengusap air matanya.
"Jangan menangis, Kak Tirta sudah memberitahu jika kita pulang, tapi tidak tahu kenapa rumah sepi?"
Merasa marah, Kris langsung menendang koper. Melangkah ke kamarnya, Tirta meminta Kris tenang, jangan emosian.
Pintu kamar terbuka, suara teriakan terdengar mengucapkan selamat datang untuk baby twins dan Kristal.
__ADS_1
Suasana langsung berubah hening, Kris menangis merasa kesal tidak ada yang menyambut di depan pintu.
"Rencana Kak Muti tidak pernah bagus, kamar Kris di berantakan." Kristal langsung masuk, melihat boks bayi langsung meletakkan Putrinya.
Tatapan Muti sinis, dirinya sudah bersusah payah mengumpulkan semua orang. Kris bukannya senang, tapi marah-marah.
Suara tawa Kris terdengar, langsung memeluk kakaknya yang sudah mengomel memarahi Kristal.
"Kris kesal tidak ada yang menyambut." Air mata Kris mengalir di pipinya.
"Bunda, Krisna datang untuk melihat adik cantik dan tampan."
Melihat Putranya datang, Kris langsung memeluknya erat mencium wajah Putra pertamanya.
Kris langsung memeluk Ibu yang juga datang bersama Krisna dan Ayah, ada Mommy Nathalie dan Daddy, bahkan Cherly juga ikut menyambut kedatangan Kristal.
"Kenapa wajah adiknya Krisna mirip anaknya Aunty Mutiara?" Krisna binggung, dia sudah melihat anaknya Muti, tapi wajahnya mirip adiknya.
Tirta langsung memeluk erat Putranya, adiknya Krisna memang mirip dengan sepupunya. Tirta juga binggung, beda bapak tapi bisa mirip hanya karena Ibunya kembar.
Putra Han dan Muti diberi nama Mahendra Jackson, dan Marsha Kristina Jackson. Kedua bayi lucu dipanggil Hen dan Tina, Mutiara sengaja memberikan nama Kristina untuk mengingat nama asli dirinya.
Sedangkan kedua anak kembar Tirta dan Kristal diberi nama Trisna Arta Adipati, sedangkan Putrinya bernama Thalia Krishana Adipati, bayi laki-laki dipanggil Tri dan bayi perempuan dipanggil Hana.
"Tina dan Hana seperti bayi kembar." Nathalie menggendong cucunya.
"Sulit sekali membedakan mereka, tidak mungkin setiap bertemu harus cek kaki." Cherly mengusap wajah Hana yang sedang tidur.
Kristal tersenyum melihat kamarnya yang sudah lengkap untuk menyambut kehadiran anaknya.
Muti memberikan barang-barang terbaik, agar kedua keponakannya bahagia, tidak suram seperti Kris.
"Kak Muti jangan membodohi Kris, ini semua pasti bantuan Mommy Nathalie." Kristal yakin kamar Hen dan Tina pasti sama dengan kamar Tri dan Hana.
"Kenapa kamu bisa tahu?" Muti tertawa, dia memang mempersiapkan semuanya dibantu oleh Nathalie dan Cherly.
"Halo semuanya, Hana sama Tri sudah pulang?" Lily langsung turun dari gendongan Papanya.
"Lily ganti baju, kamu berkeringat baru pulang sekolah." Kris menarik tangan adiknya.
__ADS_1
Kristal memeluk Lily, mengecek kepala adiknya yang mungkin ada bekasnya. Kris merasa kasian dengan Lily yang takut jika memegang kepalanya.
"Masih sakit tidak kepalanya?"
"Kak Kris masih sakit tidak bekas operasinya?" Lily menatap Kris yang mengerutkan keningnya.
"Iya sudah tidak sakit, hanya perlu cek saja sampai benar-benar kering."
"Sama, kepala Lily sudah sembuh, tapi rasa traumanya masih membekas." Lily tertawa, mengusap kepalanya, mengatakan jika dirinya sudah baik.
Suara tangisan anak Mutiara terdengar, langsung menggendongnya. Mendengar tangisan Tina, Hana juga langsung menangis.
"Gemesnya, lahir di hari yang sama, wajahnya sama, semoga nanti bahagia bersama-sama sayang." Muti menggendong Putrinya yang menangis lapar.
Semuanya keluar, menunggu Kris dan Muti makan bersama, tetapi meninggalkan keduanya karena harus menyusui.
Suasana hening, Kris menatap punggung Muti yang menyusui Putrinya sambil bicara berdua.
"Kak, Kris mendengar kabar Panda ingin kita pindah di sekitar sini?" Kris melepaskan Hana yang sudah melepaskan susunya.
Mutiara mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ada satu masalah lagi soal kondisi Neneknya yang tinggal sendirian.
Manda merasa tidak tega melihatnya, berkali-kali Ilham meminta Bundanya pindah, tapi masih berat meninggalkan.
"Jika kita menolak pindah, kemungkinan Panda akan pulang ke rumah Nenda, dan meninggalkan pekerjaan di sini kecuali ada operasi darurat." Muti menjelaskan apa yang dirinya ketahui, meksipun belum diumumkan secara langsung.
Mutiara juga tidak yakin jika Han bersedia meninggalkan rumahnya, terlalu banyak kenang-kenangan terutama soal Bundanya.
Han lahir, tubuh kembang, dari kecil hingga dewasa tumbuh di sana, tidak mungkin mudah meninggalkan.
"Kris setuju dengan kak Han untuk tidak pindah, tetapi jika Panda yang pindah, kita hanya tinggal berdua. Perjalanan ke sana juga lumayan, tidak mudah bisa pergi apalagi ada buntut." Kris menunjuk kedua anaknya, juga anak Muti.
Senyuman Muti terlihat, tidak menyangka bisa menjadi ibu bersamaan. Kebahagiaan Muti dan Kris ada pada anak-anaknya.
"Tidak menyangka sekarang kita sudah menjadi Bunda dan Mama." Muti meletakkan anaknya.
"Kak Muti benar, rasanya kita masih bersembunyi dari Kak Han. Hidup dalam satu nama, tapi tanpa terasa sudah punya baby." Kris mencium Putrinya.
Muti dan Kris melangkah bersama untuk keluar menemui keluarga, sedangkan anak-anak dijaga baby sitter
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira