
Sudah hampir siang Muti dan Kris belum bangun, masih tidur berpelukan seperti anak kecil yang saling merindukan.
Di luar kamar Alhan cukup lama menunggu Kristal keluar, berkali-kali mengetuk pintu namun masih belum ada tanggapan.
"Tuan, ingin sarapan?"
"Di mana letak kunci kamar ini?" Han menatap maid yang langsung bergerak ingin mencarikan kunci.
Cukup lama Han menunggu duduk di kursi rodanya, pintu kamar terbuka. Mutiara menguap besar sambil mengangkat kedua tangannya.
Baju yang Muti gunakan juga sangat minim memperlihatkan belahan dadanya yang putih. Han masih terdiam sambil menelan ludah melihat keindahan di depan matanya.
"Pagi Nona." Maid memegang kunci serep, menyerahkan kepada Han yang masih termenung tidak berpaling dari tatapannya.
Mutiara melihat arah pandang Han, langsung menyilang kedua tangannya menutupi dada. Muti langsung ingin masuk ke dalam, tapi tangannya ditahan oleh Han sampai duduk dipangkuan.
Maid yang melihat langsung melangkah pergi meninggalkan tuan dan nona yang sedang beradu pandang.
"Berapa lama kamu akan duduk dipangkuan aku? duduk di kursi roda karena kaki aku sakit, ditambah lagi memangku kamu rasanya lebih sakit." Han meminta Muti berdiri.
Senyuman Mutiara terlihat, meminta maaf karena dia memang sedikit berat. Mengusap paha Han agar tidak sakit lagi.
Belum selesai Han bicara, Muti sudah masuk dan menutup pintu. Helaan nafas panjang terdengar.
Muti langsung menimpa Kristal memintanya segera mandi karena Han sudah menunggu di depan pintu.
Kristal langsung membuka pintu, menatap Alhan yang masih duduk di kursi rodanya memperhatikannya.
"Hari ini aku libur, lagi malas kerja."
"Ini bukan perusahaan kamu yang bisa libur sesuka hati." Han mengerutkan keningnya.
Apri datang mendekati Han membisikkan sesuatu, tanpa ada jawaban Han langsung melangkah pergi bersama Apri tidak memperdulikan Kristal yang menolak bekerja.
Setelah kepergian Han, Kris menatap Muti yang masih memejamkan matanya. Menarik selimut meminta Mutiara bangun.
"Bangun Mutiara, kita harus bicara."
"Soal apa?" Muti langsung duduk dipinggir ranjang.
Kris mengambil laptopnya dan mengambil ponselnya, Kris meminta Muti menceritakan siapapun yang dia temui, dan Kristal akan melakukan sebaliknya agar mereka berdua tidak kebingungan jika tuker posisi.
__ADS_1
Muti tersenyum langsung mendengarkan penjelasan Kristal, beberapa staf di perusahaan yang memiliki pengaruh besar.
Kris menunjukkan foto Cherly, dia ibu tiri Alhan dan orang yang memiliki pengaruh cukup besar karena dia juga salah satu pemegang saham.
"Dia siapa Kris?"
"Kamu pasti mengenal dia, karena lelaki ini pria yang mengabaikan anak dan istri. Dia Papinya Alhan." Tatapan Kristal tajam, saat ini Papi Han juga pemegang saham.
Jika saham dua orang ini digabung bisa saja mengalahkan Alhan dan menjatuhkan jabatan Han, tapi selama hubungan Alhan dan Papinya baik keadaan akan tetap baik.
Kris juga menjelaskan soal Tirta, Apri, Rayan, Jenny juga seluruh orang yang bekerja di rumah.
Orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan, orang-orang yang ada di belakang Han juga orang yang ingin menjatuhkan Han.
Muti rasanya ingin mual melihat banyaknya orang yang saling bersaing, tapi Muti tidak punya pilihan selain harus mengetahui mereka semua.
"Satu hal lagi Muti, aku tidak ingin kita sampai ketahuan. Kita harus memiliki perusahaan Iskandar terlebih dahulu, baru kita ungkap siapa kamu." Kris menatap saudara kembarnya yang hanya tersenyum tipis mempercayai Kristal.
Beberapa foto Kris tunjukkan, sosok Daddy yang membesarkan Kristal selama ini. Dia juga Daddy kandung Muti.
