MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KEBERANGKATAN


__ADS_3

Pelukan Kristal tidak lepas dari Putra angkatannya, Tirtan bisa melihat istrinya yang masih berat melepaskan Krisna yang memutuskan tinggal di luar negeri.


Mobil yang membawa keluarga Tirta tiba di bandara, Tirta langsung keluar membukakan pintu untuk istrinya.


Kris menunjukkan senyuman manis, langsung mengandeng tangan Krisna untuk masuk ke dalam bandara. Tirta merangkul Ibunya yang akan segera terbang kembali ke negaranya.


"Yah, tolong jaga Ibu dan Krisna dengan baik. Maafkan Tirta yang tidak bisa ikut pergi," ucap Tirtan dengan mimik wajahnya yang merasa mengecewakan.


Ayah Tirta mengerti, dan meminta Tirta menyempatkan diri untuk berkunjung, karena Tirta juga punya hak untuk melihat tempat dirinya dilahirkan.


"Ibu, hati-hati di jalan." Tirta langsung memeluk Ibunya.


"Kamu jangan nakal, jaga istri kamu." Ibu Elin juga mengusap punggung Putranya.


Kristal juga langsung memeluk Ibu mertuanya, meminta Ibunya menjaga diri dan mereka akan segera menyusul jika sudah memiliki waktu.


Pelukan Ibu Elin sangat erat, berterima kasih karena Putranya memiliki Istri sebaik Kris dan hati Kris sangat tulus. Mengizinkan Krisna ikut, tidak menentang ataupun menunjukkan perasaan kehilangan.


"Kris, Ibu doakan kamu segera memiliki anak agar lengkap kebahagiaan rumah tangga kalian." Tangan Ibu mengusap wajah cantik Kristal.


"Amin Bu, doakan Kristal selalu agar segera menyusul Muti untuk memiliki momongan." Kristal mencium tangan Ayah dan Ibu mertuanya.


Pandangan Kris terarah kepada Krisna, langsung berjongkok mengusap kepala Putra angkatnya.


Kris berpesan agar Krisna menjadi anak yang menurut kepada Kakek Neneknya, rajin belajar, dan tumbuh menjadi anak baik.


Bisikkan Kristal terdengar lembut di telinga Krisna, sebagai seorang anak yang mencari keberadaan seorang Ibu kristal mengerti perasaan Krisna yang ingin menjelajahi dunia untuk menemukan Ibunya.


Apapun hasil akhir nanti perjuangan Krisna, Kristal akan menjadi sosok Ibu yang mendukung dan tidak akan pernah meninggalkannya dan menemaninya mencari apa yang dicari.


"Ingat baik-baik pesan Bunda, kamu harus menjadi pemuda yang baik." Kris menyatukan hidung mereka.


Tirta juga berlutut, berpesan hal baik kepada Putranya. Sejauh apapun kaki Krisna melangkah, dia harus ingat ke mana dirinya harus kembali.


"Siapa nama kamu?"


"Krisna Ardian Adipati, Putranya Ayah Tirta Adipati dan Kristal Kembara." Pelukan Krisna erat memeluk kedua orangtua angkatnya.

__ADS_1


Air mata Elin menetes, menatap kagum dengan Putra dan menantunya yang masih muda tetapi memiliki kelembutan yang sangat besar kepada anak-anak.


Krisna langsung menggendong tas ranselnya, lompat-lompat kesenangan. Tangannya melambai ke arah kedua orangtuanya yang juga melambaikan tangan.


"Kakak Krisna, tunggu." Lily berlari kencang, tidak menyadari jalan sampai berlari sempoyongan hingga jatuh.


Han langsung berlari, membantu Lily untuk berdiri. Menemui Krisna sebelum terbang ke luar negeri.


Lily membersihkan tangannya, memeluk Krisna yang tidak merespon sama sekali. Tangan Lily berjabatan dengan kakaknya.


"Kak Krisna jika pulang jangan lupa oleh-oleh," ucap Lily sambil tertawa kecil.


"Aku baru pergi, bukan pulang." Krisna menarik tangannya.


Melihat Alhan dan Muti datang, Ibu Elin langsung berjalan mendekat. Memeluk Han yang juga langsung menyambut.


Cukup lama Han memeluk, meminta wanita yang Han anggap Ibunya juga segera sembuh, bisa menjalani kehidupan normal. Han juga akan menyempatkan waktu untuk berkunjung.


"Jaga diri Bu, sesekali hubungi Han. Dan Alhan juga akan menghubungi Ibu." Han mencium tangan.


"Hati Ibu bahagia sekali mendengar kamu memanggil Ibu, sekarang aku memiliki dua Putra. Jaga Istri dan anak kamu, Ibu menunggu kalian datang." Air mata Ibu menetes, meminta Tirta mendekat, langsung memeluk kedua Putranya.


"Hati-hati di jalan Ayah," ucap Han.


"Iya Han, Ayah, Ibu sama Krisna pamit pulang. Ingat pintu rumah kita terbuka lebar untuk kalian. Kristal, Mutiara jaga Han dan Tirta terutama kamu Muti, jaga kandungan kamu." Gio mengusap kepala Kris dan Muti.


"Kebalik Ayah, seharusnya Tirta dan kak Han yang menjaga kita. Panda juga kirim salam, meminta maaf karena tidak bisa datang, biasalah Manda masih mual." Muti mencium tangan Gio, langsung memeluk Krisna.


Krisna menatap Muti aneh, meksipun wajah Muti sangat mirip Bundanya, tetapi otak Muti sangat lelet dalam menyingkapi ucapan orang.


"Kamu punya Panda?" Gio menatap Han dan Tirta tidak mengerti ucapan Mutiara.


"Panda dan Manda, panggilan untuk Mama dan Papa Aunty lemot ini Kakek." Krisna menunjuk ke arah Muti.


Ucapan Krisna membuat Lily dan Kristal tertawa, merasa lucu dengan julukan Krisna yang berani mengejek Muti.


"Hati-hati di jalan kak Krisna, Nenek dan Kakek juga." Suara Lily berteriak sampai menggema.

__ADS_1


Tirta langsung menggendong Lily, merangkul pinggang istrinya. Han juga tersenyum, merangkul pundak Muti yang lambaian belum berhenti meskipun sudah tidak terlihat lagi.


Air mata Kristal langsung menetes, memeluk erat Tirta. Meluapkan sedikit kesedihannya dan langsung menghapus air mata.


"Ayo kita makan." Muti berjalan lebih dulu.


Tirta merangkul istrinya, berjalan ke arah mobil meninggalkan bandara yang menjadi tempat terakhir pertemuan mereka.


Dua mobil beriringan, Lily mengoceh mengadu kepada Kris apa yang Muti lakukan selama Kristal di rumah sakit.


Es krim Lily selalu diambil, tetapi Muti sangat pelit saat memiliki makanan tidak pernah ingin berbagi kepada siapapun.


"Kamu juga sama pelitnya, jangan menjelekkan Muti." Kris menutup mulut Lily yang sangat berisik.


"Lily tidak bohong, tas branded kak Kristal nyangkut di pohon mangga saat kak Muti ingin mengambil buahnya." Lily berjanji akan memberikan foto kejahatan Mutiara yang suka menggunakan barang Kris.


Tatapan Kristal langsung tajam, mengambil ponselnya langsung menanyakan hari, jam dan tanggal kejadian. Kris melihat rekaman CCTV di luar rumah Han.


Anaknya yang seharga ratusan juga menjadi mainan Muti, mangga yang belum masak dan masih memiliki banyak getah masuk ke dalam tasnya.


Genggaman tangan Kris sangat kuat, matanya langsung melihat mobil di depannya dengan tatapan gelap. Lily langsung pindah tempat duduk ke dekat Tirta yang duduk bersama supir.


Lily takut jika Kristal sudah marah, sebentar lagi akan ada perang setelah sekian lama.


Mobil berhenti di restoran mewah, Kristal langsung keluar. Membanting pintu mobil, membuat Tirta terkejut.


"Cepat keluar Mutiara." Kris mengetuk kaca mobil Han.


"Ada apa?" Muti menatap layar ponsel yang memperlihatkan dirinya sedang membawa tas berisikan mangga muda.


"Tas siapa ini?" Kris menunjukkan ke arah layar handphonenya.


Han dan Tirta langsung keluar, merasa binggung dengan kemarahan Kristal secara tiba-tiba.


Senyuman Muti terlihat, langsung memeluk lengan Han meminta pertolongan. Han langsung menyadari penyebab kemarahan Kris ulah istrinya.


"Kak Muti ini tas siapa?" Kris berteriak kuat.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2