
Mutiara sibuk memakaikan baju untuk kedua anaknya yang baru sudah mandi, sesekali Muti berbicara dengan keduanya.
Senyuman manis kedua anaknya terlihat, melihat Mamanya yang mengoceh sambil tertawa lucu.
Pintu kamar mandi terbuka, Han baru selesai mandi langsung menatap istrinya yang sejak pagi sudah bangun menyiapkan sarapan, lalu mengurus anak-anak.
Kebutuhan untuk bekerja Han juga sudah di siapkan, Han hanya perlu menggunakannya saja.
"Ayang pakai bajunya, jangan lama-lama ini sudah jam berapa?" Muti mengambil baju yang ada di atas ranjang menyerahkannya kepada suaminya.
"Yang, hari ini aku tidak bersemangat berkerja. Lagian aku bos, jadi tidak masalah jika bersantai." Han langsung mengambil baju kaos, mendekati kedua anaknya.
Senyuman Muti terlihat, tidak menahan ataupun membernarkan keputusan suaminya.
"Apa sayang? anak cantiknya Papa lihat apa?" Han mencium tangan kecil Putrinya.
"Sudah mau sarapan belum?" Muti menatap suaminya, merapikan kembali baju kemeja juga jas kerja.
"Sebentar lagi, masih pengen bicara dengan Hen dan Tina." Suara Han sangat pelan melihat anaknya yang memasukkan tangannya ke mulut.
Suara tangisan terdengar, Han tertawa melihat Putranya yang menangis karena menarik telinganya sendiri.
Satu tangan Han menggendong Putranya, mengusap telinga yang berwarna merah. Tawa Han terdengar puas, merasa lucu dengan Putranya yang selalu menyakiti dirinya sendiri.
Jika tidak mencakar wajah, menarik rambut, sekarang tarik telinga. Han mencium kening Putranya yang akan menjadi penerus Han dalam menjaga keluarga.
"Jangan ditarik telinganya Hen, sakit ya Nak?" senyuman Han terlihat.
Banyak hal yang Han bicarakan dengan Putranya, Han berharap Putranya akan melindungi adik dan Mamanya, menjaga nama baik keluarga meksipun Han dan Papanya tidak memiliki hubungan baik.
Han tidak ingin apa yang terjadi kepadanya terulang kepada Putranya, cukup Han yang tidak mendapatkan cinta seorang Ayah, dan Han akan memberikan seluruh waktunya untuk keluarganya.
"Kak Han jangan bandingkan kehidupan kita dengan anak-anak, mereka akan mendapatkan cinta yang tulus dari kita." Muti mengusap punggung suaminya.
Senyuman Han terlihat, meletakkan kembali Putranya di atas ranjang. Pelukan Han sangat lembut kepada Muti, rasa cinta sangat besar kepada istrinya.
"Kenapa menatap kak Han tajam sekali?"
"Kak Han yang mengatakan kepada Hen, mengajarinya banyak hal dalam hidup, menjadi penerus." Muti merapikan baju suaminya
__ADS_1
Kepala Han mengangguk, membernarkan ucapan istrinya. Hanya saja Han tidak mengerti ucapan Muti, setiap Ayah pasti akan mengajari anaknya.
Bagi Muti, Han baru saja mengajari anak-anak untuk membedakan status antara pimpinan dan juga karyawan.
Seorang karyawan diwajibkan pergi tepat waktu, jika tidak akan mendapatkan teguran hingga sangsi berat. Pulang kerja juga jarang sekali tepat di jam pulang.
Sangat berbeda jauh dengan pimpinan yang bisa telat pergi dan pulang, padahal banyak karyawan yang membutuhkannya untuk berdiskusi.
"Nanti saat ada kesalahan marah, menyalahkan karyawan." Muti tersenyum mengusap wajah suaminya.
Han tersenyum mendengar sindiran istrinya, ucapan Muti tidak ada yang salah. Han memang membuat karyawannya dalam masalah.
"Maafkan aku sayang." Han melipat tangannya.
"Iya sudah dimanfaatkan, sekarang waktunya kerja." Muti mengeluarkan baju suaminya.
"Muti, kamu masih ingat di kamar ini aku menampar kuat kamu?" Han menatap posisi tempat dirinya menyakiti istrinya, bahkan posisi Muti jatuh masih Han ingat.
Kepala Muti menoleh ke arah suaminya, Muti sangat mengingat. Tetapi, hari itu Muti ketakutan, tapi Han mengajarinya arti kuat.
"Tamparan di wajah Muti tidak sebanding dengan rasa sakit kak Han."
Muti meletakkan tangannya di atas telapak tangan Han, mencium penuh kelembutan. Muti sangat yakin hari itu Han menyedihkan.
"Kak, mungkin masa lalu menyakitkan, apa yang kak Han lakukan bukan menyakiti Muti, tapi diri sendiri. Benarkan?" Muti menatap mata suaminya yang berkaca-kaca.
Kepala Han tertunduk, langsung memeluk pinggang istrinya, meminta maaf jika sudah menjadi suami paling kejam.
Han juga membenci dirinya sendiri, hanya Muti yang tidak merasa disakiti. Selama hidup Han tidak akan melupakan jika dirinya menyakiti wanita terbaik dalam hidupnya.
"Kak Han cukup mencintai Muti saja, sisanya biar Muti yang melakukan. Tidak peduli rasa sakit, bahagia, suka dan duka. Kak Han boleh meluapkan kepada Muti sebesar apapun masalah, tapi jangan pernah katakan tidak mencintai Muti lagi." Tangan Muti mengusap kepala suaminya menatap kedua anaknya.
Air mata Han menetes, rasa cinta Han kepada Mutiara dan anak-anak tidak akan berkurang sedikitpun. Bahkan sekecil apapun, Han tidak membiarkan sedikitpun rasa cintanya hilang.
"Sekalipun aku mati, kamu wanita terakhir yang aku cintai. Mungkin rasa sayang bisa terbagi untuk anak-anak kita, tapi kamu menjadi yang paling utama." Han mengeratkan pelukannya.
Senyuman Mutiara terlihat, dirinya sangat bahagia bisa merasakan keluarga yang sangat utuh.
"Sekarang, ayo bangun. Kerja tuan Han, istrimu ini ingin membeli tas baru, tidak boleh kalah dari Kristal." Muti menunjukkan tas baru, Han mengusap air matanya langsung bangkit berdiri.
__ADS_1
Dirinya diminta bekerja hanya untuk mengikuti hidup Kristal yang memang gila tas, mungkin tidur juga Kris memeluk tas.
"Sayang, Kristal hanya membawa dunia sesat untuk kamu. Tas sudah banyak, tidak ada hal lain yang lebih bermanfaat." Han melipat tangannya di dada.
Mutiara langsung berdiri, melipat tangannya di dada dengan wajah kesal. Jika Han tidak memberikan izin, Mutiara akan menjual mobil baru Han yang harganya berlipat-lipat lebih mahal.
Kedua bayi Han dan Muti terdiam melihat kedua orangtuanya yang berdebat gara-gara mobil dan tas, keduanya memiliki hobi yang berbeda, dan saling tidak menyukai hobi.
"Aku membeli mobil, karena mobil lama sudah tidak nyaman."
"Mutiara juga membeli tas agar tidak kalah saing, kak Han tidak bangga jika punya istri cantik dan berkelas." Suara Muti jauh lebih tinggi.
"Astaghfirullah, sabar Han. Sebaiknya kita sarapan, beli saja tasnya, sekalian beli sama tokonya, kalau perlu beli mereknya." Han langsung mengambil kemeja dan jas kerja.
"Kak Han mau ke mana?"
"Kerja sayang, kita membutuhkan uang banyak untuk belanja tas kamu." Han menghela nafasnya.
Mutiara langsung tertawa, memeluk suaminya yang terlihat kesal. Muti suka jika melihat Han mengomel. Apapun yang tidak disukai suaminya, pasti akan Muti lakukan.
"Berhentilah berteman dengan Kristal." Han mengacak rambutnya.
"Tidak mau, Kris adiknya Muti. Kita juga berencana untuk membeli sesuatu ...."
Han langsung memotong ucapan istrinya, Han tidak ingin bangkrut mengikuti gaya hidup Kristal. Berbeda dengan Tirta, Ayahnya rasa bisnis di luar negeri, kekayaan mereka dua kali lipat dari Han.
"Minta Tirta saja yang membelinya, pusing kepala Mutiara." Han langsung keluar kamar sambil memegang kepalanya.
Muti tertawa bahagia, suaminya terkadang lucu, dan mengemaskan.
***
TAMAT.
***
Ada yang mau aku lanjutkan kisah Apri, sekretaris pribadi Han dan kehidupannya.
coment
__ADS_1
***