MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
IZIN LIBURAN


__ADS_3

Kepala Rani pusing melihat tiga ibu hamil yang datang secara bersamaan, dan satu gadis kecil cerewet yang tidak berhenti mengomel, mengoceh dan banyak tanya.


"Dokter, kenapa dada ibu itu tidak ditutup? memangnya tidak malu?" Lily menunjuk ke arah dinding.


"Malu jika nyata, tapi dia gambar." Dokter Rani tersenyum.


"Oh ... berarti Dokter Rani yang tidak tahu malu, memasang gambar yang tidak sopan." Lily memarahi Rani, karena ruangannya banyak hal sensitif.


Kristal tertawa, menepuk pundak sahabatnya yang kewalahan menghadapi Lily yang otaknya lebih pintar.


Usia kandungan Manda sudah memasuki minggu ke-25, janin dalam keadaan sehat begitupun dengan Ibunya.


Kondisi bayi Kristal yang masuk 20 minggu, Kris masih berkerja, jalan-jalan tanpa sadar jika sedang hamil. Kondisi sehat, dan juga aktif sama seperti Ibunya yang terkadang emosian, cengeng, mudah ngambek, pecicilan dan suka makan.


"Kris, kamu masih suka makan malam?"


"Iya bangun jam satu atau dua langsung makan, tidurnya jam lima atau enam." Kris tersenyum memikirkan kebiasaan buruknya.


"Anak kamu pemalas, sama seperti Bundanya. Aku memberikan izin untuk liburan ke luar negeri, karena kondisi ibu dan janin sehat." Senyuman Rani terlihat menatap Kris yang bahagia sampai lompat-lompat kesenangan.


Muti membuka pintu, langsung tersenyum. Meminta Rani segera memeriksanya, karena dirinya juga ingin liburan.


"Berapa banyak kamu makan Ibu Mutiara?"


"Banyak sekali, maaf sering khilaf. Namanya juga hamil." Muti tersenyum langsung naik ke atas ranjang.


Dokter Rani menegur Muti agar makan sehat, karena tubuh Muti masih terlihat kurus. Makanan yang masuk ke mulutnya tidak menjadi darah daging, tetapi kotoran.


Senyuman Rani terlihat, dua bumil yang sangat aktif sehingga Rani tidak punya alasan untuk melarangnya.


"Kris dan Muti aku izinkan untuk pergi, tetapi wajib mengikuti apa yang saya katakan, dan tidak melanggar larangan." Dokter Rani menatap Manda, meminta maaf karena belum bisa memberikan izin.


Kondisi bayi memang sehat, tetapi fisik Dwi yang mudah kelelahan bisa membahayakan kandungannya. Sementara waktu Dwi tidak berpergian menggunakan pesawat, demi keamanan.


Peringatan Rani yang melarang Manda untuk pergi membuat Muti dan Kris sedih, apalagi Lily yang pastinya gagal pergi bertemu Krisna.


"Sudah jangan sedih, Panda sudah memperingati kita soal ini." Dwi tersenyum meminta Kris dan Muti happy.


"Kalian tidak ada yang ingin tahu jenis kelamin?" Rani heran, karena setiap datang hanya membahas soal liburan.

__ADS_1


"Apa jenis kelamin adiknya kita?" Muti menatap tidak sabaran.


"Cowok, lihat gambar USG."


"Oke, sudah tidak perlu ditunjukkan." Kris menutup hasil USG.


Dwi tertawa melihat dua anaknya yang selalu mengerjai Dokter Rani, sejak awal Muti dan Kris sudah tahu jika adiknya laki-laki, melalui Papanya.


Meskipun Ilham tidak ikut pemeriksaan kandungan, tapi bisa tahu secara detail kondisi anaknya juga cucunya.


Kris dan Muti sudah sepakat jika tidak akan mengetahui jenis kelamin, tetapi keduanya tahu jika anaknya kemungkinan kembar sama seperti mereka.


Lily yang paling sengsara, mempunyai adik bayi satu, sekaligus keponakan langsung empat. Membayangkan saja Lily sudah pusing dan tidak memahami nasibnya.


Selesai periksa, semuanya pulang ke rumah Dwi. Kris menatap Lily yang terlihat sedih, dirinya juga ingin melihat luar negeri, naik pesawat dan jalan-jalan.


"Kenapa Lily?"


"Hati Lily sedih, tidak bisa liburan karena Manda tidak mendapatkan izin."


Dwi langsung memeluk Putrinya, merasa kasihan karena kecewa gagal liburan. Manda meminta maaf, karena tidak bisa membawa Lily liburan lebih cepat.


Muti membisikkan sesuatu kepada Lily, senyuman bocah tengil terlihat. Langsung bersemangat,. ingin cepat sampai rumah.


***


Senyuman Nenda terlihat, jika ada Muti dan Kris di rumah langsung ramai. Dua anak nakal yang tidak bisa diam, Dwi yang pendiam saja bisa banyak bicara jika Kris Muti menginap.


Lily mondar-mandir di depan pintu, menunggu seseorang pulang karena ada hal penting yang ingin dibicarakannya.


"Assalamualaikum Lily." Ilham langsung menggendong Putrinya, membawa Lily ke dalam rumah.


"Waalaikum salam Panda, Lily masih ingin menunggu seseorang." Senyuman Lily terlihat, langsung turun dari gendong.


Kris dan Muti berteriak, langsung berlari memeluk Papanya yang sudah pulang bekerja. Dwi hanya bisa geleng-geleng melihat twins yang sangat aktif.


"Kalian berdua jangan berlari, kasihan cucu Papa." Ilham memeluk kedua Putrinya sangat lembut.


Dwi mencium tangan suaminya, Ilham mempertanyakan keberadaan dua pria yang gila bekerja, sudah malam juga belum pulang.

__ADS_1


"Bunda, sudah makan belum." Ilham mencium tangan Ibunya.


"Sudah Nak, rumah ini heboh dari tadi." Nenda tersenyum melihat Muti dan Kris yang sudah bertengkar, saling pukul.


Suara salam terdengar kembali, Muti langsung merentangkan tangannya saat melihat suaminya pulang.


Han langsung memeluk Lily, menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah. Han juga membawakan mainan untuk Lily, Kris dan Mutiara agar tidak saling iri.


"Terima kasih kak Han, Lily ingin menunggu kak Tirta." Senyuman Lily terlihat menunjukkan giginya.


"Ada apa?" Han mengusap kepala si kecil.


Lily menceritakan jika Manda tidak boleh pergi, tetapi Lily merindukan Krisna, Tirta pasti mengizinkan.


Han menurunkan Lily, menyemangatinya untuk meminta izin Tirta, jika tidak mendapatkannya Lily harus merayu Muti.


Kepala Lily mengangguk, mengerti maksudnya Han yang segala keputusan ada di Muti berbeda dengan Kris yang tidak perlu ditanya lagi, pasti tidak akan mengizinkannya untuk ikut.


"Kak Han, peluk." Muti sudah merengek-rengek.


Kepala Han langsung menggeleng, melangkah mendekati istrinya langsung memeluk erat.


"Kak Han kita sudah mendapatkan izin liburan, jika gagal lagi Kris pergi sendiri." Bibir Kristal monyong, langsung duduk membongkar mainan mobil-mobilan.


"Baiklah, kak Han mandi dulu. Gerah." Han merangkul Muti ke kamar untuk menemaninya mandi.


Sampai makan malam, Tirta belum juga pulang. Lily sudah kesal menunggu. Kris juga sama kesalnya, karena Tirta selalu lembur kerja, tidak pulang jika belum selesai.


Kris langsung menghubungi suaminya, Tirta cepat menjawab. Kris mempertanyakan keberadaan suaminya yang pulang telat.


Tirta tertawa, Kris menuduhnya selingkuh. Apalagi Kris mengetahui jika Indri mencoba menganggu bisnis Tirta.


"Kris, jaga ucapan. Tirta sebenernya sudah pulang, tapi putar arah karena Mami Cherly sakit." Han mencoba menjelaskan.


"Mami masih berhubungan bersama Indri, mungkin hanya alasan ke rumah Mami, tapi ketemuan dengan wanita lain." Kris menatap tajam.


Han menyerahkan tangannya, jika Tirta selingkuh, Kris boleh memotong tangannya. Beberapa bulan ini, Tirtan dan Han mencoba mempertahankan perusahaan, dan mengungkap kejahatan Indri.


Kris tetap keras kepala, meskipun Tirta selalu terbuka. Wajah tampan suaminya, bisa membuat banyak perempuan mengejarnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2