
Senyuman masih terlihat di wajah Kristal, langkah Kris masih tenang keluar rumah. Melihat Dwi yang masih menangis memeluk kedua anaknya.
"Maafkan Kris Manda, seharusnya aku tidak egois. Jika dari awal aku mengungkap kejahatannya, mungkin ini tidak akan terjadi. Hanya karena bentakan, Kris sejahat ini." Air mata Kris menetes menatap darah yang mengalir dari kakinya.
"Cepat Kris ke rumah sakit." Muti membuka pintu mobil.
Dwi menyerahkan putranya kepada Muti, langsung menggendong Lily masuk juga. Manda mengambil alih mobil, meminta Muti menghubungi Tirta.
Kristal memejamkan matanya, mengusap perutnya yang baru delapan bulan. Kristal mengingat kembali kegugurannya, seandainya dirinya tidak keras kepala mungkin anaknya baik-baik saja.
Air mata Muti menetes, mengusap perutnya yang besar. Seandainya Kris memikirkan sendiri, mungkin Muti yang akan pendarahan.
"Manda, di mana ponsel Kris?"
Senyuman Kris masih terlihat, langsung menghubungi Rani jika dirinya mengalami pendarahan hebat, karena jatuh.
Kristal menatap Lily, mempertanyakan kondisi kepalanya. Lily mengeluh kepalanya sakit, dia takut melihat Shena yang mencium foto Panda, saat Lily marah, langsung ditampar.
Lily berlari ingin mengadu, tapi didorong dari lantai dua dan jatuh di tangga.
"Adik kak Kris harus kuat, obati di rumah sakit. Maafkan kak Kris."
Muti memarahi Kris yang sibuk memikirkan orang lain, tidak mengurus dirinya sendiri. Kris tidak salah, apa yang terjadi sudah menjadi musibah.
Kepala Kristal mengangguk, menyempatkan diri mengusap perut Mutiara. Berharap bisa melihat anak Muti lahir.
Mata Kris terpejam, kesadaran sudah hilang. Mutiara dan Dwi semakin panik, darah semakin banyak mengalir.
"Kristal bangun." Kris menangis sesenggukan.
Sesampainya di rumah sakit, Rani langsung terkejut melihat kondisi Kris. Langsung menghubungi dokter lain, kondisi Rani yang baru saja sakit dan masih menggunakan infus terpaksa memindahkan dokter lain.
Kristal sudah di dalam ruangan, Lily juga langsung dibawa ke ruangan perawatan. Ilham terkejut melihat kondisi Kristal, Mutiara sampai terduduk lemas.
Tangisan Muti pecah saat Han datang, Tirta juga tiba mendengar penjelasan Muti. Kepala Tirta geleng-geleng, langsung memukul dinding, menahan amarahnya.
"Tidak ada yang memberitahu Tirta masalah ini, bahkan pertengkaran dengan Manda, aku tidak tahu." Tirta menatap marah.
Mutiara meminta maaf, dirinya yang salah yang tidak bisa menjaga Kris. Kristal yang selalu ada untuk menyelamatkannya.
Tangisan Muti terdengar, memohon kepada dokter untuk menyelamatkan adiknya juga anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Manda, aku yang bodoh."
"Jangan saling menyalahkan, ini sudah terjadi. Kita tidak ada yang menginginkan ini, bersikap dewasa dan tenang." Han meminta Manda bersama Lily yang sedang dirawat.
Air mata Tirta menetes, beberapa kali Kris mimpi buruk melihat anaknya bermain, saat Kris mendekat mereka menjauh.
Di dalam mimpi, Kris tidak bisa menyentuh sampai akhirnya berpisah. Tirta hanya menganggap bunga tidur, tidak menyangka jika pertanda buruk.
"Jika aku bisa memilih, biarkan Kris tetap bersamaku." Tirta mengusap air matanya.
Han merangkul Tirta, tidak boleh bicara sembarang. Han percaya Kris dan anaknya selamat.
Mutiara meringis, mandi keringat. Air mengalir dari kaki Kris. Han langsung berjongkok, Muti sudah pecah ketuban.
Rani yang melihat langsung kaget, Muti juga tidak menyadari jika dirinya juga sudah ingin lahiran.
"Siapkan ruangan." Dokter Rani melepaskan infus ditangannya, langsung memanggil asistennya untuk membantu.
Keadaan semakin panik, Panda meminta tenang, Han bersama Muti, Dwi menjaga Lily dan Ilham bersama Tirta menunggu kabar Kris.
Han menggendong Muti, suara Muti menolak untuk melahirkan dia ingin melihat kondisi adiknya.
"Keluarkan dulu anaknya Muti, Kris menunggu kamu di sini. Dia juga ingin keponakan selamat." Tirta menyemangati.
Senyuman Tirta terlihat, dirinya akan menunggu Kris keluar. Kristal sudah berjanji untuk menemani Tirta menuju hari bahagia.
Dwi meminta Kris konsentrasi, fokus kepada dirinya sendiri. Lupakan sesaat masalah Kris yang pasti baik-baik saja.
"Sayang, demi anak kita." Han mengusap air matanya.
Kepala Muti mengangguk, melupakan sejenak masalah Kris. Tenaga Muti habis untuk mendorong bayi, Han sudah panik.
Teriakan Muti sangat kuat, tubuhnya banjir keringat. Terpaksa Rani mengunting memberikan jalan untuk bayi, satu kepala bayi keluar.
Rani langsung menariknya, tangisan bayi terdengar. Mutiara tidak menyadarinya jika tangan Han berdarah karena cakaran.
Suara bayi memberikan senyuman untuk Muti dan Han, Rani meminta Kris mendorong lagi.
"Dia kehabisan tenaga Dok."
"Tarik buang nafas pelan, jangan mengeluh sakitnya melahirkan. Jika ingin memiliki anak, harus melewati hidup dan mati." Rani memberikan instruksi.
__ADS_1
Han memberikan tangannya, Muti berteriak kuat. Rani menarik kembali satu bayi yang sudah menangis sangat besar.
Kepala Rani pusing, meminta asistennya mengambil alih. Mutiara juga sudah memejamkan mata.
Tangisan Kris terdengar saat dijahit, sakitnya dijahit, melebihi lahiran. Muti sampai meringis, teriak.
"Biarkan Muti istirahat Han." Rani langsung melihat kondisi bayi kembar.
Alhan mencium kening istrinya, mengucapkan rasa syukur atas keselamatan istrinya, juga anaknya.
"Selamat Han, Putra dan Putri." Rani tersenyum.
Alhan langsung tersenyum, melupakan perih tangannya. Langsung melihat kedua anaknya.
Rani mendapat kabar soal kondisi Kristal kritis, bahkan bayi belum dikeluarkan. Rani terkejut, meminta dokter lain membantu Muti.
Sudah hampir tiga puluh menit, sangat berbahaya untuk keselamatan bayi. Rani langsung masuk, melakukan perdebatan dengan Dokter.
Ilham juga sama marahnya, melihat putrinya kehabisan darah. Kondisi Kris sudah lemah dan hampir koma.
Rani melakukan dengan caranya, meminta dokter menambah darah. Air mata Rani menetes, teringat candaan Kristal jika dia akan mati di depan Rani.
Di dalam hati Rani berteriak, satu-satunya orang yang dia takuti pergi hanya Kris, tidak mungkin dirinya mampu melihat Kris pergi dihadapannya.
"Sadar Kris, aku mohon. Jangan membuat aku putus semangat." Rani gemetaran, mengusap perut Kristal.
Masih ada gerakan bayi, setelah semua persiapan dokter Rani langsung melakukan operasi, demi keselamatan bayi harus segera dilahirkan.
Resiko sangat besar, apalagi stok darah menipis. Suster langsung bersiap untuk meminta bantuan darah, Rani hanya hitungan menit berhasil mengeluarkan satu bayi, tangisannya terdengar, tapi sangat kecil dan sebentar.
Kepala Rani geleng-geleng, langsung mengambil bayi kedua, tidak ada tangisan. Melihat ekspresi Rani, Ilham hanya bisa diam.
Berserah diri atas apa yang akan terjadi, dirinya benar-benar pasrah asalkan Putrinya busa selamat.
Hati dokter Rani hancur, menatap sekali wajah Kris. Pesan terakhir Kristal, jika Rani berada di dua pilihan antara membantu dirinya dan Muti melahirkan, Kris ingin kakaknya diutamakan.
"Aku sudah mengabulkan keinginan kamu, sekarang bangun. Aku sedang sakit, tapi bangkit demi kamu Kris." Air mata tidak tertahan lagi akhirnya menetes.
"Siapapun yang melakukan ini kepada aku, akan aku cari. Jadi bangun, kita hancurkan bersama-sama." Rani menyelesaikan jahitannya, langsung terduduk di lantai.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira