
Suasana mendadak hening, Han meminta Muti dan Kristal mengikutinya. Kembalinya Indri dan Jenny membuat masalah baru.
Meksipun tidak sepenuhnya mereka penyebab tumbuhnya masalah, setidaknya pengganggu.
Pelukan Tirta melingkar di leher Kris, mencium keningnya. Tangan Tirta langsung ada di telinganya meminta maaf karena terlambat pulang.
Wajah memelas suaminya membuat Kris tidak tega, langsung berdiri memeluk erat. Kris hanya takut, jika dirinya akan ditinggalkan.
"Kamu tahu jika aku sangat mencintai kamu?"
"Cinta tidak cukup, karena lelaki bisa mencintai dua wanita sekaligus." Kris mencium bau parfum suaminya.
Tangan Tirta langsung direntangkan, membiarkan istrinya mengecek detail. Sejak Kris hamil, Tirta tidak pernah memeluk sembarangan. Kris bisa mengetahui hanya dari bau parfum.
"Sudah puas, kak Tirta membawa kue kesukaan kamu, juga Muti." Tirta tersenyum melihat Muti yang kaget, takut namanya tidak disebut.
Mama dan Papa juga mendekati Tirta, Panda menepuk pundak menantunya yang sangat pintar merayu.
"Ini kue kesukaan Muti." Tangan Muti langsung memasukkan kue ke dalam mulutnya.
"Kasihan Lily menunggu kamu pulang sampai tertidur Tirta, jangan terlalu sibuk bekerja. Kesehatan penting." Manda menyiapkan minuman.
"Ya Allah kasihan, besok pagi-pagi Tirta akan menemuinya." Senyuman Tirta terlihat, memakan kue di tangan istrinya.
lll. kok l
Mutiara menarik lengan suaminya, mempertanyakan keberangkatan ke luar negeri. Muti lelah dengan alasan yang diberikan.
"Perut Muti dari rata sampai sudah terlihat masih saja gagal, kak Han ingin memberikan alasan apa lagi?" Muti menunjuk ke arah perutnya yang sudah buncit.
"Apa lagi alasannya? tunggu dua bulan, bahaya naik pesawat, bukan kedua gagal, menunggu bulan ketiga alasan ada masalah di kantor, bulan empat ada proyek, bulan kelima apa lagi?" bibir Kristal sudah monyong, merasa kesal dengan banyaknya alasan.
"Bulan kelima kita pergi sayang, aku sudah memesan tiket." Sikap lembut Tirta terlihat, mencium tangan istrinya, mengusap perut buncit Kris.
Tirta meminta maaf kepada anaknya karena tidak pernah menemani periksa, Tirta akan meninggalkan pekerjaan demi bisa menemani baby kembar.
Senyuman Kris terlihat, mengusap kepala suaminya. Anaknya sangat memaklumi Ayahnya, tetapi Bundanya yang tidak sabaran.
"Sebaiknya istirahat, sudah malam. Besok bisa membahas lagi kapan ingin berangkat." Ilham merangkul istrinya untuk pergi istirahat lebih dulu.
__ADS_1
"Ayo sayang kita tidur." Han sudah berdiri dari kursinya.
"Tidak mau, Muti ingin tidur di bawah bulan." Tangan Muti memohon.
Tirta langsung berlari ke kamarnya untuk mandi, sebelum istrinya ingin melihat kupu-kupu di malam hari, bisa kacau dunia.
Suara Muti merengek terdengar, merengek ingin tidur di bawah bulan. Muti sudah memastikan jika bulan sedang terang.
Senyuman Han terlihat, meskipun hatinya kesal. Ingin sekali meninggalkan Muti langsung tidur duluan, tapi pasti akan menangis.
"Bagaimana caranya tidur di bawah bulan?"
"Bawa alas, keluar rumah, rentang alas, lalu tidur. Sudah ada bulan di atas." Kris langsung berdiri dari kursi, ingin tidur lebih dulu.
"Tidak ikut tidur di bawah bulan Kris?"
"No kak Han, tubuh suami Kris lebih enak untuk dicium dan peluk." Kris melambaikan tangannya melangkah pergi.
Kening Han berkerut, kemauan istrinya terlalu aneh, inginnya yang membuat kesal. Di luar pasti banyak nyamuk, dingin, lebih tepatnya seram banyak hantu.
"Sayang, kamu tidak ingin mencium dan memeluk aku, rela aku Muti." Han merentangkan tangannya.
Senyuman Han terlihat, mengulurkan tangannya. Apapun yang diinginkan istrinya masalah ranjang pasti Han turuti, selama tidak menyakiti anaknya.
Suara tawa Muti terdengar, Han menggendongnya sampai ke kamar. Membuka baju tidur istrinya, tanpa melepaskan bibir Muti yang sudah bertemu bibirnya.
Sentuhan lembut Han membuat Muti tidak bisa berhenti mengeluarkan suara menjijikan dari mulutnya, tapi Han sangat menyukai suara menggoda Muti.
"Apa yang dilakukan anak Papa di dalam sana?" Han meletakkan telinganya di perut.
"Lagi berenang Papa." Muti tertawa, meminta suaminya menyerahkan baju.
Muti malu tanpa sehelai benang dihadapan suaminya, Han menolak karena baru satu kali, mereka masih memiliki dua ronde baru bisa tidur.
"Tidak mau, Muti lelah," Muti melakukan penolakan.
Han mengusap dadanya, dirinya juga takut jika berlebihan bisa menyakiti anaknya. Bersyukurnya Muti menyerah lebih dulu.
Tangan Han mengambil pakaian, memakainya agar istrinya dan anaknya tidak kedinginan. Han tidak sabar lagi bisa bertemu anaknya.
__ADS_1
"Kak, Muti mendengar kabar jika Indri sudah menikah dan suaminya orang yang berkuasa. Tujuan mereka menjatuhkan JK group." Muti tidak menatap wajah Han, berharap pendengarannya salah.
Han membenarkan ucapan Muti, tapi dirinya tidak akan menyerah. Ayah Gio dan Tirta juga ada di belakangnya, tidak akan membiarkan Han kehilangan apa yang sudah dipertahankannya.
Selama lebih dari tiga bulan, Han bertugas untuk bertahan dan terus maju menyukseskan proyek besar, sedangkan adiknya Tirta bertugas menyelidiki perusahaan yang mencoba menjatuhkan.
"Tirta, Apri, dan kak Han sudah berjuang bersama untuk bertahan, kita tidak melangkah mundur. Jika ada masalah, bukannya memang ujian hidup, tapi tidak dengan gagal." Han sangat bersyukur memiliki Tirta dan Apri yang setia.
Pelukan Muti erat, dirinya bisa mengetahui apalagi Kristal yang juga bekerja di sana. Hebatnya adiknya, memberikan jalan besar kepada Tirta untuk maju, tanpa banyak bertanya.
"Kita sempat berada di masa yang berat sayang, tapi Kris memberikan bantuan tanpa alasan. Meksipun dia selalu menuduh Tirta, tapi sangat memahami kesibukan suaminya." Han tahu jika Kris dan Tirta pasangan yang saling melengkapi.
Han cukup kaget, istrinya diam-diam memperhatikan juga apa yang terjadi, tapi diam saja tidak memojokkan Han dengan seribu pertanyaan.
"Tidurlah, nanti kita atur jadwal berangkat." Han mengusap perut buncit istrinya.
"Lalu bagaimana dengan Jenny?"
"Dia mengejar cinta Tirta, tapi hanya bisa menatap dari kejauhan. Tirta tidak pernah bisa disentuh, di dalam kepalanya hanya ada Kris."
Mutiara tersenyum, dugaan Kris sudah benar. Jika tidak memikirkan anaknya mungkin Kris sudah turun tangan, mematahkan tulang belulang Jenny yang mengagumi suaminya.
Sebaik apapun seorang pria menyembunyikan rahasia, wanita cepat lambatnya pasti akan tahu.
"Sayang, dalam rumah tangga paling penting kepercayaan." Han memejamkan matanya..
"Kepercayaan bisa dinodai oleh kebohongan, alasan luka yang dalam, karena terlalu percaya, tetapi dikhianati. Rasanya sakit sekali." Muti menatap wajah suaminya.
Mata Han terbuka, ucapan Muti tidak salah. Penyebab rasa sakit paling dalam, saat hati dikecewakan.
"Kak jika suatu hari bosan jujur saja, jangan berbohong lalu meninggalkan."
"Hari itu tidak akan pernah datang Mutiara, mungkin wanita di luar sana banyak yang lebih cantik, tapi aku sudah meninggalkan hati bersama kamu, raga saja yang pergi bukan hati." Han menyakinkan Muti, jika cintanya sangat tulus, dan tidak akan pernah berubah sampai akhir hidupnya.
Muti melihat bayangan di jendela, menatap tajam langsung duduk meminta Han melihat ke arah jendela.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1