
Mobil Han tiba di rumahnya, Tirta berlari kencang langsung membuka bajunya, membuang ke sembarang tempat.
Suara teriakan Tirta terdengar berpapasan dengan asisten rumah Han, ibu yang membersihkan rumah kebingungan melihat Tirta berlari tidak menggunakan baju.
Han juga masuk dengan kakinya yang tidak menggunakan sendal, langsung cepat masuk kamar untuk mandi.
Selesai mandi Han bukan bersiap ke rumah sakit, tapi lanjut rebahan sambil memainkan ponselnya tanpa sadar tertidur.
Begitupun dengan Tirta yang langsung membuang baju, lompat ke atas tempat tidur lanjut tidur lagi.
Kris sudah memanggil ratusan kali tidak membangunkan Tirta sama sekali, perjalanan dua bulan membuat tubuhnya remuk.
"Tuan Tirta bangun, istrinya Tuan telpon." Ibu yang menjaga rumah menarik selimut Tirta.
Kris yang melihat melalui panggilan hanya bisa geleng-geleng kepala, jika Tirta sudah mulai malas-malasan berarti tubuhnya sangat lelah.
Kris tidak bisa melarang, membiarkan suaminya tidur. Selama liburan Tirta memang jarang tidur, karena tidak terbiasa tidur dengan cuaca luar.
Han membuka pintu kamar Tirta, meminta ibu maid keluar. Tangan Han menarik selimut, melihat adiknya yang belum menggunakan baju.
"Tirta, kapan kita ke rumah sakit?" Han mengusap wajah yang masih mengantuk, dan perutnya juga lapar.
"Sebentar lagi." Tangan Tirta menarik selimut, memeluk guling.
Han juga langsung tiduran lagi, memejamkan matanya memikirkan makanan enak, tetapi malas untuk makan.
Keduanya lanjut tidur, lupa waktu karena biasanya berisik suara Kris, Muti dan Lily. Setelah sekian lama, baru bisa merasakan tidur nyenyak.
***
Hampir jam sepuluh pagi, Kristal dan Mutiara belum bisa menghubungi suami masing-masing.
"Biarkan mereka istirahat, lihatlah Lily yang tidur dari pagi sampai sekarang tidak ingin0 bangun." Panda meminta Kris dan Muti juga pulang beristirahat, apalagi sedang hamil tua.
Dokter sudah mengizinkan Dwi untuk pulang, Kris tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Dokter Rani yang sudah menolong Mama dan adiknya.
"Thank Ran, kamu masih harus menjaga aku dan Muti." Kris tersenyum manis.
"Ini pertama kalinya ucapan terima kasih kamu terasa ikhlas, aku yang mengucapkan banyak terima kasih." Rani mengusap punggung Kris.
Meskipun di mata banyak orang Rani bukan wanita baik, bahkan menghina juga menjatuhkan.
__ADS_1
Kris satu-satunya orang yang mendukungnya menjadi dokter untuk membungkam mulut kotor yang bisanya menghina, akhirnya membutuhkan bantuan Dwi.
Kebaikan Kris tidak bisa dibalas, saat tidak ada dana Kris yang mengeluarkan tanpa mengungkit sekalipun.
Prinsip Rani tidak akan mengecewakan orang-orang yang mendukungnya, salah satunya Kris.
"Sampai ketemu lagi Tuan Muda Ikhsan, nanti dokter main ke rumah." Senyuman Rani terlihat.
Sebelum Manda pulang membawa Ikhsan, Rani berpesan untuk menghubunginya jika ada keluhan.
"Mutiara, setelah ini bersiaplah kamu." Rani mengusap perut Muti.
"Iya, Mutiara sudah mengumpulkan doa baik.$ Muti mengusap perutnya, tidak sabar bertemu anaknya.
Mobil meninggalkan rumah sakit, langsung menuju ke rumah. Kris dan Muti hanya mengantar sampai depan pintu, karena harus pulang terlebih dahulu.
Ilham meminta kedua Putrinya berhati-hati, memperingati supir untuk jalan pelan. Membawa dua bumil yang tidak bisa diam.
"Kita pulang dulu Manda, mengurus pak suami yang lagi bermalas-malasan. Nanti kita ke sini lagi." Kris melambaikan tangannya.
Mobil melaju pergi ke arah kediaman Han, sepanjang jalan Kris dan Muti mengobrol asik.
"Kak, soal cerita Lily, percaya tidak?" Kris menatap Muti yang tersenyum sinis.
Bisa saja dugaan Lily benar, dan harus dibuktikan setelah mengurus suami yang belum juga bangun.
"Manda lagi punya baby, pasti para wanita berkepala dua mencari kesempatan untuk mendekati, memberikan kepuasan." Muti menatap kesal.
"Jangan bicara seperti itu kak Muti, Panda tidak mungkin tergoda rayuan setan." Mata Kris menatap sinis.
Kedua bahu Muti terangkat, tidak ada yang tidak mungkin jika wanita sudah memiliki niat, betapa kejamnya seorang wanita disaat menginginkan sesuatu, meskipun dia tahu salah.
Lebih banyak lagi tidak tahu diri, sudah tahu menyakiti, tetapi bersikap menjadi korban yang disakiti.
"Sebaik apapun lelaki, tidak bisa menghindari wanita penggoda." Muti keluar dari mobil, langsung berjalan ke kamarnya.
Mutiara tidak melihat keberadaan Han, jantungnya langsung berdegup kencang. Muti membuka seluruh ruangan di kamarnya, memanggil Han.
"Kak Han, kak." Muti melangkah ke dapur, melihat semua asisten ada di dapur.
"Nona Muti sudah pulang." Ibu maid memberikan ucapan selamat datang kepada Muti.
__ADS_1
"Di mana kak Han, Bu?"
Ibu maid langsung tersenyum, menunjukkan kamar Kristal, Tuan Muda Han, dan Tirta masih tidur.
Makanan di atas meja juga belum di sentuh, kerjaan keduanya hanya tidur. Atas izin Kris Ibu maid sudah membangunkan, tetapi tetap saja gagal.
Mutiara langsung melangkah ke kamar Kristal, Kris masih bertolak pinggang menatap kesal dua lelaki yang masih mengorok.
"Tidak lapar mereka, ini sudah siang." Muti berdiri di samping Kris.
Tangan Kris menepuk pundak Muti, memintanya memperhatikan wajah Han dan Tirta.
Kris memotret keduanya yang terlihat mirip seperti anak kembar, bedanya Tirta berkulit putih, sedangkan Han kalah putih.
"Wajah mereka sekilas sama, apa lagi sedang tidur." Muti tersenyum melihatnya.
"Ini namanya kembar tidak sedarah, jika orang tidak tahu pasti menyangka keduanya kandung." Kris langsung naik ranjang, menarik suaminya untuk memeluknya.
Melihat Kris tidur, Muti juga langsung naik. Menarik tangan suaminya untuk memeluk anaknya. Muti tidak sabar lagi melihat kehadiran anaknya.
Muti ingin anaknya sebaik Han, setampan Han, pintar, jiwa pemimpin, bertanggung jawab, juga sangat penyayang.
Perlahan mata Muti terpejam, tidur bersama di atas ranjang berukuran raksasa yang bisa menampung dua ibu hamil, dan pria dewasa.
Satu mata Tirta terbuka, merasa silau karena matahari sudah tinggi. Tirta kesulitan bergerak, meminta kakaknya geser.
"Kak Han dengar tidak, geser. Tirta tidak bisa bergerak sama sekali." Kepala Tirta menoleh ke belakang.
Seseorang yang ada di depan Tirta memiliki rambut panjang, kulitnya mulus. Pelukan Tirta erat kepada istrinya setelah memastikan tidak salah orang.
"Tirta geser, pengap dan membuat sesak." Han terbangun, melihat wanita di depannya.
Kepala Han menoleh ke arah wajah, bernafas lega karena yang bersamanya istrinya sendiri. Memiliki istri kembar, menakutkan jika sampai tertukar.
"Lapar sekali, ini jam berapa?" Han langsung duduk, menatap Tirta yang masih memeluk erat.
Han langsung bangun, melihat tiga orang di ranjang. Kaki Tirta langsung ditarik sampai jatuh di lantai. Han tidak suka ada yang berdekatan dengan istrinya.
"Bangun, biarkan mereka yang istirahat." Han menguap, merentangkan tangannya merasa tidur panjangnya sangat nyaman.
"Kak, kita sudah ke rumah sakit belum?" Tirta menepuk jidat, tidak enak dengan mertuanya.
__ADS_1
Melihat adik ipar juga belum, sudah bermasalah memilih tidur daripada menyapa. dan menjenguk.
***