
Suara rusuh terdengar, Mutiara langsung berlari meminta Alhan mencari obat untuk Manda. Muntah-muntah tidak berkesudahan.
"Sayang, obat apa?" Han binggung mencari obat di mana.
Muti memukul tangan suaminya, membawa obat-obatan yang tidak jelas asal usulnya.
"Minum air hangat dulu." Tirta menyerahkan air minum.
Panda juga terlihat sekali khawatirnya, mengusap tangan istrinya yang sangat lemas tidak bertenaga sama sekali.
"Manda, kenapa?" Muti mengusap minyak ke kening, mengusap punggung.
"Ada apa ribut-ribut?" Nenda melihat Dwi yang terduduk lemas.
Tawa Nenda terdengar, mengusap punggung Han yang membawa banyak obat. Percuma saja ada dokter, tapi masih khawatir berlebihan.
"Apa yang kamu rasakan Dwi?"
"Tidak tahu Ma, tiba-tiba saja kepala Dwi pusing dan mual. Tidak bisa melihat matahari, sudah beberapa hari ini susah bangun pagi." Tatapan Dwi masih melihat ke bawah, memegang perutnya yang belum puas muntah.
Nenda meminta periksa ke dokter kandungan, tidak harus meributkan dan memperbesar masalah. Setiap wanita akan merasakan awal kehamilan.
"Manda kemungkinan hamil?" Muti menatap Papanya sambil tersenyum.
"Mungkin, tanda-tanda hamil." Nenda tersenyum bahagia.
Mutiara langsung memeluk Papanya, menyambut bahagia. Akhirnya dirinya akan memiliki adik kembali.
Tatapan Muti mencari Kris dan Lily, langsung berkeliling memanggil dua manusia yang sudah melarikan diri membawa nasi goreng, duduk santai melihat pantai.
Suara Muti berteriak terdengar, Kris mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Kakaknya yang kekanakan.
Muti joget-joget di depan Kris dan Lily, senyuman Lily terlihat langsung berjoget-joget juga mengikuti Muti.
"Gila kalian berdua." Kris mengunyah nasi gorengnya, menatap dua saudaranya sinis.
"Manda hamil, kita punya adik lagi." Muti berteriak, Lily juga langsung tepuk tangan.
Tatapan Kris langsung melihat Papanya, melangkah kembali ke dalam langsung memeluk memberikan selamat jika memang benar Manda hamil.
__ADS_1
"Selamat, ya, Panda. Kris do'akan yang terbaik untuk Dede kecil dan Manda." Kris tersenyum, langsung memeluk Mamanya.
Kris mencium pipi Dwi, mengusap perutnya. Meminta Manda selalu berhati-hati dan tidak kelelahan.
"Nenda, selamat menjadi nenek lagi. Semoga kali ini adik laki-laki." Kris langsung mengaminkan bersama Nenda.
"Belum pasti Kris, kita harus periksa dulu." Manda masih ragu.
Tirta langsung menawarkan diri untuk membeli alat tes, Kristal langsung ingin ikut. Mutiara dan Han juga langsung bersiap ingin pergi.
Panda langsung menggendong Lily, berharap jika istrinya benar-benar hamil, dan bisa menambah kebahagiaan mereka.
"Hati-hati kak." Lily melambaikan tangannya.
Di dalam mobil Muti melihat Kris yang tersenyum melihat pesisir pantai, tidak mengerti apa yang sebenernya dipikirkan oleh adiknya.
"Kamu hari ini terlihat berbeda Kris, tidak kekanakan. Apa yang sedang kamu rencanakan?" Muti menatap fokus ke depan.
Senyuman Kris terlihat, langsung memeluk kakaknya. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Hanya saja sudah waktunya dewasa, Kris sudah mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini, hal utama memiliki keluarga.
"Kris bahagia jika Manda hamil, dan setelah 26tahun kita lahir, Panda akhirnya bisa melihat istrinya hamil, lalu menunggu kelahiran anaknya dan membesarkannya. Bukannya itu moments bahagia seorang Ayah." Kris ingin melihat Papanya bahagia, dan bisa menjadi seorang suami dan Ayah sesungguhnya.
Muti mengusap kepala adiknya, Kris benar. Sudah waktunya mereka dewasa, dengan keluarga masing-masing.
"Kenapa pindah? kita bisa tinggal berempat. Rumah kak Han besar, bisa kita gunakan bersama-sama. Jika kalian ingin, beli rumah yang tidak jauh dari kediaman kak Han." Tatapan Han tajam melihat Tirta dan Kris yang hanya tersenyum.
Kepala Tirta geleng-geleng, dia tahu jika Han bisa memberikan segalanya. Namun Tirta sudah mengambil keputusan untuk hidup sederhana dan belajar bersama menjalani rumah tangga.
Bibir Muti langsung cemberut, tidak setuju dengan keputusan Tirta. Muti belum siap tinggal sendirian di rumah mewah Han, apalagi Manda sedang hamil muda, Kris sibuk bekerja sedangkan dirinya hanya menunggu suami pulang.
"Kalian tidak boleh pindah, jika memaksa tinggal di apartemen, Muti juga ikut pindah." Kepala Muti tertunduk.
"Kita masih bisa setiap hari bertemu kak, rumah dan apartemen masih berada di satu kota. Jarak tempuh hanya 30menit." Kris mencoba membuat Muti mengerti.
"Kak Muti sepakat untuk dewasa, tapi tidak harus berpisah Kris. Kita masih harus menghabiskan waktu bersama, setidaknya beberapa tahun." Air mata Muti menetes, belum bisa menerima keputusan Kristal untuk pindah.
Tangisan Muti semakin besar, hatinya sangat sakit karena bukan hanya berpisah dengan Papanya yang memiliki keluarga baru, tapi harus berpisah dengan adiknya yang memilih tinggal berdua dengan suaminya.
"Tirta, pikirkan kembali. Kita juga bisa menghabiskan waktu bersama, bekerja dan membahas banyak hal bersama. Masih banyak waktu, kalian tidak harus cepat pindah." Han membujuk Tirta yang masih binggung melihat Muti menangis sesenggukan.
__ADS_1
Kristal memeluk lembut kakaknya, berjanji akan setiap hari datang berkunjung. Kris tidak akan membawa apapun barang-barangnya, dan sesekali akan menginap di rumah Muti.
"Kak Muti juga ingin kuliah, Kris bantu kak Muti untuk belajar."
"Kuliah apa? sekolah saja tidak lulus." Air mata Muti masih di pipinya.
Kristal tersenyum, menjelaskan kepada Muti soal jalur paket. Melihat kepintaran kakaknya, Kris yakin bisa dengan mudah memahami ketertinggalan.
"Kita bisa bertemu setiap hari di kantor, dan belajar bersama untuk mengejar mimpi. Kak Muti masih ingin kuliah, jangan menyerah sebelum berhasil duduk di bangku kuliah." Kris menyemangati kakaknya.
Cukup lama Muti terdiam, langsung menggelengkan kepalanya dan menolak untuk belajar kembali.
"Muti tidak suka sekolah."
Han yang mendengar langsung garuk-garuk kepala, solusi Kris sudah sangat baik, tapi jawaban Muti menghacurkan niat baik Kris.
"Kak, sekolah penting. Memangnya kak Muti punya rencana apa?"
"Menjaga Manda sampai melahirkan."
"Sayang, apa gunanya baby sitter jika kamu yang ingin menjaga." Han menghela nafasnya bekali-kali.
Mobil tiba di apotik, Tirta langsung turun dan tanpa malu langsung membeli beberapa tes pack, dan kembali ke mobil.
"Kamu tidak malu Tirta?" Han menunjuk bungkus plastik.
"Kenapa malu? Tirta tidak melakukan kesalahan." Senyuman Tirta terlihat, meminta Muti dan Kris berhenti bertengkar.
Saat ini lebih baik menyambut bahagia, apa hasil dari tes Manda, karena akan menambah kebahagiaan keluarga Kembara.
"Sayang, kita juga harus mempercepat program hamil, nanti keduluan Tirta." Han menatap istrinya yang mengerutkan keningnya.
"Salah kak Han, tidak unggul."
Suara tawa Kris dan Tirta terdengar, Muti secara langsung sedang mengejek suaminya kurang kuat dalam membuat anak sehingga kalah dengan orang lain.
"Kak, hamil bukan balapan. Insyaallah jika sudah waktunya pasti diberikan." Tirta menyemangati kakaknya.
Muti langsung mengambil tes pack, dia juga ingin melakukan pemeriksaan. Kemungkinan dirinya hamil, tapi tidak disadari keberadaannya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira