MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
INGATAN MASA KECIL


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Alhan membawa Mutiara berkeliling melihat suasana kota yang sangat ramai.


Muti menolak untuk pulang, karena masih kesal dengan Kristal yang memukulnya padahal dia lebih tua.


"Muti, aku tidak ingin membela Kristal, tidak membenarkan dan menyalahkan dia." Han menggenggam tangan istrinya yang masih cemberut.


Han yakin di rumah Kristal juga pasti kepikiran dan menyesali perbuatannya, karena dia sudah menyakiti Kakaknya.


"Sayang, kamu juga di sini salah. Tidak boleh menjelekkan sesuatu apalagi kamu tahu jika Kris sangat menyayangi Bundanya. Perbaiki cara bicara kamu." Han tahu Muti wanita yang pintar, karena kecerdasan seseorang tidak dinilai dari gelar.


"Maafkan Muti kak Han, aku terlalu nyaman bersama Kris, bertengkar bisa membuat kami semakin dekat, tapi tidak menyangka Kris akhirnya menghina dan memukul." Muti mengusap air matanya.


Han menghentikan laju mobilnya di pinggir taman, mengusap air mata Muti yang terus menetes.


"Sudah jangan menangis, kamu cukup tahu emosinya Kristal sebesar apa, dan belajar memahami dia."


Alhan tahu menyatukan dua kepala dengan pendapat yang berbeda bukan hal yang mudah, karena keduanya memiliki emosi yang sama.


"Kak Han, Muti yakin pasti Bunda ... tidak jadi."


Suara tawa Han terdengar, mungkin di desa Muti tidak banyak beradaptasi dengan banyak orang sehingga mudah menilai satu karakter.


Muti diajar dan dibesarkan dengan lingkungan yang sedikit, juga saling terbuka dan mengungkapkan masalah secara langsung.


Berbeda dengan kehidupan Kristal, dia diajar untuk memahami situasi dengan otaknya, bukan dengan perasaannya.


"Sayang, selama kita tidak punya bukti, maka jangan pernah kamu mengatakan secara langsung, kecuali kamu sudah mengenal baik karakter orang sekitar." Han meminta Muti menatapnya.


Kepala Muti mengangguk, mencoba memahami pola pikir orang berpendidikan seperti Kristal.


"Saat kamu bicara sama aku dan Tirta, apa yang kamu rasakan?"


"Aku nyaman bicara dengan kak Tirta, tapi takut dengan kak Han. Hanya sesekali takut." Muti tersenyum menunjukkan giginya yang rata.


Han tersenyum, mencium kening Muti yang sangat menggemaskan.


Alhan bisa bicara banyak hal dengan Muti, baik buruknya prasangka. Alhan orang yang bisa mendengar pendapat orang lain, sama seperti Han yang memberikan kepercayaan kepada Apri.


Setiap Apri menjelaskan, Han akan mendengarkan. Benar tidaknya informasi yang Apri temukan, bukan sebuah kebenaran.


"Kenapa kak Han tidak percaya?"


"Bukan tidak percaya sayang, kita tidak punya bukti. Apa yang kamu pikirkan, belum tentu sepemikiran dengan orang lain. Kita harus membuktikan kebenarannya." Tatapan Han tajam, menjelaskan dengan detail agar Muti bisa menjaga ucapannya yang terlalu spontan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kak Tirta? apa dia sama seperti Kristal?"


Kepala Alhan menggeleng, selama bertahun-tahun Han mengenal Tirta, keduanya tidak pernah terjadi cekcok, karena Tirta anak yang santai dan terbuka.


Dia mudah mengekpresikan perasaannya, tidak mudah terpancing emosi juga sangat hebat mengendalikan diri.


"Ah masa iya, buktinya tidak bisa mengendalikan nafsu."


"Itu beda lagi, aku juga sulit menahan nafsu saat melihat kamu tanpa busana."


Muti langsung memeluk tubuhnya, menutupi dadanya dari pandangan Alhan yang sesekali pikirnya dewasa.


Setelah bicara banyak hal, Muti merasa lebih lega apalagi Han bicaranya sangat dewasa juga membuat Muti nyaman.


"Kita makan dulu, kamu belum makan apapun." Han berhenti di restoran untuk memesan makanan.


"Di sini pasti mahal, Muti pernah datang ke restoran, tapi tidak jadi makan karena mahal lalu diculik dipaksa menikah." Muti langsung duduk menatap menu.


Pelayan cukup lama menunggu Muti yang memesan makanan, tapi binggung ingin makan apa, dan dia ingin makanan yang paling enak.


"Sudah belum?" Han menarik daftar menu.


"Belum, Muti tidak mengerti."


Setelah menunggu makanan tiba, Muti langsung menyantap makanan dengan penuh kebahagiaan karena rasanya sangat luar biasa enaknya.


"Kak, Muti tidak ingin masak lagi. Kita pesan makanan di sini saja."


"Jangan sayang, aku ingin makan masakan kamu. Meksipun sederhana, tapi rasanya luar biasa." Han tersenyum, menatap istrinya makan dengan lahap.


Makanan yang tidak abis langsung Muti minta bungkus, karena Kristal pasti belum makan.


Senyuman Han terlihat, karena meksipun bertengkar, Muti masih memikirkan Kristal yang kemungkinan sedang menahan lapar.


***


Di rumah Kristal tidak berhenti menangis, memukul wajahnya sendiri karena sudah tega menyakiti kakaknya.


Tirta menahan tangan Kris untuk tenang, karena dalam persaudaraan pasti ada yang namanya pertengkaran.


"Kris memukul Kak Muti?"


"Kristal, kamu harus belajar mengendalikan emosi, karena apa yang kamu lakukan bisa membuat kamu kehilangan." Tirta mengusap air mata Kris yang membasahi pipinya.

__ADS_1


Tirta mengerti betapa besarnya Kristal menyayangi Bundanya, tapi apa yang Muti katakan tidak ada yang salah.


Muti memiliki hak mempunyai prasangka baik ataupun buruk, Kris tidak boleh memukul, tapi berbicara pelan.


"Kris, aku juga sangat menyayangi Mami, tahu apa yang Mami lakukan demi kebahagiaan aku, tapi aku tidak membela mami karena apa yang Mami lakukan tidak baik." Tatapan Tirta melihat ke wajah Kristal yang terlihat sangat menyesal.


Memegang kepercayaan tidak salah, tapi memaksa orang lain untuk percaya apa yang kita percaya tanpa bukti bukan sesuatu yang benar.


"Maafkan Kristal."


"Kamu tidak sepenuhnya salah Kris, tapi tidak juga benar. Kalian harus belajar saling mendengarkan, dan sesekali menurunkan ego." Tirta memeluk Kris yang menganggukkan kepalanya.


Kristal mengakui dirinya salah, dan belajar untuk tidak emosi apalagi sampai menghina latar belakang Muti.


Mata Kris terpejam, tertidur dalam pelukan Tirta. Kris langsung berkeringat dingin membuat Tirta khawatir.


Kris bisa melihat seorang gadis kecil berlari ke arahnya, tapi gadis kecil kurus, tangannya ada infus, matanya sayu dan terlihat lemah.


Mata Kristal terbuka, menyentuh air matanya yang menetes. Satu ingatan saat dirinya berusia lima tahun kembali.


Tangan Kristal terulur, memejamkan kembali matanya merasakan sentuhan tangan.


"Kak Kristin sakit apa? Kristal pergi sekolah dulu ya, kakak cepat sembuh nanti kita sekolah bersama." Kris meneteskan air matanya memeluk tangannya.


"Ada apa Kris? kenapa bicara sendiri?" Tirta mengusap air mata yang membasahi pipi Kris.


"Aku mengingat Kristin, dia sakit dan tidak bisa sekolah. Tangannya ada infus, hidupnya juga ada selang. Kakaknya Kristal sakit saat kecil, sekarang dia juga sakit karena Kris pukul." Suara tangisan Kristal semakin besar.


Tirta langsung khawatir, ada ingatan yang sempat ilang dari ingatan Kris. Ingatan yang hilang, pastinya bukan sesuatu yang baik.


Jika Kris dan Muti memutuskan melupakan satu sama lain, berarti perpisahan keduanya sebuah trauma besar.


"Kris, lebih baik jangan diingat lagi kenangan masa kecil kalian, takutnya sesuatu yang menyakitkan." Tangan Tirta mengusap kepala Kristal yang terdiam.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira


vote hadiahnya ya


done tiga bab hari ini

__ADS_1


__ADS_2