
Pagi-pagi Kristal sudah bangun, membawa sarapannya sambil tersenyum. Langsung duduk menunggu pengantin baru keluar.
"Tumben, bangun pagi. Ada apa sayang?" Senyuman Tirta terlihat, langsung duduk di samping Kris, meletakkan kepalanya dipangkuan Kris menjadi bantal.
"Menunggu pengganti baru keluar, apa yang dilakukan saat malam?" Kris senyum-senyum sangat penasaran.
Kening Tirta menunjukkan lipatan, kejahilan Kris sedang kumat. Seseorang yang dia ejek, bukan remaja, tetapi orang tuanya.
"Sayang, tidak sopan. Panda bisa malu." Tangan Tirta mengusap bibir Kris yang ada bekas roti.
"Kenapa malu? Kris tidak peduli. Biarkan saja malu, daripada malu-maluin." Bibir Kristal monyong sambil menatap wajah Tirta.
Tangan Kris menyentuh hidung Tirta yang terluka, langsung meletakkan makanannya melihat luka yang sudah kering.
"Ini kenapa?"
Senyuman Tirta terlihat, hidungnya terluka saat mandi terkena benturan meja. Hanya luka kecil, Kris tidak harus khawatir.
Keduanya mengobrol penuh canda dan tawa, sikap ceria Kris benar-benar kembali. Tirta semakin yakin dengan keputusannya untuk mempercepat pernikahan.
"Pagi sayang Nenda." Ciuman mendarat di kening Kristal.
Tirta langsung duduk, tersenyum melihat Nenda yang mengusap kepalanya.
"Cepatlah menikah, kalian berdua paling tersakiti menunggu dua pasangan keluar kamar." Nenda memeluk Kris dan Tirta.
Tatapan Kristal langsung ke arah kamar Muti, langsung berlari menendang kuat pintu, menggedor kuat membangunkan Muti dan Han yang malam pertama juga.
"Tirta, kamu harus kuat menghadapi karakter Kris. Dia sangat keras kepala, jahil dan mudah iri." Nenda menatap Tirta yang hanya menganggukkan kepalanya.
Teriakkan Muti terdengar, Kris langsung berlari kembali ke tempat duduknya. Menarik tangan Tirta untuk merangkulnya.
Pintu kamar Ilham terbuka, melihat Kris yang sedang makan roti sambil berbicara dengan Tirta.
"Kristal!" Muti membuka pintu sambil teriak.
Dwi keluar kamar terburu-buru, merapikan bajunya menatap Muti yang marah langsung berjalan ke arah Kris.
Ilham langsung menarik tangan Muti yang ingin memukul Kris, senyuman Kris terlihat mengejek.
"Kris, kamu tidak boleh menganggu kak Muti." Dwi menegur Kristal yang langsung menatapnya tajam.
Melihat wajah Kris yang kesal, Muti langsung memeluk Dwi, sudah paham dengan tatapan jahat adiknya yang pastinya akan memarahi Manda.
__ADS_1
Suara panggilan terdengar di handphone Kristal, dia langsung berdiri dan berjalan ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.
Pintu kamar Kristal kunci, dan menghidupkan musik agar tidak ada yang menganggu pembicaraannya.
Pintu kamar mandi terbuka, Kris hanya duduk diam di toilet sambil berbicara dengan seseorang.
Selesai panggilan Kris tertunduk, membaca pesan yang tertera di layar handphonenya. Perasaan Kris langsung tidak nyaman.
***
Makan siang sudah disediakan, Muti belum melihat Kris keluar kamar. Langsung melangkah untuk memanggil.
"Kristal, ayo kita makan bersama." Muti memegang kenop pintu, tapi terkunci dari dalam.
Tidak membutuhkan waktu lama, Kris membuka pintu kamar sambil tersenyum. Berjalan bersama menuju ruang makan.
"Masakan hari ini spesial dari Manda." Muti langsung duduk di samping Han.
Kristal juga duduk di samping Tirta, Ilham memimpin doa untuk makan bersama.
Selama makan Muti terus bercanda membuat gelak tawa, tapi Kris hanya tersenyum saja tidak menimpali candaan Muti seperti biasanya.
"Ham, kamu akan membawa Dwi pergi ke rumah baru?" Nenda tersenyum melihat putranya yang langsung terdiam.
Nenda menggelengkan kepalanya, dirinya sudah biasa tinggal sendiri. Dan hanya meminta anak cucunya datang sesekali ke rumah untuk menjenguk.
"Dwi, tinggal di sini saja bersama Bunda." Mata Dwi menunjukkan ketulusan yang sangat dalam, menggenggam tangan wanita tua yang sangat baik kepadanya.
"Jangan sayang, kamu harus menemani Ilham. Dia sibuk bekerja, dan membutuhkan istrinya untuk memperhatikan." Nenda mengusap wajah menantunya yang tidak ingin pergi ke rumah baru.
Rasa bersalah juga ada, tapi Ilham tidak bisa meninggalkan tugasnya. Menjadi dokter bukan hanya cita-cita, ataupun demi gelar. Ilham menjadi dokter untuk membantu orang yang membutuhkan pengobatan.
Jika dirinya harus pulang pergi, waktunya habis di jalan dan sulit mengatur waktu sehingga tidak bisa pulang ke rumah.
"Nenda jangan sedih, satu minggu sekali kita akan datang berkunjung. Nenda juga bisa mendatangi kita sesekali menginap." Muti memberikan minum untuk neneknya.
Kepala Nenda mengangguk, usul Muti cukup bagus dan menjadi solusi untuk jarak mereka.
Tatapan Mutiara melihat ke arah Kristal, tidak biasanya Kris banyak diam dan fokus ke makanannya.
"Kristal, kamu baik-baik saja sayang?" Panda, menyentuh kening Kris yang tidak panas.
"Iya Panda, Kristal hanya ingin pamitan untuk pulang sore ini, ada hal penting yang harus Kris lakukan." Wajah Kristal langsung terlihat banyak pikiran.
__ADS_1
"Urusan apa? tidak mungkin soal pekerjaan, kak Han ada di sini. Jangan bilang ada sangkut pautnya dengan Cherly?" Suara ketukan jari Muti terdengar, meminta Kris menjawab jujur.
Pandangan Kris hanya fokus melihat ke makanannya, tidak ingin memberitahu apa yang harus dia lakukan.
Tangan Tirta merangkul Kris, senyuman Kristal terlihat memastikan tidak ada sangkut pautnya dengan orang tua Tirta.
"Kita semua kembali sore ini." Ilham menghela nafasnya melihat Kris diam membuatnya cemas.
Selesai makan Kristal masuk kamar kembali, mengurung diri dan masih sibuk melihat ponselnya.
Kris membuka rekening, menghitung banyaknya uang yang ada di beberapa ATM miliki.
"Berapa lama aku harus bekerja untuk melunasinya?" Mata Kristal terpejam, langsung lompat ke atas tempat tidur.
Perasaan Dwi tidak nyaman, Kristal banyak diam dan memiliki beban pikiran. Saat pagi masih tertawa lepas, tapi secara tiba-tiba tawanya langsung hilang.
Perlahan Dwi masuk ke dalam kamar, melihat Kris yang sudah tidur di ranjang.
Ponsel Kristal berbunyi, Dwi langsung mengambilnya melihat uang yang baru saja Kris kirimkan.
"Astaghfirullah Al azim, Kristal. Kenapa kamu memiliki hutang sebanyak ini?" Dwi menutupi mulutnya tidak percaya.
Kris langsung duduk, mengusap wajahnya yang masih binggung, terluka, juga banyak pikiran.
"Bukan punya Kris, tapi atas nama Kristal. Jangan katakan apapun kepada Panda." Kris mengambil kertas langsung menyobeknya.
Seluruh uang Kris habis untuk membayar hutang yang ditinggalkan oleh bundanya, hutang uang mengatasnamakan Kristal.
Dwi langsung duduk lemas, kasihan melihat Kris yang merelakan seluruh uangnya demi membayar hutang, juga menutupi gaji karyawan di cafe dan banyak tempat lainnya.
"Kristal, bicarakan ini dengan Papa agar bisa mendapatkan solusinya."
"Tidak, biarkan hutang Bunda menjadi urusan Kris. Sisa hutang akan segera Kris lunaskan setelah menjual tas branded, juga beberapa perhiasan." Kristal tersenyum, belum ingin menyerah.
Meskipun Kristal terlihat berusaha kuat, Dwi tetap tidak bisa tenang. Hutang yang harus Kris bayar berjumlah berlipat-lipat dari bunga dan tunggakan.
Mata Kris terpejam, menghitung berapa banyak uang yang dia hasilkan setelah menjual barang mewahnya.
"Semoga Bunda bahagia, Kris akan melunasi semuanya."
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit