
Mata Muti terbuka, melihat sebuah rumah yang sangat berantakan. Rayan menatap Muti dari ujung kaki sampai kepalanya.
Rayan meminta Muti masuk, dan beristirahat karena Rayan akan menyiapkan sarapan pagi.
Di dalam rumah Muti tidak disakiti, tidak juga dipaksa melakukan sesuatu. Rayan seakan menyambut Muti layaknya tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Cara bicara Rayan juga sangat lembut, dan menawarkan kenyamanan di dalam rumahnya.
"Kamu bisa santai di sini, anggap saja rumah sendiri." Senyuman Rayan terlihat, menyiapkan makanan untuk Muti.
Mutiara tidak menjawab, karena pikirannya masih dipenuhi oleh Alhan yang pastinya sangat mengkhawatirkannya.
"Kris, silahkan dimakan."
"Kenapa kamu melakukan ini?" Muti menatap Rayan tanpa rasa takut sama sekali, bahkan Muti merasa kasihan kepada dokter muda yang ada dihadapannya.
"Makan saja, jangan banyak pikiran." Rayan memalingkan wajahnya.
"Menyedihkan sekali hidup kamu Rayan, kamu mencintai wanita yang sudah bersuami, meksipun kamu bukan satu-satunya." Tatapan Muti tajam, Kristal berstatus Istri Han, tapi ada Tirta yang mencintainya secara terang-terangan, dan sekarang ada Rayan yang mencintainya dengan cara yang salah.
Suara tawa Rayan terdengar, hanya ada tawa juga air mata yang terlihat dari wajah Rayan yang biasanya terlihat berwibawa.
Mutiara mengerti satu hal, cinta tidak selamanya bisa memiliki, tapi tidak semua orang bisa melupakannya. Meksipun cinta telah menjadi milik orang lain.
Mutiara tidak tahu hubungan Kristal dan Rayan seperti apa? seburuk atau sebaik apa karena Kris tidak pernah bercerita soal hatinya.
Tujuan Kristal dan Mutiara hanya untuk hidup untuk hari esok, tidak tahu menahu apa yang terjadi di masa lalu.
"Kenapa kamu menerima pernikahan dengan Han? kamu lupa jika Han yang sudah menyebabkan kak Rehan meninggal bunuh diri." Air mata Rayan tidak terbendung, merasa benci sekali kepada Han yang sudah menyakiti kakaknya.
Muti langsung terdiam, sekarang dia mengerti hubungan Rayan dan Kris. Muti tahu jika Han dan Muti pernah saling membenci.
"Aku tidak tahu apapun. Kamu membawa aku ke sini hanya untuk mengungkit masa lalu, apa hanya kamu, aku yang tersakiti sedangkan Han tidak. Apa yang terjadi imbang? kita punya rencana, tapi Tuhan yang menentukan. Pilihan baik bagi kita, tapi Tuhan memiliki pilihan yang jauh lebih baik." Mutiara tidak ingin Rayan menyalahkan Han.
Apapun yang terjadi kepada Rehan, mantan kekasihnya Kristal di masa lalu bukan kesalahan Han. Mati sudah menjadi pilihannya, dia hanya memikirkan diri sendiri dan membiarkan yang hidup tersakiti.
"Kris, aku yang mencintai kamu, tapi kamu mencintai Rehan. Kenapa kamu tidak pernah menatap aku? betapa bersyukurnya aku atas kematian Rehan, tapi sekarang kamu sekarang ada di sisi Han." Tatapan Rayan tajam, perjuangannya tidak pernah dipandang oleh Kris.
__ADS_1
Tatapan Muti langsung melotot, memijit pelipisnya yang terasa sakit. Muti benar-benar pusing melihat laki-laki di sekitar Kristal yang bertingkah aneh semua.
"Aku ingin kita pergi jauh dari negara ini, lupakan Han dan kita akan hidup bahagia berdua." Rayan langsung mengambil makanannya.
"Aku bukan Kristal, aku tidak mengenal kamu." Muti melipat tangannya di dada.
Mutiara mengakui tentang dirinya, dia tidak mengenal Kristal, tidak juga mengenal Han apalagi Tirta dan Rayan.
Apa yang terjadi juga mengejutkan bagi Muti, semua seakan mimpi dan ingin secepatnya bangun. Wanita kampung dan tidak berpendidikan seperti dirinya tidak punya hak memiliki mimpi yang tinggi.
"Bisa hidup dan makan saja aku sudah bersyukur dan berterima kasih, tidak harus dicintai oleh banyak laki-laki."
"Begini cara kamu menolak aku Kris?"
"Aku bukan Kristal, cinta kamu tidak besar Rayan sehingga tidak bisa membedakan mana Kristal." Mutiara tersenyum sinis, cinta tulus dan besar yang Rayan katakan masih belum sempurna untuk mengenali wanita yang dicintainya.
Rayan langsung membanting sendok, bahkan minuman juga jatuh sampai gelas pecah berhamburan.
Ucapan Mutiara sebuah penghinaan bagi Rayan, karena rasa cintanya sangat besar sampai membuat kakaknya seakan meninggal menyedihkan.
Hancurnya hubungan Han membuat Rayan bisa mendekati Kristal, juga terus ada disisi Han untuk menghancurkannya.
Mutiara tersenyum, Rayan manusia penjilat yang bermuka dua. Dia berpura-pura menjadi dokter yang baik merawat Han, tapi kenyataannya Rayan memperlambat proses penyembuhan Han.
"Kamu tampan, pintar, bergelar, terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Sayangnya akhlak kamu dibangun dari rasa iri, hati kamu diisi oleh rasa benci. Kamu tidak pantas dicintai oleh siapapun Rayan." Muti langsung berdiri, membanting kursi ingin melangkah pergi.
Rayan berteriak, mengarahkan senjatanya, Mutiara langsung melangkah mendekat. Tangan Muti menarik tangan Rayan untuk mengarahkan tepat di kepalanya.
"Lakukanlah, kamu pantas menjadi penjahat yang dibenci banyak orang, bukan dokter yang penuh kepalsuan." Muti menatap tajam meminta Rayan membunuhnya.
Lebih dari lima menit, Muti mengambil senjata mengarahkan ke dada Rayan yang masih diam menjadi patung.
"Satu kali lagi aku ulangi, aku bukan Kristal, tapi Mutiara." Muti melangkah mundur.
"Jangan bohong, kamu tidak boleh mencampakkan aku."
Kepala Mutiara menoleh ke arah Rayan, melangkah mendekatinya kembali meminta Rayan menyebutkan apa yang dia ketahui soal Kristal.
__ADS_1
Mutiara membuka bajunya, menunjukkan punggungnya yang tidak memiliki tato, Muti juga menunjukkan telinganya yang tidak memiliki banyak tindikan.
Rayan menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika wanita yang ada di hadapannya wanita lain.
"Kamu bodoh!" Muti langsung melangkah pergi meninggalkan Rayan yang masih terlihat shock.
Melihat Muti melarikan diri, Rayan langsung mengejarnya. Tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya pergi kembali meninggalkannya.
"Aku tidak peduli siapa kamu, paling penting wajah kalian sama." Rayan melihat Mutiara berdiri di hadapan seseorang yang sangat asing bagi Muti.
Tatapan wanita dihadapan Muti tidak kalah terkejut, langsung melihat Rayan yang panik dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku juga berencana untuk pergi, Rayan bertindak gila menculik aku." Muti langsung melewati wanita cantik, yang menarik koper.
Tangan Muti ditahan, mata keduanya bertemu dengan rasa penasaran masing-masing.
"Pak jangan pergi dulu, saya ingin naik." Muti menahan mobil yang mengantar wanita dihadapannya.
Muti melepaskan tangannya, meminta izin untuk pergi karena kemungkinan suaminya sedang menunggunya dengan perasaan khawatir.
"Kamu sudah menikah? pasti kamu dijual oleh laki-laki brengsek itu."
"Astaga, siapa lagi Bu? aku capek, pusing, lelah dan banyak beban hidupnya. Tolong jika ada masalah dengan keluarga Iskandar jangan melibatkan saya." Muti langsung berlari ingin masuk ke mobil.
"Kamu belum berubah Kristal, sama seperti Daddy kamu. Kalian hidup dengan menghacurkan hidup keluarga kalian." Suara teriak terdengar.
Mutiara mengerutkan keningnya, dia juga tidak punya keluarga bagaimana bisa dihancurkan.
***
follow Ig Vhiaazaira
LIKE coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya
__ADS_1