
Di kantor terjadi keributan antara Alhan dan Cherly, juga Papinya. Tirta hanya diam saja melihat Maminya marah-marah membentak dan mencaci maki Alhan.
"Aku hanya memberikan kamu dua pilihan, antara masuk penjara karena menjadi komplotan Jenny, dan nama baik kamu rusak, atau lepaskan JK group tanpa campur tangan kalian." Tatapan Alhan tajam, tersenyum sinis melihat Mami dan Papinya.
"Apa buktinya jika kami terlibat? kamu yang cacat tidak mungkin bisa menjaga perusahaan." Cherly menolak angkat kaki, kecuali Alhan memberikan Tirta jabatan dan hak yang sama dengan Han.
"Alhan, kenapa kamu tega sama Papi?"
Han langsung berdiri, Cherly terkejut melihat Alhan sudah bisa berjalan dan melangkah mendekatinya.
"Kaki kamu bisa berjalan?"
"Ya, kenapa terkejut?"
Apri masuk ke dalam ruangan menyerahkan surat yang Han minta, menunjukkan segala bukti keterlibatan Cherly soal kematian Bundanya.
Jika Han tidak memikirkan perasaan Tirta, dan mencoret nama baik perusahaan sudah lama dia memenjarakan Papi dan ibu tirinya.
Secara terpaksa Cherly menuruti permintaan Han, dan melepaskan perusahaan sepenuhnya dan tidak akan campur tangan lagi.
"Kamu licik Han." Cherly dan suaminya langsung melangkah pergi.
Senyuman Tirta terlihat, menepuk pundak Apri untuk mengungkap kejahatan Jenny, bahkan Rayan sekalipun.
Mutiara yang mendengar pertengkaran hanya diam saja, tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun karena Muti tidak perduli soal perusahan.
Tirta juga hanya duduk diam, memperhatikan Muti yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Kris, kita ke kantor polisi sekarang."
"Kamu saja, aku trauma melihat wajah Rayan." Muti memalingkan wajahnya.
Alhan pergi bersama Apri ke kantor polisi, meminta Tirta menyelesaikan tugas Han di kantor bersama Muti.
"Kamu yakin tidak ingin ikut?" Han menggenggam tangan Muti yang menggelengkan kepalanya.
"Muti, sebaiknya kamu ikut." Apri langsung menutup mulutnya, dia salah memanggil nama dan bersyukurnya hanya ada Tirta dan Han.
"Panggil aku Kris, anggap saja kalian tidak mengenal Muti." Tatapan Mutiara tajam melangkah lebih dulu keluar.
__ADS_1
Alhan langsung merangkul Muti, berjalan menuju parkiran. Beberapa karyawan memberikan selamat kepada Han atas kehamilan istrinya.
Muti semakin risih, apalagi ada yang memegang perutnya yang isinya hanya cacing.
"Kamu kenapa? bicara jika ada yang salah. Sebenarnya kenapa sikap kamu dingin dan cuek?" Han menatap Muti yang fokus menatap keluar jendela.
"Entahlah, Muti tidak mengerti diri sendiri. Rasanya kak Han egois mengutamakan kebahagiaan Kristal, dan mengasingkan aku." Mata Muti merah, tapi masih berusaha menahan diri agar tidak menangis.
Alhan menghembuskan nafas kasar, memijit pelipisnya yang pusing mengurus dua saudara kembar.
"Sayang, ini hanya sementara. Kamu tidak tahu betapa nekatnya Kris, dia bisa saja mengugurkan kandungannya." Han bicara sangat pelan, mencoba membuat Muti mengerti.
"Lalu, kenapa jika dia menggugurkannya? Apa ini juga kesalahan aku?" Tatapan Muti tajam melihat wajah Han yang terkejut.
Alhan tidak habis pikir jika Muti juga sangat egois, bagi Muti dan Kris nyawa tidak penting. Karena keduanya belum merasakan kehilangan orang yang berharga.
"Kamu tidak masalah jika Kris mengugurkan kandungannya?" Han mulai kesal dan kecewa melihat tanggapan Muti.
"Bukan itu masalahnya."
Alhan dan Muti saling diam, Han angkat tangan dengan keduanya. Han sudah memberikan solusi untuk Kristal mempertahankan kandungannya, dan meminta Mutiara mengerti kondisinya, tapi keduanya menyalakan Han yang menggambil keputusan.
Muti meneteskan air matanya, dia tidak bermaksud ingin bayi yang tidak bersalah digugurkan. Muti hanya kecewa dengan Kristal yang kekanakan, menganggap hanya dia yang paling sakit.
Alhan juga hanya berusaha mengerti kondisi Kristal, tapi tidak mengerti posisi dirinya.
"Muti, aku ... entahlah." Han kehabisan kata-kata untuk menasehati Mutiara.
"Aku siapa? sebenarnya aku siapa kamu? sampai kapan aku disembunyikan? salah jika aku ingin diakui, jika memang tidak ingin diakui, biarkan aku pergi." Tangan Muti menghapus air matanya, menangis sesenggukan di samping Han.
Apri yang mendengar pertengkaran Han dan Muti merasa tidak nyaman, karena dia juga tidak menyalahkan Alhan dan tidak menyalakan Muti juga. Kristal yang seharusnya bersikap dewasa.
"Oke, aku minta maaf jika tindakan aku membuat kecewa. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Nanti aku akan bicara dan bersikap tegas dengan dia. Maaf ya, jangan menangis." Han menarik Muti ke dalam pelukannya, mengusap air matanya yang membasahi pipi.
Pelukan Han sangat erat, merasa bersalah karena tidak mengerti perasaan Muti yang lelah selalu disembunyikan, bahkan dia menjadi korban Rayan.
Kata maaf Han membuat Muti cukup lega, dan meminta Han membuka pintu untuk Tirta agar bisa bersama dengan anaknya.
Sesampainya di kantor polisi, Han bertemu dengan Rayan yang menundukkan kepalanya. Pukulan Han mendarat ke wajah Rayan.
__ADS_1
"Aku menganggap kamu teman, juga rekan kerja. Beraninya kamu membuat istriku ketakutan?"
"Aku mencintai Kristal, tapi kenapa kamu menikahinya setelah aku bersusah paya menyingkir Rehan?"
"Seharusnya kamu jujur jika mencintai Kris, ini bukan salah Han." Apri menarik kerah baju Rayan yang menatapnya tajam.
Polisi langsung membawa Rayan pergi, tapi Muti menahannya langsung melayangkan tamparan membuat Han dan Apri melangkah mundur.
"Aku benci laki-laki bodoh seperti kamu." Muti menatap penuh amarah.
Suara seorang wanita memanggil Rayan terdengar, Muti binggung melihat wanita yang bertemu dengannya di rumah Rayan ada di kantor polisi juga.
Tamparan kuat menghantam wajah Muti sampai terjatuh, tatapan amarah dan benci terlihat dari sorot matanya.
"Apa yang Tante lakukan?" Han langsung memeluk Muti membantunya berdiri.
"Kamu belum berubah Kristal, wanita nakal yang mempermainkan banyak laki-laki sampai Rayan dan Rehan berada dalam masalah." Suara caci dan maki terus terlontar.
"Kenapa menyalahkan aku? salahkan anak Tante yang mencintai wanita yang tidak mencintainya." Muti berteriak sambil melotot.
Wanita dihadapan Muti kebingungan, Han langsung menutup mulut Muti untuk diam dan tidak menjawab.
"Kamu bukan hanya membunuh saudara sendiri, tapi tidak tahu diri menggunakan organ tubuh saudara yang harus mati demi kehidupan kamu yang berantakan." Tatapan benci sampai meludahi Muti yang kebingungan dengan musuh Kristal.
Mutiara langsung berlari keluar menuju mobil dengan perasaan hancur, Kristal membuatnya seperti seorang penjahat.
"Apa yang kamu lakukan Kris? kenapa banyak orang yang membenci kamu?" Muti berteriak menyentuh pipinya yang panas.
Han menepuk pundak Mutiara yang langsung memeluk erat, Muti binggung ada masalah apa Kris dengan ibunya Rayan.
"Mutiara, dia bukan ibunya Rayan." Han bicara sangat pelan karena merasa tidak tega melihat kebencian dari mata wanita yang membenci Kris dan Daddy-nya.
"Lalu siapa dia? sakit sekali pipi Muti."
"Dia ibunya Kristal, mungkin juga ibunya kamu." Han mengusap wajah Muti yang sangat terkejut mendengar ucapan Han, jika ibunya membenci dirinya.
***
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira