MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KEMBAR MATRE


__ADS_3

Bibir Muti monyong, memohon agar Han tidak marah besar kepadanya. Sebelum Han marah Muti langsung menjelaskan jika dia dan Kristal keluar untuk bersenang-senang.


Mereka berdua tidak bertengkar, tapi makan, berbelanja, menonton, bermain berdua sampai lupa waktu.


Kebahagiaan pertama yang keduanya raih setelah pertemuan, meksipun tidak memiliki kenangan masa kecil setidaknya sekarang memiliki kenangan indah.


"Maafkan Muti kak, kita tidak salah, tapi waktu yang terlalu cepat. Iyakan Kristal." Muti melotot melihat Kris sudah menghilang.


"Kristal! sialan kamu di mana?" Muti langsung menangis.


Han melangkah mendekat, langsung memeluk erat mencium kening Muti. Tangisan Muti semakin kuat karena tidak bisa bernafas.


"Kak Muti bisa mati."


"Kenapa tidak izin jika ingin pergi? aku mencari kamu sejak sore sampai tengah malam Muti."


Alhan tidak marah jika pergi untuk melepaskan penat, bersenang-senang, tapi setidaknya harus memberikan kabar, memberitahu keberadaannya.


Melihat Muti tidak ada di rumah saja Han sampai panik, apalagi tidak bisa dihubungi dan sampai malam.


"Bagaimana aku menghubungi kamu? aku harus mencari kamu ke mana? meksipun aku tidak penting bagi kamu, setidaknya tinggalkan pesan." Han menundukkan kepalanya, hatinya lega bisa melihat Muti kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Maafkan Muti, kita tidak izin karena pasti tidak diizinkan dan takut kak Han marah. Niatnya hanya sebentar, tapi kebablasan lupa waktu." Kedua tangan Muti terlipat menyesali perbuatannya.


"Bagaimana aku bisa marah kepada wanita yang aku cintai? aku paham kamu tidak nyaman, tapi ini menakutkan." Han menatap Kristal yang berjalan perlahan untuk ke kamar.


Suara Han meninggi terdengar, Kris langsung berbalik sambil gemetaran. Meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.


Suara pintu terbuka terdengar, Tirta masuk langsung berlari memeluk Kristal yang menghilang tanpa kabar.


"Kamu baik-baik saja? perut kamu sakit tidak?" Tirta terlihat pucat, menyentuh tangan, wajah dan perut Kris.


"Kak Han marah-marah."


Tirta langsung menatap Han, seharusnya Han bukan marah, tetapi mengecek takutnya ada luka.


"Tir, kamu tidak tahu saja jika Kris suka membalik keadaan." Han memijit kepalanya yang terasa sakit.


Alhan mengecek ponselnya, melihat angka nol yang sangat banyak dari pemakaian kartunya. Kening Han berkerut, menghitung dengan jarinya.


"Aku tidak mungkin salah lihat?" Han mengucek matanya menghitung banyaknya pengeluaran dalam satu hari.


Kristal menahan tawa, dia tahu apa yang membuat Han kaget, pasti soal tagihan belanja yang fantastis.


"Sayang kamu belanja apa? kenapa banyak sekali pengeluaran?"


Muti mengerutkan keningnya, langsung mendekati Han melihat layar ponsel yang banyak sekali nol.

__ADS_1


"Bukan Muti yang belanja sebanyak ini, karena Muti beli yang murah." Tatapan Muti ke arah Kristal, langsung meminta bantuan penjaga untuk mengambil barang belanjaan yang ada di mobil.


Kristal langsung tersenyum, pamit masuk kamar ingin mandi dan membersihkan tubuhnya yang sangat lelah bermain.


"Muti juga mandi dulu sebentar." Muti berlari ke dalam kamarnya.


Tirta langsung duduk di samping Han, melihat ponsel yang menunjukkan jumlah belanjaan, makanan sangat mahal.


"Aku yakin ini ulah Kristal."


"Siapa lagi, Muti ingin saja dibodohi oleh Kris." Han memijit pelipisnya, dadanya masih deg-degan melihat Muti menghilang.


Tirta tersenyum, menepuk pundak kakak tirinya, terlihat sekali dari wajah Han yang sangat mencintai Muti.


"Terima kasih kamu sudah ikut membantu, aku khawatir sekali."


"Tirta juga kak, Kris dalam keadaan hamil sedangkan Muti, dia tidak tahu bahayanya lingkungan ini." Tirta menatap Han yang mengangguk kepalanya.


Barang-barang belanjaan dibawa masuk, Han dan Tirta langsung melotot melihat pakaian yang bermerk semua.


Keduanya langsung tertawa, Muti bisa juga dibohongi oleh kejahilan Kristal, siap-siap saja pasti ribut lagi.


"Kak Han, kenapa Tirta merasa ada yang aneh soal Nathalie? Saat kita mengatakan di mana Kristal? dia langsung kaget dan histeris."


Han memikirkan hal yang sama, Iskandar saja terlihat santai dan tidak terlalu menanggapi soal Kris yang hilang, bahkan tidak ingin tahu soal Della.


Tatapan Muti kaget melihat daftar harga yang panjang, dan harganya juga sangat membuatnya kaget.


"Murah ya Muti, satu baju hampir ratusan juta, jam tangan hampir milyaran. Enaknya gesek kartu." Tirta langsung tertawa sangat besar.


"Ini kemungkinan salah, kata Kris di sana belanjaannya murah." Muti menghitung nol yang ada di total.


Muti menatap jam tangan yang dia dan Kris beli dengan harga gila, berencana ingin mengembalikannya.


"Masih bisa dipulangkan tidak?"


"Jangan di pulang sayang, karena kamu menyukainya." Han tersenyum mengusap wajah Muti.


"Ini mahal sekali kak, seumur hidup Muti tidak bisa membayarnya."


"Jangan dibayar sayang, aku mencari uang untuk kamu. Simpan barang ini baik-baik ya Muti."


Kristal muncul sambil tersenyum, mengambil barang belanjaan miliknya. Mutiara melotot melihat adiknya yang menipu.


"AW sakit." Kris memonyongkan bibirnya, mengusap tangannya yang dipukul.


"Kamu ganti uangnya kak Han, harganya mahal sekali. Bukan hanya mahal, tapi sangat mahal." Muti menunjukkan daftar harga barang.

__ADS_1


"Itu harga normal bagi aku, karena ini namanya barang bermerek." Kris mengambil baju, jam, tas, sepatunya sambil tersenyum.


"Kamu ganti."


"Sudah cukup, nanti bertengkar lagi, melihat kalian berdua pulang saja sudah lebih dari cukup."


"Kak Tirta ganti." Muti menatap sinis.


"Berapa kamu ingin diganti?"


"Lima M, belum lagi bayar makan dan lain-lain. Belanjaan kita hari ini pemborosan seharga beli rumah dan mobil. Sepuluh tahun tidak boleh belanja."


"Dia tidak punya uang, karena seluruh keuangannya dipegang oleh Maminya. Meksipun keluar uang harus permisi dulu." Kris menatap sinis.


Tirta hanya tersenyum saja melihat Kristal yang meremehkannya, ponsel Kris berbunyi langsung kaget melihat transferan dari Tirta sesuai besarnya biaya belanja.


"Kenapa kamu mengirim uang banyak sekali?"


"Berapa?" Muti langsung mengambil ponsel Kris, melihat nominalnya sama dengan biaya belanja.


Kristal langsung merampas ponselnya, Muti langsung berteriak minta bagian.


"Muti juga mau, balikan uang Muti."


"Kamu sudah punya kartu dari kak Han, isinya juga banyak." Kris menolak membagi dengan Muti.


Keduanya langsung main jambak, rebutan uang yang sebenarnya masing-masing punya uang.


"Kalian berdua kembar matre, soal uang saja rebutan." Han menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada saudara soal uang." Muti merengek meminta uang bagiannya.


"Banyak orang dihormati karena uang, karena itu uang segala-galanya." Kris memeluk ponselnya.


Mutiara melotot, menendang baju Kristal. Langsung menghamburkan dan membuang sepatu barunya.


"Aku pecahkan ya." Muti mengangkat jam tangan.


"Jangan Kak, kita bagi dua uangnya." Kris langsung mengirim uang ke rekening Muti.


Senyuman Muti terlihat melihat uangnya bertambah, menatap tajam Kristal yang membuang bajunya, sepatunya agar sama-sama berantakan.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2