MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
BERTENGKAR


__ADS_3

Mata Alhan dan Muti saling pandang, Han menarik selimut meminta Mutiara tidur, karena besok mereka harus bekerja.


"Besok Muti kerja?"


"Iya, kamu mengantikan Kristal." Han menatap wajah binggung Muti.


Bibir Muti monyong, orang kaya seperti Alhan tidak punya waktu untuk istirahat bahkan di hari libur.


"Besok libur, kita tidak libur?" Muti menunjukkan kalender.


Han tersenyum mengusap kepala Muti, soal libur saja Mutiara cepat tanggapnya dan langsung semangat.


"Iya besok libur, aku yang salah." Han menguap memejamkan matanya.


Mutiara turun perlahan dari atas ranjang, melangkah ke balkon kamar Han sambil memainkan ponselnya.


Lama bermain ponsel membuat Muti lupa waktu tidur, sudah jam tiga subuh masih menonton drama.


Alhan terbangun, meraba sebelahnya kosong. Mata Han terbuka, melihat ranjang yang hanya ada dirinya sendiri.


Han berjalan ke pintu dan masih terkunci, mengecek kamar mandi juga kosong. Suara cekikikan tertawa terdengar dari luar balkon.


Jantung Alhan berdegup kencang, dirinya sudah puluhan tahun tidur di kamarnya, dan pertama. kalinya ada suara mistis.


Bulu kuduk Han merinding, ada perasaan cemas sampai keringatan. Perlahan Han mendekati ranjang, berusaha mengabaikan suara yang terdengar semakin besar.


"Astaga, ada apa ini?" Han mengusap wajahnya.


pintu balkon terbuka, suara cekikikan semakin mendekat, langkah kaki juga terdengar. Alhan melotot melihat seorang wanita berjalan ke arahnya sambil tertunduk, tertawa rambutnya panjang menjuntai.


Alhan langsung teriak sangat kuat, menutup wajahnya berteriak hantu. Mutiara yang mendengar hantu langsung teriak kuat mengejar Han yang sudah melangkah keluar.


Kristal yang sedang tertidur juga langsung bangun, membuka pintu melihat Han dan Muti keluar kamar teriak hantu.


"Stop! kalian berdua tahu tidak ini jam berapa?" Kris menatap tajam, langsung membanting pintu.


"Hantunya di mana?" Muti berdiri di depan Han kebingungan.


Alhan tarik nafas buang nafas, menahan emosinya melihat wajah Mutiara yang mirip hantu.


Han kembali ke kamarnya, langsung tidur di atas ranjang diikuti oleh Mutiara yang masih penasaran.


"Kak Han, di mana hantunya?"


"Diam Mutiara! aku sedang kesal." Han meremas seprai ranjang.


"Sama Mutiara juga kesal, aku pikir filmnya tamat, ternyata bersambung sia-sia bergadang." Muti mengomel sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Alhan menatap tajam Mutiara, langsung merampas ponselnya. Muti kebingungan melihat tatapan marah Han.


"Kamu tidak tidur, main handphone di luar. Dari siang main handphone sampai hampir siang lagi, sebentar lagi mata rusak langsung buta." Han meminta Muti tidur, tidak boleh bangun sebelum jam dua belas siang.


"Buta matanya Muti, kenapa kak Han marah? tidur sampai jam 12 bukan tidur, tapi mati." Muti menutupi kepalanya menggunakan selimut.


"Astaga masih sempat menjawab ini perempuan." Han meletakan ponsel di bawah bantalnya.


Alhan memejamkan matanya kembali, masih kesal melihat tingkah Mutiara yang kekanakan dan memalukan dirinya.


Suara deringan ponsel terdengar, Han langsung mematikan alarm dari ponsel Muti. Setengah jam sekali alarm berbunyi.


Kesabaran Han habis, ponsel Muti langsung dilempar keluar rumah. Mutiara juga terbangun dan melihat kemarahan Han.


"Sabar, sabar Han." Alhan memukul dadanya.


"Besok Muti tidak ingin tidur bersama kak Han lagi." Muti langsung duduk menatap sedih keluar.


"Aku suami kamu."


"Istrinya kak Han Kristal, bukan Mutiara." Tatapan Muti tajam melihat Alhan bertolak pinggang di hadapannya.


Suara Mutiara menangis terdengar, Alhan langsung menepuk jidat. Dirinya belum marah sama sekali, tapi Muti sudah menangis.


"Drama apa lagi ini?"


"Kak Han bisa jalan." Muti mengusap air matanya.


Han tersenyum menyentuh kakinya, langsung memeluk Mutiara yang juga membalas dengan pelukan hangat.


Muti berdiri, menyambut tangan Han untuk berjalan bersamanya. Senyuman Alhan terlihat karena kakinya bisa berdiri tegak.


Di atas ranjang Muti dan Han tersenyum, memejamkan mata tidur sambil tersenyum, karena terlalu bahagia.


***


Pagi-pagi Kristal sudah bangun, langsung melangkah turun mencari keberadaan Muti, tapi tidak terlihat.


Beberapa maid sudah datang dan membersihkan rumah, Kris tidak melihat makanan sama sekali di atas meja.


"Pasti belum bangun." Kris berjalan ke kamar Han, menekan handel pintu.


Kristal masuk melihat Alhan masih tidur memeluk Mutiara, keduanya tidur dengan nyenyak seperti pasangan suami istri.


Kris tersenyum melihat kakaknya yang berada dalam pelukan lelaki baik, Kris percaya Han pasti menjaga dan mencintai Muti.


"Lanjutkan tidur kalian, Kris pergi dulu." Kristal melangkah pergi menutup pintu perlahan.

__ADS_1


Kristal kaget saat melihat Tirta di depan pintu kamar Han, senyuman Tirta terlihat menyapa Kristal.


"Kak Han sudah bangun, aku ingin bicara sebentar."


"Han baru saja tidur, biarkan dia beristirahat." Kris menarik tangan Tirta menjauhi kamar.


Tirta menghentikan Kris, dia datang secara baik-baik dan tidak berniat membuat keributan.


"Kenapa kamu datang? sebaiknya pergi Tirta." Kris memanggil penjaga untuk membawa Tirta pergi.


"Kenapa? aku hanya ingin bicara dengan kak Han, setelah bicara aku akan pergi." Tirta melangkah ke dalam menuju kamar Han.


Kristal menarik tangan Tirta, tapi dia yang terjatuh sampai membentur meja tamu. Kepala Kristal berdarah.


"Kris, astaga berdarah." Tirta ingin memanggil Han agar membawa Kristal ke rumah sakit.


Kristal menahan Tirta, karena Alhan sedang beristirahat. Meminta Tirta pergi dan berhenti menganggu rumah tangganya.


Kristal mencium bau parfum Tirta langsung mual dan muntah, Tirta semakin panik. Wajah Kristal pucat dan jatuh pingsan.


Tirta langsung menggendong Kris dan membawanya ke rumah sakit, perasaan Tirta hancur melihat wanita yang dicintainya terluka.


Penjaga coba menghentikan Tirta, tapi Tirta berhasil membawa Kristal ke rumah sakit.


"Maafkan aku Kris, aku tidak berniat menyakiti kamu." Tirta menggenggam tangan Kris.


Sesampainya di rumah sakit Kristal langsung diperiksa, Tirta tidak melepaskan sedikitpun genggaman tangannya.


Dokter langsung mengobati Kris, dan berbicara dengan Tirta meminta Kristal banyak istirahat.


Mata Kristal terbuka, menatap Tirta ada disisinya. Perut Kris mual langsung muntah-muntah. Tirta hanya bisa diam membantu Kris mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Tangan Kristal memegang kepalanya yang terasa pusing, sudah berminggu-minggu Kristal merasa tubuhnya tidak sehat, tapi saat melihat Tirta langsung muntah dan pusing.


"Kamu harus banyak istirahat Kris?"


"Ya, aku hanya kelelahan, dan gegar otak karena kamu." Kris meringis menyentuh kepalanya.


Tirta mengambil tisu, membersikan bibir Kristal. Mencium wangi tangan Tirta, Kris muntah lagi.


"Aku sudah menghubungi kak Han, maaf sudah membuat kamu terluka." Tatapan mata Tirta terlihat sedih.


Kristal mendorong Tirta agar pergi menjauhinya, bau tubuh Tirta membuat mual dan pusing.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya


__ADS_2