
Tidak terasa sudah satu bulan kepergian Della, Tirta juga pergi ke luar negeri untuk mengobati sakit kepalanya yang tidak kunjung sembuh.
Dokter terbaik Han berikan untuk adiknya agar bisa pulih dan tidak merasakan sakit kepala yang mematikan.
Kondisi Tirta kekurangan darah, tapi memang memiliki benjolan di kepalanya yang dia dapatkan saat kecelakaan hampir menabrak Muti.
Luka dalam yang kepala Tirta alami memburuk, sehingga melakukan operasi di luar negeri.
Kristal juga ikut bersama Tirta, dan meninggalkan Muti yang harus menemani Han. Sejak Kris ke luar negeri, Muti kesepian apalagi Dwi sudah kembali ke rumah Nenda.
Muti menghubungi Kris yang asik pacaran, sampai lupa pulang. Meminta Kris segera kembali.
"Kak Han, Muti bosan." Rengekan Muti membuat Han tidak bisa konsentrasi kerja.
"Sayang, aku lagi sibuk."
"Kak Han sibuk terus, Muti ingin ke rumah Nenda saja."
Alhan mengizinkan, dan sorenya baru menyusul Muti ke rumah neneknya. Karena Han tidak memercayai supir langsung menghubungi Ilham.
Muti lompat bahagia, karena Papanya juga ingin pulang ke rumah Bundanya. Mutiara langsung memeluk Han dan segera pergi.
Kepala Han hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku istrinya, Muti tingkahnya kekanakan dan manja.
"Panda, Muti di sini." Lambaian tangan Muti terlihat, Ilham langsung berlari memeluk putrinya.
"Sudah pamitan dengan Han?"
"Sudah Panda, ayo kita berangkat." Senyuman Muti terlihat, menggenggam tangan Papanya.
Sepanjang perjalanan Muti mendengarkan cerita Papanya saat muda dan kehidupan di luar negeri.
"Panda tidak punya pacar?"
Ilham hanya tertawa mendengar pertanyaan putrinya, tidak ada sedikitpun rencana Ilham untuk menikah, apalagi setelah tahu dia memiliki dua putri.
"Panda harus memiliki pasangan hidup, agar ada yang menemani dan merawat Panda." Ucapan Muti serius, dia merasa tidak tenang melihat Papanya tinggal sendiri.
Kerja pagi pulang malam, dan kehidupan terus berulang-ulang. Muti ingin ada yang menemani Papanya bercerita di saat sedih, bahagia dan lelah.
"Jika alasan Panda tidak menikah karena patah hati, bukannya tidak baik terlalu berlarut dalam kesedihan." Harapan Muti bisa melihat Papanya bahagia.
"Maafkan Panda Muti, sampai saat ini tidak ada wanita yang bisa membuat Panda nyaman."
Ilham sudah lama melupakan masalah dengan Della, tapi dirinya hanya tidak punya kesempatan, juga tidak ingin membuang-buang waktu untuk mengenal wanita.
"Seandainya kak Dwi belum menikah, Muti pasti akan menjodohkan Panda." Perasaan Muti sedikit kecewa, karena harapan sudah tidak mungkin.
Mendengar ucapan Muti, Han langsung tertawa kuat dan merasa lucu dengan Muti yang menjodohkan wanita muda yang terpaut usia sangat jauh.
__ADS_1
"Sayang, tidak mungkin Panda menikahi wanita yang seumuran kamu?"
"Kenapa tidak mungkin?"
Mata Muti memperhatikan Papanya, meksipun usia sudah kepala empat, tapi Papanya masih tampan, tubuhnya kekar dan berotot.
"Panda tidak terlihat tua, tapi seperti sugar Daddy yang di novel dan film itu Panda." Muti tertawa memeluk Papanya.
Tidak terasa hampir sampai rumah neneknya, cerita Muti dan Papanya sangat panjang dan menyudahi cerita mereka saat tiba di rumah Nenda.
Kedatangan Ilham dan Muti disambut oleh Nenda, langsung memeluk cucu kesayangannya. Menciumi seluruh wajah Muti tanpa sisa.
"Lama sekali, Nenda sudah menunggu dari tadi." Nenek mengandeng tangan Muti untuk masuk ke dalam rumah.
Senyuman Dwi terlihat, melihat Muti yang berlari ke arahnya langsung memeluk erat. Tangan Dwi menepuk pelan, karena Muti wanita yang baik dan menghargainya.
"Apa kabar Nona?"
"Panggil Muti saja kak Dwi. Muti juga punya oleh-oleh." Senyuman Muti terlihat mengambil bungkusan di tangan Papanya.
"Terima kasih."
"Bagi-bagi sama yang lain ya kak, ini untuk Nenda." Pelukan Muti lembut ke arah neneknya.
"Kristal belum pulang Sayang? lama sekali. Nenek merindukan dia juga."
Suara tawa terdengar, Nenda mencium wajah Muti yang mengemaskan. Dan suaranya sangat lembut.
Nenda mempertanyakan keberadaan Han yang belum pernah datang berkunjung, Nenda juga ingin melihat cucu menantunya.
"Kak Han menyusul setelah pulang kerja."
"Alhamdulillah, malam ini kita bisa kumpul."
"Masih kurang Nenda, soalnya Panda jomblo." Muti menceritakan Niatnya untuk mencarikan Manda untuk Panda.
Ilham hanya bisa geleng-geleng, meminta Muti bersiap-siap untuk belajar memanah dan bermain sepeda.
Suara Muti berteriak dan kesenangan membuat kaget satu rumah, Nenda sampai mengusap dadanya karena terkejut.
Tawa Muti terdengar langsung berlari ke kamarnya mencari baju untuk jalan sore bersama Papanya.
Senyuman Nenda terlihat, menatap putranya yang sedang memegang busur panah. Dulu Della yang mengajari Ilham memanah dan selalu bermain bersama.
"Ilham, kamu baik-baik saja?"
"Iya Bunda, Della sudah tenang dan aku bahagia menghabiskan masa tua bersama kedua putriku."
"Kenapa kamu tidak menikah dengan Dwi? dia seorang janda dan wanita baik-baik."
__ADS_1
Kepala Ilham menggeleng, dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Dwi, apalagi usia mereka yang terpaut jauh.
Mungkin Muti menyukai Dwi, tapi Kristal sudah memperingatinya untuk tidak dekat dengan Dwi. Kris memiliki alasan kenapa dia tidak menyukai Dwi.
Apapun alasan putrinya, Ilham tidak akan membantah. Karena kebahagiaan anak-anaknya paling utama.
Nenda tersenyum, jika Ilham sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa menentangnya. Hanya kedua putrinya yang bisa mengubah pendapatan.
***
Di lapangan sangat luas, Muti tertawa lepas sambil bermain sepeda. Lupa tujuan awalnya untuk memanah.
Ilham mengayuh sepeda, sedangkan Muti duduk di belakang. Nenda dan Dwi yang duduk di pohon rindang hanya tersenyum melihat Muti dan Ilham yang kekanakan.
"Panda!" Suara tembakan teriakan Kristal terdengar dari ujung ke ujung. Tirta dan Han yang juga baru datang kaget mendengar suara Kris.
"Panda, katanya main sepeda bersama Kris, kenapa ada Kak Muti?" Kris membuang high heels langsung berlari ke lapangan.
Nenda mengusap air matanya melihat putranya bisa tertawa bersama kedua anaknya yang terlihat seperti anak kecil.
"Nenek, perkenalkan aku Han." Alhan mencium tangan nenek diikuti oleh Tirta.
Suara Muti dan Kris bertengkar terdengar, Ilham sudah menahan keduanya agar berhenti dan mainnya bergiliran.
"Kristal bisa membawa sepeda, kak Muti duduk di belakang."
"Awas saja jatuh, Muti jambak."
"Ayo naik, Panda pegang dari belakang." Ilham membantu Kris sambil menahan sepeda.
Kris meminta di lepaskan, karena dia sudah bisa membawa sepeda tanpa bantuan. Muti cukup berpegang kuat pasti selamat sampai tujuan
"Sayang hati-hati, di depan sana ada sawah dan lumpur. Main sepedanya area sini saja." Perasaan Ilham tidak enak.
"Aman Panda, Kris sudah biasa membawa mobil." Kris mengayuh sepedanya.
"Kris ini sepeda bukan mobil." Muti teriak melihat Kristal mempercepat lajunya.
"Di mana Rem?"
"Di tangannya Kris!" Muti memukul kepala Kristal dari belakang.
"Mana ada di tangan aku rem?" Kris melepaskan kedua tangannya.
Suara jatuh terdengar, Muti dan Kristal langsung hilang. Bahkan sepeda juga terbang ke sawah.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1