
Tujuan awal Kris ingin menemui Tirta ke rumah sakit, membawanya pulang dan menyingkirkan wanita yang menyakiti hatinya.
Saat Kris pergi ada seseorang yang mengikutinya. Kristal menyadarinya sehingga menghentikan taksi di super market, langsung melarikan diri.
Kris tidak menyangka jika orang yang mengikutinya atas perintah Ayah Tirta, sejak awal bertemu Kris sudah tahu asal-usul suaminya.
Tirta mengungkapkan semua aib hidupnya saat mabuk dan akhirnya bermalam dengan Kris. Kejadian yang coba Kris tutupi.
Demi mengetahui lebih dalam keluarga suaminya, Kris langsung menemui Ayah Tirta dan meminta penjelasan.
Seluruh kebenaran yang Tirta temukan bukan fakta, Ayahnya tidak pernah menikah lagi, dan ibunya belum meninggal.
Ayah Tirta juga baru tahu, jika Cherly pengasuh Tirta kecil yang menyelematkan Putranya juga istrinya yang masih dirawat di rumah sakit jiwa.
Selama lima belas tahun, ibu Tirta mengalami gangguan jiwa, karena memikirkan putranya. Tujuan Ayah Tirta hanya ingin mempertemukan ibu dan anak.
Kristal melarang, karena Tirta tidak ingin mengungkit masa lalunya. Kris mencoba mempertemukan ibu Tirta dengan Putranya Krisna.
Melihat Krisna, membuat perkembangan baik untuk proses penyembuhan. Kristal belum siap Tirtan tahu, pasti sangat terpukul.
"Kenapa kalian semua mempermainkan aku? ini menyakitkan, sangat menyakitkan." Air mata Tirtan tidak terbendung lagi.
Kristal langsung memeluk suaminya, menguatkan Tirta yang tidak kuasa melihat kondisi Ibunya yang sangat menyedihkan.
"Ayo kuat, ini alasan Kris belum siap mempertemukan kalian. Maafkan Kristal." Air mata Kris juga menetes, sangat memahami kesedihan Tirta.
Secara tiba-tiba Tirta langsung terdiam, melepaskan pelukan Kris. Berusaha untuk berdiri, berjalan pergi meninggalkan semuanya.
Kris langsung menghubungi Han, satu-satunya orang yang Tirta percaya hanya kakaknya, dan Han yang paling Tirta tidak berani melawan perintahnya.
Tatapan Tirta melihat langit, hanya bisa terduduk diam sambil memeluk dirinya sendiri. Kris hanya melihat dari kejauhan, tidak bisa mendekati Tirta saat dia ingin sendirian.
Air mata Ayah Tirta menetes, seharusnya dia tidak pernah menemui Putranya jika akhirnya menyakiti semua orang.
berjuang mencari kebahagiaan baru Tirta temukan, sekarang harus terpukul kembali menerima kenyataan soal kondisi ibunya.
__ADS_1
"Kris, sebaiknya kami pergi dari negara ini. Biarkan Tirta hidup tanpa kami."
"Terlambat, dia sudah mengetahuinya. Aku sangat mengenal Tirta, dia akan membuka hatinya, dan menerima kondisi Ibunya." Kris menyentuh tangan wanita yang hanya terlihat kulitnya.
Tangan Kristal menggenggam jari-jemari dengan sangat lembut, menatap mata yang sangat sayu.
"Bu, berat ya bertahan selama ini, jangan menyerah. Kasihan Tirta yang sangat haus kasih sayang." Kris menceritakan curahan hati Tirta saat pertama mereka bertemu.
Tangan Kris mengusap air mata yang menetes di pipi, mengambil boneka yang langsung diserahkan kepada Ayah Tirta.
Tatapan mata Ibu Tirta mengikuti arah boneka, mengulurkan tangannya meminta anaknya dikembalikan.
"Bu, Tirta sudah besar sekarang. Belasan tahun sudah berlalu, anak ibu sudah tumbuh menjadi lelaki tampan, pintar dan sangat penyayang." Kris tidak kuasa menahan air matanya, langsung menangis sesenggukan.
Haus kasih sayang juga Kristal rasakan, ingin memeluk sosok ibu juga Kristal rasakan, perasaan yang sama dengan yang Tirta harapkan.
"Lihat ke sana Bu, dia Putra Ibu yang sedang duduk sendirian sambil menangis. Dia hanya membutuhkan pelukan, belaian tangan penuh kelembutan. Kami hanya menginginkan kasih sayang yang tulus." Tangisan Kristal pecah, karena dirinya gagal mendapatkannya dari ibu kandungnya.
Melihat Bundanya menangis, Krisna langsung memeluk dan menenangkan Kristal yang tidak kuat menahan kesedihannya.
"Anakku, di mana anakku." Air mata menetes, mencium kening Krisna.
Tangisan Krisna terdengar, langsung memeluk wanita yang duduk di kursi roda. Tangan tua mengusap punggung Krisan yang memanggil Bunda.
"Maafkan Bunda ya sayang, Bunda lalai menjaga kamu. Sekarang anak Bunda sudah besar." Tangisan terdengar, memejamkan matanya langsung tertidur secara tiba-tiba.
Hati Ayah Tirta sangat hancur, istrinya sangat menderita. Putranya juga memiliki luka yang sangat besar.
***
Hari sudah gelap, Alhan baru tiba langsung berlari mencari keberadaan Tirta yang masih duduk sendirian.
"Kak." Kris langsung memeluk Han yang mengusap kepalanya.
"Tidak perlu cerita apapun, kak Han sudah tahu yang terjadi." Han meminta Cherly menemui Ibunya Tirta.
__ADS_1
Han berjalan perlahan mendekati adiknya yang masih menatap langit. Tirta memarahi dunia akan segala yang terjadi kepadanya.
Dirinya bukan manusia yang sangat kuat, tapi mentalnya diuji dengan cobaan yang sangat menghacurkan.
"Apa yang kamu inginkan? mati." Han tersenyum sinis melihat ke atas langit yang gelap, bahkan bulan dan bintang juga tidak menunjukkan diri.
Bertahun-tahun Tirta selalu membuat Han kewalahan, bekerja seharian mencoba memberikan yang terbaik untuk perusahaan, belum lagi kasus Muti yang memukul orang, dan Han harus kebut-kebutan hanya karena Tirta yang bermasalah.
"Sejak kita pertama bertemu, kamu selalu menyusahkan aku, sadar tidak kamu?" Han menekan ucapannya, suara pelan yang membuat Tirta menangis.
"Iya, aku sadar kak. Maafkan Tirta."
"Maaf ... hari ini maaf, besok ada masalah lagi, maaf lagi, ada lagi. Setiap aku ada masalah, mata, telinga bahkan hati kak Han juga tutup agar tidak ada yang tahu, aku mampu menyelesaikan sendiri, karena apa? aku tidak punya keluarga Tirta. Bunda, Ayah, sanak saudara semuanya pergi." Han menundukkan kepalanya, mengusap matanya.
Han sendirian sebelum dirinya mengenal Tirta, tapi saat ada anak yang bernama Tirta selalu datang mengusik hidupnya, Han tidak mandiri lagi. Saat terpuruk, Han menunggu seseorang datang, meskipun Han tidak pernah mengatakan masalahnya, ada Tirta yang menghiburnya dengan ocehan dan candaan juga tawa.
"Jika kamu sedih, kak Han juga sama hancurnya. Kamu sumber kebahagiaan kak Han. Buatlah masalah dengan tawa dan kejahilan, bukan dengan air mata. Aku tidak tahu cara menghibur, maka jangan menangis." Han mengusap air mata adiknya, langsung memeluk erat menepuk punggung meminta Tirta berhenti menangis.
Senyuman Tirta terlihat, memeluk erat kakaknya. Meminta maaf karena membuat Han harus datang padahal perjalanan sangat jauh.
Mendengar ocehan Tirta, Han hanya bisa tersenyum. Hatinya benar-benar sakit melihat Tirta duduk sendirian penuh kesedihan.
"Apapun masalah, ada kak Han. Di sini bukan hanya kamu yang paling terluka." Han mengingatkan Tirta tentang dirinya yang memilih mengurung diri agar bisa bertahan.
Melihat perjuangan hidup Kristal dan Mutiara yang juga sama beratnya sampai mereka tiba, dan menemukan kebahagiaan.
"Menerima orang baru tidak mudah, tapi menerima orang lama di kehidupan yang baru jauh lebih sulit. Kamu harus menerimanya." Han meminta bersyukur masih mempunyai orang tua, tidak seperti dirinya yang hanya bisa melihat makam Bundanya.
Kepala Tirta hanya mengangguk, meminta maaf karena dirinya tidak sekuat Han, tidak bisa dewasa dalam menyingkapi masalah.
Air mata Han juga menetes, mengerti hancurnya perasaan Tirta. Jika ada diposisi Tirta, pasti Han akan membunuh orang yang sudah memisahkan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1