MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
RUMAH PASIR


__ADS_3

Pesta pernikahan masih diadakan sampai malam, Alhan juga sibuk menyambut tamu yang ternyata ramai.


Han bersyukurnya, keluarga Kembara sangat ramah dan tidak membedakan. Han yang biasanya banyak diam dan saat bertemu keluarga dan orang-orang sekitar harus berbicara.


"Begini rasanya memiliki keluarga besar, membicarakan candaan bukan pekerjaan." Senyuman Han terlihat, menatap Tirta yang juga sibuk mengobrol.


"Han, di mana Muti Kristal?" Kepala Panda celingak-celinguk mencari keberadaan kedua putrinya.


Alhan juga sudah lebih dari dua jam tidak melihat keberadaan istrinya, tidak biasanya Muti tidak muncul berjam-jam.


"Mungkin sudah istirahat Panda, tamu juga sudah mulai sepi." Tatapan Han melihat Tirta yang melangkah mendekat.


Acara pesta akhirnya selesai, dan berjalan lancar. Ilham dan Dwi tersenyum, masuk ke dalam rumah untuk berganti baju.


Dwi langsung berlari ke kamarnya di belakang, Ilham langsung menarik tangannya menunjuk ke arah kamarnya.


"Mandi dan ganti baju di sini." Tangan Ilham membuka kenop pintu, mempersilahkan Dwi masuk.


Alhan langsung masuk kamar Muti, mengetuk kamar mandi mencari keberadaan istrinya yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Sayang ... Mutiara di mana kamu?" Han berteriak membuka seluruh ruangan, tapi tidak melihat keberadaan Muti.


Wajah Alhan langsung panik, mengetuk pintu kamar Kristal mencari keberadaan Muti.


"Ada apa kak?" Tirta melangkah mendekat, melihat kakaknya yang panik.


"Di mana Kristal? Muti tidak ada di kamar." Han langsung membuka pintu, masuk kamar mencari keberadaan Kristal yang juga tidak terlihat.


Pukulan di dinding terdengar, emosi Han mulai naik melihat hari sudah gelap tetapi kedua wanita tidak ada di rumah.


Ilham yang baru selesai mandi, langsung keluar melihat Han memanggil penjaga untuk mencari keberadaan Muti Kristal.


Nenda juga langsung kaget, dia juga tidak melihat keberadaan Muti Kris sudah beberapa jam.


"Ya Allah di mana kedua anak ini?" Nenda melipat kedua tangannya.


Dwi keluar dari kamar, langsung melihat kamar Kristal. Kris belum masuk kamarnya, bahkan bajunya juga belum diganti.


"Cari ke seluruh tempat, cek CCTV. Temukan kedua putriku." Ilham langsung berlari keluar rumah untuk mencari keberadaan dua wanita yang meninggalkan pesta sebelum selesai.

__ADS_1


Pintu dapur terbuka, Dwi langsung berlari ke arah perkebunan tempat bermain sepeda, memanah dan mencari belut.


Dari kejauhan Dwi bisa melihat dua wanita sedang duduk bernyanyi, saling merangkul. Menatap langit, bulan, bintang yang menunjukkan keindahannya.


Dwi menghubungi rumah, memberitahukan jika Mutiara dan Kristal ada di dekat sawah. Dan keduanya dalam keadaan baik-baik saja.


"Kalian berdua harus bahagia, dan jangan pernah berpisah lagi." Setetes air mata Dwi mengalir di matanya.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Dwi meletakkan telunjuk di bibirnya meminta diam dan tenang.


Han benafas lega, karena Muti dalam keadaan baik dan bisa tertawa sambil bernyanyi penuh kebahagiaan.


Tatapan Ilham melihat ke bawah, air matanya langsung menetes melihat rumah tanah yang Muti dan Kristal bangun sepanjang jalan.


Siapapun yang melihat pasti menetes air matanya, keduanya membangun dua jalan dan menceritakan dua kehidupan yang mereka jalani.


Di pertengahan jalan keduanya bertemu, membangun rumah bersama dan menghadirkan Han di tengah mereka. Mengingat siapa orang yang mendekat, lalu mengkhianati hingga menyisakan beberapa orang.


Tirta salah satu orang yang tersisa, dan tidak meninggalkan Muti, Han dan Kristal. Mereka berjalan berempat menghadapi segala masalah.


Rumah pasir yang dibuat terlihat sangat mewah, rumah impian semua orang yang penuh kebahagiaan.


"Masa kecil ini tidak akan kembali Kris, kita sudah melewatinya dengan susah payah. Haruskah kita dewasa bersama?" Pelukan Muti sangat erat, mencium pipi adiknya penuh kasih sayang.


Jari telunjuk Kristal ke arah langit, menulis nama dirinya di atas langit yang indah. Saat kecil Kris sangat ingin duduk melihat Bulan bintang bersama orangtuanya, tetapi tidak pernah tercapai.


"Terima kasih kak Muti, sudah mengabulkan harapan indah Kris untuk bisa menikmati malam." Kris langsung berdiri, mengulurkan tangannya untuk pulang.


Muti langsung menyambut tangan adiknya, berbalik badan dan melihat seluruh keluarga ada di dalam rumah pasir.


"Wow ... orang-orang kita hidup dan menjadi nyata." Kris bertepuk tangan.


"Kamu benar Kris, tempat indah ini selain dikelilingi lampu, bulan, dan bintang. Sekarang rumah impian kita menjadi nyata." Muti langsung mengusap wajah Manda, dan Panda.


Kepala Kristal geleng-geleng, orang-orang yang ada di dalam rumah sekarang sudah ada pada tempatnya. Khayalan mereka menjadi nyata.


"Kristal, ini sudah larut malam, rumah pasir mulai runtuh, dan orang-orang kayu sudah hidup dan menjadi nyata. Muti takut." Wajah Muti langsung cemas, memeluk lengan Kris yang langsung mengerutkan keningnya.


"Kalian berdua sakit? kita bukan orang-orangan. Mutiara Kristal!" Han melambai tangannya di hadapan Muti Kris.

__ADS_1


"Kak Muti mendengar suara?"


Kristal dan Mutiara berteriak, langsung berlari kencang pulang ke rumah. Dwi juga langsung berlari takut, diikuti oleh Han dan Tirta yang juga sama penakutnya.


"Ilham kamu jangan berlari, Bunda tidak kuat untuk mengejar." Nenda terlihat kesal, dia ditinggal paling belakang.


"Tidak Bunda, kedua anak itu hanya mengerjai kita. Kelucuan Muti Kris sama seperti Ayah yang selalu melucu." Ilham berjalan, merangkul Bundanya untuk pulang.


Senyuman Nenda terlihat, ucapan Ilham benar. Suaminya sangat jago dan kekanakan sampai tua.


Sikap jahil turun kepada kedua cucunya yang kompak, dan selalu membuat khawatir, juga menambah kebahagiaan.


Di dalam rumah Muti Kris sudah tertawa lepas, melihat wajah panik Dwi, Han dan Tirta yang larinya lebih kencang.


"Kalian berdua jahil." Kaki Dwi sampai terluka, karena berlari kencang.


"Dasar penakut." Muti memeluk Han yang wajahnya pucat.


Han langsung melepaskan tangan Muti, menariknya untuk masuk ke kamar dan memarahinya yang berjam-jam menghilang.


Mutiara hanya tertawa mendengar kemarahan suaminya, Muti hanya duduk tenang mendengar Han yang pertama kalinya banyak bicara.


"Kak Han, mandikan Muti." Kedua tangan Muti terulur.


"Tidak mau, aku capek." Han memalingkan wajahnya, berpura-pura marah.


Muti menarik tangan, meminta maaf. Langsung melangkah ke kamar mandi seorang diri sambil menggoda Han yang tidak mungkin bisa menolak.


"Sekarang sudah banyak hal yang kamu pelajari, salah satunya melayani suami." Han memeluk pinggang Muti, mengusap pelan punggungnya.


Senyuman Muti terlihat malu-malu, dia memang banyak belajar. Karena sedang musim pelakor sehingga dia harus menjaga suami tajirnya agar tidak diambil oleh lalat-lalat nakal.


"Senyuman jahat apa yang kamu tunjukkan Mutiara?"


"Ini malam pertama Panda, bagaimana jika menjadi malam pertama kita juga?" Muti mengedipkan matanya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2