"Dia orang yang harus kita singkirkan, meskipun darahnya mengalir dalam tubuh kita. Apapun Alasan memisahkan kita, tetap saja dia sosok Daddy yang jahat." Kris menghela nafasnya, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Emh, aku tidak mengenal dia. Keluarga Muti hanya Kris." Senyuman Muti terlihat.
Mereka tidak memiliki anak, tapi Kris yakin ibu tirinya hanya mencintai uang dan tidak perduli soal anak.
Beberapa orang yang dekat dengan Kristal juga dijelaskan, Kris tidak ingin Muti kebingungan jika ada yang menyapanya.
"Terima kasih Kristal, kamu bersedia membagi kehidupan kamu dengan aku yang baru kamu temui." Muti meneteskan air matanya.
Kristal langsung berjongkok, menghapus air mata Muti dan menakup wajah saudara kembarnya.
"Aku bahagia memiliki saudara, dan sebenarnya apa yang aku berikan juga hak milik kamu yang sudah direnggut selama ini. Tidak peduli sebesar apa masalah kita nanti, ayo kita berjuang dan saling rangkul." Kris menggenggam tangan saudaranya dan satu-satunya orang yang menatap Kristal secara baik.
Kepala Muti mengangguk, mereka akan selalu bersama dalam suka maupun duka. Saling merangkul dan mensupport.
"Mulai hari ini Mutiara akan menjadi kakak, sedangkan Kristal adik."
"Kenapa harus kamu? Kristal kakak, Muti adik." Kris tidak ingin mengalah.
Perdebatan keduanya terjadi, saling dorong rebutan untuk menjadi kakak. Suara tawa Kristal dan Mutiara terdengar, karena pertengkaran mereka berakhir dengan suit tangan.
__ADS_1
Mutiara langsung lompat-lompat kesenangan, dia langsung mengejek Kristal yang cemberut sambil tertawa melihat Mutiara bahagia.
"Aku kakak, Kristal adik."
"Siap kak Muti." Kris tertawa berpelukan dengan Muti yang tersenyum bahagia.
"Adikku sayang, ayo kita berjuang." Muti mencium pipi Kristal membuatnya berteriak kuat.
Kris menceritakan jika siapapun yang Muti temui dan mengenali dirinya, mengaku sebagai teman jangan dipercaya. Kris tidak memiliki sahabat terbaik, setiap orang yang mendekatinya hanyalah menginginkan keuntungan darinya.
Muti berjanji akan menjadi teman, saudara, juga sahabat terbaik untuk Kristal.
Keduanya tersenyum, Kris melihat ponselnya jika di perusahaan ada masalah. Alhan meminta Muti segera menyusul ke kantor.
"Kak, aku harus ke kantor sekarang, karena Alhan membutuhkan aku. Alhan memang manusia sialan, tidak bisa membiarkan aku beristirahat." Kris langsung mandi dan bersiap pergi.
Panggilan kembali masuk, Kris menjawab jika Daddy-nya meminta Kris ke kantor. Ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Kristal kebingungan harus ke kantor Alhan, atau ke kantor Daddy-nya. Dia hanya memiliki satu tubuh, tidak mungkin bisa membagi waktu.
"Kak Muti ke kantor Alhan, aku akan pergi menemui Daddy." Kris meminta Mutiara segera bersiap untuk ke JK group.
Mata Mutiara tidak berkedip melihat Kristal langsung pergi melewati pintu belakang, sudah waktunya Kris untuk menguasai Perusahaan Iskandar agar dirinya dan Muti bisa bebas dari Alhan.
Mutiara langsung meminta supir mengantarnya ke JK grup, Han sedang menunggunya di ruang meeting.
Sesampainya di perusahaan, Muti langsung melangkah masuk tanpa ada keraguan, karena Kris sudah menjelaskan seluk-beluk perusahaan.
Seseorang tersenyum sinis melihat Kristal, langsung menahan Kris untuk tidak masuk ke ruangan meeting.
"Kamu dan Alhan akan segera disingkirkan."
Muti tersenyum dia melihat Cherly yang memang sangat sombong dan angkuh.
Di dalam ruang rapat Han sudah marah besar, ada kekacauan di pabrik sehingga pengiriman terhambat menyebabkan kompline ke kantor pusat.
Muti duduk di samping Han, langsung melihat banyaknya kompline. Muti meminta izin untuk turun langsung ke lapangan dan melihat ke lokasi.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu